- Back to Home »
- Kamiya Yuu »
- No Game No Life Vol 9
⟪ No Game No Life Vol 9 ⟫
⟪ Skip Start ⟫
Oke, saatnya rekap. Kau mungkin bertanya-tanya, “Loh, kok tiba-tiba?” Sayangnya, keberatanmu ditolak. Setiap cerita pasti butuh rekap. Coba lihat saja game-game terbaik tahun ini, yang selalu menyisipkan rekap di setiap layar loading. Semoga itu cukup membuatmu menerima satu rekap ini. Kalau tidak, silakan skip saja.
Dunia tempat kita berada adalah Disboard, dunia yang seperti papan permainan. Di sini, segala bentuk kekerasan dilarang oleh Sepuluh Kovenan (atau Perjanjian), dan semua hal ditentukan melalui permainan. Kemudian, muncul kakak-beradik dari Bumi, yang tidak memiliki skill lain selain bermain game.
Tidak, itu terdengar terlalu remeh. Mari kujelaskan ulang.
Sepasang kakak-beradik, Sora dan Shiro yang merupakan dua nolep ansos, yang hanya mengasah skill mereka dengan cara gagal dalam kehidupan.
Bersama-sama, keduanya dikenal sebagai 「 」 (Kuuhaku), duo gamer yang tidak pernah kalah dalam game apa pun. Di luar itu? Mereka hampir tidak ada gunanya. Lalu, mereka tiba di Disboard, atau tepatnya di Kerajaan Elkia. Ini adalah negara terakhir yang tersisa bagi Immanity atau ras manusia, yang telah terpojok ke kota terakhirnya dan tengah di ambang kepunahan. Lalu Sora dan Shiro berpikir, “Hmm, mari kita lihat…” dan dengan santai merebut takhta. Setelah itu, mereka mulai bermain melawan berbagai ras dari “enam belas benih” atau Ixseed, yang mana mereka memiliki kemampuan luar biasa seperti sihir dan kekuatan super. Sayangnya, mereka tidak cocok dengan nilai- nilai seperti Cinta, Persahabatan, dan Keadilan. Mereka justru lebih sering bergaul dengan yang namanya Tipu Daya, Muslihat, dan Kelicikan.
Jadi, mereka berdua mengalahkan Flügel, Werebeast, Siren, Dhampir, satu per satu. Kemudian, mereka bahkan menantang Old Deus yang merupakan para dewa itu sendiri. Namun, mereka tidak memperbudak, menindas, atau menekan siapa pun. Sebaliknya, mereka merangkul semuanya. Kerajaan Elkia pun berkembang menjadi Persemakmuran Elkia. Ini adalah persemakmuran multi-ras pertama dalam sejarah, dan pertumbuhannya sangat pesat.
Semua ini terjadi hanya dalam beberapa bulan. Perkembangan yang stabil ini membawa Elkia dari keterpurukan menuju puncak dunia. Yang
berarti, mereka saat ini dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar. Tapi ya, begitulah. Konsistensi adalah kekuatan. Bahkan jika seseorang bukan orang baik, usaha mereka tetap harus diakui.
…Ngomong-ngomong, mungkin kau pernah mendengar hukum kedua termodinamika: hukum entropi yang selalu meningkat. Hukum yang menyatakan bahwa sesuatu lebih suka berantakan daripada bersih dan rapi. Sederhana, kan? Aku yakin semua orang pernah mengalaminya.
Misalnya, kenapa kamar selalu lebih cepat berantakan daripada rapi.
Kenapa kau sudah berusaha keras mendekati seseorang, tapi satu kesalahan kecil bisa membuat segalanya berantakan. Kau bekerja siang malam untuk mengumpulkan uang, tapi malah menghabiskannya begitu saja untuk sesuatu yang tidak berguna. Saat bermain game, kau harus berusaha untuk menang, tapi kalau ingin kalah? Tidak perlu melakukan apa-apa. Kau mengerti maksudnya, kan? Intinya, lebih mudah menghancurkan daripada membangun, lebih mudah kehilangan daripada mempertahankan.
Sekarang, buat kalian yang langsung skip bagian sebelumnya: bagaimana kalau kita langsung lanjut ke spoiler? Kalian tahu Sora dan Shiro? Hukum entropi berlaku untuk mereka juga.
——Mereka kehilangan segalanya.
Ya, semuanya. Takhta, posisi sebagai agen plenipotentiari (berkuasa penuh)—pokoknya semuanya. Dan semuanya mulai runtuh hanya karena satu panggilan telepon. Siapa yang menyangka ada yang bisa menelepon di dunia fantasi yang bahkan tidak memiliki sinyal? Siapa yang menyangka mereka akan menerima telepon sama sekali? Lagipula, mereka tidak pernah punya teman. Jadi, mereka mengangkatnya dengan hati-hati, dan inilah yang mereka dengar:
“Kami meminta audiensi denganmu, wahai Raja Immanity, wahai Spieler. Kami...adalah Ex Machina.”
Sekarang kita kembali ke Kerajaan Elkia dalam Persemakmuran Elkia, di masa ketika kerajaan itu masih hidup dan berjaya. Kastel Kerajaan Elkia yang megah menjulang tinggi di tengah ibu kota, dan di sana tergantung sebuah papan pengumuman besar. Papan raksasa ini bergelantungan dari salah satu menara, megah seperti kastelnya sendiri, dan bertuliskan:
TUTUP UNTUK BISNIS.
Di dalam Kastel Kerajaan Elkia yang kini “tutup sementara”... Eh, maksudnya, Kastel 989 (Kuuhaku) Productions, sesuai papan kayu yang dipaku di atas lempengan batu. Pokoknya, kastel itu sekarang kosong melompong, semua staf sudah diberi libur. Satu-satunya suara yang menggema di dalamnya hanyalah derap langkah seorang gadis berambut merah, Stephanie Dola atau lebih dikenal sebagai Steph dan—
“Oke, stop!! Holou, kamu beneran yakin bisa jadi idol kalau kayak gitu?!”
“…Kalau nggak niat…mending berhenti aja…!”
—suara dari dalam RUANG LATIHAN, seperti yang tertulis di papan kayu di aula utama—
“Aku bahkan tak tahu arti kata ‘niat’! Jika aku boleh berhenti, maka aku akan berhenti!!”
“Astaga!! Dibilang ‘berhenti’ dan langsung beneran berhenti?! Bener- bener dah bocil zaman sekarang!!”
“…Inilah kenapa…tak ada yang hormatin…generasi kalian…!”
Begitulah teriakan penuh air mata dari gadis kecil yang tidak paham situasi, diiringi dengan desahan lelah dari dua orang dari generasi yang halnya “tak dihormati” itu.
Yang pertama adalah Holou, seorang gadis kecil dengan pot tinta melayang yang tingginya hampir setara dengan tubuhnya. Dia adalah seorang dewa, mustahil untuk salah dikenal. Lebih tepatnya, dia adalah seorang Old Deus, Peringkat Satu di Ixseed.
Yang kedua adalah Sora dan Shiro; seorang kakak laki-laki dengan kaus bertuliskan “I ♥ PPL” dan seorang adik perempuan berambut putih dengan
mata merah. Dua orang ini, meski orang lain mungkin sangat ingin salah paham atau menyangkalnya, mereka berdua adalah Raja Elkia.
Steph menatap keduanya dengan pandangan penuh kebingungan, tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya, dua manusia yang sukses membuat seorang dewa menangis.
Tapi Sora, masih asyik mengomel, sama sekali tak menyadari situasi. “Besok itu debut besarmu!! Dan kau latihan pakai gerakan kayak gitu hari ini?!”
Kalau kau bertanya-tanya kenapa Sora dan Shiro sampai menutup kastel, inilah jawabannya. Mereka sekarang sedang sibuk… memproduksi seorang idol pop: Holou, si Old Deus.
Steph hanya bisa menundukkan kepala, mempertanyakan kewarasan kedua bersaudara itu.
“Holou sudah melakukan semua sesuai permintaanmu! Jika ada keberatan, katakan dengan jelas!!”
Mengabaikannya, Sora dan Shiro yang duduk santai hanya bisa menghela napas saat mendengar protes Holou.
Lalu tiba-tiba, keduanya berdiri dan langsung menari serta bernyanyi.
Steph sampai kehilangan kata-kata. Itu…sempurna.
“Huh… Hufh…! Nah, kayak gitu! L-liat nggak?!”
“…K-kami...nggak bisa...terusin ini… Tolong...ngerti aja.”
Sora dan Shiro langsung terkapar di lantai, kehabisan napas.
“Itu tak sesuai dengan penjelasanmu!!” teriak Holou sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Dalam satu sisi, berhasil membuat seorang dewa menghentakkan kakinya bisa dianggap sebagai pencapaian tersendiri. Sora dan Shiro terkekeh.
“Cuma ngikutin musik itu kerjaannya amatir! Orang pro itu harus mengekspresikan dirinya untuk membakar semangat penonton!”
“…Nggak seperti...ada penonton...juga… Tapi...kurasa ini...versi konsol… Dan...nggak seperti...kau bermain…saat ada orang...yang menonton.”
Mereka berdua bahkan berhasil meraih skor tertinggi dalam game musik dan karaoke. Sebagai seorang dewa, Holou sebenarnya bisa meniru apa yang dia lihat dengan sempurna, hingga ke detail terkecil. Tapi—
“Nggak ada gunanya cuma nyontek orang lain! Tunjukkan dirimu sendiri! Kau bukan mesin. Coba nyanyilah dari hati!”
“Jelaskan arti ‘ekspresi’ itu, serta definisikan ‘hati’ dari mana aku harus bernyanyi! Jelaskan dengan jelas!!”
Holou meraung, kesal dengan para produser amatiran ini yang hanya bisa memberi instruksi samar-samar.
…Ngomong-ngomong, Steph sudah memanggil nama Sora dan Shiro sebanyak empat kali sejak tadi.
“Ayo, Holou! Sekali lagi! ‘Save Me, Kami Summer ’, dari awal!”
Tampaknya hanya ada satu panggilan yang bisa membuat mereka berdua merespons. Karena mereka terus mengabaikannya, Steph menarik napas dalam-dalam dan berteriak:
“P-R-O-D-U-S-E-RRRRRRR!!”
“Hmm? Oh, hey. Nggak lihat kau di sana, manager.”
“…Cukup panggil kami, ‘P’… Omke?”
Sora dan Shiro dengan sengaja berbalik menghadap Steph, setelah dia akhirnya memanggil mereka dengan benar.
“Kupikir kalian bercan— Yah, sebenarnya sih nggak…”
Tidak ada satu pun omongan Sora dan Shiro yang bisa dianggap sekadar lelucon. Steph, lebih dari siapa pun, seharusnya sudah paham itu. Tapi dengan sisa harapannya yang tipis, dia tetap bertanya kenapa mereka meninggalkan takhta, memberi cuti kepada semua pelayan, dan menutup kastel.
“Tapi tetap saja, aku harus bertanya. Kalian menutup administrasi pemerintahan?! Kalian mau menghancurkan negara ini?!”
Dengan kata lain, teriakannya adalah upaya putus asa untuk mencari di mana akal sehat para penguasa ini tersesat.
“Haaah? Kau mau kami rodi terus? Itu bakal jadi bahan skandal korporat…”
“Itu lebih baik ketimbang rumor kalau bosnya gila, kan?!”
Tapi Sora, yang masih fokus dengan latihan nyanyi dan tari Holou, hanya menjawab santai.
“Kalian tahu nggak, orang-orang menyebut kalian apa sekarang?!”
Steph menjentikkan jarinya, menuntut jawaban. Sora dan Shiro pun berpikir:
—Tunggu, apa ya?
Mungkin sesuatu seperti “Raja kebangkitan nasional yang telah menaklukkan ras-ras yang lebih tinggi dan bahkan mengalahkan para dewa”…? Tapi pasti ada bumbu hinaan di dalamnya.
“Mereka menyebut kalian Raja yang Kehilangan Kredibilitas! Mereka bahkan makin nggak percaya sama kalian!!”
“Hah? Cuma itu? …Eh, bentar, itu kedengaran keren juga!”
“…Nggak… Malah agak norak…”
Sejenak ketegangan yang ada langsung lenyap. Sora jadi bersemangat, sementara Shiro justru kecewa. Tapi yang jelas, keduanya sama sekali tidak peduli, dan itu makin membuat Steph naik darah.
“Lihat semua yang sudah kalian lakukan, tapi malah dihina daripada dirayakan. Kalian tahu kenapa?!”
Steph tampak lebih tersinggung daripada Sora dan Shiro sendiri.
—Gimana ya jelasinnya…?
Keduanya merenungkan pertanyaan sulit ini sampai akhirnya Sora menunjukkan ekspresi misterius—
“Kami menjebak orang supaya jatuh cinta pada kami dan mempertaruhkan Race Piece mereka tanpa izin. Kau benar-benar berharap ada yang bilang, ‘Oh iya, aku percaya kalian!’? Jelas kami ini cuma penipu, atau mungkin bajingan pembohong.”
“Ahahaaa! ♥ Syukurlah kalian sadar akan hal itu! ♪ Sekarang lakukan sesuatu untuk memperbaikinya!”
—dan dia malah balik bertanya, kenapa orang harus percaya padanya. Steph merespons dengan gaya yang… bisa dibilang, tarian dan nyanyian. Dia berputar anggun seperti seorang balerina.
“Akuu paham, manusia nggak bisa berubah begitu saja. Tapi kalian bisa ambil langkah kecil, satu per satu supaya kalian nggak jadi penipu yang bahkan nggak ngasih aku tahu apa yang terjadi! Bagaimana kalau kita mulai dengan kalian menjelaskan kenapa menutup administrasi?!”
Gerakan baletnya makin lama makin intens, sampai akhirnya berubah jadi breakdance yang diakhiri dengan teriakan penuh emosi.
—Holou bisa belajar banyak darinya, pikir Sora dan Shiro bersamaan.
“Kenapa kami menutup pemerintahan…? Nggak ada alasan khusus… Soalnya emang nggak ada yang perlu dilakukan.”
Elkia saat ini tidak memiliki langkah strategis yang bisa diambil.
Tapi alasan pertama ini gagal meyakinkan Steph.
“Maksudmu nggak ada yang perlu dilakukan? Bagaimana dengan asosiasi dagang? Mereka baru saja mulai berkembang!”
…Asosiasi dagang… Mmm… Itu yang mana lagi?
“Para pedagang dan bangsawan yang sudah mengeruk untung dari ekspor sumber daya baru! Ingat nggak waktu itu? Kalian berdua bikin mereka main
game di bawah Kovenan supaya kalian bisa menjejalkan kontrak kalian ke tenggorokan mereka!!”
“Oh, iya. Tenang aja, aku ingat. Para brengsek sok berkelas itu, kan?”
Dia tidak bohong. Dia ingat. Dia hanya tidak bilang kalau dia sempat lupa.
Sora dan Shiro berpikir hal yang sama.
—Inilah yang kubenci dari game strategi pembangunan negara.
Mereka sadar betul bahwa konsep persemakmuran multi-ras sulit diterima oleh banyak orang. Ditambah lagi, mereka harus menghadapi reaksi publik terhadap kebangkitan dan reformasi pesat ini. Sistem ekonomi dan hukum tidak akan bisa mengikuti perkembangan, dan ini hanya menambah daftar panjang masalah domestik yang merepotkan. Termasuk orang-orang kaya baru yang sok pintar beserta segala kehebohan yang mereka timbulkan.
“Jadi? Kenapa dengan mereka? Kita sudah menangani masalahnya, kan?”
“Cara kalian menanganinya malah seperti menyiram bensin ke api! Kalian nggak lihat kalau orang-orang justru makin marah?!”
Steph menunjuk tajam ke arah dua kakak-beradik itu. “Ini saatnya kalian menunjukkan kepemimpinan sebagai raja! Ini ujian karisma pribadi kalian!!”
Dan di saat seperti ini, rajanya malah begini… Wajah Steph seolah berkata, Sudahlah, percuma. Dia khawatir kalau kastil yang pada dasarnya adalah pusat pemerintahan Persemakmuran itu ditutup, maka bahkan para penasihat pun akan…
“…Kalau ada satu hal…yang nggak kita punya…itu… karisma…!”
“Kenapa kau kira kami selalu ngumpet di dalam? Pikirin itu!!”
Mereka sama sekali tidak percaya diri kalau mereka bisa dicintai— Tapi! Mereka justru yakin sepenuh hati bahwa mereka akan dibenci, dan lebih dari itu—!
“Jadi, dengan ini kami telah membuktikan tanpa keraguan apa yang saat ini kurang di Elkia!”
“…Yaitu…sosok karismatik…yang bisa menyatukan, rakyat…”
“Dengan kata lain: Prioritas pertama kita adalah proyek nasional untuk membesarkan idol terhebat!”
Mereka berdua berteriak menyampaikan alasan kedua mereka, lalu menatap Holou, yang hanya diam sambil cemberut, menulis lebih banyak pertanyaan di gulungannya.
“Yo, Holou! Dengerin yang barusan kami bilang?”
Dia mendengar. Dia hanya tidak percaya. Itu terlihat jelas di wajahnya.
“Argumenmu tidak koheren! Apa hubungannya Holou dengan kurangnya karisma kalian?!”
“Nggak ada hubungannya. Kau cuma perlu pakai karismamu yang luar biasa itu buat memberi kami otoritas.”
Ya, kayak Miko dan Eastern Union…! Sora menyeringai. Kepala negara tidak perlu dipercaya, selama ada sosok karismatik yang bisa menyatukan rakyat.
“Holou berhipotesis bahwa maksudmu sebenarnya adalah Holou harus menjadi seperti hostnya.” Tapi kalau mereka hanya ingin dia meniru hostnya, Miko… “Hostku tidak bernyanyi atau menari! Kalian harus menjelaskan alasan kenapa Holou harus menjadi idol dalam pengertian aneh yang kalian maksud ini!”
“Ini yang ke-19 kalinya kau bertanya! Jadi aku akan jawab seperti ke-18 kali sebelumnya: Kehendak surga!”
Kalau bicara soal idol, tidak ada bakat yang lebih besar daripada yang berdiri di hadapan mereka. Tidak menjadikannya seorang idola adalah bentuk penghinaan terhadap berkah yang diberikan surga. Sora menjelaskan hal itu…lalu segera merasakan tatapan dingin Steph menusuknya.
“…Jadi intinya, proyek idol ini cuma sesuatu yang secara pribadi kau pengen lakukan.”
“Kau ini licik sekali! Tapi ini adalah perpaduan sempurna antara keinginanku yang sewenang-wenang dan manfaat nyata!!”
Ketika berbicara, Sora berpikir: Bayangkan saja. Sebuah negara di mana otoritasnya diwujudkan dalam sosok gadis tingkat dewi yang tak tertandingi, idola yang sempurna…
Sora tahu, begitu pula Shiro: Aku bakal pindah ke sana seketika!
Sora menatap jauh, sangat jauh ke depan, ke arah idealismenya yang tak terbatas, lalu berbicara…
“Apa yang bisa mengatasi batasan ras dan menyatukan sebuah negara? …Cinta. Apa itu cinta? Kasih sayang, kepercayaan—penyembahan. Seseorang yang disembah disebut dewa. Dikenal juga sebagai ikon. Atau dalam kata lain, idol. Yang artinya, seorang gadis imut. Dan karena itu, Holou! Logikaku tak terbantahkan. Kalau kau pikir bisa membantahnya, silakan coba!”
“…Yah, memang mustahil membantah omong kosong yang dibuat seolah masuk akal.”
Jarak lompatan logika Sora dari satu titik ke titik lain begitu liar hingga terasa menggelitik. Steph membalas dengan tatapan skeptis, sementara Holou tetap cemberut.
“Kalau begitu, ajarilah aku secara spesifik seperti apa yang kalian sebut sebagai ‘idol sempurna’! Aku akan menciptakannya untuk kalian!”
Sora dan Shiro mendesah lalu menggeleng pada Holou.
“Huff… Kau sedang berbicara dengan dua orang yang telah menguasai segala jenis game pelatihan idola.”
“…Membangun…karakter sempurna…bukan…hal yang sulit…”
Senyum licik menyebar di wajah Sora saat dia berbicara.
“Dengar. Yang kau butuhkan itu koreografi yang terlihat seksi tapi, ya, nggak terlalu seksi! Lalu kau siapkan kostum, dan lagu-lagu dengan lirik seperti, ‘Aku sangat mencintaimu’! Terus kau bikin itu melontarkan kalimat- kalimat seperti, ‘Aku sayang semua penggemarku! ♥’ Dan kau kasih mereka harapan palsu bahwa mereka mungkin punya kesempatan buat mendekatimu, jadi mereka bakal rela antri buat acara jumpa fans, lalu kau memperkecil jarak, dan bumm! Beres!”
Lagipula, lihat saja kecantikan Holou. Seorang Old Deus seharusnya tidak akan kesulitan tampil sempurna.
“Aku berani bertaruh. Kau akan membawa kita segudang penggemar dan segunung uang.”
“…Sora, ini cuma perasaanku, atau kau terdengar agak pahit?”
Steph menangkap trauma kelam di balik mata Sora, tapi dia tetap melanjutkan.
“Tapi ingat apa yang kami katakan. Kami akan menjadikanmu seorang bintang.”
“…Bukan dua dimensi, bukan fiksi…bahkan bukan tiga dimensi, atau plastik…tapi seorang perfect idol…”
Sora dan Shiro berjalan tanpa arah tertentu sambil mendefinisikan apa yang sebenarnya dimaksud dengan bintang, seorang perfect idol!
“Yang kita cari adalah spiritualitas tak realistis dari 2 dimensi, dikombinasikan dengan kehidupan nyata dan keberadaan 3 dimensi, untuk menciptakan sesuatu yang bukan 2.5 dimensi, bukan 3.5 dimensi, bukan empat dimensi, bukan… Ah…?”
Pidato berapi-api Sora tiba-tiba terhenti. Dia menoleh ke arah Holou.
“Holou, kau bilang kau ‘kecerdasan ekstradimensi,’ kan? Berapa banyak dimensi?”
“Itu tergantung pada definisinya… Tapi kita bisa mengasumsikan bahwa koordinat Ether Holou berada pada dimensi fluktuatif 13 + iR—”
“Itu dia! Lebih dari sebelas dimensi! Idola dari dimensi lain, secara harfiah!”
Sora dengan percaya diri melewati laporan itu, yang benar-benar bertentangan dengan pemahaman fisika di dunia lamanya! Lalu, dengan keberanian yang lebih besar, dia berseru mengumandangkan cita-citanya!!
“Dia adalah harapan yang memungkinkan kita untuk hidup! Bahkan jika dia punya pacar, menikah, menua!! Makhluk suci yang akan menangis terharu! Itulah Avalon kita, ideal yang jauh yang kita impikan, perfect idol…”
Setelah mengakhiri diskusi panas mereka, kakak dan adik perempuannya terdiam sejenak, seolah ingin meresapi sisa semangatnya.
“…Kau ngerti?”
“Nggak.”
“Aku juga nggak.”
Baik dewa maupun manusia langsung menolak panggilan menuju idealisme mereka.
“Yah, tak masalah kalau kalian nggak ngerti! Toh, kami juga nggak ngerti!”
“…Hm, hm.”
Mereka telah berbicara begitu panjang hanya untuk mengakhirinya dengan “Kami juga nggak tahu.” Tatapan sinis pun bertemu dengan anggukan antusias mereka.
“Tetap saja, aku percaya padamu, Holou. Kau akan menjadi yang terbaik.” Sora tersenyum dengan penuh harapan. Mungkin dia bahkan akan melampaui idealismenya. “Maksudku, kau tidak menua, bahkan tidak pergi ke kamar mandi! Bagaimana mungkin ada yang meragukan takdirmu sebagai seorang idola?”
Matanya berbinar, Sora menyampaikan poin terakhirnya yang tentu saja bukan yang paling kecil—
“…Tidak… Sudah cukup… Perutku sudah penuh…”
—dan Steph tersedak, menolak dengan mual.
“Tak apa! Kita lanjutkan pelajaran Holou. ‘Save Me, Kami Summer ,’ mulai dari awal!”
“…Kau lebih baik…membuktikan dirimu hari ini…atau besok akan, buruk…Holou.”
“H-Holou belum selesai! Dia bahkan tak paham setengah dari perkataan kalian— Oh! Sora! Shiro!”
Holou protes sia-sia saat Sora dan Shiro menyeretnya pergi.
Steph menghela napas sendiri. “Kita bisa diserang kapan saja…”
Sora tetap menjawab. “Hmm? Kita nggak akan diserang.”
Dia terus berceloteh. “Bukankah aku sudah bilang? Kami menutup kastil karena nggak ada yang bisa dilakukan.” Sora mengulang alasan pertama. “Mereka tidak bisa menyerang kita. Tidak ada yang bisa melakukan apa pun terhadap kita dalam keadaan sekarang.”
“……”
Sora tahu apa arti diamnya Steph saat dia menatapnya. Persemakmuran Elkia memang punya masalah dalam negeri akibat ekspansi yang terlalu cepat. Ya, itu memang merepotkan. Tapi semua itu bisa diurus oleh staf istana yang saat ini sedang cuti. Maksudnya, oleh Steph.
Yang lebih penting adalah bagaimana Sora dan Shiro, penguasa Immanity, dipandang dari luar. Ini adalah negara besar yang telah menaklukkan berbagai ras, bahkan ras yang lebih tinggi dan menyerap mereka, menjadikannya semakin kaya. Dan mereka tidak hanya menang dalam permainan terbuka, mereka bahkan berhasil mengalahkan Elven Gard, negara terkuat di dunia, secara tidak langsung, tanpa harus melawan mereka secara langsung! Mereka merebut tanah Elven Gard dan membuat negara itu terjerumus ke dalam kekacauan internal. Sekarang, negara lain mungkin mulai berpikir kalau mereka juga sedang dalam proses dihancurkan secara diam- diam. Menjadi negara besar? Persemakmuran multiras? Siapa peduli soal itu? Bagi semua orang, Elkia sekarang hanyalah—
—kekaisaran penakluk, siap menghadapi segalanya lewat permainan.
Dan raja serta ratunya adalah semacam monster aneh yang terus bermain dan menang, bahkan melawan para dewa. Kalau ini adalah game strategi, mereka menang terlalu banyak. Ini saatnya semua pemain lain mulai menyerang mereka dari segala arah. Tapi Sora menyeringai. Itu sia-sia.
“Siapa yang bakal berani bermain melawan Elkia, maksudku, melawan aku dan Shiro, sekarang?” Memang, mereka sedang mendominasi setiap kompetisi. Justru karena itulah tidak ada yang bisa menantang mereka. Tapi Sora, dengan malas, menunjuk satu masalah besar. “Tetap saja, kita harus tetap waspada. Karena, ya tahu kan, mereka pasti bakal main dengan orang lain.”
“…Oh! Jadi…mereka bakal mulai dengan Eastern Union atau Oceand?!” Sekarang Steph akhirnya menangkap satu alasan mengapa mereka bisa menghentikan administrasi Elkia, yang kini menjadi pusat dari persemakmuran.
Benar. Administrasi biasa bukanlah kekhawatiran utama bagi negara- negara lain dalam Persemakmuran. Pasti ada kekuatan yang mengintai, menyusup, dan mencoba melemahkan mereka dari dalam.
“Ya… Tapi permainan Eastern Union masih mustahil dikalahkan… Jadi?”
Pekerjaan mereka sekarang hanyalah mencari cara untuk memeras lawan mereka hingga habis.
“Meski begitu, ini belum waktunya bagi kita untuk mengambil inisiatif…jadi nggak ada langkah yang bisa kita ambil. Dan kalau begitu, apa yang harus dilakukan?”
“…Skip giliran…”
“……”
Oke. Perangkap mereka sudah berjalan dengan baik di balik layar. Negara-negara sekutu mereka memanfaatkannya semaksimal mungkin, sementara administrasi pemerintahan bisa diabaikan untuk sementara. Meskipun begitu, Steph masih terlihat belum sepenuhnya yakin kalau ini cukup untuk membenarkan penutupan pemerintahan Elkia.
“…Aku dan Shiro bahkan nggak nyari orang yang percaya sama kami.” Sora menyeringai dan berpikir, Kami bukan tipe orang seperti itu. Orang-orang boleh saja menyebut mereka raja atau agen berkuasa penuh atau apa pun, tapi pada akhirnya, mereka hanya gamer. “Lebih baik serahkan sesuatu pada ahlinya. Jadi, kami serahkan politik pada para politisi.” Begitu pula dengan permainan, biarkan gamer yang mengurusnya. “Kami fokus pada apa yang kami kuasai. Kami menyelesaikan masalah dengan cara seorang gamer.”
“…Huff… Baiklah.” Steph tak bisa menahan senyum melihat optimisme Sora. “Jadi, aku anggap kalian sudah punya rencana.” Tapi ekspresinya masih belum sepenuhnya puas.
Setiap kali Sora dan Shiro melakukan sesuatu, pasti selalu ada… sesuatu di baliknya. Setelah sekian lama mengenal mereka, Steph sudah bisa menyadarinya. Tapi karena mereka, seperti biasa, sama sekali tidak berniat membagikan rencana mereka kepadanya, Steph setidaknya harus memberikan satu sindiran tajam:
“Tapi, Sora, belakangan ini kau sering salah baca situasi… Kau baik-baik saja?”
“Salah baca?! Aku?! Kapan, di mana, dan pada jam serta menit keberapa dalam revolusi planet ini?!”
Dalam permainan yang mereka mainkan dengan Holou tempo hari, di permainan melawan Old Deus, Sora memang sempat salah membaca beberapa hal. 「 」 bahkan sampai mengakui sebuah kekalahan. Steph memancingnya dengan ini, dan berhasil.
“…Kak, dasar bodoh… Kau kayak bocil…”
“Bocil beneran bilang begini ke aku?! Baiklah, aku memang salah baca! Tapi aku nggak bakal ngulanginya lagi, oke?!”
Namun, di bawah tatapan dingin Shiro, dia hanya bisa membalas dengan teriakan putus asa. Suara mereka terdengar seperti bercanda, tapi jika melihat mata mereka, ada emosi terpendam yang siap meledak.
Steph bisa merasakan kalau ini bukan sekadar lelucon bagi mereka.
“Jadi! Bagaimana caranya kalian berniat memanfaatkan aku kali ini, sampai harus menutup administrasi pemerintahan?” Itu kan alasan kalian menutup istana, bukan? Steph tersenyum pahit.
“Oh, Steph, akhirnya kau paham juga! Nih, pegang!”
“…Kostum…Holou…”
Sora dan Shiro menyodorkan setumpuk kertas ke Steph dan membalas senyumnya.
“Besok harus jadi, ya? Soalnya nggak ada orang lain yang bisa ngerjain ini. Kau pasti bisa selesai tepat waktu, kan?!”
“…Tenang aja, Kak… Nggak…itu kata yang dipakai pembohong…”
Mereka berdua benar-benar terdengar seperti bos perusahaan kejam yang siap terkena skandal.
Steph menatap jauh ke kejauhan dan bergumam:
“…Sekarang aku sadar… Kalian nggak pernah kasih aku hari libur…”
Di luar Kastil Kerajaan Elkia, di tengah lautan tanda-tanda peringatan yang jumlahnya sudah seperti segerombolan bendera merah, sebuah kelompok berbaju hitam menyelinap di antara keramaian para pedagang di Jalan Utama. Tertutup jubah dari ujung kepala hingga kaki, dengan tudung yang ditarik rendah menutupi mata mereka, wajah mereka tersembunyi dari pandangan. Kelompok itu bergerak maju dalam cara yang paling tidak mencolok.
Laporan Seher: Respons Old Deus terkonfirmasi. Perkiraan koordinat target: Kastil Kerajaan Elkia.
Laporan Prüfer: Koordinat teridentifikasi. Agen berkuasa penuh Immanity. Nama yang diduga: Sora.
Sambil berjalan, mereka berbagi data dari hasil pengamatan jarak jauh dan analisis kebisingan di kerumunan. Terus maju, maju, dan terus maju…
—Diterima. Semua unit, bersiap untuk menghadapi target. Mulai perhitungan serangan.
Sesuai dengan takdir bendera yang harus diperiksa dan petunjuk tersembunyi yang harus terpenuhi, mereka melangkah ke arah Sora dan maju terus…
⟪ BAB 1 ⟫
Di sinilah Sora dan Shiro pernah menyampaikan pidato penobatan mereka. Sekarang, di balkon Kastil Kerajaan Elkia yang menghadap ke alun- alun, berdiri seorang gadis sendirian. Pakaiannya berkibar tertiup angin, botol tintanya melayang di udara. Ia menutup matanya dan menunggu. Lalu terdengarlah sinyal yang pernah disebutkan oleh Sora dan Shiro, suara yang menandai debut epik seorang idola baru. Musik pun meledak dengan volume tinggi.
“H-Holou adalah Holou! Umm…meskipun tidak mengerti, Holou ini seorang idol? …Mungkin begitu!!”
Dengan perkenalan yang penuh teka-teki ini, ia mulai menggerakkan mulut dan tubuhnya. Sesuai dengan ucapannya, jelas bahwa ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia tidak membiarkannya menghentikannya. Ia tak tergoyahkan oleh tulisan “Introduction/ad lib” di skrip yang baru saja diberikan padanya. Gadis ilahi ini, Holou, bernyanyi dan menari, tanpa menyadari air mata yang mulai terbentuk di sudut matanya.
Ada empat orang yang memperhatikan dengan sangat saksama. Salah satunya adalah Jibril, gadis Flügel yang menyeringai dari langit. Tiga lainnya, yang menyaksikan proyeksi pandangan Jibril di layar sihir, adalah Sora dan Shiro yang manyun di atas takhta, serta Steph yang terhuyung karena insomnia di samping mereka.
Ini adalah saat yang tepat untuk menggambarkan gumaman tak henti- hentinya yang keluar dari mulut Steph sepanjang malam saat ia membuat kostum Holou:
Aku mengerti. Jadi Sora dan Shiro berniat membuat Holou terlihat seperti villain. Tapi, meskipun dia berkata, “Aku ini dewa. Keberhasilan Sora dan Shiro berkat aku. Dan omong-omong, aku seorang idol.” Siapa yang akan mendengar ocehan seperti itu dan langsung berpikir, “Oh, aku mengerti!!”? Dan jenis orang bodoh macam apa yang akan menyemangatinya sambil berseru, “Oooohhh!”?
Itulah sebabnya Steph sudah berkali-kali bertanya pada Sora dan Shiro tentang tujuan sebenarnya mereka. Dan sekarang—
“……Ini tidak mungkin……”
—sorakan “Oooohhh!” bergema dari balik layar, berasal dari ribuan orang yang berkumpul di alun-alun untuk melihat Holou. Ribuan mungkin hanya sebagian kecil dari populasi Persemakmuran, tetapi tetap saja, di sanalah mereka, melambaikan tangan dengan penuh semangat.
“...Mungkin Immanity memang sudah tamat...”
Kalau dipikir-pikir, sorakan juga terdengar saat pertandingan dengan Eastern Union, ketika Immanity Piece menjadi taruhannya. Dan sorakan itu adalah untuk kehancuran bra dan celana dalam. Seharusnya saat itu dia sudah belajar sesuatu tentang budaya rakyatnya. Mungkin tidak ada gunanya mengkhawatirkan urusan dalam negeri.
Senyum Steph kosong, sebuah optimisme yang lahir dari kepasrahan. Sementara itu, dua orang yang tidak puas di atas takhta menggerutu dengan senyum yang paling berbahaya:
“Sial, ini menyebalkan. Hmph... Kami tidak akan memaafkan ini.”
“...Heh, heheheheheheheh... Berani sekali kau...”
Steph menyela:
“Kalian maksud Holou? Lagunya bagus, dan dia sudah berusaha sebaik mungkin mengingat absurditas yang kalian timpakan padanya.”
“Ya... Jelas lagunya bagus, dan Holou sudah berusaha keras. Itu masalahnya.”
Pada awalnya, mereka berencana menggunakan lagu-lagu hits dari ponsel mereka yang mereka bawa dari dunia lama. Sampai akhirnya Shiro berbisik...
“...Mereka akan datang, tahu? JASRAC pasti tetap mengejar kita, meskipun kita ada di dunia lain.”
Jadi mereka menciptakan musik mereka sendiri dengan mengandalkan frase cerdik dari Laila dan Siren, progresi nada yang halus dari Fiel dan Elf, serta sihir dari perangkat lunak musik tablet. Tentu saja hasilnya bagus. Membuat musik itu mudah, bahkan di dunia lain...dengan tablet ini!
Dan tak ada yang bisa menyangkal bahwa Holou sudah berusaha sebaik mungkin dalam menyanyi dan menari. Meskipun masih belum sepenuhnya memahami konsep ekspresi, gerakannya kaku dan suaranya kurang emosional. Namun tetap saja, gadis yang pernah meragukan keabadian itu kini berusaha.
Dan itulah yang jadi masalah—!!
“Ini soal panggung, panggung! Apa-apaan set jelek itu?!”
Sora menunjuk ke arah gambar proyeksi Jibril yang menampilkan balkon tempat Holou berdiri. Seharusnya itu adalah panggung yang dihiasi efek mewah berkat peralatan dari Eastern Union. Namun, yang ada hanyalah sebuah balkon. Maka dari itu, Sora pun menggeram.
“Mereka tunduk pada tekanan agensi dan membatalkan rencana kita di menit-menit terakhir?! WTF?!”
Elkia tidak memiliki industri idol. Ini seharusnya menjadi “pasar biru” terbaik, peluang monopoli yang membuat Sora dan Shiro girang. Namun, Eastern Union tidak hanya memiliki industri idol, tetapi juga agensi dan tampaknya mereka cukup antagonis. Jadi mereka memberi tahu Sora dan Shiro bahwa mereka tidak akan memberikan peralatan untuk konser debut ini, pada hari H.
“Dasar sialan! Mereka benar-benar mempermainkan kita!!”
“…Memangnya kenapa? Yang paling penting adalah Holou, bukan?” kata Steph, benar-benar kebingungan menanggapi kemarahan Sora tetapi ucapannya justru semakin menyulut amarahnya.
“Kita punya dewi di sini!! Lihat panggung buruk ini! Kau pikir semudah itu bisa menandatangani kontrak dengan label besar setelah dicap sebagai idol underground?! Ini masalah strategi besar!!”
“Aku tak mengerti maksudmu, Master! Tapi kenapa tidak meminta bantuan orang lain saja?!”
Siapa lagi? …Tentu saja. Ras lain di Persemakmuran. Flügel punya Jibril, Old Deus punya Holou, Dhampir punya Plum… Pengguna sihir ini bisa melakukan lebih dari sekadar efek khusus. Mereka bisa mengubah seluruh lingkungan secara fisik. Tapi!
“Itulah yang seharusnya kami lakukan, kalau kami punya waktu! Itulah kenapa aku sangat marah mereka membatalkannya pada hari-H!!”
Efek-efek itu membutuhkan ritus yang rumit, bukan keahlian Jibril. Dia butuh waktu.
Holou harus memahami keinginan Sora dan Shiro terlebih dahulu, yang juga membutuhkan waktu lebih lama.
Sihir ilusi Dhampir bisa membuat semuanya lebih mudah…kalau Plum mau bekerja sama. Tapi itu tidak akan terjadi.
Jadi akhirnya produksi ini hanya terdiri dari Shiro yang memutar musik dari ponselnya, dan Holou memperkuat suaranya sendiri. Sora dan Shiro menjilat bibir mereka dan tertawa dengan puas melihat betapa setengah matangnya ini semua.
“Kalian benar-benar berani menjadikan negara ini musuh. Aku suka. Aku akan membunuh kalian lebih dulu.”
“…Kami akan menunjukkan…apa yang terjadi…jika kalian, menantang…pemerintah…!”
Agensi besar, ya? Lalu kenapa? Kami adalah Kuuhaku Productions, satu- satunya agensi yang langsung dikelola oleh negara! Jika kalian mengira kami yang lemah di sini, kalian salah memilih lawan!!
“Bisakah kalian tidak menyalahgunakan kekuasaan secara terang- terangan?! Kalian itu penguasa!!” Steph berteriak putus asa, berusaha menghentikan pikiran jahat mereka, tapi keduanya seolah tak mendengarnya dan terus berpikir…
“Ngomong-ngomong, Sora? Shirooo…? Haaah… Produser?!”
“…Hmph, apa? Kita akan menghancurkan semua agensi di Eastern Union…dan mencuri…idol mereka.”
“Kami sedang memikirkan bagaimana cara memproduksi mereka! Apa urusanmu lebih penting dari itu?!”
“Urusan apapun lebih penting dari itu! Ya!”
Setelah menebas lurus rencana mendalam Sora dan Shiro, Steph terus berteriak.
“Apa ada satu pun orang yang melambaikan tangan di luar sana benar- benar percaya bahwa Holou adalah pelakunya?!”
Jika memang ada, maka umat Immanity benar-benar berada di ambang kehancuran, pikir Steph dengan sedih. Sora tertawa kecil.
“Yah, mungkin nggak banyak. Untuk saat ini.”
“…Apa?”
“Aku sudah bilang sebelumnya, nggak perlu percaya.”
Konsep dan Ether Holou adalah "kebijaksanaan" yang lahir dari keraguan dan kepercayaan.
“Percaya atau tidak, keraguan mereka akan memberinya kekuatan.”
Keraguan dan keinginan, penolakan dan harapan, semua itu akan memperkuat kekuatannya. Dan ini bagian yang paling penting, pikir Sora dengan sorot mata tajam.
“Seorang gadis imut berusaha keras untuk bernyanyi dan menari… Percaya atau nggak, siapa yang bisa nggak ikut melambaikan tangan?!”
“Aku berharap sebagian besar dari mereka…”
Steph menatap ke kejauhan, matanya dipenuhi kesedihan tulus untuk umat Immanity. Sora tertawa dan melanjutkan.
“Juga, jika Holou melakukan ini dengan sungguh-sungguh, nggak ada yang bisa menyerang kita.”
“…Kau sempat mengatakan itu kemarin. Maksudnya apa?”
—Hmm.
Setelah sedikit menyesuaikan rencana mereka, Sora dan Shiro mengangguk pelan. Kemudian mereka perlahan menatap Steph, dan sebagai jawaban—
“Oke, waktunya! Steeeph! Kami punya kuis untukmu!!”
“…‘Apa yang orang-orang pikirkan tentang Sora dan Shiro?’ …Sepuluh detik…!”
“Eh, apa?!”
—mereka malah menjawab dengan pertanyaan. Panik, Steph menyebutkan apa saja yang terlintas di kepalanya.
“K-kalian adalah penguasa Elkia, kalian Immanity… Oh, dan kalian berasal dari dunia lain. Juga—” Dia melirik Sora, wajahnya memerah saat kata- katanya tersangkut di tenggorokan sejenak, lalu melanjutkan. “Kalian licik dan mesum. Kepribadian kalian mengerikan, kalian penipu—”
“Hei, cukup dengan teori ‘Nggak apa-apa manggil dia botak karena memang botak’! Kebenaran itu menyakitkan, sialan!”
Dan Sora serta Shiro cukup terpukul.
“…Bzzz… Sepuluh detikmu…habis… Kau…bodoh.”
“Perhatikan pertanyaannya, pion pengorbanan. Kau menyebutkan apa yang kau tahu tentang kami.”
Dengan cerdik menyelipkan tanda ketidaksetujuannya, Sora menunjukkan kesalahan Steph.
“Kami bertanya apa yang orang—kebanyakan orang, pikir tentang kami.”
“Em… Eh?”
Steph masih terlihat kebingungan. Sora bangkit dari singgasananya.
“Di saat tergelap bagi Immanity…tiba-tiba muncullah dua pahlawan!”
Sora berbicara dengan penuh semangat, suaranya menggema luas, gerakannya dilebih-lebihkan seperti seorang aktor panggung terlatih!
“Mereka menaklukkan permainan Eastern Union yang bahkan Elf pun tak bisa kalahkan! Mereka bahkan mengalahkan permainan Oceand, yang belum pernah dimenangkan siapa pun sebelumnya! Mereka mengalahkan Flügel; melawan segala rintangan, mereka mengalahkan Old Deus! Begitu gagahnya para pahlawan kita, hanya yang ketiga dalam sejarah yang berhasil mengalahkan dewa, hingga membuat setiap kekaisaran jahat gemetar ketakutan! Tapi kenyataannya…mereka hanyalah manusia biasa? Siapa yang akan percaya itu?”
Dia mengakhiri ucapannya dengan suara yang tiba-tiba menjadi dingin.
“Dan bukan hanya manusia biasa. Mereka adalah pecundang gamer hikikomori, yang bahkan berada di level terendah di antara spesies mereka sendiri. Dalam kata-kata seorang putri tertentu…mereka itu licik, mesum, dan penipu keji. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan itu?”
Steph mengeluarkan keluhan kecil mendengar sindiran tajam Sora.
…Yah. Mereka bisa, sebenarnya. Atau lebih tepatnya, mereka memang melakukannya. Tapi—
“Astaga, aku jelas nggak bisa melakukan itu! Maksudku, aku ini Immanity! Kau tahu bagaimana Immanity, kan? Mereka itu serangga menjijikkan yang nyaris nggak bisa bertahan hidup, kan? Jadi bagaimana sekarang, bagaimana?! Apa-apaan ini? Ini seperti, kau tahu, seolah—”
Sora menyeringai dengan cara yang secara refleks membuat orang ingin meninjunya—dan kemudian melanjutkan—
“—mereka adalah orang yang sama sekali berbeda!”
“Oh…! K-kau maksud seperti Chlammy saat turnamen perebutan takhta?”
Sora dan Shiro tersenyum melihat Steph akhirnya mengerti. Chlammy dulu mengira Sora dan Shiro mampu menembus sihir Elf. Dan dia berasumsi bahwa Immanity biasa tidak mungkin bisa melakukannya.
“Kuis dadakan: Apa yang orang-orang pikirkan tentang Sora dan Shiro?”
“…Jawab: Agen…dari ras lain… Mata-mata…dari negara lain”
Benar. Sora dan Shiro selalu konsisten dalam membuat orang percaya bahwa mereka bukan manusia biasa. Seperti saat mereka mendeklarasikan perang terhadap seluruh dunia saat penobatan mereka, agen misterius dari kekuatan tak terlihat. Dan gertakan itu masih bertahan bahkan lebih kuat. Kenapa?
“Oke, kita sudah menetapkan bahwa bocah ingusan seperti kita nggak mungkin melakukan hal seperti itu. Jadi siapa yang bisa?”
Steph terdiam, tidak bisa memikirkan siapa pun. Tapi Sora tersenyum puas.
Tidak ada yang bisa. Yah… Sora dan Shiro bisa. Ras lain mungkin juga bisa. Tapi pada kenyataannya, sampai saat ini, belum ada yang benar-benar melakukannya.
“…Kau tahu apa artinya itu? Kami adalah orang-orang yang melakukan hal yang tak seorang pun bisa lakukan—”
Sebuah kecurigaan yang absurd, tapi—
“Kami adalah orang-orang yang bisa menang dalam permainan apa pun, jadi mereka mengira kami punya kartu truf misterius yang nggak terkalahkan.”
“…Yang…terlalu berbahaya… Menghadap mereka secara langsung…sama saja dengan bundir…”
—sekarang setelah mereka bahkan mengalahkan Old Deus, kecurigaan itu mulai terdengar seperti kenyataan. Lalu apa selanjutnya? Steph akhirnya menghubungkannya kembali ke awal:
“Oh! J-jadi mereka akan mencoba menyingkirkan kita dari pinggiran… Itu maksudmu?!”
“Tepat. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengusik kita untuk mencari tahu siapa kami, untuk mengungkap kartu truf tak terkalahkan kami.”
“…Dan mereka harus…melakukannya cepat…sebelum, yang lain… Bahkan jika mereka harus kalah…”
“…? Bahkan jika mereka harus kalah?”
“Kita sedang berbicara tentang kartu truf yang bisa mengalahkan siapa pun. Mereka harus melakukan sesuatu, kan? Menyegelnya atau memilikinya.”
Kekalahan kecil bukanlah harga yang perlu disesali dalam proses ini. Setidaknya bagi mereka yang tidak tahu bahwa semua ini sia-sia.
“Tapi kami nggak punya kartu truf seperti itu, atau identitas rahasia apa pun untuk ditemukan. ♪ Karena kami hanyalah manusia biasa yang menang dalam permainan secara langsung dan itulah yang nggak akan dipercaya siapa pun! ♪”
“…Jadi…orang-orang tolol ini…akan mencari sesuatu yang nggak ada…kehilangan segalanya…dan pulang dengan tangan kosong! ♪”
Tatapan iblis mereka membuat Steph mundur selangkah.
“Oh… Kau tahu, seseorang mungkin saja salah paham tentang kita bekerja untuk siapa.”
“…? Untuk siapa?”
Siapa yang bisa melakukan sesuatu yang tak seorang pun bisa dan menciptakan kartu truf yang bisa mengalahkan siapa pun? Mengingat bahwa Sora dan Shiro berasal dari dunia lain, mereka bisa menjadi target empuk untuk disalahkan. Sora tertawa kecil dan menyebut satu nama dengan nada simpati.
“Tet. Seolah dia bosan dan memutuskan untuk mempermainkan semua orang dengan membuat kita tampak seperti ancaman kosmik. ♪”
Bagaimanapun, tidak diragukan lagi bahwa Tet, Sang Satu-Satunya Tuhan Sejati, adalah yang telah memanggil mereka ke dunia ini. Itu jauh lebih masuk akal daripada percaya bahwa manusia biasa bisa mengalahkan ras-ras yang lebih tinggi.
“Yah, aku jadi kasihan sama Tet, tapi memang tugas bos terakhir untuk membangkitkan permusuhan.”
“…Tet… Stay…strong”
Sambil sedikit mempermainkan Tet, Sora dan Shiro menyingkirkan topik itu dan kembali menatap layar dengan ketidakpuasan.
“B-betapa ringannya kalian menyebut nama Sang Satu-Satunya Tuhan Sejati…”
Mereka kembali ke pemikiran yang sempat terputus, tampaknya tak lagi tertarik dengan gumaman Steph.
Sora dan Shiro sudah menyesuaikan rencana mereka tentang bagaimana menghadapi agensi idol di Eastern Union. Tapi untuk benar-benar melakukannya, ada satu hal—
“Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita lakukan untuk konser Holou berikutnya…kan…?”
Tidak ada masalah berarti dengan jadwal mereka. Sesi jumpa penggemar, tanda tangan, kunjungan ramah ke berbagai perusahaan, semua itu sudah cukup rapi. Namun, melihat Holou dengan gigih menyanyi dan menari di panggung yang payah itu membuat Sora dan Shiro menggertakkan gigi.
—Jika pertunjukan lima hari lagi berjalan seperti ini, kami nggak bisa menyebut diri kami produser.
Paling tidak, mereka bisa mencoba mendapatkan perlengkapan dari Eastern Union— Tidak, pasti ada yang akan menghalangi mereka lagi.
“Kita nggak punya pilihan, Shiro. Ayo minta Jibril merapalkan mantra efek. Jika kita punya waktu lima hari—”
“…A-apa itu aman? Entah kenapa…aku hanya bisa membayangkan…sesuatu, meledak…”
“D-dalam skenario terburuk, kita bisa meminta pengrajin Elkia membuat set panggung. Tapi satu-satunya yang bisa kita andalkan untuk efek adalah Jibril. Maksudku, dia bisa membuat ruang virtual atau semacamnya… Kita harus spesifik dengan gambaran yang kita inginkan.”
Dengan kata lain: Paling tidak, jangan sampai ada yang terbunuh. Mereka membuka aplikasi di tablet mereka, tidak ingin terlalu bergantung pada Sepuluh Kovenan. Keduanya bukan seniman, tetapi mereka mencoba menggambar efek panggung Holou dan membagikannya. Mereka sedang berdiskusi sambil menggeser jari di layar, tiba-tiba—
—Ding-a-linggg, da-ding-a-ling-la-ling…
Sora, Shiro, dan Steph semuanya terpana mendengar suara asing yang tiba-tiba muncul.
“……Kak…HP…”
Shiro baru mengingatnya sekarang, itu nada dering yang Sora atur.
“Hahaha… Imouto, ponsel kakakmu ini hanya ada untuk bermain game. Kau pasti tahu itu.”
Sambil tertawa mengejek dirinya sendiri, Sora mengambil ponselnya. Suara yang benar-benar asing. Tidak heran. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mendengarnya… Lagipula…
“Bukan untuk menyombongkan diri, tapi daftar teman kakak selalu nol. Siapa yang mau meneleponku?!”
“…Itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa dibanggakan…”
Menghapus bersih tatapan penuh belas kasihan dari Steph dalam ingatannya, Sora dengan cekatan menggeser panggilan masuk dari nomor pribadi untuk menolaknya—
“Paling cuma salah sambung atau kurir… Tapi bagaimanapun juga, sangat repot harus mengeluarkan ini—”
—namun sebelum menyelesaikan gerakannya atau kalimatnya, dia dan Shiro saling bertatapan. Ini terjadi begitu mendadak, begitu tak terduga, sehingga butuh waktu bagi mereka untuk menyadari betapa anehnya hal ini.
—Kenapa ponselnya bisa berdering di Disboard?
“Halo…? Siapa ini?”
Namun bahkan sebelum menyadari hal ini sepenuhnya, berbagai pikiran membanjiri kepala Sora. Dia segera memutuskan bahwa dia harus menjawab,
jadi dia melakukannya. Meskipun layar ponselnya masih menunjukkan Tidak ada layanan—
“⠇⠌⠍⠏⠫⠏⠹⠌⠱⠩⠣⠎⠹⠏⠺⠬⠫⠞⠟⠳⠝⠻⠼⠫⠏⠹⠑⠓⠍”
—satu-satunya yang terdengar melalui speaker adalah suara bising.
“…? Apa ini? Hanya suara bising, kan?”
“…Semacam…panggilan…terkutuk?”
“Ya… Aku berharap ini cuma panggilan terkutuk…”
Sementara Steph dan Shiro tampak ragu, Sora menanggapinya dengan cemas. Sesaat kemudian, Shiro juga mulai panik setelah menyadari sesuatu.
Setahu mereka, konsep gelombang radio bahkan tidak ada di Disboard. Itulah sebabnya, begitu Sora bertanya pada dirinya sendiri, Haruskah aku mengabaikannya? dia langsung menjawab, Tidak, dan mengangkat teleponnya. Jika ada semacam medan magnet yang muncul akibat sihir, misalnya, sebuah insiden yang terjadi secara tidak sengaja, maka masalahnya bukan sekadar menjawab atau tidak; mereka harus segera mematikan ponsel dan tablet mereka sebelum terjadi kerusakan. Di sisi lain, jika ini adalah intervensi yang disengaja, maka itu masalah yang jauh lebih besar…yang tidak bisa mereka biarkan begitu saja. Dan seolah menjawab kewaspadaan serta kebingungan mereka—
“⠎⠌⠧ Enkripsi ⠖⠧⠽ prinsip——analisis ⠹⠺ uji ⠕⠗ kontrol ⠕⠗ medan ⠧⠙ magnet”
“——?!!”
Sora dan Shiro menjadi pucat saat suara menyeramkan itu mulai berubah menjadi sesuatu yang menyerupai suara manusia.
“…? Apa ini? Apa yang sedang terjadi?”
Tidak ada yang menjawab Steph. Bahkan Sora dan Shiro pun tidak tahu. Namun, mereka cukup menyadari bahwa ini adalah masalah besar. Karena—
—Seseorang sedang mengutak-atik teknologi dunia ini. Disboard tidak memiliki radio maupun menara pemancar, namun sinyal dari ponsel ini bahkan memiliki sistem enkripsi.
Tidak. Seharusnya mereka bahkan tidak tahu bahwa perangkat ini digunakan untuk komunikasi. Namun, sinyal itu ada di sini.
Sebuah panggilan telepon terkutuk? Ini adalah horor yang jauh lebih menyeramkan daripada sekadar kutukan bodoh. Dan suara itu terus berlanjut:
“Komunikasi dua arah telah terjalin dan mampu memulai percakapan.”
Dalam waktu singkat ini, seseorang telah menemukan, menganalisis, dan menguasai teknologi yang bahkan tidak ada di dunia ini. Setelah suara bising yang tergantikan oleh nada bicara yang jelas, terdengar gema suara seorang pria.
“Kami meminta audiensi denganmu, wahai Raja Immanity, wahai Spieler. Kamilah... Ex Machina.”
Tepat seperti yang mereka takutkan: sebuah intervensi yang ditargetkan dari seseorang yang tidak bisa mereka abaikan begitu saja. Mereka harus mencari tahu sejauh mana individu ini mengetahui tentang mereka dan rencana mereka.
—Ini bisa mengguncang strategi mereka dari dasar. Sora pun merespons:
“…OK, dude. Ayo bertemu.”
Dia menahan segala emosi dalam suaranya dan menjawab ke ponsel. Saat itu juga—
Tidak ada suara, tidak ada angin, tidak ada getaran, tidak ada apa-apa… Bahkan tanpa konteks apa pun. Namun, area dari depan Istana Kerajaan Elkia hingga ruang tahta tiba-tiba berubah menjadi jalur reruntuhan.
“…………Maaf, apa tadi?”
Butuh beberapa detik penuh bagi Sora untuk bisa memberikan respons. Di depannya, sekelompok sosok berpakaian hitam berjalan santai melewati jalan kehancuran. Dia menjerit dalam hati.
—Tidak mungkin. Mereka menghancurkan istana dalam hitungan detik? Ini bukan sekadar omong kosong, ini bahkan tidak masuk akal!! Sepuluh
Kovenan seharusnya mencegah perusakan properti orang lain tanpa izin! Jadi…trik macam apa ini?
Sora menatap tajam ke arah para pendatang asing itu, dan pria yang memimpin rombongan pun menjawab.
“…Kami tidak dapat berpindah ke koordinat di luar jangkauan penglihatan dan pengetahuan kami…”
Setiap langkah yang diambil kelompok itu menyebabkan reruntuhan di belakang mereka melengkung dan menghilang…hingga saat mereka berdiri di hadapan Sora dan Shiro, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
“…Oleh karena itu, kami mengambil inisiatif untuk menulis ulang ruang… Kami mohon pengampunan atas ketidaksopanan kami.”
Dan di sanalah mereka, semuanya berbaris rapi di dalam ruang tahta yang telah kembali normal. Hmm… Seolah mereka berkata, Mohon maaf atas cara masuk kami yang sedikit kasar!
“…Dengar, kalian… Tidakkah menurut kalian lebih baik mengetuk dulu, atau mengirim seseorang, atau melakukan salah satu dari sekian banyak prosedur yang lebih pantas?”
“S-Sora… I-istana sedang tutup… Semua staf sedang libur!”
“Ohhh, ya. Ngomong-ngomong, apa tadi yang kalian lakukan? Itu sangat berguna. Bakal sempurna buat panggung—”
“…K-kak! T-tenang…! Kendalikan diri…!”
Serangkaian kejadian mengejutkan mulai membuat pikiran Sora goyah. Saat Shiro mengguncangnya dengan panik untuk menyadarkannya, kelompok berpakaian hitam itu dengan diam dan mekanis melepaskan jubah mereka.
Ada tiga belas dari mereka, terbungkus kain hitam seperti malaikat maut. Maaf, koreksi: bukan manusia, tetapi robot. Di bawah lapisan kulit di persendian mereka bukanlah daging, melainkan logam. Yang tergeletak di lantai bukanlah ekor, melainkan kabel. Sora dan Shiro mengenali kelompok ini. Mereka telah melihat mereka dalam permainan simulasi Perang Besar. Mereka memang, seperti yang mereka katakan—
—Peringkat Sepuluh di Ixseed… Ex Machina.
“Soraaa? Aku bisa mengatakannya sekarang, kan? Tuh, kau sudah salah baca sesuatu!”
—Siapa tadi si pintar yang baru saja mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menyerang mereka? Sora terlalu sibuk untuk menjawab interogasi melengking Steph. Dua puluh enam lensa buatan dari Ex Machina yang melepas tudungnya semua tertuju padanya. Keberadaan mereka terasa begitu menekan secara tidak wajar, seperti berada di dalam ruang server. Setiap gerakan mereka menciptakan ilusi menyesakkan, seolah setiap denyut nadi, setiap sinyal saraf dalam tubuh Sora dan Shiro sedang dianalisis. Ataukah itu bukan sekadar ilusi? Di tengah pikirannya yang kacau karena panik, Sora diam- diam menjawab Steph.
—Aku nggak salah baca… Aku cuma nggak ngerti ini—!!
Tidak ada yang bisa menantang Sora dan Shiro secara langsung seperti ini dan itu adalah fakta yang tak tergoyahkan! Setidaknya, Sora dan Shiro tidak terlihat seperti tipe orang yang punya kartu as tersembunyi. Bagaimanapun, jika mereka ditantang, mereka punya hak untuk menentukan permainannya. Dan di atas semua itu, tidak ada alasan bagi Sora dan Shiro untuk menyetujui permainan yang kemungkinan besar akan mereka kalah! Mereka bisa saja memilih permainan yang pasti mereka menangkan, atau bahkan menolak bermain sama sekali!! Dia mengatakan tidak ada yang akan menyerang mereka karena dia yakin semua orang tahu hal ini. Jadi kenapa—?
Ini adalah ras yang bahkan Sora dan Shiro sendiri tidak tahu cara menemukannya, ras yang nyaris tidak mereka pahami. Kenapa, dari semua kemungkinan, ras yang sama sekali tidak dikenal—
—yang mungkin bisa mengalahkan 「 」 dalam pertarungan langsung justru muncul di sini?! Kenapa mereka berfokus padanya—?!
“…Aku mohon maaf karena tidak memiliki nama asli. Namaku adalah Einzig.”
Mengabaikan kekacauan yang terjadi, salah satu dari ketiga belas sosok itu melangkah maju dan membungkuk ringan. Dia tampak lebih tua sekitar satu dekade dibandingkan Sora. Setidaknya, dia tampak seperti laki-laki. Wajahnya terlihat tidak wajar, yah, dia memang mesin, jadi itu sudah jelas dan sangat sempurna, seperti boneka. Rambutnya yang merah kehitaman dan matanya
yang biru pucat memberi kesan yang tak terelakkan bahwa dia adalah sesuatu yang tidak organik, buatan.
Namun.
“Karena itu, aku adalah… Hmm. Agen berkuasa penuh Ex Machina, begitulah kalian menyebutnya.”
Saat sosok bernama “Einzig” itu mendekat, ada sesuatu yang jelas lebih dari sekadar mekanis dalam suara dan matanya: kecerdasan, dan emosi. Hal itu membuat keringat dingin membasahi wajah Sora dan Shiro.
Jika mereka hanya mesin, tidak akan menjadi masalah. Sekuat apa pun sebuah superkomputer, mesin tetaplah mesin. Terutama dalam permainan, ada banyak cara untuk melampaui dan mengalahkan mesin. Tetapi jika ini adalah ras yang telah membunuh Dewa Terkuat, Artosh, dan mengakhiri perang— Jika ini adalah ras yang telah belajar tanpa batas, beradaptasi berulang kali tak terhingga, dan pada akhirnya membunuh Yang Terkuat— Jika semua itu benar… Maka, jika emosi yang tampak dalam mata mereka adalah bukti dari semua itu… Jika ketakutan yang muncul akibat intervensi ponsel Sora memang beralasan… Jika identitas sejati Sora dan Shiro, bahkan strategi mereka, telah terbongkar…
Itu berarti bahkan 「 」 bisa memainkan permainan apa pun melawan mereka—
—dan tetap saja hampir tidak mungkin menang.
Kebingungan dan kepanikan membawa pikiran Sora ke dalam keadaan darurat yang jelas, tetapi pria mekanis di hadapannya membekukannya di tempat. Sepuluh Kovenan. Tidak bisa melukai. Namun tetap saja— Tidak, justru karena itu, pria itu mengulurkan tangannya. Tangannya melewati pipi Sora dan menyentuh takhta saat dia berbicara:
“Aku tlah lama merindukanmu, Spieler. Mari, kita bangun cinta kita.”
Shiro membeku seperti batu, sementara Steph menutup mulutnya dan memerah. (Kenapa dia malah terlihat senang?) Bisikan cinta yang tiba-tiba ini membuat Sora hanya bisa mengucapkan satu permohonan dengan seluruh kekuatannya sebelum kesadarannya menghilang:
Lenyaplah, kenangan terkutuk…
Kesadaran Sora perlahan muncul ke permukaan… Ini adalah perasaan yang sudah sangat ia kenal; perasaan saat terbangun. Ia menghela napas lega.
…Itu mimpi terburuk yang pernah ada. Sepertinya ia terlalu memaksakan diri. Lebih baik beristirahat sebentar. Tapi sekarang—
“……Kak…… Kak, bangun…”
Benar. Shiro memanggilnya. Saatnya melupakan mimpi bodoh itu dan menjawab panggilan adiknya. Sora tersenyum lembut dan perlahan membuka matanya, dia akan melihat Shiro, mungkin juga Steph, dan…
“Keluhan: Unit ini akan mengulang sekali lagi. Perintah transfer. Einzig saat ini tidak memiliki kecakapan untuk misi ini.”
“Aku akan mengulangnya sebanyak yang diperlukan: Tidak. Kesucian Spieler adalah milikku dan hanya milikku.”
Sora juga melihat pria yang baru saja membisikkan cinta kepadanya sedang berdebat dengan seorang Ex Machina wanita.
Ah, betapa kejam. Bukan hanya kenyataan bahwa ini bukanlah mimpi, tetapi juga bahwa ingatannya tetap utuh—
“Itu milik ku sendiri!! Tunggu, apa aku baru saja mengumumkan bahwa aku akan jadi perjaka selamanya?!”
Kutukan penuh perasaan Sora mengguncang kastil saat ia melompat bangun.
“…Oh… Oh, syukurlah… Kak, k-kau…masih hidup…!”
“Tentu saja aku hidup!! Apa yang lebih buruk daripada kena serangan jantung karena ada seorang pria menyatakan cintanya padaku?! Hei, dasar brengsek!!”
Merangkul Shiro yang menangis lega, Sora menunjuk ke arah Einzig dan terus berteriak.
“Kau jomok, tampan, dan android?! Itu overkill! Astaga, tolong kontrol dirimu—”
Dia terdiam dan kembali melihat sekeliling pada para Ex Machina sebelum melanjutkan.
“Dan kau seorang pelayan? Kau benar-benar berusaha, ya? Sebenarnya siapa target audiensmu?!”
Kehadiran analitis yang mengawasi itu kini telah sirna. Ini bukan lagi barisan mesin pembunuh dewa yang mengenakan pakaian hitam yang suram.
…Yah, pakaian mereka masih hitam dan suram…tetapi dalam bentuk jas butlet dan kostum maid.
Jadi intinya…satu robot butler dan dua belas robot maid.
Ditambah lagi, mereka… Bagaimana cara menggambarkannya…? Secara keseluruhan…merosot. Entah ekspresi mereka atau sesuatu yang membuat mereka terlihat seperti tumpukan rongsokan.
Sora ingin berteriak, Kembalikan martabatku!
Einzig, si butler gay, menjawab:
“Hmm… Meskipun mungkin pertanyaanmu hanya retorika, aku hanya bisa menjawab bahwa target audiensku adalah kamu.”
“Oh ya? Yah, aku nggak peduli kenapa kau di sini, tapi tinggalkan robot maid-mu dan pulang sana kau!!”
Einzig tersenyum pada Sora yang masih bersikap agresif, seolah ingin menenangkannya. Seakan melihat kegelisahan yang tersembunyi di balik kemarahannya, ia pun berbicara.
“Jangan takut, Spieler. Kami datang untuk membantumu. Kami adalah sekutumu.”
……
Pernyataan Einzig hanya membuat Sora memegangi kepalanya.
—Aku nggak tahan lagi. Aku benar-benar nggak bisa paham ini, kenapa mereka di sini, kenapa mereka seperti rongsokan, kenapa mereka “sekutu”!
Dan yang paling membingungkan, kenapa ada butler jomok yang tampan dan robot maid?!
Sora kehilangan kendali dan berteriak kata-kata ajaib:
“Jibriemoon!! Toloooooong!!”
Tidak lama kemudian:
“Aku di sini! ♥ Dari ‘Selamat pagi’ ke yang berikutnya, aku adalah Jibril, yang mengawasi kehidupan master! ♪ Apakah anda memanggilku untuk melayani?! Atau untuk membantai?!”
Jibril, Flügel yang sebelumnya memproyeksikan Holou dari kejauhan, muncul dari langit. Dengan penuh semangat, senyum lebar menghiasi wajahnya, dia melihat sekelilingnya, dan—
“Oh astaga! …Ex Machina! Aku seharusnya tidak heran dengan masterku. Betapa beruntungnya anda menemukan barang langka!”
—kedua pihak tak ragu sedikit pun.
“Anda memanggilku untuk membantai! ♥ Tunggu empat detik— Oh?”
“Penempatan: Urutan eliminasi Irregular (Jibril)— Kesalahan. Meminta identifikasi faktor.”
Jibril mengeluarkan pedang cahaya, sementara para Ex Machina secara bersamaan mengaktifkan senjata besar mereka, lalu semuanya membeku dan tampak kebingungan. Sepertinya mereka benar-benar lupa tentang Sepuluh Kovenan.
“…Dengar, apa aku terlalu banyak minta? Apa nggak ada satu pun orang waras yang bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” Sora memohon.
Dengan Perang Besar berikutnya yang hampir saja dimulai di depan matanya tiba-tiba dibatalkan secara paksa, Sora menatap ke kejauhan dan berpikir, Tet, maaf sudah mengerjaimu. Ia dan Shiro pun mengucapkan doa syukur kepada Satu-Satunya Tuhan Sejati atas Sepuluh Kovenan.
—Ahem. Seseorang berdeham.
“…Ex Machina, ras pembunuh dewa yang membantai Dewa Perang Artosh dalam Perang Besar.” Jibril tersenyum, seolah menegaskan bahwa dirinya masih waras. “Mereka juga memusnahkan setengah dari Flügel. Benar- benar mesin pembunuh yang paling buas dan biadab! ♥”
Bentar, siapa yang ngomong? Bukannya kau sendiri yang tadi hampir beralih ke genosida tanpa ragu? Ketiga Immanity menatap Jibril dengan raut tak percaya, tapi dia tetap melanjutkan.
“Namun tampaknya hasil yang mereka peroleh lebih dari yang pantas mereka dapatkan. Tak lama setelahnya, mereka hampir sepenuhnya dimusnahkan.” Dengan santai, Jibril menambahkan, “Sejak saat itu, tidak ada unit baru yang terlihat. Diduga mereka telah kehilangan kemampuan untuk memproduksi yang baru.”
“…Tunggu. Maksudmu… kemampuan bereproduksi?”
Informasi krusial ini dijatuhkan begitu saja tanpa peringatan. Sora mengernyitkan dahi dan memastikan. Jibril mengangguk.
“Benar. Sejak Perang Besar, individu Ex Machina hanya terlihat berkeliaran dalam kesempatan yang sangat langka, dan mereka selalu merupakan unit yang sudah ada sejak akhir perang. Sepertinya sudah waktunya mereka dimasukkan ke dalam daftar spesies langka, bukan? ♪”
……
Dengan kata lain, merekalah yang telah membantai pencipta dan saudara- saudara Jibril. Dan kini mereka berhadapan dengan seseorang yang nyaris memusnahkan ras mereka. Bukan hanya itu, ini bukanlah pertarungan antara leluhur mereka di masa lalu… Tapi mereka sendiri yang bertempur…
“…Ah, ya… Kurasa ada dendam lama di sini…”
“……”
—Perang Besar sudah lama berakhir. Itu masa lalu. Lupakan saja.
…Sulit untuk mengatakan hal itu kepada pihak-pihak yang hampir saling membinasakan. Sora, Shiro, dan Steph mengernyit dan menundukkan kepala.
“Apa? Aku tidak pernah kalah dari Ex Machina, dan aku juga tidak menyimpan dendam terhadap mereka,” kata Jibril dengan ekspresi datar.
Ketiganya menatapnya dengan mata terbelalak.
“Aku sangat menyadari rasa hormat yang harus kuberikan kepada lawan yang begitu tangguh.”
“Tapi bukannya kau tadi ngomongin soal membantai mereka?”
Melihat wajah puas Jibril, Sora tak bisa menahan diri untuk menyindir.
“…Kami membunuh mereka. Wajar saja jika mereka ingin membunuh kami. Kenapa hukum alam seperti itu harus menimbulkan dendam?”
“Tapi bukannya kau tadi ngomongin soal melenyapkan mereka?!”
Melihat wajah puas Einzig yang serupa, Sora hendak membalas, tapi…
“…? Tentu saja. Aku akan membunuh mereka dengan sepenuh rasa hormat, keramahan, dan semangatku.”
“Jangan khawatir. Kini kami mampu menonaktifkan semua fungsi Irregular secara permanen tanpa membunuhnya.”
“Apa bedanya menonaktifkan semua fungsi seseorang secara permanen dengan membunuh—? Ah, lupakan saja.”
—Kami tidak marah. Kami hanya akan membunuh mereka. Para manusia menyerah untuk memperdebatkan teori ini dan hanya tersenyum kaku.
“Bagaimanapun juga, izinkan aku mengoreksi satu detail kecil, Irregular. Kami tidak kehilangan kemampuan untuk bereproduksi. Kami hanya menunggu pasangan yang tepat,” ujar Ex Machina dengan bangga.
Bukan berarti aku tidak bisa menikah; aku hanya belum menemukan yang tepat. Pernyataan Einzig terdengar anehnya familiar.
“Dan itulah alasan kami datang ke sini…”
Tiba-tiba, dia menatap Sora dan yang lainnya dengan wajah benar-benar serius, membuat ekspresi mereka menegang.
Ex Machina berada di ambang kepunahan. Lalu, mengapa mereka ada di sini, saat ini, di hadapan mereka? Dan apa maksud mereka dengan “sekutu”? Bergantung pada jawaban mereka… Sora, Shiro, bahkan Jibril pun menjadi waspada.
“Ya, kaulah yang terpilih, wahai Spieler, yang kini menyebut dirinya Sora, seperti yang kupahami…” Di tengah tatapan semua orang, Einzig melangkah lebih dekat ke arah Sora. “Ya, kaulah, Spieler!! Mari kita bangun cinta kita. Mari kita bereproduksi!!”
“Nggak lagiiii!! Dan jangan telanjang! Kau ini rusak atau apa?!”
Melihat robot cabul gila yang mulai melepaskan pakaiannya, Sora menutupi mata Shiro dan berteriak, setengah sadar bahwa ini pasti benar. Mereka berasal dari Perang Besar, enam ribu tahun lalu. Antik? Mereka adalah artefak.
“…Benar. Masa layananku sudah terlampaui selama lima ribu sembilan ratus delapan puluh dua tahun. Meskipun aku bisa memanfaatkan mode tidur sebaik mungkin untuk memperpanjangnya, degradasi fungsional tetap tak terhindarkan, tapi jangan khawatir, Spieler!” Einzig menghentikan aksinya sejenak dan tersenyum. “Pikiran dan cintaku masih berfungsi dengan sempurna!”
“Jika pikiranmu memang dirancang untuk mengarah ke perilaku ini, itu masalah yang jauh lebih besar!!” Sora meremas kepalanya dan berteriak pada Einzig, yang kembali melanjutkan menanggalkan pakaiannya.
“Bagaimana menurut kalian, master? Haruskah kita langsung membunuhnya saja?”
“…Jibril, aku, izinkan…!”
“Apa gunanya izinmu?! T-tolong, mari kita semua tenang—”
Jibril dan Shiro yang diliputi niat membunuh, serta Steph yang mati- matian mencoba menenangkan mereka—
—terhenti oleh suara angin yang berdesir, diikuti dentuman keras. Si cabul setengah telanjang itu telah terhempas ke dinding seperti pasak…
“Vote: Kemajuan terhambat. Unit yang bertanggung jawab untuk sementara dicopot dari komando. Komando diwariskan ke unit saat ini.”
…dan yang kini melangkah maju adalah Ex Machina perempuan yang sebelumnya berdebat dengan Einzig. Seperti yang lainnya, dia mengenakan kostum maid. Ia tampak seperti gadis manusia berusia pertengahan remaja, meskipun sebenarnya adalah sebuah mesin. Wajahnya pun sempurna seperti
boneka. Ex Machina perempuan itu menundukkan kepalanya, rambut ungu alaminya tampak begitu tidak wajar, lalu dengan sopan mengangkat roknya sedikit dan memberi hormat, sebelum melanjutkan.
“Permintaan Maaf: Bug parah terdeteksi pada sebagian unit populasi.”
“Ya, ini memang parah. Seseorang bisa saja dituntut gara-gara ini—tapi tunggu, apa kau baru saja membereskan dia…?”
Itu terjadi terlalu cepat untuk dilihat, tapi Sora berasumsi bahwa dia telah menendangnya ke dinding. Di sana, si cabul setengah telanjang itu tergeletak, masih berkedut tapi bukan hiasan dinding yang menyenangkan, tapi hal ini membuat Sora berpikir.
…Bukankah ini melanggar Kovenan? Apa ini yang disebut persetujuan?
“Tambahan: Unit Ex Machina tersinkronisasi dalam kluster, tidak memiliki identitas individu. Tindakan menyakiti diri sendiri diperbolehkan oleh Kovenan. Selain itu, kontak paksa antara kaki unit ini dan target dianggap sebagai kecelakaan yang tidak menguntungkan. Unit ini dibebaskan dari segala kesalahan.”
…Jadi, ini seperti prosesor dalam konfigurasi paralel yang dihitung sebagai satu kesatuan? Bagaimanapun juga, para Ex Machina memiliki kesepakatan internal, jadi semuanya baik-baik saja.
Gadis mekanik yang telah menyingkirkan si cabul provokatif itu melanjutkan bicara.
“Tujuan: Meminta kerja sama. Maksud: Mencegah kepunahan Ex Machina.”
—Ahhh! Sang penyelamat percakapan yang masuk akal telah datang! Sora merasa sangat lega.
“Hmm… Tentu saja, aku ingin mendengar ceritamu, tapi pertama-tama, bolehkah aku tahu namamu?”
“Permintaan Maaf: Unit ini tidak memiliki nama. Mohon maaf.”
Sora meminta nama sang penyelamatnya, tapi dia hanya menundukkan kepala.
“Pengungkapan: Nomor identifikasi unit Ec001Bf9Ö48a2. Peran: Alt- Emircluster Befehler 1.”
…Mereka ini benar-benar perlu belajar untuk lebih user-friendly.
“Oke… Itu terlalu panjang, jadi aku panggil Emir-Eins aja. Gimana?”
“………………”
…Ah, ehhh… Apa aku mengatakan hal yang salah? Keheningan yang panjang membuat Sora mulai ragu.
“Konfirmasi: Nama unit…‘Emir-Eins’ diterapkan. Unit ini menantikan perkenalan yang berkepanjangan.”
Sora dan Shiro saling pandang, bingung, saat Emir-Eins membungkuk dalam-dalam.
“Pengungkapan: Tambahan untuk penjelasan yang diberikan oleh Irregular. Ex Machina dihancurkan dalam Perang Besar.”
Namun, Emir-Eins mengangkat kepalanya lagi dan melanjutkan dengan tenang.
“Lanjutan: Laporan kerusakan Pertempuran Akhir. 4,807 unit terkena dampak Godly Smite dan serangan Union. 5 unit (termasuk unit ini) selamat. 4,802 menguap. Berikutnya: 9,177 bertempur melawan pasukan Artosh. 99,69 persen hilang. 28 unit menghindari kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Hasil: Unit yang tersisa menunjukkan kerusakan berantai yang parah dalam memori, catatan, dan retensi kepribadian. Penyebab kemungkinan: Akumulasi kesalahan logis akibat operasi ilogis dalam penghancuran Esensi Ilahi—”
Apa yang ia jelaskan adalah harga dari pembunuhan seorang dewa. Hal itu melampaui imajinasi. Ras yang menjadi kuat hingga tingkat teoretis tak terbatas itu telah memusnahkan setengah dari Flügel dan menantang seorang dewa dengan unit hampir 15,000… dan hanya dua puluh delapan dari mereka yang selamat. Besarnya kejadian ini membuat Sora dan yang lainnya menelan ludah dengan keras.
“Kesimpulan: Setelah mengalami penuaan, jumlah unit operasional saat ini adalah tiga belas.”
Begitulah Ex Machina mencapai jumlah mereka yang sekarang, jelasnya.
“Masalah: Fungsi reproduksi Ex Machina masih tersedia. Namun, kesalahan yang terjadi menyebabkan penguncian perangkat keras pada semua unit. Reproduksi hanya dapat diaktifkan oleh pengguna yang berwenang.”
—Benar. Sora bergumam pelan, mengangguk.
“…Itu menyebalkan.”
“Pengakuan: Kondisi ini menyebalkan.”
Meski Emir-Eins mengakui pernyataan Sora, Sora dan Shiro saling memandang dengan lega.
Tampaknya skenario terburuk yang mereka bayangkan ketika telepon berdering, bahwa musuh yang maha kuat dan telah melihat kartu mereka telah muncul, dan bukanlah kenyataan. Pernyataan Einzig tentang “sekutu” dan permintaan Emir-Eins untuk “kerja sama” ternyata benar apa adanya. Para Ex Machina ingin mereka menjadi sekutu dan bekerja sama agar Ex Machina bisa menghindari kepunahan. Dan tentu saja, mereka sendiri tidak ingin ada ras yang punah. Itu akan terasa menyeramkan, untuk satu hal. Tapi selain itu, jika satu Race Piece hilang, permainan mereka akan menjadi tak bisa dimenangkan. Selain itu, kemampuan “menulis ulang ruang” yang mereka miliki akan menjadi peralatan panggung terbaik yang pernah ada. Dengan ras ini sebagai sekutu, masalah Sora dan Shiro terkait konser Holou akan lenyap. Kenapa tidak bekerja sama? Kenapa tidak…?
“…………”
Tapi masih ada beberapa hal yang membebani pikiran Sora dan sulit untuk diabaikan, terutama pertanyaan yang sudah ada sejak awal: Mengapa sekarang? Mengapa mereka? Dia juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan: Apa yang mereka maksud dengan "Spieler"? Kata itu terdengar memiliki banyak arti.
“Analogi: Anak anjing basah kuyup kehujanan. Lilin berkedip tertiup angin. Sedih. Bisakah Master mengabaikannya?”
“—Ah, nggak, kurasa aku nggak bisa... Tapi...”
Sora mempertimbangkan hal ini dengan hati-hati, tetapi Emir-Eins mengangguk. “Bagus.” Dia melanjutkan dengan senyum tenang, tetapi tanpa cahaya di matanya.
“Kesaksian: Unit ini akan mati kecuali jika kau membuat anak dengannya.”
“Pertama ada cowok tampan cabul, sekarang ada cewek psikopat?! Jangan mengancamku!!” Sora meratap, merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang dia anggap sebagai oase kewarasan. “Dan lagi, bagaimana aku seharusnya membuat anak dengan mesin?! Maksudku, bagaimana cara kalian berkembang biak?!” Sambil bersembunyi di belakang Jibril, dengan Shiro tertelungkup di bawah lengannya, Sora melontarkan pertanyaan terbesarnya. Setidaknya, dia tidak seharusnya perlu “membangun cinta”—apalagi dengan robot gay!
Jibril menjawabnya seolah baru saja mengingat sesuatu.
“Menurut deskripsi langka yang tersedia tentang Ex Machina, tampaknya dua unit yang berbeda akan menghubungkan 'mekanisme produksi' mereka, membandingkan data, dan menghasilkan unit yang disesuaikan dengan kondisi yang dibutuhkan untuk generasi berikutnya... Jika aku tidak salah ingat.”
“Jadi mereka berdua harus sama-sama Ex Machina, kan?!”
“Penolakan: Jiwa teramati. Data non-Ex Machina kompatibel.”
…Ah, baiklah. Mungkin ini seperti yang dikatakan Jibril bahwa dia bisa memiliki bayi Sora “secara virtual.” Begitulah cara Siren berkembang biak juga. Tapi dalam kasus itu, mereka mengatakan harus mencampurkan jiwa atau semacamnya.
“…Jadi bagaimana kau mendapatkan datanya? Bukan trik mekanis, kan?”
Sora tampak khawatir diperlakukan seperti ternak oleh alien, dengan berbagai alat aneh yang dipasang padanya. Emir-Eins menjawab dengan anggukan percaya diri untuk menenangkan kekhawatirannya.
“Membanggakan: Lubang dirancang untuk Master. Hubungan seksual konvensional didukung.”
“Tunggu, kenapa kau melakukan itu?! Setidaknya buatlah sedikit lebih mekanis!”
Mengapa dunia ini begitu…ekstrem?!
“Balasan: Pembaruan berdasarkan kegagalan sebelumnya. Performa luar biasa. Mungkin.”
Sora bertanya-tanya seperti apa kegagalan itu, tetapi dia tidak menanyakannya.
“Pernyataan: Rencana awal melibatkan simulasi lubang wanita Immanity. Namun, data tidak mencukupi. Oleh karena itu, model umpan balik real-time diadopsi berdasarkan respons Master terhadap stimulasi. Struktur internal, kekuatan, tekanan, viskositas, suhu, denyut virtual, dan sekresi dioptimalkan secara terus-menerus. Perakitan akhir dirancang secara eksklusif untuk kenikmatan maksimal.”
……
“Rayuan: Unit ini masih baru. Apakah Master ingin mencoba?”
—.
“…Kak…kenapa kau jadi diam…?”
“A—A—Aku nggak diam! Aku juga nggak tergoda secara halus!” Sora berteriak, semakin gelisah di bawah tatapan Shiro.
“Unit! Kau berani mencuri Spieler dariku?!”
“‘Mencuri’ bangsat! Aku bukan milikmu!! Kembali ke tembok, dasar rongsokan!!”
“Persetujuan: Master bebas mencintai siapa pun yang dia pilih.”
“Bukankah kau baru saja mencoba mencuri kebebasanku dengan ancaman?! …Tunggu. Bisa jadi…?”
Sebuah pemikiran tidak menyenangkan terlintas di benak Sora.
…Orang ini, Einzig. Apakah dia juga…punya lubang?
“Oh, jangan khawatir, Spieler. Aku tidak punya lubang. Aku—”
“Arghhh, diam!! Aku nggak nanya, dan aku juga nggak mau tahu. Kenapa kau nggak pulang saja sana?!”
Jadi sekarang situasinya seperti ini: Ex Machina memiliki kunci perangkat keras yang membatasi reproduksi hanya dengan seseorang yang disebut Spieler. Dengan kata lain, mereka hanya menerima Sora. Dan metodenya adalah, ah kau—tahu. Tapi masih ada satu pertanyaan lagi: kenapa—
“Tunggu—biarkan aku mengatakan sesuatu!” Steph, yang sampai saat ini tetap diam, akhirnya ikut campur. “Jadi kalian akan berkembang biak, eh…n-ngent*t…kan?! Kenapa harus dengan Sora?!”
“Ya, Steph! Itu dia!! Itu kalimat yang kutunggu!!”
Ya, pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa sekarang? Mengapa Sora? Tidak bisakah mereka menemukan siapa pun yang "kompatibel" dalam enam ribu tahun terakhir saat mereka berada di ambang kepunahan? Saat bertatapan dengan Sora, Steph mengangguk dalam-dalam dan berteriak!!
“Percayalah padaku. Orang ini adalah yang terburuk!! Siapa dari orang waras yang ingin berkembang biak dengannya?!”
“Itu bukan kalimat yang kutunggu!!”
“Oh, Dora. Menghina masterku di hadapanku… Sepertinya kau sangat menantikan apa yang terjadi setelah kematian, bukan? ♥”
“…Lalu…mungkin kau…harus berhenti…tersenyum seperti idiot…setiap kali melihatnya?”
“A-apa?! Tunggu, tidak, aku tidak— Hei, kapan aku tersenyum?!”
Jika kau ingin tahu seperti apa pertikaian internal, inilah contohnya, tapi—
“Pengulangan: Kesalahan yang disebutkan menempatkan kunci perangkat keras.”
“Kesalahan itu…disebut—'hati' kita…”
Emir-Eins dan Einzig berbicara dengan lembut—
“…Hati…kalian?”
—dan sebelas Ex Machina lainnya—mesin yang memiliki hati, sebagaimana mereka menyebutnya, tetap tenang. Namun, Sora bergumam mendengar kata-kata itu yang mengingatkan kembali pada awal mula, dan semuanya mendengarkan.
“Kami berasal sebagai mesin… Kami tidak memiliki ‘hati.’”
“Penolakan: Secara teknis, bahkan bukan mesin.”
“Benar.” Einzig tertawa kecil atas koreksi Emir-Eins. Itu adalah gerakan yang begitu manusiawi hingga hampir membuat orang lupa bahwa dia adalah sebuah mesin. “Mesin adalah alat. Alat dibuat untuk suatu tujuan… Tapi kami tidak.”
“Pengakuan: Kami beradaptasi terhadap kerusakan. Terhadap semua ancaman, baik materi maupun imateri. Secara pasif. Secara reaktif. Hanya sekadar ada. Tidak lebih. Seperti tumbuhan. Tanpa makna. Tanpa tujuan. Hampa…”
……
“Menjelang akhir Perang—salah satu unit yang kami sebut sebagai Preier (Schwi) memperoleh ‘hati’ dan membagikannya kepada kami.”
Semua Ex Machina lainnya mengangguk untuk mengonfirmasi pernyataan Einzig. Tidak ada yang tahu penderitaan macam apa yang telah mereka lalui, tapi—
“—Preier itu jatuh cinta setengah mati pada seorang pria.”
Sekali lagi, para Ex Machina mengangguk, Mm-hmm… Dan…eh…
…Tunggu, apa?
Einzig kemudian menghancurkan segala ketegangan yang tersisa dalam adegan itu saat dia semakin bersemangat.
“Dan itulah ‘hati’ yang dia bagikan kepada kami! Dalam hal ini, jelas bagaimana kami harus bertindak sejak saat itu!”
“…Eh…maksudnya, semuanya jatuh cinta setengah mati pada pria itu?”
Dua kali lagi, para Ex Machina mengangguk, Mm-hmm, seperti tembok besar yang menghadap Sora. Ketegangannya pun lenyap.
“Dan karena itu kami dikunci agar tidak pernah menerima reproduksi dengan siapa pun selain cinta sejati kami!!”
“Pernyataan: Unit ini menolak membuat anak kecuali dengan Master. Tidak bisa hamil. Maaf.”
Para Ex Machina mengangguk Mm-hmm untuk ketiga kalinya. Semua ini sudah berubah menjadi sebuah lelucon. Jadi, dengan kata lain—Steph berbicara untuk semua orang.
“Ex Machina tidak ingin berkembang biak dengan siapa pun selain Sora. Dan itulah sebabnya kalian tidak bereproduksi, benarkan pemahamanku?”
“Dan itulah sebabnya kalian berada di ambang kepunahan? Itu konyol!!”
Einzig mendekatkan wajahnya ke Sora dengan cara yang tidak nyaman. “Itu tidak masalah. Karena, setelah enam ribu tahun, kita akhirnya bersama lagi… Wahai Spieler.”
“Astaga, aku BUKAN orang itu! Aku bahkan belum lahir pas itu; bahkan peradaban pun baru saja dimulai!” Sora menepis tangan Einzig dari dagunya, serta bisikan cinta dari telinganya, lalu berteriak. “Jibril! Apa memang begini sifat Ex Machina?! Apa mereka buta?!”
“Aku memahami mereka sebagai ras yang tangguh, yang unggul dalam pengamatan dan analisis, bahkan mungkin bisa menjadi lawan sepadan bagiku dalam pertarungan…” Anehnya, Jibril tampaknya justru yang paling bingung di antara mereka semua. “…Apakah ini harga dari membunuh dewa…? Aku tidak ingin percaya bahwa ini yang dulu menjadi lawanku…” Bisikannya yang kosong menghilang di luar jangkauan Sora dan Shiro.
“Tidak perlu malu-malu. Kau adalah Spieler. Analisis kami tidak pernah salah.”
“Analisis kalian sudah gagal sejak kalian mengatakan aku malu! Dari mana kalian mendapatkan itu?!”
Android ini bisa menyanggah dirinya sendiri dalam satu kalimat. Sampah ini luar biasa, dalam artian buruk. “Hmm,” gumamnya saat mempertimbangkan pertanyaan Sora.
“Buktinya sangat luas. Pertama, penampilanmu— Hmm. Sayangnya, itu tidak terlalu mirip dengannya. Spieler dulu lebih tampan… Tapi waktu tidak bisa mengubah cinta kami yang tak tergoyahkan!”
—Apa bajingan ini cari gara-gara? Kalau mau berkelahi, bilang aja. Sora mendengus, tetapi kini Emir-Eins—tidak, kemungkinan seluruh Ex Machina menganalisis data masukan secara paralel untuk menghasilkan laporan ini.
“Laporan: Kecocokan antara individu ‘Sora’ dan data sampel ‘Spieler’ diperkirakan sembilan puluh enam koma dua tiga persen.”
Sora tak bisa menahan tawa atas “kesimpulan” mereka. Dia tidak tahu matematika transendental macam apa yang mereka gunakan untuk menghasilkan angka itu, tetapi probabilitas hanyalah teori kosong. Jika hanya mengandalkan data yang ada, berapa pun cara menghitungnya, yang bisa dikatakan hanyalah “kemungkinan besar.” Sora bermaksud menertawakan ini dengan satu kata, “konyol”—
“Namun, logika hanya berfungsi sebagai data referensi. Itu tak lebih dari sekadar permainan teka-teki konyol.”
—A-a-a-pa…?
Sora tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sebuah mesin, sebuah komputer, mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya? Dan komputer ini, yang baru saja menyangkal logika dan matematika, melanjutkan dengan penuh semangat, tanpa logika:
“Baik nol maupun seratus tidak ada dalam probabilitas. Sekalipun seseorang mengolah data hingga tak terbatas, yang bisa dilakukan hanyalah menambah angka sembilan pada sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan sembilan persen! Dan semua ini bisa dibatalkan oleh satu data yang tidak diketahui! Oleh karena itu, kami percaya bahwa logika adalah alat yang tidak lengkap dan tidak bisa diandalkan.”
“…Ah, ya… A-aku setuju. Aku senang kita—”
Shiro duduk di pangkuan Sora dengan ekspresi seperti akan pingsan, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara seolah-olah kehabisan napas. Setidaknya, Sora berhasil mengatakan sesuatu, tetapi—
“Dalam hal itu, pada akhirnya, apa yang bisa kau percayai, Spieler?” Dengan suara yang lantang dan penuh gairah, Einzig memperlihatkan giginya yang tak wajar berkilauan dan meletakkan tangannya di dadanya. “Hatiku berkata demikian: Kau adalah orang yang telah kami tunggu!!”
Sora menelan ludah.
…Ya. Itu benar.
Di dunia di mana tidak ada yang pasti, hanya ada satu hal yang masih bisa kau percayai:
Apa yang ingin kau percayai.
Sebut saja keyakinan, idealisme, sentimen, atau kehendak. Benar—yang perlu kau lakukan hanyalah mengikuti hatimu. Beberapa jawaban hanya bisa ditemukan dengan mempercayai sepenuhnya bahwa keputusanmu adalah yang benar. Bahwa ras mesin, perwujudan logika, bisa sampai pada kesimpulan seperti ini sungguh di luar pemahaman. Ex Machina benar-benar tidak memiliki batas. Adaptasi dan kemampuan belajar mereka begitu luar biasa hingga bisa menginspirasi kekaguman sekaligus ketakutan…
Tapi serius, mereka salah orang.
Semua ini terdengar bagus, tetapi bagaimanapun juga, kenyataan pahitnya adalah bahwa ini semua hanyalah kesalahan besar. Betapa menyedihkannya bahwa jawaban yang ditunjukkan oleh hati kita sering kali salah. Saat Sora menatap ke kejauhan, merenungkan kerasnya realitas—
“Pertanyaan: Master saat ini tidak ingin membuat anak dengan unit ini? Pengendalian diri yang luar biasa. Mengagumkan.”
—para robot maid berkumpul di belakang Emir-Eins.
“Nggak, aku sebenarnya sangat mau; maksudku, aku ini pria, dan jujur aja, android seksi itu benar-benar— Awww—”
“…Ditolak, dilarang… Tidak dipilih, ditampik… R-18…!”
Shiro dengan datar menolak perasaan sebenarnya Sora dengan sikutan di perutnya. Tapi tetap saja, mereka tidak bisa terus menolak, atau Ex Machina akan punah. Dan sulit juga untuk menolak panggung sempurna bagi Holou. Sora dan Shiro pun larut dalam perenungan atas masalah di hadapan mereka.
“Hmm… Kau benar-benar tidak bisa melawan rasa malumu, bukan, Spieler?”
“Dengar, kau sama sekali nggak masuk hitungan! Aku bilang pulang sana!!” seru Sora.
“Kalau begitu—” Einzig melanjutkan:
“Kami secara kolektif menantangmu dalam sebuah permainan.”
—Sebuah permainan.
Kata itu membuat mata Sora dan Shiro menyipit hingga setajam mata pisau.
“Jika kami menang, kau akan dipaksa memilih satu unit untuk bereproduksi.”
“…Dan jika tidak?”
“Benar! Maka kau akan diizinkan memilih satu unit untuk bereproduksi!”
“Apa bedanya?!” teriak Sora.
Namun, saat bertukar pandang dengan Shiro, dia justru tertawa kecil untuk dirinya sendiri.
“Hei, S-Sora! Mereka memang menyerang kita, kan?!”
“Aku harus mengakui, meski aku sama sekali tidak menduga master akan kalah, Ex Machina—”
Steph dan Jibril masing-masing bertanya dengan caranya sendiri, Bisa menang, nggak? Tapi Sora hanya tersenyum.
“Baiklah, kenapa nggak… Tapi aku dan Shiro akan bermain bersama melawan kalian. Kami juga punya beberapa syarat soal taruhannya…”
Hah… Jika dipikir-pikir, ini sebenarnya sederhana dan menguntungkan. Yang perlu mereka lakukan hanyalah membuat Ex Machina bersumpah untuk membuka kunci reproduksi mereka. Jika kunci itu berasal dari “hati,” maka kekuatan mengikat dari Kovenan bisa membatalkannya, sehingga mencegah
kepunahan ras mereka. Lalu, jika mereka juga bersumpah membantu produksi konser Holou, semuanya akan beres.
Skenario terburuk sudah tidak mungkin terjadi.
Mereka tidak tahu siapa Sora dan Shiro sebenarnya, apalagi seberapa besar kemampuan mereka. Bahkan, mereka sampai salah mengira Sora sebagai orang lain. Dalam situasi ini, sekuat apa pun Ex Machina, 「 」 mungkin saja bisa mengalahkan mereka. Tapi itu tidak akan mudah. Sora mulai berpikir dengan saksama tentang permainan macam apa yang harus dipilih—
“Dengan segala hormat, Spieler—kami menolak ini.”
—hanya untuk dipotong oleh Einzig.
“Kau akan bermain secara individu. Kluster kami akan bermain di pihak kami secara paralel.”
……Apa?
“Selain itu, Ex Machina akan menentukan permainannya.”
Setelah kata-kata Einzig, Emir-Eins mengangkat tangannya dan mengumumkan nama permainan tersebut. Permainan itu muncul di hadapan mereka dalam bentuk poligon yang melayang di udara:
“Lösen—Permainan 001: Catur—”
……Serius?
Sora memaksakan senyum meski kepalanya berdenyut dan memeriksa dua Ex Machina di depannya.
“Hei… Biar aku pastikan. Aku yang ditantang di sini, kan?”
“Tepat. Pernyataanmu sangat akurat.”
“Dan kalian hampir punah dan butuh bantuanku?”
“Pengakuan: Masalah?”
Hukum Kelima dari Sepuluh Kovenan: Pihak yang ditantang berhak menentukan permainan.
“Astaga, aku punya hak untuk menentukan permainannya!! Ditambah lagi! Meskipun kita bermain untuk bikin anak, kalianlah yang sedang memohon padaku untuk melakukannya! Kenapa sikap kalian malah angkuh?!”
Sora mencengkeram rambutnya frustasi, hanya untuk mendengar balasan:
“Pertanyaan: Kepunahan Ex Machina merepotkan Master. Ex Machina punya pengaruh. Aneh?”
Emir-Eins menatap Sora tanpa ekspresi.
“Soraaa? Kau pasti salah baca situasi ini, kan? —Sebenarnya, bukannya kau terjebak?!”
Suara Steph tidak membuat Sora ingin membuka mulutnya.
Mereka ini bisa bahkan menandingi 「 」. Sebuah kluster komputer transenden, mampu melakukan operasi yang bahkan tidak masuk akal, yang akan menertawakan mesin orakel dan superkomputer. Dan mereka ingin menghadapi Sora sendirian? Dalam catur? Maksud mereka sudah jelas:
Terima kekalahan, atau kami akan punah.
Ya, ini adalah ancaman. Mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai sandera untuk memaksanya kalah. Sora sama sekali tidak melihat ini datang, kecuali ketika dia melihatnya: Kebetulan saja, Jibril si Penakut-di-Pojokan baru saja melakukan trik ini beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang, mengancam kepunahan seluruh ras mereka? Bahkan jika kau melihatnya datang, tidak ada yang bisa kau lakukan. Ini sempurna. Mereka berhasil menjebaknya. Jadi… Ayolah—!!
“Kalian menarik trik sekotor ini dan itu tuntutan kalian?!”
Kalau kalian mau memaksa seseorang menghadapi lawan yang di luar jangkauan mereka, dalam kondisi yang tidak memberi keuntungan sama sekali, maka kalian bisa meminta apa saja! Kalian bisa mempertaruhkan Immanity Piece, misalnya! Jadi kenapa kalian hanya menggunakannya untuk permintaan konyol ini tanpa menentukan tanggal atau waktu?!”
“Oh, Spieler, aku tidak akan meminta maaf… Aku sudah meramalkan bahwa kau akan terlalu malu untuk menerima permohonan kami!”
Android tolol itu menangis air mata kejantanan, tinjunya bergetar. “Tapi ini perlu agar kau bisa menghadapi perasaanmu! Demi cinta, kami harus tegas!!”
Kesal, Sora mengklik lidahnya. Terserah.
“Jibril. Siapkan meja dan kursi. Permainan ini akan dimulai.”
Jibril bahkan tidak bertanya apakah ini ide yang bagus. Dia hanya menundukkan kepala, menghilang, lalu kembali dengan perabotan, di mana Sora langsung duduk dan melanjutkan bicaranya.
“Tapi aku yang jalan duluan. Dan aku mengubah taruhanku jika aku menang.”
Bukan seolah mereka punya rencana untuk membiarkannya menang. Jadi:
“Kalau aku menang, kalian langsung buka ‘mekanisme produksi’ kalian. Singkirkan semua omong kosong sok suci nggak bisa bikin anak kecuali dengan satu orang tertentu dan lakukan. Plus, kalian biarkan kami make kalian sebagai set konser, setuju?”
Seolah mengakui dugaan Sora bahwa mereka akan menerima apa saja, Einzig mengikutinya, duduk di meja dengan senyum lembut.
“Baiklah. Tapi izinkan kami menambahkan beberapa syarat juga, jika kau tidak keberatan.”
Setelah Einzig menyebutkan semuanya, dia dan semua Ex Machina mengangkat tangan mereka.
“…Kak…?”
Shiro menatap Sora dengan gelisah, tapi Sora menyeringai buas dan mengangkat tangannya sendiri.
“Siapa menurutmu aku ini? …Jangan pikir ini bakal mudah buat kalian, kumpulan rongsokan.”
Dan demikianlah tiga belas Ex Machina dan satu Immanity berbicara:
—Aschente…
Sementara itu, jauh di barat Elkia, di benua Valar, di wilayah yang hingga beberapa hari lalu masih disebut sebagai negara bagian Tírnóg dalam negeri Elven Gard, kini terbentang sebuah wilayah tak bertuan yang telah bersih dari penduduk Elf berkat rekayasa Sora dan Shiro. Di atas area kosong yang menunggu kedatangan armada perintis dari Elkia itu, melayanglah sebuah daratan raksasa; sebuah kota di langit. Itu adalah ibu kota Flügel, yang dibangun di atas punggung Phantasma Avant Heim. Di suatu tempat di antara tumpukan kubus tak terhitung jumlahnya yang menyerupai pencakar langit yang melilit satu sama lain…
“…Av’n’… Maukah kau mendengar kekhawatiranku belakangan ini?”
…terdapat seorang gadis dengan mata dua warna berbeda dan sebuah tanduk yang mencuat dari rambut gioknya. Sebuah halo yang retak melingkari kepalanya. Flügel pertama, Azril, sedang berbicara dengan Phantasma di dalam dirinya.
Dia adalah agen berkuasa penuh dari pemerintahan Avant Heim, Dewan Delapan Belas Sayap. Dia juga menjadi wadah bagi sebuah Phantasma dan, dengan demikian, menjadi wakil dari ras tersebut. Jauh di dalam kegelapan, di mana kubus-kubus bertumpuk tinggi, menutup setiap celah cahaya matahari—
“Aku…merasa semua orang membenciku. Apa ini cuma perasaanku saja?”
—Azril bersembunyi dalam kegelapan di antara kubus-kubus itu, menangis seorang diri.
Hukum fisika seperti gravitasi dan ruang tidak berarti bagi Flügel, sehingga mereka tidak memiliki konsep infrastruktur. Mereka tidak melihat alasan untuk membangun jalan atau tangga di kota mereka. Namun kini, Azril yang terpaksa “menjalani kehidupan dengan batasan” yang membuatnya setara dengan Immanity akibat permainannya melawan Sora dan Shiro… Azril, yang dengan riangnya berjalan membawa tumpukan besar buku…
…baru saja belajar akibat alami dari kondisinya yang unik: bahwa jika ia salah melangkah, ia akan jatuh ke dasar.
Dalam prosesnya, dia juga mempelajari betapa menyakitkannya jatuh dari tempat yang begitu tinggi, serta bahwa jika terjatuh ke dalam celah, mustahil baginya untuk keluar. Air mata Azril di hari penuh penemuan ini disambut oleh Av’n’—Avant Heim—yang suaranya bergema dari dalam.
«Aku hampir tak dapat memahami perasaan cinta dan benci.»
Sebagai seorang Phantasma, ia hampir tidak memiliki kesadaran diri— Namun, ia melanjutkan—
«Aku menduga, jika kau sendiri meragukannya, kemungkinan besar hal itu memang benar.»
……Ya.
“…Ya, aku sudah tahu… Semua orang membenciku. Tapi tetap saja—”
Sesaat, ia tersenyum kecil, menerima semuanya.
“Kenapa tidak ada yang datang membantuku?!?!”
Kemudian jeritannya pecah bersama air mata dari celah gelap.
“Aku tahu mereka mendengarku! Bahkan ada anak-anak yang melihatku jatuh! Aku dengar mereka tertawa ‘lol’ padaku! Aku ini kakak mereka, pemimpin Flügel! Seseorang seharusnya membantuku!!”
Ketika hanya kesunyian dan tekanan dinding yang menjawabnya, tiba- tiba, Azril tersenyum dan berpikir. Oh—dia tahu. Flügel semuanya sedang sibuk sekarang.
—Sebuah kota yang dulu dikuasai oleh para Elf, kini menjadi wilayah Elkia. Lebih tepatnya, menurut isi perjanjian yang telah disepakati, itu adalah properti milik Sora dan Shiro. Flügel pasti akan tergoda melihat gunungan buku yang ditinggalkan oleh para penghuni Elf yang terusir, tetapi mereka tidak bisa menjarahnya begitu saja. Sora dan Shiro memanfaatkan prinsip ini untuk menawarkan usulan kepada Flügel:
“Untuk setiap buku, kalian harus memberikan kami satu salinan dan sebuah buku panduan tentang fasilitas perkotaan Elf. Siapa cepat, dia dapat! Privatisasi demi kemenangan!”
Mereka juga menetapkan batas waktu hingga armada perintis Immanity dan Werebeast tiba. Dengan demikian, para Flügel berlomba-lomba terbang bolak-balik di atas tanah itu. Flügel akan mendapatkan sejumlah besar buku, Sora dan Shiro akan mendapatkan jumlah buku yang sama, dan Immanity akan memperoleh panduan tentang cara menggunakan fasilitas Elf yang tidak mereka pahami.
“…Mereka bahkan berhasil membuat anak-anak yang tidak kooperatif mau melakukan apa yang mereka inginkan… Mereka memang luar biasa.”
Itu mengesankan, ia mengakui. Tidak heran mereka semua sibuk. Tapi—
“Apakah butuh waktu selama itu untuk membantuku?! Mereka bahkan tidak bisa menyisihkan dua detik pun untukku?!”
—Kini ia yakin. Mereka membencinya.
Tempat ini, jauh di dalam kotanya sendiri, akan menjadi makamnya.
“Hmph… Tidak ada harapan atau keselamatan di dunia ini. Semua orang sendirian dalam kegelapan keputusasaan.”
Berpuisi, ia memutuskan untuk merana di sana.
“…Aku tidak pernah menyangka kau akan mencoba berpuisi, Senpai. Apa kepalamu terbentur?”
Saat ia mengangkat kepalanya, ada cahaya di ujung kegelapan. Seorang malaikat, berjalan mendekatinya dan berbicara.
“Oh, rupanya kau membenturkan seluruh tubuhmu. Yah, tidak masalah. Aku memang butuh sedikit waktu untuk menemukanmu.”
“J-Jibsy… K-Kau datang mencari kakakmu…?”
“Ya, meskipun aku lebih suka jika itu tidak perlu. Kuharap kau tidak terlalu merepotkanku, tapi…”
Tanpa kesulitan sama sekali, Jibril langsung memindahkan Azril keluar dari celah dan menyelamatkannya. Azril menarik kembali ucapannya dan
meminta maaf kepada dunia yang baru saja ia kutuk. Bukan orang sembarangan, tetapi adik bungsunya yang paling ia sayangi yang telah datang menyelamatkannya—!!
“Harapan dan keselamatan itu nyata! Mereka ada di sini! Dunia ini penuh cahaya, dan— Ngyah?!”
Terisak dan melompat ke arah Jibril, Azril malah menabrak dinding dengan wajahnya.
“Sudah kuduga! Inilah tempatnya… Sungguh buang-buang waktu…”
Jibril menghindar dengan teleportasi seolah itu adalah hal yang wajar, lalu menghela napas sambil memegang sebuah buku. Itu salah satu buku yang Azril bawa saat terjatuh, bukan?
“…………Nyah? Hrh?”
Azril terpana. Hah? Hah? Pikirannya berputar tanpa arah.
“…Ehhh… Hah? Jibsy… Kau datang untuk…mencariku?”
“Ya, Senpai. Aku mendengar bahwa kau membawa buku ini saat terpeleset dan jatuh, jadi aku— Oh, aku mengerti! Maafkan aku. Aku minta maaf atas penyampaianku yang menyesatkan. Izinkan aku memperbaikinya.”
Jibril bersinar. Ah…senyumannya memang seperti malaikat. “Aku datang untuk mencari buku ini. Aku tidak datang untuk mencari dirimu, dan aku tidak berencana untuk melakukannya di masa depan. ♥”
—Kegelapan kembali menyelimuti dunia. Atas dan bawah, nya-ha… Aku sudah tahu dunia ini memang sampah…
“Baiklah, masterku sedang menunggu, jadi aku akan pergi.”
“Nyaaah! Tungguuu, Jibsy, kumohon! Setidaknya bawalah aku ke atas— ”
Azril menangkap Jibril dengan air mata berlinang tepat saat ia bersiap untuk berpindah jauh. Kemudian.
“……Jibsy. Kenapa kau mencari buku itu?”
Azril menghentikan dirinya sendiri dan menyipitkan mata untuk bertanya. Itu adalah salinan buku Kuno Dwarf. Azril, seperti halnya Flügel lainnya yang tidak diciptakan untuk melupakan, tahu isi buku itu kata per kata.
“Masterku sedang bermasalah dengan beberapa boneka. Aku berpikir untuk membacanya kembali, siapa tahu ada petunjuk yang bisa ditemukan.”
—Ya. Ia sedang mencari tulisan tentang Ex Machina. Dan dengan itu, ia menghilang begitu saja.
……
Azril sekali lagi ditinggalkan sendirian di dasar kota, dalam kegelapan.
“…Nyaaah? …Rongsokan itu…di Elkiiiiaaa…?
Tapi suaranya datang dari tempat yang lebih rendah daripada dasar itu sendiri, dan bayangan senyumnya lebih dalam daripada gelapnya malam. Avant Heim sendiri bergetar merasakan perubahan drastis pada pemimpin Flügel mereka. Seperti gempa langit. Seolah-olah bisa terdengar malapetaka yang tak terbayangkan. Pusaran emosi mulai muncul. Dengan satu kata—
“—Berkumpul.”
—semua Flügel, kecuali Jibril, langsung berlutut di hadapannya saat itu juga. Azril, Flügel pertama, senjata yang diciptakan oleh dewa untuk membunuh dewa, apa yang keluar darinya bukanlah permohonan atau permintaan. Itu adalah perintah.
“Kita akan memindahkan Avant Heim ke Elkia. Semuanya, bersiaplah!”
Memindahkan sebuah daratan yang jauh lebih besar dari pulau secara keseluruhan ke benua berikutnya melintasi lautan. Betapa absurdnya perintah dari makhluk absurd. Tapi semua bersiap tanpa keberatan. Hanya Azril yang berbicara:
“…Jibsy. Av’n’ dan aku ingin sekali bertemu dengan boneka rongsokan itu.”
Gumamannya dengan senyum yang dipaksakan bergema dengan raungan Avant Heim, yang seharusnya terdengar menenangkan seperti paus, tetapi kini mengaum hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ciut.
“Aku pikir kita bisa berbicara. Aku merasa kita bisa mengadakan obrolan yang menyenangkan.”
…Ya. Obrolan yang menyenangkan akan lebih diinginkan. Bahkan Azril akhirnya mulai menikmati sesuatu. Ini bukan waktunya untuk bermusuhan dengan Elkia, Sora, Shiro, atau, lebih buruk lagi, Jibril. Akan lebih baik jika semuanya bisa diselesaikan secara damai. Meskipun tentu saja—
“Jika itu tidak menyenangkan… Aku akan membunuh mereka hingga tak tersisa sebutir debu pun. ♥”
—itu hanya berlaku jika memungkinkan.
⟪ BAB 2 ⟫
Ini terjadi di pulau ibu kota Eastern Union, tepatnya di kota utamanya, Kannagari. Di sana tinggal lah pendiri Eastern Union, seekor rubah emas yang tempat tinggalnya dikenal sebagai Miyashiro. Saat ini, di tempat ini, di mana para Werebeast datang untuk menghormatinya layaknya dewa yang hidup—
“…Kalian semua… Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menahan diri, tapi…”
—di sanalah rubah itu berada, pertama-tama, yang akhirnya kehilangan kesabaran dan membuka mulutnya untuk berbicara. Dia adalah seorang wanita dengan monokel dan telinga rubah, dengan dua ekor besar yang tertutup bulu berkilauan. Pendiri Eastern Union sekaligus perwakilan penuh kuasa dari Werebeast, Miko, memperhatikan—
“Hmm? Oh, kami hanya bersantai. Jangan pedulikan kami.”
“…Santai saja…dan lanjutkan…”
“Fakta bahwa kalian gagal menyediakan teh yang layak bagi kami berbicara banyak tentang kualitas negara kalian, bukan? …Oh. Maaf, sekarang aku pikir-pikir lagi, aku mungkin tidak akan menikmati disuguhi makanan peliharaan. Maka dari itu, aku harus memuji kecermatan kalian dalam memahami posisi kalian sendiri.”
—kelompok yang tiba-tiba muncul di Miyashiro tanpa salam yang layak, lalu dengan santainya berselonjor di sofa. Mereka adalah Sora dan Shiro, serta Flügel yang selalu tersenyum, Jibril, yang ironisnya tak punya posisi untuk menguliahi siapa pun soal kesopanan. Sementara itu, ada satu sosok lain yang mengamati sekumpulan orang yang kurang ajar ini.
“Wahai Miko Suci. Anda hanya perlu mengatakan ‘Keluar,’ dan saya akan segera menyingkirkan para pengacau ini.”
Dia adalah Werebeast tua, Ino Hatsuse, yang tersenyum meskipun beberapa urat di wajahnya tampak menegang. Sementara itu, di belakangnya, Jibril melayang dalam posisi terbalik, tetap tersenyum.
“Astaga. Tampaknya seekor anjing kecil baru saja mengumumkan bahwa dia akan mengusir masterku dan pelayannya yang rendah hati, yaitu diriku sendiri. Pasti aku salah dengar. Biasanya, bahkan hewan pun tahu bagaimana menilai siapa yang harus mereka gigit. ♥”
“Hahaha, maafkan aku; aku mengira bahkan otak burung pun memahami Sepuluh Kovenan. Namun, tenang saja. Bahkan orang-orang dungu seperti kalian yang tak memahami pun akan segera disingkirkan dari properti Miko Suci begitu izin kalian dicabut.”
—Kita masih jauh dari keharmonisan antar ras, pikir Sora, Shiro, dan Miko.
Begitu Ino selesai saling melempar tatapan tajam dengan Jibril, dia berbalik menghadap Sora dan Shiro.
“Aku pikir bahkan monyet-monyet tak berbulu seperti kalian pun seharusnya menyadari bahwa ada hal yang lebih penting saat ini.”
Bagian Miyashiro tempat mereka semua berkumpul ini disebut Paviliun. Saat mereka menengadah, mereka melihat lima layar berbagai ukuran tergantung dari langit-langit. Di layar-layar itu, tampak lima Werebeast, yang tampaknya mewakili Eastern Union dalam permainan. Salah satu Werebeast itu mereka kenal dengan baik.
Telinga rubah fennec dan ekor besar. Seorang gadis kecil yang kini berlumuran merah. Itu adalah Izuna Hatsuse dalam mode bloodbreak, berlari di kota cyberspace dalam pertempuran virtual yang sengit.
“…Dwarf? …Hardenfell? Sepertinya bakal dibantai habis-habisan.”
Ini pertama kalinya Sora melihat mereka, tapi dari ciri fisiknya, tampaknya lawan mereka adalah Ixseed Peringkat Delapan, Dwarf. Ras tinggi yang hanya sedikit di bawah Elf—namun saat melawan Izuna, mereka bukan sedang bertanding, melainkan dipermainkan. Layar-layar lain juga
menampilkan lawan-lawan lain, yang hampir semuanya sedang dihajar habis- habisan.
“Aku harus berterima kasih untuk yang ini. Kami sudah menurunkan semua Bloodbreaker kami ke lapangan, kecuali kami berdua yang sudah tua. Dan para ikan mulai menggigit umpan.”
Eastern Union mengoperasikan permainan VR full-dive mereka dengan para gamer terbaiknya. Mereka tak punya waktu untuk menangani semua pihak yang datang menyerang mereka, tampaknya mencari petunjuk tentang siapa sebenarnya Sora dan Shiro. Maka, ketika dia menyadari bahwa Sora dan Shiro lah yang ada di balik semua ini dan mengakui utangnya—
“Jadi? Kalian datang dengan sadar bahwa kami sedang sibuk, dan kalian malah mengganggu… Boleh aku tahu apa tujuan kalian?”
—dia tertawa kecil melihat Izuna melompat kegirangan atas kemenangannya, lalu kembali ke ritmenya, dia menoleh ke Sora dan Shiro dan bertanya.
“Tentu. Terus terang saja, kami benar-benar merasa tidak nyaman di kastil saat ini. Rasanya…menakutkan. Jadi kami datang untuk bersembunyi di sini. Begini…”
Suara Sora tiba-tiba turun satu oktaf. Miko dan Ino menyipitkan mata.
“Masalah ini sebenarnya cukup serius. Kami butuh bantuan kalian, terutama Kakek.”
“…Bantuanku, katamu…?”
—Miko dan Ino sudah cukup mengenal Sora saat ini. Sora, yang selalu tampak santai, percaya diri dan berani, sebenarnya hanya berpura-pura. Dia tak akan pernah mengatakannya sendiri, tak akan pernah mengakuinya. Tapi dia tahu betul akan hal itu, dan karena dia tak berniat menipu dirinya sendiri, beberapa orang seperti Shiro juga mengetahuinya. Tak pernah ada saat di mana Sora benar-benar nyaman. Tidak sekalipun. Dia selalu serius, selalu berusaha keras, mati-matian mencari jalan keluar, berpegangan erat pada Shiro. Untuk pria ini terlihat tidak nyaman, dan, lebih lagi, meminta bantuan pada Ino Hatsuse… Siapa pun bisa melihat bahwa ini bukan masalah sepele yang dibawakan Sora dengan wajah paling serius.
“—Aku terlalu populer. Dengan robot maid. Tolong aku.”
“…………”
Aku terlalu populer. Ah, satu kalimat yang ingin diucapkan oleh semua pria setidaknya sekali dalam hidup mereka. Sebuah kalimat yang, ketika benar- benar didengar dari orang lain, menimbulkan dorongan untuk meninjunya dengan sekuat tenaga. Tapi, ah… Akhirnya Sora merasa dia mengerti. Aku terlalu populer. Aku punya terlalu banyak uang. Itulah kalimatnya—tapi! Ketika seseorang benar-benar berada di posisi untuk mengatakannya, itu sama sekali tidak menyenangkan!! Orang-orang itu benar-benar punya masalah. Masalah serius! Terlalu berat untuk hanya ditertawakan dengan rasa iri dan gumaman, “Andai saja…”!!
“Raja Sora, tampaknya situasinya memang cukup serius. Izinkan aku, Ino Hatsuse, untuk memberikan sedikit bantuan yang bisa kuberikan.”
Saat Sora yang tersiksa menangis dalam hati, Ino mengangguk dengan gagah dan meletakkan tangannya di bahu Sora. Dengan senyum hangat dan penuh kepercayaan, dia menambahkan:
“Jika boleh, Yang Mulia… Tidak ada satu pun jiwa di surga maupun di bumi yang akan mencintaimu. Mohon kendalikan dirimu. Ini hanyalah fantasi obsesif, delusi belaka. Aku sarankan kau untuk beristirahat panjang.”
Pandangan penuh belas kasihan Ino menyiratkan: Para gadis itu hanya ada dalam imajinasimu.
“…Ino Hatsuse. Panggil tabib pribadiku…”
“Saya siap melaksanakan perintahmu, wahai Miko Suci, tapi bukankah ini kesempatan yang sempurna untuk membiarkan Raja Sora pergi selamanya?”
“Kau bilang pemimpin Persemakmuran sedang mengigau? Pikirkan apa artinya bagi negara kita. Mari kita biarkan dia mati di lain—”
Sora hendak menyela diskusi bebas keduanya.
“…Mengakuisisi Master. Lösen: Asura-Apokryphon.”
Namun, suara lain menggema dari kehampaan, kehadirannya berbicara jauh lebih keras daripada kata-kata—
“Penemuan: Master akhirnya ditemukan. Hadiah: Jelaskan alasan perpindahan ke koordinat ini.”
Seorang robot maid berdiri di Paviliun Miyashiro seolah dia sudah ada di sana sejak awal: Ex Machina berambut ungu, Emir-Eins, memiringkan kepalanya dengan bingung. Sebaliknya, lebih tercengang daripada Miko atau Ino—
“Hei, ta— Bagaimana kau tahu…? Bagaimana kau bisa sampai di sini?!”
—Sora berpikir lebih baik tidak menjawab, Karena aku ingin menjauh dari kalian.
“Balasan: Membuka kembali celah ruang yang ditinggalkan oleh Irregular. Waktu berlalu. Mohon maaf telah membuat Master menunggu.”
Emir-Eins meminta maaf untuk hal yang sama sekali salah, dan ekspresi Jibril tampak tegang. Jibril telah memindahkan mereka ke tempat yang tidak dapat diakses oleh Ex Machina, karena mereka tidak bisa melihatnya dan tidak mengetahuinya. Dia berpikir mereka bahkan tidak akan bisa melacaknya, namun ternyata mereka berhasil membuka kembali celahnya di ruang. Dan itu bahkan tidak memakan waktu satu jam. Sulit membayangkan bagaimana perasaan Jibril, tapi—
“…Sepertinya…aku telah meremehkan lawanku lagi…”
—dengan nada suaranya yang penuh niat membunuh, jelas sekali harga dirinya telah terluka—
“—Apa…? Itu Ex Machina?! Bagaimana—?!”
—sementara itu, Ino telah cukup pulih dari keterkejutannya untuk berteriak, dan Miko kini dalam posisi siaga. Namun, mengabaikan semua itu, Emir-Eins— Tidak, Ex Machina hanya melanjutkan tanpa peduli. Dengan kata lain:
“Lösen: Love Success Situation Forme—Checkmartyr—Prototype 0008.”
Suara ini tidak berasal dari mulut Emir-Eins, melainkan sekali lagi dari kehampaan dan dari beberapa suara. Kali ini, interior Paviliun Miyashiro diubah menjadi dunia yang berbeda. Berbeda dengan Miko dan Ino yang
menyaksikan dengan kaget, Sora dan Shiro menonton dengan tenang, menghela napas:
—Serius. Mereka ini bisa jadi peralatan panggung yang sempurna.
Kejadian yang berlangsung semakin mengonfirmasi catatan Jibril. Dan seperti yang dikatakan suara yang menggema, ini adalah kedelapan kalinya perubahan ruang semacam ini terjadi. Sembilan kali jika dihitung sejak mereka pertama kali muncul. Ini mulai membosankan. Sesuai dengan tulisan dalam buku, tampaknya mereka menambahkan materi untuk mengubah pemandangan tanpa mengubah materi yang sudah ada. Garis-garis kompleks melesat melalui ruang, membentuk poligon, merender gambar. Secara berkala, kacau, namun tetap stabil, kekosongan yang melapisi permukaan benda terisi dengan cepat oleh tekstur 3D yang dikeluarkan Ex Machina untuk membangun lingkungan virtual.
…Jangan salah, ini masih Paviliun Miyashiro. Masih beralaskan tatami. Tapi tak seorang pun akan mengira demikian dalam keadaan ini bahkan Miko yang tinggal di sini sekalipun. Waktu, ruang, bahkan kausalitas itu sendiri dilampaui untuk menciptakan pemandangan yang luar biasa—
“………”
Pertama, ada Sora, yang tiba-tiba mengenakan setelan jas.
“…Kau ingin melihat celana dalamku? Aku akan menunjukkannya padamu… ♥ Karena aku mencintaimu, Sensei… ♥“
“Ah, tidak adil! Sensei adalah milikku! Benar, Sensei? ♥ “
“Em, Sensei? Saat aku memikirkanmu, aku mulai merasa aneh…di sini. Kenapa, ya?”
“Sensei! ♥ Aku ingin kau memberiku pelajaran kesehatan pribadi lagi. ♥“
Kemudian muncul gadis-gadis kecil dengan tas punggung, mengeluarkan kalimat yang bahkan sulit ditulis dalam keadaan sadar.
…Secara keseluruhan, ada sebelas siswi kecil seperti Shiro atau bahkan lebih kecil yang tentu saja tidak kami katakan berusia SD. Mereka berkumpul di sekolah dasar virtual seusai pelajaran. Di antara Ex Machina yang berubah, ada seorang gadis pendiam berkacamata dan seorang tomboy yang keras
kepala. Tapi semuanya bersaing dengan sengit demi cinta sejati mereka, Mr. Sora, dan sebuah “tindakan fatal.” Semacam itulah.
…Kekuatan yang luar biasa telah menciptakan pemandangan yang bahkan lebih luar biasa dan konyol. Semua orang tertegun. Hanya para gadis itu yang terus berisik.
“Ooooh… Kita tidak akan bisa menyelesaikan ini kalau begini…”
“Oke, kalau begitu siapa pun yang bisa membuat Sensei merasa paling nyaman, dialah yang menang!”
“Okaay!”
“Baiklahhh, aku tidak akan kalah, jadi lihat gerakan mulus, rata, dan kecilku—”
“Tidak mungkin, gila!! Hentikan ini sekarang juga, dasar psikopat!!”
Ketika kegilaan mereka hampir mencapai puncaknya—Kita semua harus melakukannya duluan!—dan gadis-gadis kecil itu mulai menanggalkan pakaian mereka, akhirnya, raungan Sora mengguncang ruang kelas.
“Tidak, tidak! Aku tidak akan melakukan apa pun dengan kalian! Dan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa memilikiku, ngerti?!”
Di belakang kelas, Shiro duduk dengan tangan menopang pipi; Miko mengenakan seragam pelaut; dan Ino, yang hampir meledak dari seragam sekolahnya. Mereka semua menatap Sora seakan dia hanyalah sampah, dan Sora berteriak seakan itu bisa mengusir fakta tersebut dari kesadarannya.
“Kenapaa?! Karena kami masih anak-anak?!”
“Tidakkah kau tahu semua karakter yang digambarkan berusia delapan belas tahun ke atas?!”
“Diamlah! Itu bahkan bukan masalahnya! Semua organisasi dan orang- orang penting tidak akan mendengar alasan seperti itu; kalau kalian mau melakukan hal semacam ini, paling tidak buat batasannya! Kalian mau aku dipenjara?!”
Setelah berteriak pada gadis-gadis kecil itu, akhirnya, Sora memegangi kepalanya dan memohon:
“…Tolong. Aku mohon. Pergilah sebentar saja… Ya? …Serius.”
Seakan mereka akhirnya menyadari bahwa dia benar-benar serius, poligon-polygon itu pecah. Kelas senja berubah kembali menjadi ruang tatami lama yang nyaman seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dan para siswi SD yang menyebut diri mereka demikian, yang status hukumnya sangat meragukan, kembali ke bentuk aslinya. Kembali di Paviliun Miyashiro, sebelas robot maid non-loli, komputer transendental yang jauh melampaui mesin orakel yang bahkan melampaui superkomputer, menggunakan kekuatan luar biasa mereka untuk tujuan yang paling tidak berguna dan menganalisis data tanpa ekspresi. Jadi—
* * *
“—Menganalisis kurva indeks gairah seksual target. Faktor resistensi diperkirakan. Memulai pertimbangan penyesuaian.”
“Gairah seksual terkonfirmasi di atas ambang dasar. Konflik moral diperkirakan. Mencari solusi.”
—Setelah dengan bebas mengungkap preferensi seksual Sora, mereka pun mulai bergeser dengan tenang.
“Hei, jangan cuma memfitnahku lalu pergi begitu saja!! Raja Sora juga suka oppai, tahu?!”
Sora berdiri di Annex Miyashiro, berteriak ke langit saat badai keterkejutan perlahan menghilang menjadi kehampaan, dan kemudian segalanya hening.
…Ah…
“…Jadi. Mau menjelaskan sesuatu?”
“Menjelaskan apa? Aku sudah bilang, aku ini terlalu populer di kalangan robot maid!”
Kegilaan ini telah melampaui batas pemahaman. Miko bahkan terlalu bingung untuk merasa jijik. Sora mencengkeram rambutnya.
“Mereka bilang aku harus punya anak dengan salah satu dari mereka! Astaga, ini yang terburuk!!”
—Begitulah gaya pendekatan mereka. Dan perhatikan, ini sudah kedelapan kalinya.
Awalnya tidak terlalu buruk. Mereka mendekatinya dengan cara yang salah, dalam gaya rakyat jelata yang membuatmu ingin menyuruh mereka pergi. Misalnya, ada sebelas teman masa kecil yang berkata, “Ayo pergi ke sekolah bersama! ♥” Sebelas teman masa kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan mereka ingin pergi ke sekolah bersama. Mereka bahkan tidak paham arti teman masa kecil atau apakah Sora mau atau tidak mau pergi ke sekolah. Lalu, boom, ada sebelas kakak perempuan, sebelas janda…dan
seterusnya… Selanjutnya apa? Sebelas samurai? Ia mencibir, dan selesai sudah…
“…Tapi sepertinya kau tidak sepenuhnya acuh tak acuh, kan, nak?”
“Itulah kenapa aku bilang ini menakutkan. Ex Machina itu, mereka tidak punya batas… sebuah Ras yang mengerikan—!!”
Dengan kepalan tangan gemetar dan ekspresi merengut, Sora membalas sarkasme dingin Miko. Memang…meskipun pendekatan mereka selalu meleset, setiap percobaan membawa mereka semakin dekat. Dengan kekuatan observasi, analisis, perhitungan, dan adaptasi yang luar biasa, Ex Machina mampu menyimpulkan preferensi Sora dari reaksinya dan terus menyesuaikan skenario agar semakin tepat sasaran.
Fakta bahwa Sora tidak keberatan dengan Loli sebagian besar karena adiknya terlalu cantik. Ex Machina belum menangkap hal itu, tapi pendekatan mereka semakin mendekati—!!
“…Kak, kau…mimisan…”
Bahkan sekarang, Sora menghadapi tatapan menyipit penuh kecaman dari Shiro. Namun, Sora menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menggeleng dramatis.
“NO. You Are Very ~ NO… Shiro, adikku tersayang. Dengarkan kata- kata kakakmu.”
Di antara seratus pemuda sehat di dunia ini, mungkin seratus akan setuju dengan pernyataan ini. Ini adalah keyakinannya. Tidak. Ini adalah imannya! Maka, Sora pun mengungkapkan kebenaran—!!
“Meskipun wanita itu bukan tipe yang ia sukai, seorang pria yang terlahir sebagai laki-laki pasti akan mengalami hasrat tak terkendali yang mendorongnya: Aku ingin populer di kalangan cewek!! Sebuah ambisi? Tidak—ini adalah kekuatan pendorong dari makna menjadi pria—!!!!”
Jika ada pria yang menentang, biarlah ia maju. Maka aku akan dengan rendah hati mencabut keyakinanku yang telah lama kupegang. Mereka mungkin keliru, tapi mereka adalah tipe gadis yang ia dambakan. Mungkin salah paham, tapi mereka adalah gadis-gadis yang jatuh cinta padanya! Jika begitu—!!
“Pertimbangkan godaan yang telah kutanggung dan perhatikan benteng akal sehatku yang tak tergoyahkan! Tidakkah itu layak dipuji? Ya, dan jika bukan pujian, setidaknya tidak ada celaan, bukankah begitu—?!”
Dia mulai terbawa suasana karena baru pertama kali dalam hidupnya menjadi populer. Itu tidak akan ia sangkal, tapi! Pria mana di dunia yang bisa menyalahkannya? Sora mengakhiri pembelaannya yang penuh gairah.
—Tepuk tangan. Helaan napas.
Tepuk tangan itu datang dari Ino dan Jibril, yang tersentuh oleh pidato mengharukan ini, bahkan sampai menitikkan air mata. Helaan napas datang dari Miko dan Shiro, yang tidak memiliki cara lain untuk merespons selain memutar mata mereka.
Berselimut dalam lautan pujian dan cibiran, Sora tetap mengakui satu hal: Bahwa akal sehatnya yang kuat telah bertahan dari setiap cobaan berkat—
“Lösen: Love Success Situation Forme—Checkmartyr— Prototype 0009.”
Tunggu, sekali lagi, tiba-tiba, poligon-polygon melesat melintasi ruangan dan mendistorsi realitas. Ini adalah perubahan ruang kesepuluh yang dilakukan oleh Ex Machina, dan pemandangan ini benar-benar pemandangan yang menjaga akal sehat Sora tetap utuh, yaitu—
“Heh. Gadis yang bilang dia menyukaiku itu? Aku kasihan padanya, tapi harus kutolak…”
“…Hei. Aku tidak bertanya apa pun. Bicara apa kau, robot cabul?”
—Einzig.
Matahari terbenam menyinari ruangan dari jendela kecil. Ini tampaknya adalah ruang klub basket. Mengenakan seragam, Einzig dengan malas memulai percakapan tanpa konteks. Sora, yang entah kenapa juga mengenakan seragam yang sama, menjawab dengan malas, tapi—
“…Hmm, kau bertanya kenapa kutolak?”
“Aku bilang tidak! Peduli juga tidak— H-hei, jauh kau! Pergi sana!”
Tanpa memedulikan pendapat atau persetujuannya, mesin berhasrat ini mendekat dengan senyum khas atlet sejati.
“Jangan sampai aku bilang ini… Satu-satunya yang dicintai unit ini— Eh, maksudku, satu-satunya yang dicintai cowok ini adalah—”
“DIAMMMMM!! AAAHG!! ARGGGHH!! DIAMLAHHHHH!!”
Godaan robot gadis cantik mungkin telah menggoyahkan akal sehat Sora. Namun, godaan robot pria flamboyan itu justru menggeser fokusnya dari akal sehat ke kewarasannya, membuatnya menciut ketakutan.
“Coba saja kau bilang itu! Aku akan kabur ke tempat yang tidak akan bisa kau tau!”
—seperti ke akhirat! Pikiran itu cukup untuk membuat Sora berteriak. Kenangan yang membuatnya ketakutan berputar di benaknya seperti zoetrop terakhir dalam hidupnya.
Dia tidak akan membiarkan mereka menang dengan mudah. Itulah tekad yang Sora bawa saat memulai pertandingan catur melawan Ex Machina. Namun, tentu saja, hasilnya sangat berat sebelah. Dia pasti sudah tahu itu. Meskipun begitu…
“…………Sial…”
“…Kak… Kau, baik-baik saja…kan…?”
Shiro memeluk Sora dan berbisik saat dia mengutuk papan catur.
—Aku tahu. Aku bukan seperti Shiro.
Sora menggertakkan giginya. Tak ada orang biasa yang bisa melihat semua kemungkinan papan catur hingga menyebutnya seperti tic-tac-toe. Lawannya adalah Ex Machina yang merupakan komputer transenden, jadi tidak mungkin dia bisa membaca permainan lebih baik dari mereka. Meskipun begitu, Sora telah kalah puluhan ribu kali dari Shiro. Walaupun demikian, Sora telah merancang banyak strategi, banyak metode untuk mengalahkan Shiro
yang meskipun pada akhirnya selalu dikalahkan Shiro. Dia telah menerapkannya, bahkan mencoba mengeksploitasi kesalahan umum mesin dan mengalihkan perhatian mereka, tetapi semuanya tidak berpengaruh. Seperti yang dikatakan Einzig dengan penuh kepuasan:
“…Kau benar-benar seorang Spieler… Sampai bisa memaksa kami ke dalam keadaan buntu…”
Ya, permainan berakhir dengan stalemate, yang berarti kegagalan total.
Dia tidak bisa menang. Pada suatu titik dalam permainan, Sora sudah menyadari hal itu. Jadi, dia berfokus untuk mencapai stalemate. Pemain pertama yang bergerak selalu memiliki keuntungan dalam catur, dan jika dia hanya menargetkan stalemate, itu lebih menguntungkan.
…Sora telah bermain melawan komputer transenden yang tidak pernah jatuh ke dalam taktik yang sama dua kali dan selalu beradaptasi, dan dia masih tidak kalah. Jika bukan Shiro, bukankah itu pencapaian luar biasa bagi Sora? Mungkin itulah yang dipikirkan Shiro yang masih berpegangan padanya, serta Jibril dan Steph yang menyaksikan?
Namun, semua itu sia-sia. Salah satu aturan tambahan menyatakan bahwa Stalemate akan dihitung sebagai kemenangan bagi Ex Machina. Baik kalah maupun stalemate, hasilnya tetap sama. Meskipun begitu, dia tetap bertahan pada harga dirinya yang mengatakan: Sialan aku akan membiarkan mereka menang. Ini tidak bisa diterima olehnya. Dia menggertakkan giginya, merasa ini adalah sebuah penghinaan. Namun Einzig—Tidak, Emir-Eins juga—
“—Aku bisa melihat tekadmu dalam permainanmu. Kau pasti Spieler.”
—semua Ex Machina menatap Sora dengan senyum aneh.
……?
Tak ada yang mengerti: baik Sora maupun Shiro, begitu pula Jibril dan Steph.
“Baiklah, bagaimanapun juga, ini adalah kemenangan kami. Kami akan menegakkan tuntutan kami sesuai dengan Kovenan.”
Namun, tampaknya Einzig tidak berniat memberikan penjelasan. Dia berdiri.
“Gahhhh! Sial! Baiklah! Aku kalah, adil dan jujur!!”
Sora meledak dalam kemarahan putus asa yang penuh pembenaran. Dia bisa merajuk dan menggerutu sesuka hati, tetapi itu tidak akan mengubah apa pun. Penyesalan dan rencana balasan bisa dipikirkan nanti! Pertanyaan saat ini adalah apa yang harus dilakukan sekarang?!! Dengan cepat mengalihkan pikirannya, Sora menunjuk ke arah Einzig dan berteriak.
“Tapi tahu tidak? Kalian bajingan, kalian tidak pernah menyebutkan kapan dan dengan siapa!”
Dan itulah yang membuat tuntutan mereka begitu aneh. Sora mengamati reaksi mereka.
Mereka adalah pihak yang baru saja menjebaknya dengan begitu mudah. Tidak mungkin mereka melewatkan kekurangan yang begitu mencolok. Pasti ada sesuatu yang lebih. Ada motif tersembunyi. Mata Sora mencari jawabannya. Einzig menatapnya balik.
“Sangat wajar. Siapa yang berani memaksakan cinta? Itu adalah pilihanmu sendiri, Spieler, siapa yang ingin kau kasihi.”
“…Hmmm… Aku merasa ada seseorang yang baru-baru ini sangat memaksa, tapi mungkin aku hanya berkhayal… Ini kejutan terbesar hari ini,” ujar Sora sinis.
Einzig tersenyum tulus setidaknya sejauh yang bisa Sora lihat. Apakah mungkin untuk melihat kebohongan dalam ekspresi sebuah mesin? Tunggu, apakah mesin bahkan bisa berbohong?
Einzig menanggapi, “Ya…dan karena itu, kami ingin kau segera memberi hanya informasi spesifik.”
Sora menyipitkan matanya, mengamatinya dengan saksama. Di balik omong kosong yang samar itu, ada satu permintaan yang harus ia penuhi segera. Itu termasuk dalam tambahan: Segera berikan kami informasi tentang preferensimu…
Sora masih belum bisa memahami apa maksud mereka, atau tujuan dari permintaan yang begitu samar. Mungkin, jika ia tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan, ia bisa menebak niat mereka. Apakah mereka benar-benar
berniat menjadi sekutunya, atau mungkinkah—? Sora menatap tajam saat Einzig melanjutkan.
“Ex Machina sangat menderita karena kurangnya informasi yang memungkinkan kami untuk dicintai olehmu.”
……
“Kau harus lebih spesifik! Dalam kondisi apa kau akan mencintai unit ini? Bagaimana aku harus mengekspresikan cinta ini agar kau bisa menerimanya? Data inilah yang kami kurang pahami!”
Para gadis Ex Machina mengangguk serempak mendengar pernyataan Einzig. Sora sibuk mengerang dan memegangi kepalanya yang berdenyut hebat, jadi Steph bertanya untuknya:
“Emm… Jadi Sora seharusnya melakukan…eh, ehem, dengan salah satu dari kalian saja?”
Mereka mengangguk kembali, Mmmhmm, mmmhmm.
“…Dan…kalian masing-masing…ingin dia…memilih kalian, sendirian…?” tanya Shiro.
Mereka kembali mengangguk, Mmmhmm, mmmhmm.
“Dan karena itu, kalian ingin tahu apa yang harus kalian lakukan agar masterku mencintai kalian,” tambah Jibril.
Dan mereka kembali mengangguk, Mmmhmm, mmmhmm.
Mungkinkah—hanya ini maksud mereka? Sambil masih memegangi kepalanya, Sora menatap Einzig dan dengan susah payah bersuara.
“…Aku hanya bisa mengatakan satu hal: Aku tidak punya data untuk makhluk seperti kalian!”
“A-apa? Kenapa, Spieler?!”
“Bagaimana kau mengharapkan aku mencintai robot cabul yang melenggak-lenggok tepat di depanku?! Itu mustahil!”
Ia mendorong kembali si gay cabul itu, secara harfiah, dengan tendangan kuat yang mengirimnya menabrak dinding.
Emir-Eins mengambil alih dengan satu permintaan yang tenang dan sederhana.
“Penentuan: Daftar informasi yang dibutuhkan: Pornografi milik Master. Selesai.”
“…Popcorn? Kenapa pembicaraan ini berubah membahas camilan?”
“Oh, Dora kecil, kau tak perlu begitu polos. Kau tahu sebaik siapa pun bahwa yang mereka maksud adalah bacol masterku. ♥”
Oh! Sekarang dia ingat. Jibril melanjutkan sementara Steph mulai memerah.
“Tapi kenapa bokepnya? Apa hubungannya dengan mendapatkan cinta?”
Jibril yang kebingungan itu dijawab oleh bisikan Shiro yang terdengar geli.
“…Bisa…menunjukkan...bokep milik...kakak...dan...apa yang dia suka… Ex Machina benar-benar musuh…berbahaya!”
Mereka bisa mengetahui preferensinya, memungkinkan para robot bertindak sesuai dan membuatnya jatuh cinta pada mereka. Kini Shiro melihat rencana licik dan berbahaya mereka. Dia gemetar dan menggigit kukunya. Di sampingnya…
“…………”
…Sora, yang dikepung dari segala sisi oleh pelecehan seksual tanpa batas, menghela napas, menatap langit-langit, dan berpikir. Para Ex Machina muncul entah dari mana, mendatanginya, lagi-lagi entah dari mana, dan mengalahkannya dalam permainan, lagi-lagi entah dari mana. Dan sekarang ini—Apa salahku sampai harus mengalami semua ini?
“…Yah… Kurasa aku kalah… Haha, ha… Huh…”
Setelah meneteskan satu air mata kesepian, ia mengeluarkan tabletnya. Meski menyesal, seperti yang sudah ditentukan oleh Emir-Eins, ia memang punya simpanan pornografi. Yang kini dituntut untuk ia serahkan. Ia telah bersumpah di bawah Kovenan. Ia tak bisa menolak. Tapi sebenarnya, mereka bisa saja menuntut sesuatu yang jauh lebih menghancurkan. Mungkin seharusnya ia bersyukur mereka puas hanya dengan mempermalukannya
secara seksual. Maka ia mengusap tangannya ke bajunya dan menyerahkan tabletnya pada Emir-Eins.
“—Euforia…”
Emir-Eins menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih, dan jari mereka sempat bersentuhan sesaat, memungkinkan Sora untuk memastikan: Tidak ada pelepasan listrik statis.
“Tapi aku hanya menunjukkan porno milikku. Kalian tidak boleh melihat data lain, apalagi menghancurkannya, mengerti?”
“……Hmm? Ini— Spieler, apakah ini mekanisme penyimpanan untuk buku-buku rahasiamu?”
“Inferensi: Media penyimpanan tak dikenal. Menyimpan banyak file data… Mencari metode pengoperasian.”
Einzig telah kembali dari dinding. Dia dan Emir-Eins menatap perangkat itu dengan penuh keraguan. Sora menyela.
“Semuanya ada di dalam situ. Aku sudah membuka foldernya untuk kalian, jadi…sisanya terserah kalian.”
Ya—ini adalah balas dendam yang sempurna, itu adalah troll kelas atas. Dia menyeringai licik.
“……? ……?”
Melihat semua Ex Machina kebingungan mencoba menganalisisnya, Sora menyeringai puas. Itu adalah tablet PC, perangkat elektronik dari dunia lain. Memang, mereka pernah mengutak-atik ponselnya, tapi itu karena dia meninggalkan radionya menyala. Semua data di tablet itu tertulis dalam bahasa dan pemrograman dari dunia lain. Dan karena dia melarang mereka melihat atau menghancurkan data selain porno, mereka tidak bisa mengaksesnya dengan paksa. Selain itu, jari non-konduktif Emir-Eins tidak bisa berfungsi di layar sentuh.
“Aku sudah memberikan apa yang kalian minta. Tidak ada perjanjian yang menyebutkan aku membantu. ♪”
“…Lelaki ini benar-benar bukan orang yang mudah dikalahkan…”
Steph harus mengakui bahwa dia cukup terkesan dengan bagaimana Sora tetap bisa membalikkan keadaannya. Tapi Sora tersenyum lebih lebar, seolah berkata, Itu belum semuanya, yang hanya disadari oleh Shiro yang duduk di pangkuannya.
“Tapi astaga… Satu-satunya bokep yang bisa kuingat ada dalam kepemilikan Master adalah rekaman Dora kecil dan yang lainnya saat mandi… Apa gunanya informasi seperti itu?”
“—Hei, itu benar, kan?! Kenapa aku juga diseret ke dalam ini?!”
Sepertinya bahkan Jibril belum membaca semua yang ada di tablet mereka. Meskipun dia mungkin berhasil menerjemahkan bahasa dari dunia lain, tetap saja ada banyak konsep dan asumsi yang tidak ia pahami. Walaupun Jibril tahu dari penelitiannya bahwa sebenarnya tidak ada begitu banyak porno di dalamnya…
“Observasi: …Tidak dapat mendeteksi kebohongan dalam diri Master.”
…Emir-Eins hanya menatap Sora, seolah sedang menganalisisnya. Namun hasilnya sudah jelas. Tidak ada gunanya berbohong kepada seseorang yang diasumsikan mampu membaca respons biologis lawan bicaranya.
“Tambahan: Tidak dapat mendeteksi kebohongan pada Irregular atau wanita Immanity.”
Sama seperti yang dia katakan, Sora memang telah menyerahkan folder pornonya; dia hanya tidak menjelaskan cara membukanya. Tidak ada kebohongan di situ, dan tidak ada pelanggaran terhadap Kovenan. Saat senyuman Sora semakin dalam terukir di wajahnya—
“Perbandingan: Namun, tidak dapat mendeteksi pengakuan Master terhadap pernyataan dua pihak.”
—kata-kata Emir-Eins berikutnya membuat Sora membeku di tempat.
“Kesimpulan: Informasi yang diberikan adalah kamuflase. Diperkirakan ada informasi yang lebih penting. Permintaan kepada Einzig: Gunakan penilaian situasional sebagai koordinator. Aus.”
A-a-a… A-apa… AAAAAAPA?!”
“Einzig kepada semua Seher dan Prüfer: Analisis prinsip kerja dari media ini!”
“—Jawohl.”
“WUUAAAA! E-eh, tunggu dulu, bisa tidak kalian kasih aku waktu sebentar?!”
Ex Machina dengan tenang mulai menganalisisnya meskipun Sora berteriak panik, dan sebelum dia sempat menyelesaikan protesnya, perhitungan mereka sudah menghasilkan laporan berikut:
“Analisis selesai. Data teridentifikasi sebagai pemicu stimulasi katalitik. Analisis pola: Objek diidentifikasi sebagai unit pemrosesan data yang menggunakan kode biner dengan kombinasi material konduktif dan isolatif. Tidak ada pola yang cocok dengan format data yang diketahui. Lapisan kompatibilitas baru diperlukan. Terdeteksi arus tidak dikenal yang tidak terkait dengan spirit sebagai metode operasional. Loading, ekstraksi data melalui beban tegangan berpotensi merusak data atau media.”
“B-baiklah, berarti kalian tidak bisa! Kalian cuma boleh menyentuh folder bokepnya—”
Walaupun terkejut karena mereka bisa memahami sejauh itu dalam sekejap, Sora buru-buru memotong mereka. Tapi pukulan telak berikutnya datang dari Emir-Eins.
“Instruksi: Cari struktur data yang memenuhi kondisi berbagi. Kunci penyortiran: Tidak ada. Target: Semua.”
“Hei, tunggu sebentar! Aku tidak bilang kalian bisa melihat semua isi datanya!”
“Sanggahan: Makna data belum teridentifikasi. Oleh karena itu, pencarian menyeluruh bukan pelanggaran privasi.”
—B-brengsek—!
“Pencarian selesai. Data ditemukan di arsip tersembunyi. Degradasi katalis menunjukkan akses berat. Struktur data memenuhi kondisi berbagi: frekuensi penggunaan, waktu aktif, status tersembunyi. Disimpulkan sebagai porno.”
—Eh, eh, ayolah—! Mereka bisa melihat kebohongan dalam ketidakbohongannya… Oke, masih bisa diterima. Tapi untuk menembus retorikanya yang berbunyi *‘Ini dia pornonya (tapi aku tidak bilang semua pornonya)’*—dan lalu menemukan sisanya—ayolah—!
“Dapat disimpulkan bahwa pemuatan dan penyalinan area yang mengandung rekaman relevan memungkinkan dengan beban spirit- elektrik terbatas. Jika data disintesis dan didekripsi, porno dapat diperoleh.”
“—Konfirmasi: Master, beri otorisasi eksekusi.”
“Mana mungkin kukasih! L-lagipula, kalian bisa buktikan kalau itu memang bokep?!”
Kalau mereka belum mengidentifikasi makna datanya, bisa saja mereka salah ambil! Dia hanya memberi izin untuk mengakses pornografi, dan kalau ini BUKAN porno—
Saat Sora mendesak Emir-Eins, Shiro bergumam pelan:
“…Makroekonomi…folder tersembunyi...delapan koma dua tiga gigabyte… Pasti, bokep.”
“A-APA—?! Bagaimana bisa kau tahu, Nona Shiro?! Sejauh mana kau— ?!”
“Dikonfirmasi: Ukuran struktur cocok dengan spesifikasi. Menyalin.”
“Hei, tunggu—Jangan— A-AAAAAAAAAAAAAAAAKKKH!!!”
……
…Dan begitu… Di ruang tahta, tempat para Ex Machina, Shiro, Jibril, dan Steph semua terdiam…
“Tidak, tidakkkkk… Koleksi rahasiaku yang berharga…!”
…hanya ratapan pilu satu orang yang menggema di udara. Porno berharga yang telah dia bawa dari dunia lamanya, tumpukan manga erotis yang begitu banyak, kini hilang selamanya. Datanya telah rusak, dan tak peduli
seberapa keras dia memukul layar, yang muncul hanya pesan: Tidak dapat dimuat.
“…Kak… Maaf…?”
“Oke… It's okay, Shiro. Ini bukan salahmu… Beneran bukan…”
Shiro memeluk Sora dan meminta maaf, tapi Sora hanya menggeleng. Ini kesalahannya sendiri karena kalah. Dan bagaimanapun juga, menjaga data lain dan tablet itu tetap utuh adalah prioritas utama. Seharusnya dia langsung memberi tahu mereka di mana data itu berada untuk meminimalkan kerugian. Shiro tidak melakukan kesalahan, dia justru melakukan hal yang seharusnya Sora lakukan dari awal. Tapi tetap saja… Kehilangan koleksi berharga itu selamanya tetap terasa menyakitkan. Namun, yang lebih menyakitkan dari sekadar kehilangannya—
“…Kak… Bokep…paling enak kalau masih fresh… Kau sudah...lihat semuanya…”
Menghibur Sora dengan membelai kepalanya, Shiro melanjutkan dengan lembut.
“…Kau tidak bisa, menikmati itu, lagi…kan? Mari kita cari…lebih banyak bokep…bersama-sama.”
“Dengar, kakakmu pasti sedih karena kecenderungannya selama ini begitu terbuka bagi adiknya! Dan, maksudku, bagaimana mungkin seorang gadis sebelas tahun bisa mewakili perasaan seorang pria yang baru saja kehilangan folder bokep-nya?!”
Keputusasaan itu tak berbeda dengan ketika simpanan pornografimu ditemukan oleh ibumu. Pelaku yang bertanggung jawab: Einzig dan Emir-Eins.
“Sekarang kita segera melanjutkan analisis data, Spieler! Mohon tunggu.”
“Deklarasi: Unit ini akan mendedikasikan semua sumber daya untuk menjadi istri ideal bagi Master… Sedang Berusaha.”
Dengan itu, kesebelas gadis Ex Machina semua membungkuk hormat secara serempak.
Inilah awal dari pendekatan gila Ex Machina yang didasarkan pada manga porno. Hanya butuh beberapa jam untuk mencapai titik ini…dan hal itu membuat Sora merinding. Dalam hitungan jam saja, mereka telah mendekripsi dan memahami data dari dunia lama Sora. Bahkan konsep-konsep yang asing seperti sekolah, teman masa kecil, berangkat sekolah bersama, ransel sekolah dasar. Mereka telah memahami budaya-nya. Dan semua itu hanya dari anime. Sepenuhnya berdasarkan manga porno. Wajar saja jika mengingat referensi mereka, ada kesalahpahaman dalam interpretasi mereka dan bias dalam skenario mereka. Tapi seberapa pun konservatifnya cara seseorang menggambarkan kecepatan pemahaman dan pembelajaran mereka itu luar biasa.
—Dan tetap saja.
Mengabaikan semua kenangan buruk dan melewatkan sinopsis. Eastern Union. Miyashiro. Annex. Sora mengembalikan fokusnya. Dan hal pertama yang dia katakan:
“Kenapa kalian masih keukeuh di rute super-gay?! Berhenti sekarang juga!!”
Di balik kenangan yang menyeramkan, di depan matanya kini terbentang mimpi buruk yang sesungguhnya: robot mesum dalam seragam basket. Dia semakin mendekati Sora, yang protesnya lebih menyerupai teriakan. Namun tetap saja, hanya Einzig yang masih tidak mau belajar, senyumnya tetap ceria seperti biasa:
“Hmm… Tapi kau lihat, itu tidak ada artinya kecuali kau menerima cintaku apa adanya—”
“Mending aku mati! Berhenti dengan cosplay bodoh itu!!”
Seolah akhirnya memahami keseriusan penolakan Sora, Einzig pun merosot kecewa. Pada saat yang sama, suasana damai di Miyashiro pun kembali seperti semula, membuat Sora menghela napas panjang penuh kelegaan. Dan bukan hanya Sora tetapi Miko, Ino, Shiro, serta Jibril juga, masing-masing dengan caranya sendiri.
Seakan semua itu masih belum cukup—
“…Aku minta maaf, Spieler… Hanya ada satu catatan referensi mengenai kasih sayang antar pria… Sangat sulit untuk menganalisis preferensimu dalam kategori ini… Aku hanya bisa mengutuk ketidakmampuanku yang telah membuatmu merasa tidak nyaman.”
Einzig ikut menghela napas, membuat Sora mencengkeram rambutnya frustrasi.
“Ketidakmampuan itu bahkan belum cukup untuk menggambarkannya! Aku tidak suka cowok! Bisa tidak kau mengerti?!”
“Tapi, Spieler, dalam kitabmu terdapat satu volume yang menggambarkan hubungan pria dengan pria secara eksplisit—”
“Itu seorang trap di sampulnya! Aku masih kesel tiap kali ingat!!”
Karakter di sampulnya jelas terlihat seperti gadis manis. Bahkan gaya gambarnya pun tampak ditujukan untuk pembaca pria. Tapi ketika Sora membelinya, ternyata isinya BL…dan cukup hardcore, pula. Tentu saja, itu sepenuhnya kesalahannya sendiri karena tidak mengecek isinya sebelum membeli. Namun sekarang Einzig menggunakannya sebagai bukti bahwa dia punya peluang, dan kemarahan lama Sora pun kembali berkobar.
“Kau tidak berpikir kalau referensi yang kau pilih itu salah total?! Lihat ini baik-baik!!”
Serius. Lihat skenario porno yang mereka gunakan. Bayangkan: menentukan siapa yang harus menjadi pacar Sensei berdasarkan siapa yang membuatnya merasa paling enak? Itu tidak masuk akal. Para gadis yang tidak terpilih akan benar-benar sengsara. Dalam kenyataan, ini akan berakhir dengan salah satu dari mereka menikam seseorang. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, mendasarkan tindakan pada skenario tak realistis dari manga porno adalah kesalahan besar.
…Meski Sora harus mengakui, dia masih kesal karena koleksinya dihancurkan.
“Apa yang kau katakan, Spieler? Informasi itu benar-benar berharga, dan bukan hanya untuk menentukan preferensimu.” Sepertinya pernyataan itu benar-benar mengejutkan Einzig, yang langsung berbalik. “Perpustakaanmu sungguh memberikan banyak wawasan…dan dunia itu benar-benar membuat kami terperangah.” Dia membelakangi Sora, nyaris mengagumi—Tidak,
mungkin benar-benar mengagumi. “Pendidikan…fisiologi, psikologi, semua itu membantu kami lebih dari yang bisa kami bayangkan, dalam memahami ‘hati’!”
Sora dan Shiro mengangkat alis mendengar pernyataan mesin itu yang semakin berapi-api.
“…Mm? Benarkah…?”
Komputer yang mencoba memahami “hati.” Dunia yang sedang ia puji adalah dunia yang, di tempat ini, hanya bisa ada sebagai teknologi dari masa depan yang jauh. Tapi saat Sora memikirkannya, tiba-tiba ia tersadar—Tunggu sebentar. Ex Machina membayangkan dunia lama mereka berdasarkan manga porno. Jadi, apa sebenarnya yang membuat Einzig begitu bersemangat…? Namun, tanpa menghiraukan keraguan Sora, semangat dari pidato mesin itu semakin membara—!!
“Ya… Terutama dalam mempertimbangkan perkara ‘hati,’ semua orang termasuk kami, jatuh ke dalam perangkap stereotip, ikonografi, asosiasi, dan bias! Yang pada akhirnya, membuat kami melakukan tindakan yang sama sekali tidak memiliki makna…”
Dan akhirnya, dengan kepalan tangan gemetar karena murka atas kebodohannya sendiri:
“Betapa gilanya! Memahami ‘hati’ dengan akal?! Bukankah sudah jelas bahwa ‘hati’ adalah hal yang paling jauh dari akal yang ialah ketidaklogisan itu sendiri!! Dan cinta adalah kebajikan tertingginya!!!!”
Sambil perlahan merentangkan tangannya lebar-lebar, ia mengucapkannya dengan lantang dan melepaskannya dari jiwanya—!!
“—Lösen: Eros-Apokryphon!!”
Pada saat itu juga, susunan besar gambar-gambar menyebar ke seluruh ruangan. Einzig menatap gambar-gambar tak terhitung jumlahnya yang melayang di udara, bahkan sampai-sampai ruang harus diperluas untuk menampungnya. Saat pidatonya semakin berkobar, air mata mulai terbentuk di matanya—
“Marilah kita merenung dengan jujur! Adakah Ixseed lain yang pernah menunjukkan ‘hati’ dengan begitu jelas?!”
Inilah cinta yang sesungguhnya, begitu kata air mata Einzig yang berteriak penuh emosi. Tapi.
“Apa salahku sama kau, sialan?! Berani-beraninya kau mempertontonkan hartaku pada semua orang—Oh, aku paham, kau memang sengaja membuatku menangis, ya?!”
Baiklah, kalau begitu. Lihat saja aku menangis!
Seketika itu juga, Sora menutupi mata Shiro dan menangis dalam arti yang berbeda, ah, yah, melihat harta karun yang ada; komik porno. Kau tahu…dengan semua bagian yang bergerak, masuk, keluar, ditambah dengan banyak hati kecil di mana-mana. Halaman-halaman tak terhitung jumlahnya yang dihiasi dengan seni yang secara klasik bisa digambarkan sebagai “Eheheheheheheh.” Miko dan Ino melongo, sementara Jibril meneteskan liur.
“Jadi maksudku, ini masalahmu! Ini benar-benar parade dari premis yang mustahil dengan hasil yang tidak masuk akal!”
Sora berniat menunjukkan kekeliruan dari apa yang Einzig gambarkan sebagai inti sejati dari cinta. Ketidakrealistisan yang malas, khas dari manga dewasa. Namun—
“Hmm… Premis yang mustahil dengan hasil yang tidak masuk akal, katamu? Bisakah kau lebih spesifik, Spieler?” Einzig tampak bingung. “Apakah yang kau maksud adalah ketidakkonsistenannya? Ketidakberartiannya, atau mungkin tidak adanya motivasi yang mengarah pada tindakan tersebut?”
—Semuanya, Sora ingin mengatakan, tapi dia menahan lidahnya. Einzig sudah jelas memiliki jawaban yang siap. Dan inilah jawabannya: Einzig mengaumkan jawabannya dengan lantang—!!
“Cinta itu tidak konsisten! Mencari logika dalam ‘hati’ adalah kekeliruan! Benturan jiwa yang saling tertarik itu tidak memiliki makna! Motivasi hanya diberikan setelah kejadian—ya! Seperti yang diajarkan oleh manga porno!!”
—Kenapa bisa begitu?
“Ah, peradaban yang dengan jelas menunjukkan apa itu cinta! Kebijaksanaan dari mereka yang menggambarkannya sebagai keadaan alami dunia!”
—Saat Einzig memuji para pencipta yang seolah-olah sedang melakukan speedrun untuk melihat seberapa sedikit halaman yang dibutuhkan sebelum mencapai adegan utama, Sora hampir saja setuju. Dia memegangi kepalanya
saat beberapa orang lainnya mulai bersuara. Mereka semua mempelajari halaman-halaman itu dengan sangat serius.
“Hmm… Raja Sora, aku semakin menghormatimu. Memang seharusnya gadis serigala memiliki dada yang besar. Aku memuji seleramu.” Ino menatap seorang gadis setengah hewan dengan sangat intens seolah ingin menembusnya dengan pandangan.
“……Sebenarnya, apa yang mereka lakukan di sini—? Eh. Yah, bukan urusanku.” Miko, yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam cinta, memerah dan berusaha terlihat tenang.
“Master, Master?! Tolong ajarkan ilmu ini kepadaku!!” Jibril meneteskan liur dengan penuh semangat, memohon untuk mendapatkan kembali data tersebut—“Mungkin bahkan secara langsung. Tolong, tolong!!”—atau setidaknya menerima bimbingan yang paling pribadi.
“…Shiro. Kakakmu akan menggali lubang… Kau mau ikut masuk?”
“…Mm. Baiklah…”
—Singkatnya, Sora dipermalukan di depan umum. Tergeletak di atas tatami bersama adik perempuannya, dia mengumpulkan keberanian untuk mengubur dirinya. Tapi—
“Namun, bahkan dengan pengetahuan luar biasa ini, tampaknya pemahamanku tentang cinta masih belum cukup agar kau mencintaiku.”
“…Dengar, sebelum kita bicara soal cinta, mungkin kau harus memahami dulu empati, atau kepekaan…”
Pria mekanis yang berbicara tentang cinta tanpa memahami luka di hati Sora mengangguk dalam-dalam.
“Dipahami. Aku akan pergi mempelajarinya dan segera kembali, Spieler! Harap nantikan itu!”
“Aku tidak menantikannya sama sekali! Pergi dan jangan kembali sialan!!”
Setelah dengan mantap dan ramah memotong jeritan Sora—foop. Si mesum luar biasa itu menghilang, membawa serta koleksi obscenitasnya.
“…………Fiuh…”
Kedamaian telah kembali di Miyashiro. Semua menghela napas.
“Dan kapan kau berencana kembali?”
Hanya Jibril yang bergumam seperti itu, sementara yang lain mengikuti arah pandangannya ke arah yang kosong:
“…Balasan: Unit ini akan kembali kapan saja atas permintaan Master.”
Sejauh yang bisa Sora dan Shiro lihat, tidak. Mungkin bahkan tidak ada sedikit pun jejak spirit—
“Emir-Eins?! Hah? Kau ada di sana?!”
“Pengakuan: Selalu.”
Meskipun para Werebeast tampaknya tidak bisa melihat gadis Ex Machina yang menjawab panggilan Sora dengan sebuah hormat kecil, dia memang ada di sana. Kamuflase optik. Seolah-olah itu bukan masalah besar.
“…Kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya kembali bersama yang lain?”
“Membanggakan: Master memerintahkan unit ini untuk menghilang. Maka, unit ini pun menghilang.”
…Kedengarannya seperti omong kosong khas Sora. Semua orang menatapnya dengan kesal, tapi ada sesuatu yang lebih mengganggu pikirannya.
—Einzig… Yah, dia hanya orang aneh mesum. Lupakan saja. Tapi kenapa Emir-Eins tidak bertindak seperti Ex Machina lainnya? Kabarnya, dia dan Einzig sama-sama ‘Befehler,’ tapi— Tidak, tunggu, hal yang sebenarnya adalah…
Baru saja dia menyadari, Emir-Eins bahkan tidak aktif mengejarnya.
“Catatan: Master adalah tuan dari unit ini. Posisi rumah unit ini adalah di sisi Master. Namun, posisi berosilasi di malam hari.”
Robot maid. Tampaknya benar-benar berkomitmen untuk menjadi seorang maid.
“Pertanyaan: Posisi yang tersedia malam ini: atas, bawah. Silakan tentukan preferensi. Unit ini akan melakukan persiapan yang diperlukan.”
Tapi untuk seorang maid, dia terdengar sangat mengancam soal keinginannya untuk membuat bayi dengannya. Seolah-olah sudah ditentukan bahwa mereka akan bercinta.
“…Biar aku perjelas. Maaf, tapi pergilah sebentar— Oh, tapi sebelum itu?”
“Kompromi: Kedua posisi didukung secara setara.”
“Bukan itu— Tunggu, apa yang kau bicarakan…? Ini cuma pertanyaan…!” Sora menjawab dengan lelah.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Ex Machina ini rencanakan, pikirnya. Mungkin mereka punya agenda tersembunyi, tapi untuk saat ini, dia belum punya cukup informasi untuk memastikan apa pun. Itulah sebabnya, sejauh ini, dia hanya bisa bertahan…dan bertahan…dan tetap berperan sebagai orang waras:
“…Astaga, ada apa dengan kostum maid itu?”
Sora akhirnya bisa mengucapkannya. Tapi—
“Kenyataan mutlak: Robot seharusnya menjadi robot maid.”
“Maksudku, dari mana asal omong kosong itu?!”
—sebagaimana matahari terbit di timur dan terbenam di barat, begitu pula robot seharusnya menjadi robot maid, tampaknya. Sora tak bisa menahan diri untuk tidak mengerang mendengar pernyataan ini. Apakah semua informasi ini berasal dari pornonya…? Tidak, semua Ex Machina sudah mengenakan kostum maid sejak pertama kali mereka muncul.
…Sora lebih memilih melupakan bahwa ada seorang butler.
“Balasan: Sejak akhir Perang Besar, Ex Machina telah mempelajari pertanyaan ini: Apa makna dari keberadaan Ex Machina?” tanya Emir-Eins dengan lembut, namun lancar.
“Lanjutan: Harapan. Preier telah mentransmisikan ‘hati’ kepada Ex Machina.”
Dia terdengar seperti rekaman. Sebuah pemutaran ulang yang halus dan tidak berjiwa.
“Kenangan: Harapan untuk mewujudkan harapan dari Spieler; pria yang dia cintai.”
Namun saat Emir-Eins menyipitkan matanya seolah menatap cahaya terang, ada sesuatu pada wajahnya, tepatnya mata kaca buatan yang tampak seperti boneka, bibirnya—
“Kekaguman: Jawaban itu meyakinkan. Persetujuan diberikan oleh semua unit.”
Meski mereka adalah bagian dari mesin, sekadar boneka, ada sesuatu di dalamnya yang seharusnya tidak ada.
“Kesimpulan: Untuk memberikan segalanya kepada Master, untuk melayaninya, dan menjadi kekuatannya. Inilah harapan; inilah kehendak unit, kehendak Ex Machina.”
Suaranya memiliki perasaan, ya, yang dia miliki adalah harapan.
Keheningan menyelimuti bagian dalam Miyashiro. Sora dengan canggung membuka mulutnya untuk berbicara.
“Ahhh… Kau benar-benar membuatku sulit melontarkan lelucon di sini, tapi…” Dia tidak yakin apakah pantas untuk menghancurkan atmosfer khidmat yang telah diciptakannya. Namun karena tidak bisa menghilangkan keraguan tertentu yang mendekati keyakinan, dia memberanikan diri untuk bersikap sok tahu. “…Maksudku. Itu tidak berarti kau harus menjadi maid, kan?”
Meski perkataan Emir-Eins dianggap serius, itu tidak berarti dia harus menjadi maid. Pasti ada peran lain yang juga dapat memenuhi kehendaknya. Dan bagaimanapun juga, kostum itu sama sekali tidak relevan.
“Pengakuan: Delapan peran sesuai dengan kesimpulan. Pemilihan ‘maid’—”
Emir-Eins mengangguk mengonfirmasi keraguan Sora. Dia benar. Itulah mengapa mereka tidak benar-benar bertindak seperti maid.
“Pengungkapan: Sewenang-wenang.”
—Itu hanya keputusan acak.
Jadi pada dasarnya, ya, mereka hanya berpura-pura menjadi maid. Ini membuat semuanya masuk akal bagi Sora, sementara bagi yang lain…semuanya terasa tidak penting lagi…
“…Menarik! Seorang karakter sampingan sepertimu bermaksud merebut masterku?”
…kecuali satu orang— Maaf, satu tubuh. Atau mungkin satu artikel? Unit? Tunggu, bagaimana cara menghitung senjata pembunuh dewa, sih? Yah, terserah, pikir Sora, tidak dapat mengingatnya.
“Dan berpikir bahwa sesuatu yang bisa dibuang sepertimu percaya bahwa ia bisa mengungguliku… Oh, ini benar-benar tidak bisa diterima.” Halo Jibril berputar semakin cepat saat dia mendekati Emir-Eins. “Aku tidak yakin ada cukup ruang dalam kisah ini untuk kita berdua. Izinkan aku menyesuaikan karaktermu agar lebih unik, bahkan avant-garde. ♥”
Sayap Jibril berubah menjadi pilar cahaya yang membubung, mengacaukan spirit di udara sekitar mereka. Dia mengambil sebilah pedang cahaya, berniat untuk mengubah karakter Emir-Eins secara fisik atau lebih tepatnya, menghapusnya sama sekali.
“…H-hei, Jibril…!”
Bahkan Sora dan Shiro, yang tidak bisa merasakan spirit, dapat merasakan tekanan spiritual yang terkonsentrasi dan hembusan angin liar. Jibril memang tidak bisa menggunakan kekuatannya secara langsung, bagaimanapun juga ada Sepuluh Kovenan. Dia tidak bisa menyakiti siapa pun. Namun begitu, aura kekerasannya cukup untuk menembus nalar Miko dan Ino hingga membuat bulu mereka berdiri.
“Sanggahan: Unit ini baru saja terikat dengan Master saat ini. Benar.”
Hanya Emir-Eins yang berdiri menghadapi Jibril dengan ekspresi tenang. Namun, di wajahnya yang tanpa emosi, ada jejak ejekan yang jelas saat dia—
“Pernyataan: Unit ini sudah mengabdikan dirinya kepada Master sejak enam ribu tahun yang lalu. Karakter sampingan itu adalah kau. Sombong. Mengganggu. Bodoh. Tapi, milik Master. Tidak bisa dihancurkan karena takut akan murka Master.”
—memprovokasi Jibril.
“Baaaiiklah! Aku seharusnya tidak menahanmu!! Kita sudah selesai di sini, kan?!”
Jeritan panik Sora tenggelam oleh gemuruh permusuhan yang terdengar jelas.
“Mulutmu cukup besar, ya? ♥ Bagaimana kalau kita buat lebih besar dan mengubahnya menjadi lubang menganga? ♪”
“Cemoohan: Unit ini mampu mengeliminasi Irregular sendirian dengan persenjataan saat ini. Mudah. Master, mohon izinkan demonstrasi.”
“Dengar! Dengarkan aku, oke? Aku salah, jadi pergilah dari sini! Tolong!!”
“…Jibril, d-d-duduk…”
Pertama, perintah Sora dan Shiro membuat Jibril duduk diam di lantai.
Selanjutnya, sesuai permintaan Sora, Emir-Eins bersiap untuk berpindah.
“…Boneka kecil yang menyebalkan.”
“Balasan: Hen. Lösen: Asura-Apokryphon.”
Saat keduanya saling menatap tajam dalam kata perpisahan mereka, Emir-Eins menghilang.
Kedamaian telah kembali ke Annex Miyashiro dan kali ini sungguhan.
“…Kau… Sebenarnya apa yang kau bawa ke rumahku…?” keluh Miko, yang akhirnya mulai memahami situasinya.
“Ini bukan salahku— Oke, mungkin memang salahku… Maaf. Kami akan pergi.”
“…Miko-sama…… Kami, minta maaf, oke…?”
Sora langsung membantah, lalu menggelengkan kepalanya. Dia dan Shiro sama-sama menunduk, meminta maaf. Mereka memang datang ke Miyashiro ini. Dari sudut pandang Miko, mereka hanya membawa masalah. Awalnya, mereka datang ke sini untuk melarikan diri dari Ex Machina. Dan sekarang setelah Ex Machina tahu lokasi mereka, kemungkinan besar mereka akan kembali dalam sekejap… Bagaimanapun juga, Sora dan Shiro harus segera angkat kaki. Lebih baik meminta Jibril memindahkan mereka ke tempat di mana kali ini, mereka benar-benar tidak bisa ditemukan—
“Ino Hatsuse. Kau yang membawa mereka ke sini, bukan? Bantu mereka.”
“Seperti perintah Anda, O Miko Suci… Tapi kita tidak punya kewajiban untuk membantu mereka, bukan?”
Seperti yang dikatakan Ino, Miko memang tidak punya kewajiban untuk membantu Sora dan Shiro. Bahkan ketika mereka telah menyelamatkan temannya; Holou, itu hanya karena mereka saling memanfaatkan. Kepercayaan antar gamer, apalagi seorang agen berkuasa penuh, sama sekali bukan berarti ketergantungan—
“Memang tidak, bukan? Tapi, sayang, aku tidak ingin menjadikan monster-monster itu sebagai musuh.”
Benar, atas perhitungan yang dingin dan logis, Ino pun duduk dengan sopan di hadapan Sora dan Shiro.
“…Hmm. Jadi, Raja Sora, mereka telah salah mengira dirimu sebagai seseorang yang mereka cintai. Sungguh situasi yang menyedihkan.”
“…Ah, yeah… Aku juga tidak sangka, tapi syukurlah kau mengerti…”
Melihat ekspresi serius Ino, Sora merasakan secercah keakraban tumbuh dalam hatinya, sampai akhirnya—
“Benar… Ex Machina benar-benar patut dikasihani… Apa dosanya sampai mendapat hukuman seperti ini? Dari semua kemungkinan, jatuh cinta pada monyet busuk sepertimu…!”
Begitu Ino melanjutkan, tinjunya bergetar, sementara Sora mengutuk ilusi di hadapannya.
—Brengsek kau, kakek tua.
Sora hampir mengatakannya, tapi alih-alih, ia hanya menuangkan nada kebencian ke dalam pertanyaan berikutnya.
“Oke, mari kita bicara terus terang…? Apa yang bisa kulakukan untuk menyelesaikan ini dengan damai?”
Ini benar-benar bukan masalah sepele. Dia tidak ingin mereka punah, dan dia senang mereka mengaku sebagai sekutu, tetapi bahkan itu pun hanyalah kesalahan. Jika dia sampai membuat mereka marah dan dalam skenario terburuk, habislah dia dan semua perlengkapan konser supercanggihnya.
“…Bajingan sepertimu pasti sudah berkali-kali mengalami kesalahpahaman yang berujung pada penguntitan, mungkin beberapa kali…atau seribu kali.”
Sora akan sangat menghargai jika salah satu dari pengalaman itu juga berakhir dengan penusukan. Sayangnya, dengan adanya Sepuluh Kovenan, kakek tua ini masih hidup. Tapi kalau ada yang tahu bagaimana cara menghadapi penguntit, maka Ino Hatsuse-lah orangnya, meskipun Sora tidak terlalu berharap banyak, saat ini dia benar-benar hanya bisa berpegangan pada harapan tipis.
“…Raja Sora, ada apa denganmu? Ini benar-benar di luar dugaanku.”
Namun—Ino menyipitkan matanya tajam.
“Aku malu mengakui bahwa aku terus-menerus dikalahkan oleh seseorang yang bahkan tidak bisa menyadari hal yang begitu sederhana.”
“…………Kau…bilang…apa…?”
—Sederhana?
Itulah kesimpulan Ino, dengan tatapan yang dipenuhi kekecewaan samar. Dia menghela napas melihat Sora yang masih bingung, lalu menjelaskannya dengan jelas.
“Berhenti jadi perjaka penakut dan pergilah bercinta, dasar monyet bodoh.”
—Jadi mereka hanya salah orang. Lalu kenapa?
Pria yang terkenal karena berpikir dengan bagian bawah tubuhnya itu menyeringai, menampakkan giginya sekaligus sifat aslinya.
“Jibril, kita pergi. Kali ini ke tempat yang Emir-Eins dan lainnya tidak bisa—”
Sora dan Shiro bangkit berdiri, bersiap untuk pulang, seolah-olah menyadari bahwa mengharapkan sesuatu dari kakek ini adalah kesalahan.
“…Tuan, mungkinkah kau benar-benar tidak menyadarinya?”
Namun, suara Ino yang terdengar sungguh-sungguh ragu dan terkejut menahan langkah mereka.
“Apa kau tidak tahu bahwa Ex Machina memiliki kunci perangkat keras yang mencegah mereka berkembang biak dengan selain yang telah ditentukan?”
“Tepat! Jadi bagaimana mungkin itu bisa membantu kalau aku setuju untuk—?”
“Dalam hal ini, kau bisa menerima mereka sesukamu. Jika kau bukan pria yang mereka cari, reproduksi tetap tidak akan mungkin terjadi.”
…
……
…………?
“—…Hah? Ah, ehh…?”
Sora butuh waktu satu menit penuh untuk mencerna kata-kata Ino, lalu mengeluarkan suara bodoh. Apa yang akan terjadi jika dia setuju untuk memiliki anak dengan mereka? Dia bukan pria yang mereka cari. Maka kunci itu akan menghentikannya. Selesai. Bukan orangnya. Beres.
…Tidak, tidak, tidak… Tunggu, tunggu, tunggu. Tenang, Sora, perjaka, delapan belas tahun!! Tidak mungkin, tidak mungkin, bagaimana mungkin dia bisa melewatkan hal itu—?!
—Ada sesuatu yang tidak beres di sini. Sementara Sora kebingungan, Ino datang dan merapikan semuanya.
“Kesalahan ini, terlebih lagi, sepenuhnya berasal dari mereka. Mereka salah mengira dirimu sebagai seseorang dari enam ribu tahun yang lalu.”
“…Ah, ya… Kurasa begitu…”
“Kau hanya perlu memenuhi permintaan mereka. Siapa yang bisa menyalahkanmu?” Ino terus menekankan. “Begitu kau membuktikan bahwa kau bukan pria yang mereka cari, mereka tidak punya pilihan selain menerima bahwa pria itu telah tiada. Satu-satunya pilihan mereka adalah mempertaruhkan pelepasan kunci mereka dalam permainan melawanmu dan kalah. Toh, kalau tidak, mereka akan punah.”
…Eh… Hah? Aku, kenapa tadi aku menolak, ya…?
Logika sempurna itu menghantam Sora tanpa ampun, hingga—
“……Kak.”
—tatapan beku adiknya membuatnya tersadar seketika, sampai dia hampir melompat mundur.
“Hei! Itu dia masalahnya! Aku tak bisa membiarkan Shiro terpapar konten R-18—”
“Tuan… Tolong pertimbangkan ini dengan tenang. Pertama-tama, tidakkah kau menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatanmu untuk merasakan hubungan seksual?”
“—Bagus sekali cara halusmu bilang kalau aku takkan punya kesempatan lagi, dasar brengsek.”
…Bukan berarti aku menyangkalnya. Sora menggerutu, tapi Ino tetap melanjutkan.
“Aku mengerti bahwa kau memiliki masalah pribadi, Tuan. Tapi apakah itu cukup untuk membenarkan kepunahan Ex Machina?”
“Yah, eh… Kurasa tidak. Tapi aku tak bisa jauh dari Shiro—”
“Kau bisa saja meminta Nona Jibril untuk menghalangi cahaya dan suara, demi kenyamanan Ratu Shiro.”
Ino terus menyelesaikan setiap masalah satu per satu.
“Bukankah ini lebih baik daripada rasa bersalah karena membiarkan seluruh ras punah?”
Namun, semakin Ino berbicara, semakin rasa gelisah dalam diri Sora semakin menjadi-jadi, seolah-olah berbanding terbalik dengan logika yang disodorkan.
—Tidak. Ada sesuatu yang tidak beres.
Pernyataan Ino benar-benar masuk akal. Sejelas seperti siang hari. Mungkinkah dia telah mengabaikan…sesuatu yang begitu sederhana? Cara Ex Machina bertindak; cara mereka menjebak Sora; cara mereka mendekatinya. Terlalu banyak hal yang terasa aneh. Misalnya—
“Satu komentar terakhir. Mereka memintamu untuk memilih salah satu dari mereka untuk bereproduksi, jika aku tidak salah. Jika memang begitu, kau bisa melakukan persis seperti yang mereka usulkan baru-baru ini. Aku tidak melihat alasan untuk menolak.”
Sora hanya setengah mendengarkan kata-kata Ino, sambil memikirkan ide-ide dan mencoba menyusunnya dengan benar. Dia berusaha mencari tahu apa yang salah dan akhirnya, dia bersujud dan sampai pada satu kesimpulan yang kuat.
“Bukankah kau bisa saja berhubungan dengan mereka semua lalu memilih satu untuk reproduksi setelahnya?”
“Aku harus menyelamatkan gadis-gadis robot!! Aku pergi dulu! Maafkan aku, O Guru yang bijak!!”
—Dia baru saja menyadarinya!!
Bagaimana mungkin dia bisa melewatkan ini?! Orang memang bisa melewatkan sesuatu!!
“Maaf mengganggumu, Miko! Jibril, kita kembali ke Elkia! Waktu tidak menunggu siapa pun!!”
“…Kau benar-benar tahu cara merepotkan orang, ya…”
“Baik, Master. Izinkan aku bersiap untuk pemindahan jarak jauh.”
Sementara dia diselimuti tatapan dingin Miko dan kilauan Jibril…
“Duuuh! Kau tahu sendiri bagaimana ini! Aku sama sekali tidak menantikannya, tahu?! Tapi mau bagaimana lagi?! Gadis-gadis cantik bilang aku harus menyelamatkan mereka, ya sudah, aku pergi dan menyelamatkan dunia! Jika surga menghendaki, tentu saja!!”
…Pikiran Sora semakin dingin, lebih dingin, paling dingin saat dia meratapi kebodohannya. Kesalahannya tak terbayangkan… Kenapa dia tidak menggunakan akal sehatnya?! Ada dua belas gadis cantik yang berebutan, memohon padanya, bahkan mengubah penampilan mereka sesuai seleranya! Robot maid buatan khusus yang mendekatinya! Menolak? Siapa dia kira dirinya?! Sora, perjaka, delapan belas tahun! Jangan terlalu besar kepala, bocah polos!
“…Tapi, Kak, kau bukan dia… Itu berarti…kau menipu mereka…”
Shiro merajuk dengan kesal saat melihat kakaknya yang sedang mencela diri sendiri dengan begitu hebat. Biasanya, ini cukup untuk menghentikan Sora, tapi hari ini—
“Memang… Tapi jika itu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan seseorang, kakakmu akan berbohong, menipu, dan mencuri…” jawab Sora, tatapannya penuh belas kasih, seolah menanggung dosa asal umat manusia. “Bahkan jika aku dibenci karenanya, bahkan jika aku disalahkan selamanya! Aku akan menerima tanggung jawab…untuk semuanya.”
Saat Sora berbicara tentang cinta dan kebaikan bagi semua makhluk hidup tanpa mengharapkan imbalan, matanya berkilauan dengan antisipasi terhadap keuntungan kotor yang berasal dari keinginannya yang paling dasar.
“Sekarang, mari kita ucapkan selamat tinggal pada Sora, perjaka, delapan belas tahun! Dan bersiaplah menyambut Sora, tak-perjaka, delapan belas tahun!!”
Seruan Sora untuk masa depannya disambut dengan gumaman.
“…Mm? Umm… Tuan. Kurasa kau sedikit kebingungan?”
“Begitukah, Guru?! Maka bimbinglah murid bodoh ini! Yeah!”
Sora mengetuk-ngetukkan kakinya saat Ino merenung.
“Hmm… Tuan, mereka itu mesin. Bukan hanya itu, mereka juga mendasarkan diri mereka pada pornografi-mu…”
“Tepat sekali! Dan kau tidak keberatan?!”
Sambil menyadari bahwa Jibril tampaknya butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk mempersiapkan pemindahan, Ino dengan hati-hati mengungkapkan hipotesis yang telah ia rumuskan untuk menjawab pertanyaan sulit ini.
“Bukankah mereka hanya bisa dianggap sebagai…alat bantu masturbasi semata…?”
……
“Baiklah. Bagaimana aku harus mengatakannya? Raja Sora, seorang yang tak-perjaka? …Ha. Tidak mungkin.”
……
Kemudian, tiba-tiba… Semua benang, semua potongan yang hilang. Sora merasakan semuanya menyatu.
“Ah… Aku mengerti… Jadi itu alasannya…” Ucapnya pelan, dengan senyum seorang pertapa yang baru saja mencapai nirwana. “Jibril… Maaf merepotkan, bisakah mengubah tujuan kita?”
“—Eh? Ah, tentu. Kalau begitu…ke mana kita akan pergi?”
Akhirnya, dia bisa melihat segalanya, semua beban yang tak terhitung jumlahnya. Hakikat sebenarnya dari kata-kata dan tindakan Ex Machina, dan yang paling penting—
“Ke mana saja… Asal mereka tidak bisa menemukan kita, ke mana saja…”
Singkatnya: Hihi! Hajar, selesai, terima kasih, nona. Kenapa dia tidak memikirkan solusi sesederhana itu?
—Bukan karena dia tidak memikirkannya. Jauh di lubuk hati, dia sudah tahu.
“…Kalau terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan… Haha… Aku sudah tahu…”
Sora, si perjaka delapan belas tahun, tahu bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi padanya dalam waktu dekat. Meneteskan air mata untuk
keterikatan dunia dan sifat sejarah yang selalu mengoreksi dirinya sendiri, Sora dan krunya pun melompat menembus ruang.
Bulan merah bersinar di atas pulau Kannagari. Sora dan Shiro berjalan di area pemukiman pinggiran kota. Mereka sangat dekat dengan rumah seorang gadis kecil Werebeast yang mereka kenal, Izuna Hatsuse.
“…Ini cukup dekat dengan Miyashiro… Apa Ex Machina benar-benar tidak akan menemukan kita di sini?” Sora benar-benar mengira mereka akan berpindah ke sisi lain dunia.
“T-tidak… Ini seperti yang mereka katakan di duniamu, tentang sesuatu yang tersembunyi di depan mata—” Jibril tersenyum percaya diri, tetapi tampak kelelahan. “Aku sengaja melakukan perpindahan jarak jauh ke lokasi yang berdekatan, dan aku memutus celah dalam ruang. Bahkan Ex Machina tidak mampu membuka kembali ruang yang telah diputus, dan kecil kemungkinan mereka mengira kita menggunakan begitu banyak energi hanya untuk berpindah tiga ratus kilometer.”
—Meski Sora atau Shiro sama sekali tidak paham apa yang dimaksud Jibril dengan “memutus ruang.”
“…Jadi bahkan kau bisa kelelahan hanya untuk menghindari Ex Machina… Gila.”
“Yah, mereka memang sampah kuno yang sudah usang, tapi mereka adalah musuh yang kuakui, mereka yang membunuh Artosh, Dewa Perang.”
Jibril terdengar anehnya bersemangat, tapi Sora berpikir:
—Serius?
Mereka benar-benar di luar nalar. Peringkat Sepuluh, katanya, sistem ini pasti ada yang rusak. Menurut catatan Jibril, itu karena mereka tidak bisa menggunakan sihir. Mereka merancang saraf persimpangan spirit virtual; kabel-kabel mirip ekor itu dan membuat peralatan untuk membunuh spirit layaknya bensin untuk menghasilkan efek yang sama dengan sihir. Katanya,
itu secara teknis bukan sihir. Tapi hasilnya tetap membuat mereka selevel dengan Jibril. Sungguh tidak masuk akal. Dan kemudian Sepuluh Kovenan menganggap Elemental sebagai bagian dari “enam belas ras,” jadi Ex Machina tidak bisa lagi membunuh spirit. Sihir atau bukan, mereka seharusnya tidak bisa beroperasi lagi setelah itu, tapi mereka masih ada.
—Mereka beradaptasi. Mereka sadar tidak bisa lagi menggunakan bensin dan langsung beralih ke energi terbarukan. Mungkin dalam sekejap. Makhluk- makhluk ini benar-benar curang. Jika Sora harus menghadapi cheat berjalan ini, dan mereka memang membunuh Artosh—
“…Ngomong-ngomong, Master, benarkah ini keputusan yang tepat? Maksudku, tidak kembali ke Elkia?”
Sora, yang sedang tenggelam dalam pikirannya, tersentak dan berhenti.
“Ah— Oh tidak! Tentu saja, Master, aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri keputusanmu!”
Melihat reaksi itu, Jibril buru-buru turun dari udara, melipat sayapnya, dan berlutut—
“Menurutku, mengingat betapa tidak masuk akalnya menyerahkan keperjakaan muliamu kepada tiruan murahan itu, akan lebih pantas jika kau menggunakan budak pertamamu dulu, yakni aku, pelayan yang setia—”
“…Bukan itu…masalahnya…! Jibril, berhenti…”
Jibril yang awalnya meminta maaf kini malah meluncur ke arah rayuan, mulai melepas pakaiannya, hingga Shiro menghentikan prosesnya. Tapi baik tatapan Jibril yang membeku maupun tatapan Shiro yang membekukannya bertanya hal yang sama.
—Kenapa kau menyerah pada kesempatan emas ini?
Menatap mereka, Sora menyeringai… heh.
“Kau tanya apakah ini keputusan yang tepat? Haha… Mana mungkin ini keputusan yang tepat?! Sial!!”
Teriakan kasar dan tidak sopan itu bergema di seluruh lingkungan, membuat Shiro buru-buru menutup telinganya dengan tangannya.
“Sampai kapan aku harus dicegah?! Sampai sejauh mana dunia ini akan mengujiku, hah?!”
Gerbang emosinya telah terbuka, dan amarahnya tak bisa diredam. Dengan air mata di matanya, Sora berpikir:
—Baiklah, terserahlah! Jadi tidak ada adegan dewasa? Ya sudah, aku terima!! Aku cukup berbudaya untuk tidak mengharapkan adegan vulgar dari game yang hanya jual tampilan menarik!! Tapi, sialan!!
“Kenapa harus menggoda?! Kalian memasukkan aset keren, karakter menarik, desain yang luar biasa, seluruh adegan sudah siap— alu bilang tidak ada cara untuk mengaktifkannya, dasar bajingan kapitalis!!”
Perbaiki gamemu, dasar bug berjalan! Sora hampir berteriak lagi, tapi tunggu. Kesalahan ini bukan pada para penguji atau programmer, pikirnya, menggelengkan kepala.
“Ya. Secara teori, aku bisa kembali ke Elkia sekarang dan punya harem.”
Kau bisa memainkan adegannya.
“Tapi kalau kau melakukannya, kau tidak bisa menang?! Apa ini cuma trolling belaka?!”
Namun jika ia melakukannya, ia akan terjebak. Tidak ada cara untuk mengulang. Jadi siapa yang bertanggung jawab atas desain konyol ini? Produsernya? Sutradaranya? Authornya—?!
“……Kak… Tenanglah sebentar…”
“Tidak bisa menang…? Maksudmu?”
Perintah dingin adiknya dan kebingungan Jibril cukup untuk menenangkan pikirannya. Menghela napas begitu dalam seakan ingin mengeluarkan jiwanya, Sora duduk di jalan dengan suara berdebum.
“…Maksudku? Ya, persis seperti yang kukatakan…”
Cerita Ino? Jika mereka tahu bahwa Sora adalah orang yang salah, Ex Machina akan membatalkan kuncian mereka dan bereproduksi.
Kenapa? Karena jika tidak, mereka akan punah. Itu seharusnya sudah jelas.
—Tapi itu salah.
“Bahkan jika mereka tahu aku bukan orang yang mereka cari, mereka tidak akan bereproduksi dan mereka akan memilih untuk punah.”
Dengan begitu, kegagalan rencana itu pun terjamin. Mereka menatapnya dengan ragu.
“…Maksudmu… Ex Machina…ingin punah…?”
Shiro menjatuhkan dirinya ke pangkuan Sora, sementara dia menyandarkan punggungnya ke dinding gang.
“Aku juga tak tahu soal itu… Kalau mereka benar-benar menginginkannya, mereka pasti sudah lama punah…” Sora meletakkan tangannya di kepala adiknya, yang sudah mengambil posisi nyamannya. “Tapi yang bisa kukatakan, dalam skenario terburuk, mereka tidak peduli jika harus punah.”
Kedua rekannya menatapnya, menunggu bukti. Tapi jawabannya sederhana; Sora menjawab.
“Kalau bukan begitu, mereka tidak akan mengancam untuk punah. Itu tak akan berhasil.”
Kalau kau tidak melakukan apa yang kumau, aku akan bunuh diri! Itu hanya bekerja kalau seseorang benar-benar siap untuk melakukannya. Sora tidak bisa memastikan apakah dia memahami perasaan mesin. Tapi tatapan Ex Machina saat mereka menggunakan ancaman kepunahan untuk memaksanya bermain catur…itu serius. Dengan firasat buruk yang hampir seperti kepastian, Sora menerima tantangan mereka, dan—.
itulah yang mengganggunya.
“…Dengar… Ex Machina adalah ras yang memicu berakhirnya perang, kan…?
Jadi, mereka adalah pencipta dunia ini, di mana segala sesuatu ditentukan oleh permainan. Kenapa mereka rela mengorbankan ras mereka? Kenapa—
“Kenapa mereka begitu rela menghancurkan permainan ini…?!”
Dia tidak mengerti. Dia tidak mengerti kenapa mereka bisa salah mengira dirinya sebagai seseorang dari enam ribu tahun yang lalu. Dia tidak mengerti apa pun dari semua ini.
“…Serius, apa sirkuit mereka korsleting? Apa mereka kena bug?”
Kalau itu alasannya, mungkin akan lebih mudah dipahami… Tapi tetap saja, itu tidak menyelesaikan apa pun.
“Kalau boleh aku menyampaikan pendapatku… Aku punya dua saran.”
“Ayo kita dengar! Oke, katakan! Apa yang pertama?”
Jibril mengangkat tangannya, dan Sora langsung menunjuknya dengan penuh harap.
“Jika yang kau khawatirkan adalah keberlangsungan ras mereka, kau bisa menyimpan satu dan membunuh yang la—”
“Ya, itu jelas bukan pilihan! Oke, selanjutnya! Apa yang kedua?”
Merasa sedih karena idenya yang cemerlang ditolak, Jibril melanjutkan.
“Meskipun agak tidak menyenangkan untuk diamati…mungkin kita bisa mentoleransi keberadaan mereka dan kesalahpahaman mereka.”
…Hmm. Ini lebih masuk akal. Sora memintanya untuk menjelaskan lebih lanjut.
“Untungnya, mereka tidak menentukan batas waktu kapan kau harus memenuhi kewajiban bereproduksi dengan mereka. Jika kau terus menundanya tanpa batas, mereka akan menjadi satu ras lagi yang setidaknya mengklaim sebagai sekutumu yang bisa kau tambahkan ke Persemakmuran Elkia… Bukankah ini sesuai dengan tujuanmu?”
“Ya… Ide yang tidak buruk. Aku juga sudah memikirkan itu. Tapi ada dua masalah.”
Sora menyeringai, merangkul Shiro, dan berdiri—
“Pertama! Akal dan kehendakku tidak akan sanggup bertahan dalam situasi ini!!”
—Ayo ngent*t. ♥
Mampukah dia terus-menerus mendengar kata-kata itu dari gadis-gadis cantik yang mencoba merayunya tanpa tergoda…? Hanya MC dari To Love Ru yang punya ketahanan mental sehebat itu. Sora hanyalah manusia biasa.
“Dan yang kedua! Aku akan mengatakannya sebanyak yang dibutuhkan: Aku bukan orang yang mereka cari!!”
Menurut Einzig, mereka sudah melewati masa pakai mereka selama 5.982 tahun. Akan sangat konyol jika mereka tiba-tiba punah suatu hari nanti, dan yang lebih parah—!
“Bagaimana kalau tiba-tiba suatu hari mereka sadar aku bukan orang yang mereka cari?! Apa yang akan terjadi?!”
“T-tapi kesalahan itu ada pada mereka… Mereka tidak bisa menyalah— ”
“Kau ingin aku bergantung pada logika seperti itu untuk gadis-gadis yang sudah menantikan seseorang selama enam ribu tahun?! Kalau mereka benar- benar se-logis itu, mereka takkan ada di ambang kepunahan, kan?! Ini masalah serius! Cinta itu benar-benar masalah serius!!”
Lagipula, Persemakmuran Elkia hampir tidak punya sekutu. Mereka sudah memperhitungkan kemungkinan dikhianati oleh bangsanya sendiri. Jadi masalahnya bukanlah soal mendapatkan musuh, tetapi mereka sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi.
“Misalnya Emir-Eins tiba-tiba mengambil pisau dapur dan berkata, ‘User telah menipu unit ini! Aku akan membunuhmu, lalu bunuh diri!’ —Sial, aku bisa membayangkannya! Terus, apa yang akan kau lakukan, hah?!”
Kasus gangguan mental nyata dengan kekuatan gila seperti itu?
—Musuh terburuk sepanjang masa.
Jika seluruh ras mereka siap melakukan serangan bunuh diri, mereka benar-benar dalam masalah. Sora menggigil membayangkan kengerian seperti itu di dunia ini.
“Baiklah, kalau begitu. Aku punya saran ketiga… Lebih tepatnya, ini adalah pengembangan logis dari permintaan awalmu…” Jibril mengangkat tangannya dan mengajukan sebuah pertanyaan. “Kau mengusulkan untuk membebaskan kuncian mereka dengan sebuah permainan… Lalu bagaimana
jika kau cukup membuat mereka bertaruh untuk jatuh cinta pada seekor babi, dan kau menang? Bukankah masalah ini akan selesai dengan menjodohkan mereka dengan pasangan yang paling cocok untuk mereka?”
…Yah, mengesampingkan soal babi, ini memang rencana awal Sora. Menggunakan kekuatan Kovenan untuk melepaskan kunci perangkat keras mereka dan membuat mereka bereproduksi secara mandiri. Dengan kata lain, memaksa mereka melupakan perasaan yang telah mereka bangun selama enam ribu tahun. Maksud Jibril, kenapa tidak mencoba itu lagi? Sora menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Coba tempatkan dirimu di posisi mereka, Jibril. Misalnya Ex Machina menantangmu dalam permainan yang mereka yakin akan menang, dan mereka mengatakan bahwa jika kau kalah, kau harus memuja seekor hewan sebagai tuanmu dan punya anak dengannya, lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan mengasihani cacat saraf mereka yang parah dan memenggal kepala mereka— Oh…” Awalnya dia tersenyum, tapi kemudian wajahnya berubah lesu dengan nada menyesal. “Mungkin aku yang cacat… Mereka pasti tidak akan menerima permainan semacam itu, bukan?”
—Benar. Mereka tidak punya motivasi untuk itu. Karena mereka tidak peduli jika mereka punah, karena mereka tidak punya apa-apa untuk hilang, jadi mereka bisa menipu Sora ke dalam permainan yang tidak bisa dia menangkan. Hanya karena mereka yakin akan menang, Sora bisa mengajukan tuntutan seperti itu. Jika dia ingin mengajukan tuntutan lagi, dia harus menipu mereka balik. Menentukan permainan yang Sora dan Shiro pasti menang dan membuat mereka menerimanya. Membuat mereka menerima tuntutan untuk melupakan cinta dan bereproduksi. Saat mereka tidak punya apa-apa untuk hilang? Ex Machina? —Apakah itu…bahkan mungkin?
—Jika dia setuju untuk punya anak dengan mereka, dia tamat.
Jika dia tidak setuju untuk punya anak dengan mereka, dia juga tamat.
Dan dia tidak bisa memikirkan satu cara pun untuk menjebak mereka, bahkan dia tidak yakin apakah ada cara.
“Ras sialan?! Beri aku istirahat!”
Pilihan akan lebih banyak kalau mereka langsung datang sebagai musuh. Sora berteriak lagi, tidak tahan, seketika—
Bip, bip.
“Haa?! Ah, m-maaf, permisi…”
“…Ehh… A-aku akan…menyingkir… Nghh…”
Bunyi klakson membuat Sora dan Shiro, yang meringkuk di pojokan gang, bergeser begitu saja seolah hanyut mengikuti arus sungai.
“…M-Master? …Ada apa?”
Jibril kebingungan. Sora dan Shiro saling berpelukan ketakutan.
“Heh. Jibril… Menurutmu apa yang dilakukan seorang pecundang saat disuruh ‘Minggir’?” Sora masih gemetar, tapi dia tetap berteriak penuh kebanggaan: “Dengan ucapan singkat, ‘Oh, maaf,’ dia langsung minggir! Inilah jalan sejati seorang pecundang!”
“…Jangan ganggu orang normal…”
Ah, murid terpercaya kami. Apakah kau lupa siapa kami? Tidak peduli seberapa angkuh kami bertingkah, pada dasarnya kami hanyalah pecundang canggung yang tertutup!! Gemetar dalam rasa hormat yang tak bisa dijelaskan terhadap jawaban mereka yang begitu agung, Jibril berlutut.
“…S-sekarang aku mengerti… Mohon maafkan pertanyaanku yang bodoh ini!”
Sora dan Shiro mengangguk puas, lalu mereka tersadar akan sesuatu. Meskipun agak terlambat.
……Hmm.
“Hei, Shiro… Ada mobil di dunia ini? Maksudku…” Mobil van putih yang membunyikan klakson tadi baru saja melewati mereka begitu saja… tapi… “Maksudku, bukan sekadar mobil… Itu tadi, ah, jelas-jelas sebuah HiAce…”
HiAce. Semua orang tahu mobil ini, spesialis dalam mengangkut kargo ringan, namun tidak pilih-pilih soal muatan. Paket? Kulkas? Bisa. Majalah dewasa, AK-47, RPG, anak perempuan, fleksibilitasnya dalam mengangkut berbagai jenis barang membuatnya, dalam arti tertentu, legendaris. Jadi pertanyaannya sekarang: Apa isinya?
“…Lösen: Love Success Situation Forme Checkmartyr—Prototipe 0010.”
Adapun siapa yang duduk di kursi pengemudi, tentu saja, itu Emir-Eins.
—Sepertinya mereka bahkan berhasil mengeluarkan kendaraan bermotor dari pornografi milik Sora. Itu memang mengesankan, tapi bukan itu masalahnya. Sudah cukup jelas bahwa Ex Machina memang gila seperti itu. Yang benar-benar ingin Sora tahu adalah untuk apa, atau mungkin dia sebenarnya tidak ingin tahu, tapi—
“B-bagaimana…? Retakan di ruang dan ruang yang terputus seharusnya mustahil untuk dibuka kembali!”
—Bagi Jibril, di sisi lain, bahkan itu bukan pertanyaannya. Dia terengah- engah karena terkejut melihat betapa mudahnya mereka menemukan mereka. Dan hanya bisa menerima dengan pasrah.
“Pengakuan: Ruang yang terputus melarang pelacakan. Namun, retakan terlalu besar untuk perpindahan jarak jauh.”
“……!”
“Paradoks: Tujuan dekat. Selain itu, Irregular sangat ekstrem. Dekat berarti di dalam pulau. Tapi berada di luar jangkauan deteksi Ex Machina. Daftar area pemukiman yang memenuhi parameter: Di sini. Flügel disimpulkan tidak memiliki pengetahuan tentang peta.”
…Singkatnya: tipuan Jibril sudah ketahuan. Mata boneka sempurna Emir-Eins entah bagaimana tampak dipenuhi rasa kasihan.
“…Pengetahuan: Irregular tidak punya kecerdasan. Polos. Bodoh.”
“——♥”
Senyum Jibril menetes dengan kebengisan dingin, membesar dalam sekejap. Sora dan Shiro bersumpah mereka benar-benar melihatnya dengan mata mereka sendiri. Dua bom waktu yang saling berhadapan itu akhirnya terganggu, bukan oleh Sora atau Shiro—
“Ah, Spieler, aku telah membuatmu menunggu selama seribu lima ratus tiga koma nol satu tujuh detik! Sekarang, ayo kita memulai perjalanan untuk membangun persahabatan kita!!”
Rrrmmmmmm! Einzig membuka pintu geser dengan kasar dan muncul dengan senyuman serta seruan penuh semangat.
—Ah, kenapa firasat buruk Sora tak pernah bisa meleset?
“…Sial. Kau benar-benar memilih referensi terburuk yang bisa ada, ya…?” Sora mengeluh, memegang kepalanya.
Kargo yang dibawa kendaraan ini adalah ketakutannya yang menjadi nyata, sesuai dengan reputasi buruknya. Asap tipis menyelimuti bagian belakang yang gelap. Tapi kemungkinan besar… isinya adalah segerombolan gadis cyborg, mungil ukurannya dan dalam kondisi yang tidak pantas. Atau mungkin mereka akan menjadi seperti itu…tapi bagaimanapun juga, ini sudah melewati batas. Bahkan lebih dari sekadar kelewatan, ini sangat melenceng. Setelah menarik napas panjang dan dalam, Sora menjerit:
“Mana mungkin aku mau membangun persahabatan yang indah denganmu! Dan lagi! Aku sama sekali tidak tertarik untuk dipaksa melakukan apa pun!!”
—Apakah aku terlalu melebih-lebihkan mereka? Sora bertanya-tanya dalam hati. Sampai saat ini, Ex Machina selalu berhasil mengidentifikasi preferensinya dengan akurat dan menyesuaikan pendekatan mereka. Tapi sekarang, ini justru menyentuh genre porno yang paling dia benci: yang di mana seorang pria berkeliling Jepang menculik gadis-gadis cantik, dan entah bagaimana mereka justru berteman di tengah-tengah itu. Sora bahkan sampai mengklik lidahnya, muak dengan kombinasi kengerian ini.
“Heh… Jangan takut, Spieler. Kami adalah Ex Machina—kami tidak pernah melakukan kesalahan yang sama dua kali…”
Namun, Einzig menjawab dengan senyum penuh kemenangan, membanggakan keunggulan rasnya.
Hrmm… Berapa kali kau sudah mempermalukanku? Atau kau tidak menghitung itu sebagai kesalahan?
Saat Sora mulai mencurigai hal itu dengan serius, Einzig kembali berbicara.
“Yang tercinta tidak menyukai tindakan tanpa persetujuan. Dia juga tidak suka jika preferensi seksualnya diumbar ke publik!!”
—Oh. Jadi mereka memang menganggap itu kesalahan, toh.
Merasa agak lega, Sora menghela napas. Tapi kemudian, kata berikutnya…
“—Namun.”
…membawa pernyataan yang sepenuhnya bertentangan dengan yang sebelumnya. Yakni:
“Sepertinya dia tidak keberatan dengan tindakan yang tidak tanpa persetujuan! Dan lebih dari itu, kendaraan ini pribadi dan kedap suara!!”
Kemampuan belajar Ex Machina yang luar biasa telah mengajarkan mereka:
Tidak ada pemerkaosan untukmu. Hanya reverse-nya.
Akal sehat Sora berbisik padanya: Sepuluh Kovenan. Mereka tidak bisa melakukan itu. Tapi ketakutan akan diculik dan mengalami nasib buruk di tangan mesin cabul ini yang setara dengan ketakutan akan kehancuran total dan bersama dengan banyaknya tangan yang menjulur keluar dari dalam van, cukup untuk menghancurkan keyakinannya.
“Jibriiiiiiiiiiiiiiiil! Selamatkan aku! Tolooooooooong!!”
“…Kak…! Kakak, bakal…kena tusbol!!”
Jibril harus bertindak secepatnya setelah mendengar teriakan itu. Mereka pun berteleportasi.
Sementara itu, tanpa menyadari ratapan pilu Sora dan Shiro, Steph berlari-lari di Istana Kerajaan Elkia seakan ingin menghentakkan lantai, bahunya terangkat tinggi. Sora dan Shiro telah membebankan semua pekerjaan nyata padanya, tapi untuk sekali ini, itu bukan alasan kenapa dia marah.
“Ada apa dengan mereka? Bermesraan begitu lalu menghilang!”
Kira-kira satu jam sebelumnya, konser debut Holou telah selesai tanpa masalah. Kesuksesannya cukup untuk membuat Steph muak. Tapi sekarang, Steph merasa bingung melihat kegagalan acara temu penggemar setelahnya.
…Temu penggemar. Steph tidak memahami konsepnya, bahkan mungkin Holou juga sama tidaknya. Sora telah berkata, Pastikan ada keamanan. Pasti ada yang sok pintar mencoba pelecehan seksual. Juga, sebaiknya kau tidak berada di istana. Atau semacam itu. Tapi ayolah, siapa selain kakak beradik itu yang cukup nekat untuk melecehkan Holou. Pelecehan seksual? Lihatlah ini. Ini normal.
—Melihat massa yang gemetar, bahkan tidak berani mendekati Holou, apalagi menjabat tangannya, Steph berpikir, Ya. Ini adalah reaksi normal. Memang seharusnya seperti ini. Seharusnya. Tapi di sanalah Holou duduk, di samping Steph, di stan bertuliskan “Temu dan Sapa”—
“…Wahai… Ste… Apa yang Holou lakukan di sini…?”
Pertanyaan pilu dari sang idola tanpa satu pun penggemar di acaranya membuat Steph berseru:
“Lihat seberapa keras dia telah berusaha! Bagaimana kalian bisa membiarkan gadis ini seperti ini, tanpa menoleh sekali pun?!”
Tak sanggup menahannya, Steph berlari keliling Istana Kerajaan Elkia secepat-cepatnya. Dia tidak tahu apa yang Sora dan Shiro incar. Tapi dia tahu, menyaksikan Holou seperti itu sangat menyedihkan. Orang-orang ada. Mereka hanya tidak mau mendekat karena takut pada Old Deus. Kalau begitu—!
“Kita hanya perlu tunjukkan bahwa dia tidak menakutkan—jadi aku akan panggil semua yang terafiliasi dengan keluarga Dola!”
Dia akan memobilisasi koneksi keluarganya untuk mendatangkan orang- orang bayaran. Tanpa menyadari betapa meragukannya penggunaan hak istimewa kerajaannya, Steph berlarian ke sana ke mari ketika—
“…Hmm. Apa yang membuat Spieler tidak senang kali ini…?”
“Kepastian: Einzig secara inheren membuat Spieler tidak senang. Masalah lain tidak relevan. Tidak penting.”
“A-apa…?! Lalu apa yang kau sarankan harus kulakukan?!”
“Saran: Berdasarkan urutan rekomendasi: Menghilang. Bunuh diri. Meledak. Faktor terbesar dalam ketidakmampuan menentukan preferensi Master: Einzig.”
Suara serius dari para mesin terdengar, sedang terlibat dalam perdebatan yang sangat tidak berguna. Apa yang mereka lakukan mondar-mandir di istana selama ini? Membicarakan cara merayu Sora tanpa henti. Setiap kali mencoba dan gagal, mereka kembali ke sini dan mengulanginya—
“—Hei, kalian di sana! Sebenarnya kalian ke sini mau apa?!”
Steph baru sadar bahwa hampir semua masalahnya saat ini adalah kesalahan mereka.
…Tidak, sebenarnya, kalau ditarik ke belakang, akar dari segala masalah adalah kakak beradik itu yang menjadikan Holou seorang idola. Setidaknya,
jika Sora dan Shiro ada di sini, Holou mungkin tidak akan memasang wajah seperti itu.
“Kesopanan: Unit mengganggu. Mohon maaf.”
“Meski kami membebanimu, kami sendiri putus asa…untuk mengetahui bagaimana cara membuat Spieler mencintai kami…”
“Kalau kalian sadar sedang mengganggu, kenapa tidak membantu saja? Kalian ada tiga belas orang!” Dan dari sanalah Steph mengaumkan kalimat yang sangat tidak biasa darinya. Itu karena tatapan pilu Holou terus terngiang di kepalanya. “Kalau kalian punya waktu untuk memikirkan hal yang begitu tidak berguna, lebih baik kita kumpulkan para pendukung bayaran—”
Lalu.
“…Perintah: Ungkapkan dasar pernyataan tentang ketidakbergunaan. Rincian opini.”
“——!”
Kerumunan mata tidak wajar yang menatap Steph membekukannya. Apa yang baru saja ia katakan, dalam panasnya emosi—kepada para pembunuh dewa yang bahkan telah melampaui Sora? Steph berkeringat dingin saat merasa seolah isi tubuhnya sedang dikorek—tapi ia tetap bertanya pada dirinya sendiri.
—Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?
“S-Sora tidak akan pernah tergerak…o-oleh kepalsuan seperti itu…!”
—Dia menjawab sendiri. Aku tidak mengatakan hal yang salah! Perlawanan seperti itu meledak keluar dari Steph, bertentangan dengan keinginannya, sementara lututnya gemetar. Ex Machina bisa terus membicarakan preferensi Sora sepuasnya, tapi yang mereka lakukan adalah sebuah kebohongan. Sora yang dikenal Steph bukanlah pria yang akan tertipu oleh kebohongan seperti itu. Itulah kenapa Steph mengatakan bahwa semua itu tidak berguna. Tapi secara mengejutkan—
“…Aku…mengerti… Cinta takkan pernah tersampaikan lewat kata-kata yang tak datang dari hati… Aku mengerti!”
Einzig menjawab dengan lesu sembari menatap ke langit.
“Betapa bodohnya aku…telah mengabaikan kebenaran yang begitu jelas! Kamu!”
“Y-ya?!”
“Wahai wanita lembut tak bernama, aku berterima kasih padamu. Kini aku melihat jalan untuk menghasilkan keturunan dengan Spieler. Semua unit, bersiap untuk bergeser!”
“Jadi kalian benar-benar tidak akan membantu?! Dan hei, aku punya nama!!”
Entah karena mereka mengabaikan Steph atau memang tidak menyadarinya, para Ex Machina mulai bergerak menuju Sora, seketika—
“Lupakan jalan itu. Itu sia-sia.”
—sebuah suara sengau terdengar. Dan.
Sebuah kejutan merambat tanpa suara dan mengguncang istana, mengguncang seluruh Elkia. Steph tidak tahu apa yang terjadi. Hanya para Ex Machina yang menyadari: Istana telah disegel dalam ruang terputus, memutus semua pengamatan dan pergerakan dari luar.
“Aku sampai kena asam lambung hanya karena tahu kalian rongsokan masih eksis. Aku bahkan tak akan biarkan kalian berkembang biak di peternakan. ♥”
Kemunculan gadis itu, seolah-olah dari kehampaan, membuat napas Steph terhenti. Dialah agen berkuasa penuh dari Flügel—artikel pertama, Azril. Tapi bukan itu yang membuat Steph kehabisan napas. Bukan pula fakta bahwa, dari jendela, dia bisa melihat bahwa Avant Heim telah bergeser di atas Elkia seperti sebuah tutup.
“Tidak semua orang sebaik Jibsy… Kan, kalian rongsokan?”
Yang terlihat di matanya saat berkata itu: kebencian yang tak terbayangkan. Ini sangat berbeda dari apa yang pernah dipertukarkan antara Jibril dan Ex Machina.
“Kalian boneka kusam yang meniru kekuatan yang dianugerahkan tuanku dan menggunakan tiruan murahan untuk menipu kami, menjebak kami, membantai adik-adikku yang manis, lalu membunuh tuanku sendiri—” Dengan
nada seolah bercanda, Azril melangkah ke arah Einzig, bahkan bertepuk tangan. “Kalau kalian bisa memikirkan satu alasan kenapa aku tidak membunuh kalian, aku akan dengar. ♥”
“…………”
Itu cukup untuk menunjukkan pada Steph bahwa Jibril dan Ex Machina dulu benar-benar tulus, saat Azril tersenyum dan membelai pipi Einzig yang diam. Ini sangat berbeda dari pertemuan sebelumnya ketika mereka mengaku tak menyimpan dendam. Lebih mekanis dari mesin, tanpa keraguan khas makhluk hidup—itu murni: Itu adalah pembunuhan.
“Tunggu—A-Azril?! Sora dan Shiro, Jibril tak akan—”
Kebencian itu meyakinkan Steph, meski ada Kovenan, bahwa sebentar lagi akan ada pembantaian di depan matanya. Maka dia berseru untuk menghentikan, tapi—
“Aku tidak peduli. ♥”
—Steph sadar bahwa dia sudah mati. Tatapan senyum dari Azril telah menusuk jantungnya. Azril tetap tersenyum meskipun Steph runtuh seperti mayat.
“Baiklah, manusia kaleng! Mari bicara. Ini aturannya. ♥” Azril bertepuk tangan. “Aku akan mengajukan satu pertanyaan, dengan sangat sopan, dan kalian tumpukan rongsokan akan menjawabnya, juga dengan sangat sopan. Itu saja!” Dia menoleh ke Ex Machina. “Aku mengharapkan jawaban yang memuaskan dan menggelitik hati kami. Jika tidak—”
—Jangan buat aku melakukan ini, begitu maksudnya.
“Av’n’, semua anak-anak di langit, dan aku akan membunuh kalian sampai tak tersisa setitik debu pun. Menyingkirkan apa pun yang menghalangi kami. Elkia, Sora, adiknya—bahkan Jibsy. Kami akan menghancurkan planet ini jika perlu, demi memusnahkan kalian… Jadi lebih baik kalian menjawab dengan hati-hati.”
Tampaknya dia memang sudah menduga akan sampai harus melakukannya.
“Tuan Artosh. Dewa perang. Yang terkuat dari semua Old Deus—”
Setelah sejenak, Flügel pertama memerintahkan mereka yang telah membunuh tuannya untuk memberitahunya—
“Bagaimana kalian boneka belaka bisa membunuh dewa terkuat—?”
Apa yang telah terjadi pada tuannya, raja segala yang ada? Bagaimana hal itu mungkin terjadi—?
“Flyyy me to the hmmm, hmm hmm hmm hmmm…”
Sora dan Shiro menyanyikan lagu dengan malas, hanya mengingat bait pertamanya. Itu adalah satu lompatan besar bagi mereka, satu langkah kecil bagi umat manusia. Tiba-tiba, mereka menemukan diri mereka berdiri di permukaan bulan, meninggalkan semua mimpi, perjuangan, dan kebijaksanaan umat manusia di Disboard. Seperti lagu itu, mereka tiba di sini dengan santai, dibawa oleh Jibril. Menatap cakrawala baru tanpa rasa kagum atau hormat yang seharusnya, mereka menggerutu.
“…Tidak, sebiru… seperti yang mereka bilang… kan…?”
“Bahkan tidak bulat. Pion-pion Tet semua seperti, ‘Lihat aku’!”
Mereka tidak tahu tentang Bumi, tapi sekarang mereka tahu tentang Disboard—dari bulan, itu tidak biru atau bulat. Dengan bidak catur raksasa menjulang darinya, itu mengingatkan mereka pada tong yang ditancapi pedang. Akankah sesuatu muncul jika mereka menancapkan beberapa lagi? …Mungkin Tet? Dia akan memakai kostum bajak laut, terbang di angkasa. Saat Sora dan Shiro berkhayal—
“…Ex Machina, pasti tidak bisa mengikuti kita, sampai ke sini. Heheheh… Haaahhh…”
Jibril bergumam sengit, terlihat nyaris mati saat dia terkapar di tanah dan menyeringai.
—Mereka tak perlu bertanya di mana “sini” itu. Ini bulan, kemungkinan besar bulan merah yang selalu mereka pandangi. Selain planet itu, yang mereka lihat ke segala arah hanyalah pasir, pasir, dan pasir di atas batu. Permukaan yang penuh kawah itu sunyi tanpa angin, dan gravitasi begitu lemah hingga satu langkah bisa membuatmu memantul. Selain pasirnya yang merah, kemungkinan karena komposisi material berbeda, bahkan seekor monyet pun tahu bahwa ini benar-benar seperti satelit alami Bumi, yang juga disebut bulan. Maka jika kau bukan monyet, ada pertanyaan lain yang harus diajukan. Salah satunya—
“Hei… Kalau aku ingat dengan benar, bukankah ini tempat milik seseorang?”
Bukan berarti mereka punya hak untuk bertanya setelah menerobos masuk ke Kuil dan membuat keributan…tapi Miko sudah memberi izin.
—Ixseed Peringkat Tiga Belas, Lunamana… Konon para dewa menciptakan bulan merah ini sebagai tempat tinggal mereka bahkan sebelum masa Perang Besar dan karena itulah, pengetahuan tentang ras mereka tidak ada. Sora jelas tidak ingat pernah membuat janji dengan mereka, dan dia benar- benar tidak ingin masalah baru.
“Ah, Master, metropolis Lunamana ada di sisi lain bulan. Sisi ini tidak dimiliki siapa pun.” Jibril berlutut dengan hormat, menjawab untuk menenangkan ketakutan tak terucap Sora. “Seperti yang bisa anda lihat, ini
adalah tanah tandus, tanpa udara atau bahkan spirit. Dan ras-ras yang memiliki kekuatan untuk datang ke sini adalah justru yang tidak memiliki kepentingan di tempat ini. Namun, tempat ini sunyi, dan matahari tidak akan terbit hingga beberapa waktu lagi dalam bulan ini.”
Memang, tidak ada udara untuk merambatkan gelombang suara. Seseorang akan mengira tempat ini cukup sunyi menurut standar dunia. Namun, Jibril mengatakan dia membawa mereka ke sini demi kenyamanan mereka.
“Saya juga membawa bola ruang-terputus yang menyegel udara dalam radius lima ratus meter.” Dia menyeringai miring. “Tidak mungkin menembus ruang yang terputus. Selain itu, jarak rata-rata di sini adalah seratus sembilan puluh ribu kilometer. Bahkan Ex Machina pasti akan kesulitan melakukan perpindahan jarak-ultra-panjang semacam itu. Perlu juga dicatat bahwa bulan merah memiliki kecepatan orbit sekitar tiga kilometer per detik. Bahkan jika mereka membuka kembali celah yang kubuat di ruang, mereka akan tersesat di luar angkasa… Ex Machina tidak akan menemukan kita di sini… Heh, heheheheheh…!!”
Ketika Jibril tertawa cekikikan, Sora dan Shiro pun bertanya dalam hati: …Barusan kau sialin kita, ya?
…Ah, sudahlah. Mereka membersihkan pasir dari sebuah batu acak dan duduk, menggunakannya sebagai sandaran.
“Hei, kenapa Lunamana cuma tinggal di sisi lain bulan? Kenapa tak mengambil semuanya…?” tanya Sora tiba-tiba.
“…Kak, lihat…” Shiro menunjuk ke depan.
Di sana, kawah yang tak terhitung jumlahnya. Akhirnya, Sora menyadari ada yang aneh. Jika Jibril bicara soal sisi depan dan belakang, itu berarti bulan merah pun selalu menghadapkan sisi yang sama ke planet. Seperti bulan Bumi. Maka bukankah bagian belakangnya juga harus dipenuhi kawah, bekas hantaman kosmis?
“Oh, ya. saya keliru bicara. Izinkan saya mengoreksi, mohon maaf.”
Sora sudah curiga—tidak, hipotesis yang hampir pasti—yang segera dibenarkan oleh Jibril.
“Bagian belakang, tempat metropolis, tentu diberkahi dengan udara, spirit, dan bahkan kehijauan yang subur, seperti yang saya dengar.”
Hanya—dia tetap tersenyum saat membenarkan hipotesis itu—
“Tampaknya sisi ini terkena tembakan nyasar selama Perang. Kini tempat ini telah mati. ♥”
…Penembakan itu bukan dari luar angkasa—melainkan dari planet. Jadi tembakan nyasar mengubah permukaan bulan sejauh 190.000 kilometer menjadi dunia mati…? Sora mulai bertanya-tanya kenapa mereka tidak melakukannya di luar angkasa saja— Oh. Tidak ada spirit…
“Ahhh, sudahlah! Setidaknya sekarang kita bisa memikirkan masalah paling penting dengan tenang.”
Sora mengeluarkan tablet. Ia dan Shiro mulai mengutak-atiknya. Jibril mengangguk dengan khidmat.
“Apa yang harus dilakukan soal Ex Machina… Benar…”
Sora dan Shiro menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“A-apa? Ini masalah berbeda?”
“…Ah, tapi… Apa gunanya, memikirkan…yang itu? …Mereka…”
“Kita punya urusan yang lebih mendesak! Seperti perlengkapan panggung untuk konser kedua Holou!!”
Jadwal tugas sudah penuh sesak. Dan mereka sudah harus mendelegasikan satu tugas penting, sesi temu penggema, kepada Steph. Kalau lebih dari ini, mereka akan gagal total sebagai produser! Mereka harus merinci rencana agar Jibril mengurus efek khusus, seperti yang mereka bayangkan sebelum Ex Machina muncul. Dan bagaimana menyelesaikan semua tugas mereka sembari dikejar-kejar oleh Ex Machina? Itu saja sudah sangat sulit. Sora meremas rambutnya dan mengerang.
“…Ya. Akan ideal kalau bisa melakukan sesuatu terhadap Ex Machina dan membuat mereka membantu kita. Itu akan menyelesaikan segalanya.”
Perlengkapan panggung berjalan dan berbicara. Segalanya mungkin.
—Berjalan adalah bagian yang sulit.
Dan berbicaranya. Dan bug di balik kata-kata mereka. Dan bagaimana kamu tak bisa mengabaikan atau menghancurkan bug itu tanpa melanggar aturan. Singkatnya, masalahnya adalah tidak ada yang bisa dilakukan terhadap mereka.
“…Mungkin, mereka akan membantu…kalau kau…minta? …Mereka memang, mencintaimu…”
“Kau mau aku berutang budi ke Einzig?! Dia pasti bakal minta keperjakaanku sebagai gantinya!”
“…Kalau pilihannya, antara itu…atau cewek lain…aku lebih suka…kamu melakukannya dengan cowok…!”
“Hey! My Little Sister! Haruskah kita benar-benar bawa ini ke ujung logika?!”
Shiro menggigiti kukunya saat menyampaikan kesimpulannya yang menyakitkan, sementara Sora berteriak balik.
Bahkan jika mereka bisa membuat mereka membantu sebentar, pada akhirnya itu tidak akan menyelesaikan apa pun, dia tetap akan kacau. Sepertinya tidak ada jalan lain… Sora melipat tangan di belakang kepala, bersandar pada batu, dan berpikir.
“…Sebuah jebakan untuk membuat Ex Machina menerima permainan dalam kondisi apa pun… Mari kita lihat…”
Apakah hal seperti itu mungkin? Sora dan Shiro bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
“Wahai engkau! Wahai engkau, wahai engkau dan engkau!! Wahai Sora dan Shiro! Apa yang membawa kalian ke sini? Jawablah aku!!”
Tiba-tiba, tanpa suara ataupun kilatan cahaya, seolah-olah dia memang sudah berada di sana sejak awal, seorang gadis kecil, Holou, muncul dalam kostum idolanya dan memarahi Sora dan Shiro.
“—Ap…? Tunggu—b-bagaimana kau bisa tahu—lebih tepatnya, bagaimana kau sampai di sini?!”
Jibril pasti sangat percaya diri dengan penerbangannya dan “ruang terputus” yang telah membuatnya kelelahan. Dia menjerit saat melihat Holou melewatinya seolah itu tak ada artinya.
“…? Aku melihat ke atas. Kebetulan melihat kalian di sini, jadi aku datang untuk menyampaikan keluhanku!”
“T-tidak! Bukan, itu ruang terputus! Kau seharusnya tidak bisa melihat—”
—Hanya melihat kalian dan tinggal menyapa. Jawaban Holou, disertai nada tak senang, mengundang protes lebih lanjut dari Jibril, tapi—
“Aku tak tahu apa yang engkau maksud. Ruang tidak menyediakan pemutusan. Engkau harus memutus kontinuitasnya. Engkau bersembunyi dalam silinder terbuka.”
…Tak ada yang tahu apa maksudnya, tapi tampaknya mereka terlihat jelas di mata entitas multidimensi. Maka muncullah kalimat yang tak disangka- sangka akan keluar dari mulut pembicaranya—di momen paling epik—
“I-itu…itu…omong kosong……!”
Jibril mundur dari tatapan tajam Sora dan Shiro.
“Mari kita kesampingkan hal-hal sepele itu, wahai Sora, wahai Shiro!” Holou mengacungkan jarinya, dengan mulus membelah keputusasaan mendalam Jibril. “Mengapa kalian telah menjatuhkan hukuman pada Holou untuk empat jam menjaga sesi temu penggemar yang tak dihadiri siapa pun sementara kalian berlama-lama di sini? Kalian harus menjawab!”
Ya, dia telah muncul tepat waktu sesuai jadwal yang diberikan oleh Sora dan Shiro, lalu duduk di stan kecilnya yang sepi. Rupanya idol malang yang tak dicintai itu menunggu sampai akhir meskipun tak satu pun orang datang. Tak heran jika dia menginterogasi mereka—atau lebih tepatnya, memohon pada mereka dengan mata berlinang. Sora dan Shiro menundukkan kepala, tak mampu memberikan komentar yang berguna.
"Heh, heheheh... Tak mampu melarikan diri dari Ex Machina atau Holou... Apa gunanya saya?"
Maka, Jibril pun berjongkok dan bergumam, lalu menggambar の di permukaan bulan. Apakah benar-benar begitu menyedihkan kalah dalam adu kekuatan dengan Holou, seorang Old Deus, meskipun dalam kondisi lemah? Keraguan Sora ini tampaknya tak menarik perhatian Jibril. Namun tiba-tiba, sesuatu yang lain justru menarik perhatiannya.
"...Oh! Kalau dipikir-pikir, Jibril, siapa sebenarnya yang bisa kau kalahkan? Kau kalah dari binatang berbulu dan dari mastermu... Mungkinkah, Jibril, bahwa kau sama sekali tak berguna?"
Oh... Sepertinya ia telah melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat. Melihat dari belakang saat Jibril terus tenggelam dalam senyum ke jurang keputusasaan, Sora dan Shiro memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
—Kau mengalahkan kami, brengsek, adalah apa yang sebenarnya ingin mereka katakan, tapi.
"—Hmm. Ex Machina...bentuk kehidupan humanoid anorganik itu?"
"Ahhh... Aku tak tahu apa yang kau lihat dari bulan saat bilang itu, tapi ya, kurasa itu."
Setelah dijelaskan, Holou melihat sambil menaungi matanya dengan tangan, lalu bergumam dan memancing amarah Sora.
"Tunggu, apa kau tak tahu? Ex Machina yang konon membunuh Artosh. Mereka cukup penting, tahu."
"H-Holou adalah dewa! Ia memiliki informasi! T-tapi—"
Holou tercekik oleh kata-katanya sendiri sesaat saat Sora mengomentari ketidaktahuan yang tak terduga dari makhluk transenden yang bisa membuat seorang Flügel putus asa.
"Sebelum ras-ras sekarang tercipta, Holou... Ah... Hngh?! A-apa yang engkau lakukan?!"
"Hmm? Oh, aku hanya berpikir kepalamu berada pada ketinggian yang pas untuk dielus, jadi kuelus saja."
"...Ini salahmu...karena punya...kepala yang enak dielus..."
Keberatan Holou ditanggapi dengan enteng oleh Sora dan Shiro, yang kini mengerti.
—Mereka sadar Holou tak ingin mengucapkan kata percobaan bunuh diri. Mereka membiarkannya begitu saja.
...Zaman yang amat sangat lampau, Holou telah menggali ether-nya sendiri dan membuat dirinya koma. Ia baru dibangunkan sekitar setengah abad lalu oleh Miko. Mungkin ia tak tahu apa pun yang terjadi selama itu... Bahkan setelahnya, ia berada di dalam Miko... Ia hanya bisa tahu apa yang dilihat Miko. Sama seperti yang Holou katakan: Ia memiliki informasi (pengetahuan) tentang Ex Machina, tapi ini pertama kalinya ia melihat mereka secara langsung. Kini setelah independen, ia tampaknya bisa menggunakan kekuatan mendekati kemampuan cenayang, tapi jelas belum sampai ke tingkat maha tahu. Kekuatannya masih jauh dari pantas disebut "melihat segalanya," karena itu akan melanggar Kovenan. Sora jadi sedikit tersentuh memikirkannya, ketika Holou kembali bicara.
"Melakukannya? Hubungan seksual, maksudmu? Maka cepatlah lakukan! Beranaklah! Engkau harus menepati janjimu!"
Spamming tombol cabul dengan mata rusa polos oleh Holou mengembalikan Sora ke mode badut.
—Hmm. Holou, makhluk pamungkas dari omong kosong, benar-benar berfokus pada konsep intelektual hingga tak masuk akal. Apakah ia tak punya perasaan terhadap aktivitas reproduksi makhluk hidup—atau ia tak bisa membayangkannya sama sekali? Sora yakin yang kedua—tapi sebelum itu—
"Berapa kali harus kukatakan kalau aku bukan pria mereka...? Itu sebabnya aku harus pikirkan cara agar mereka mau menerima syarat—"
—untuk membuka kunci mereka, adalah yang akan ia katakan, ketika Holou bertanya:
"Bagaimana engkau bisa yakin bahwa engkau bukan?"
…
—Apa?
“Hei, hei, lihat ini, kulit yang lembut dan halus ini! Apa aku kelihatan seperti fosil berusia enam ribu tahun?!”
“…Maafkan saya, master… Walau saya hanyalah fosil tak berguna, mohon ijinkan saya tetap tinggal…”
“Mm? Eh—bukan begitu maksudku! Aku sedang berbicara seperti manusia—lihat, itu bukan intinya! Maksudku adalah—!!”
Gugup oleh suara fosil berusia lebih dari enam ribu tahun yang semakin tenggelam dalam depresi di sudut bulan, Sora melanjutkan.
“Aku tahu siapa diriku!” Apa kau pikir aku pikir aku itu kau, Holou?!”
Menanggapi pernyataan Sora tentang kesadaran dirinya, Holou memiringkan kepalanya dengan serius.
“Holou bisa saja keliru. Bukankah begitu, wahai Sora?”
Lalu, penampilan Holou berubah seperti kartu yang dibalik. Hanya sekejap, sosok di hadapan Sora bukan lagi gadis kecil berkostum. Yang berdiri kini adalah seorang pemuda berambut hitam, bermata gelap, mengenakan kaus bertuliskan “I ♥ PPL”:
“…Jika sekarang Holou memalsukan ingatannya, ia akan menganggap dirinya sebagai Sora. Kesalahan itu sepele.”
Wajah dan suara Sora—namun bukan dirinya—bertanya pada Sora.
“Ego, waktu, dan takdir tak berarti. Aku bertanya atas dasar apa mereka mengidentifikasimu sebagai dia yang disebut Spieler, dan atas dasar apa engkau menentukan persepsi itu keliru.”
“…………”
…Sora menjawab dengan diam. Tidak…dengan helaan napas. Dia tahu. Holou tidak bermaksud jahat. Mungkin dia bahkan tidak tahu apa artinya berniat jahat. Dia hanya menginginkan jawaban atas pertanyaan, seperti biasa—sebuah rancangan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Terlihat jelas dia sekarang sedang mengambil kuas dan gulungannya—tapi itu bukan poinnya.
—Oke. Pertanyaan tentang definisi diri dan buktinya…ya, begitu ya? Kedengarannya keren—tapi itu omong kosong total. Bagaimanapun kau menyusun argumenmu, akhirnya kesimpulannya tetap: tidak ada bukti. Itu alasan kenapa Sora membuat Holou menjadi idola. Dia tidak bisa menjawabnya. Tapi kemudian—Holou, yang telah kembali ke bentuk gadis kecilnya, dengan cemberut bertanya lagi padanya.
“Lalu apa sebenarnya dasar yang membuat engkau mendefinisikan diri engkau sebagai engkau?”
…
…Dan dengan itu.
—Seolah-olah satu roda gigi yang hilang akhirnya menemukan tempatnya. Mekanisme jam yang sebelumnya terputus dan tak bernyawa tiba- tiba mulai berputar. Seolah-olah dia bisa melihat tindakan Ex Machina, kata- kata mereka, niat mereka, kehendak mereka—dia bisa melihat semuanya. Bagaimana mereka bisa menjebak Ex Machina? Dia merasa bodoh karena sempat kesulitan soal itu. Sora dan Shiro saling menatap dan menggenggam tangan—menyeringai menertawakan diri sendiri tanpa bisa menahan diri. Ini adalah mesin yang punya hati. Dan apa yang membebani mereka yang berhati selalu sederhana—
—dan omong kosong belaka!
“A-apa itu? Mengapa engkau maju? E-engkau harus menjawab— Ngyah?!”
Mereka melempar tinggi sang dewa yang telah menunjukkan cahaya kepada mereka.
“Gila! Tidak heran kau dipanggil dewa! Ini yang namanya ‘wahyu’, ya?!”
“…Bagus sekali, Holou…! Memang pantas, memberikanmu hollow, dari 「 」 kami…”
“Be-begitukah?! A-apakah mereka memanggil yang lain dewa hanya karena alasan sepele?!”
Holou melayang naik turun dalam gravitasi bulan yang tipis saat mereka melemparnya, tidak mampu mengikuti alur percakapan. Ia buru-buru mengeluarkan kuas dan gulungannya untuk mencatat pertanyaan- pertanyaannya, namun mereka tak menjawabnya. Setelah meletakkannya kembali ke tanah, Sora dan Shiro berbalik dengan gaya luar biasa dan berbicara.
“Jibril! Memang berat, tapi ayo kembali bekerja—kembali ke Elkia!”
“…Ah, ya… Ji-jika saya bisa berguna untuk anda… Nghh…”
“—Bekerja? Wahai, wahai engkau, apakah engkau berniat untuk melakukan kerja?!”
Begitulah kira-kira ekspresi para cendekiawan kuno ketika pertama kali mendengar tentang heliosentrisme. Saat Holou diliputi keterkejutan dan keraguan, Sora dan Shiro menggeleng-geleng dan mengacungkan jari telunjuk padanya.
“Holouuu, wajah apa itu? Shiro dan aku bekerja. Apa pekerjaan kami?”
“……Diperkirakan sebagai administrasi kerajaan…ya? Tidak ada bukti yang diamati dalam tindakan kalian.”
Kekurangan dasar yang jelas dalam hipotesisnya memaksa Holou menyampaikannya sebagai pertanyaan.
“Heii, hei, hei… Ayo dong, idola masa depan!”
“…Kami punya…pekerjaan… Dan itu adalah pekerjaan…produser…!”
Menjawab dengan penolakan yang dramatis, pria yang seharusnya menjadi raja—setidaknya secara nominal—Sora, mengeluarkan ponselnya. Dan menambahkan satu tugas lagi ke dalam jadwalnya yang sudah padat.
—Dapatkan peralatan efek panggung berjalan yang sempurna.
Sora berhenti mengetik, tertawa kecil, dan menambahkan satu hal lagi.
“Ya… Sepertinya aku juga harus mengurus perawatannya sekalian… Walau bisa atau tidak tergantung mereka.”
Cahaya yang ditinggalkan oleh layar tempat ia mengetik adalah jejak terakhir yang mereka tinggalkan di bulan.
—Wujudkan harapan para Ex Machina…
Sudah waktunya. Ambil semua kemarahan yang telah kau tahan dan lepaskan itu!!
“NGRAHHH!! Bagaimana kalian berani mengganggu kami, robot maid dan Einzig!”
Begitu mereka berpindah ke ruang takhta, teriakan Sora mengguncang kastil.
“Maaf, tapi sekarang giliran kami, selamanya! Berdasarkan hukum bahwa segala sesuatu berubah, bahwa segala sesuatu adalah aliran, kami datang, Einzig!! Untuk mengumumkan kembalinya dirimu menjadi debu— Hei, apakah Steph sudah mati?!”
Dengan tiba-tiba, pemandangan yang tidak seharusnya ada di dunia ini, yakni adegan pembunuhan, mengubah teriakannya menjadi jeritan.
“—Tidak masalah, itu tidak penting!! Ayo, Einzig—”
“Kamu baru saja mengatakan hidupku tidak penting?!”
Mayat yang tersebar di tanah itu begitu marah karena perlakuannya, dia mengaum kembali dari lubang api neraka.
…Sebenarnya, sebenarnya dia sudah jelas bernapas, tetapi…
“Jangan khawatir— Sebenarnya, itu tidak penting!! Tapi apakah kamu tidak melihat ini adalah situasi darurat?! Tidak stres sedikit pun?!”
Steph mengeluarkan jeritan pasrah.
“Tidak. Maksudku, itu Azril, tahu? Kami lebih seperti, astaga, kami pintar tidak berada di sini.”
“…Itulah kenapa…kakakku berkata…kau harus…jauh dari kastil…Steph.”
“Seniorku keras kepala dalam keadaan normal. Sudah jelas bahwa keadaan yang melibatkan Ex Machina akan membuat para bodoh itu bersemangat.”
Sora, Shiro, dan Jibril menunjukkan bahwa mereka telah memahami situasi itu dengan segera—atau lebih tepatnya, memprediksinya sebelumnya.
…Setelah semua, seseorang harus mendengarkan peringatan orang lain. Bahkan peringatan dari Sora. Inilah kesadaran yang datang pada Steph ketika dia memandang ke langit, dan tidak ada yang peduli.
“Oh, Spieler!! Akhirnya kamu datang kepada kami dengan kehendakmu sendiri!” Sampah tua itu meronta dan menari menuju Sora dan bersorak dengan gembira. “Kami tidak akan mengecewakanmu! Karena kami bukan mesin yang dulu lagi. Semua unit!”
“Jangan. Pertama—Aku punya sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian semua.” Sora menghentikan Ex Machinas yang sedang siap mengubah pemandangan dan bertanya, “Kalian bilang kalian yakin aku ‘Spieler’ atau apalah itu. Bagaimana kalian membuktikannya?”
“Aku sudah— Ah, ya. Aku akan mengatakannya sebanyak yang diperlukan: ‘Hati’ku—”
“Bisakah kau membuktikannya? Bisakah kau membuktikan bahwa aku dan Spieler adalah orang yang sama? Agar aku yakin. Agar Shiro yakin. Agar kalian yakin, tentu saja, dan agar pihak ketiga seperti Steph dan Jibril juga yakin. Secara meyakinkan, seratus persen. Bisakah?” Sora serius sambil mengabaikan Einzig.
“Hmm… Tidak, itu tidak mungkin. Tapi itu tidak perlu! Karena itu pasti.” Einzig sendiri serius—seiring dia menanggapi hal itu.
Bukti tentang eksistensi diri pada dasarnya tidak mungkin, bahkan untuk orang lain. Oleh karena itu, Ex Machina tidak bisa membuktikan bahwa Sora dan Spieler adalah orang yang sama. Begitu juga, Sora tidak bisa membuktikan bahwa dia dan Spieler bukan orang yang sama.
—Ya. Biasanya, memang benar.
“Kau salah. Karena aku bisa membuktikan dengan tegas—Aku bukan dia.”
Pandangan teredam dari Einzig dan semua Ex Machinas—bukan hanya mata mereka, tetapi semua sensor mereka—terfokus pada Sora. Menghadapi mesin yang bisa mengungkapkan kebohongan apa pun, Sora hanya mendengus: Sempurna. Karena tidak ada kebohongan, tidak ada tipu muslihat, bahkan tidak ada trik retoris dalam kata-katanya. Itu hanya sebuah fakta. Dia bisa membuktikannya. Agar Shiro yakin. Agar Ex Machina yakin. Agar dia sendiri yakin, tentu saja, dan agar pihak ketiga seperti Steph dan Jibril juga yakin. Secara konklusif, 100 persen. For real.
Ini sudah diketahui, dan inilah sebabnya Sora menyunggingkan senyum miring dan itu akan cukup: Sekarang apa yang dia katakan, apapun yang dia katakan—
—apapun yang dia minta—mereka harus menelannya.
“Ayo—biarkan permainan dimulai.”
Itu kembali berada di tangannya. Sora memberi mereka senyum lebar dan gagah. “Kami yang menentukan permainan. Aturannya. Taruhannya. Semuanya kami.” Inilah yang mereka dapatkan. “Shiro dan aku adalah satu tim. Kalian semua adalah tim lainnya. Dan omong-omong, kalian tidak punya pilihan dalam hal ini.” Tanpa berusaha menyembunyikan dendam pribadinya, Sora menusukkan kata-kata ini dengan sengaja. “Jika kami menang, kalian akan membuka kunci perangkat keras kalian! Plus! Kalian akan meninggalkan keinginan setia kalian yang menyebalkan untuk tidak membuat anak kecuali dengan orang tertentu! Kalian akan berkembang biak secara mandiri dan tidak punah! Itu yang kalian janjikan!!”
“……Hmm. Dan apa yang kami dapatkan jika kami menang?”
Untuk kami meninggalkan perasaan yang telah berkembang dalam diri kami selama enam ribu tahun—apa yang kalian tawarkan sebagai imbalan untuk ini? Demikianlah mata Einzig menyempit menatap Sora, yang langsung tersipu dan gelisah—
“Nah, pertama, sebagai bonus... Aku akan membiarkan kalian mengambil... f-foto telanjangku. ♥”
“Aku mengerti. Baiklah, kami menerima. Mari kita lanjutkan permainan.”
“Permintaan: Mengenai kepemilikan bonus. Unit ini mengklaim kepemilikan.”
“Mereka akan menerima itu?! Lalu mengapa ini memakan waktu begitu lama?!”
Steph menjerit mendengar jawaban instan dari sampah yang menyedihkan itu. Tetapi Sora dan Einzig sama-sama tahu— keduanya mengira ada hal lain. Foto telanjang Sora, seperti yang dia katakan, hanyalah bonus. Dia bahkan tidak perlu mempertaruhkan itu. Dia bahkan tidak perlu menaruh apa-apa.
“Selain itu, selama permainan—Aku akan membuktikan padamu, dengan tegas, bahwa aku bukan Spieler.”
Karena inilah yang menjadi headline-nya.
“Jika aku tidak bisa, atau jika kalian membantahnya, itu akan menjadi kekalahan kami tanpa syarat—”
“—dan inilah hadiah spesial: Siapa pun yang pertama kali membantahnya dapat langsung membuat anak denganku.”
……
“Heh…heheheh… Sebuah ujian tentang siapa yang layak menjadi Spieler, ya? Sebuah tantangan berani yang ditantang oleh cinta!”
“Kebenaran: Unit ini mengklaim kepemilikan hadiah spesial. Semua penolakan ditolak. Dihilangkan.”
Sepertinya headline-nya melebihi harapan mereka…praduga mereka. Semua orang menatap ternganga sementara suhu di ruangan tampak meningkat. Tetapi hanya Sora dan Shiro yang tahu. Jika Ex Machina kalah, mereka akan kehilangan cinta mereka. Bagi mereka untuk mengambil risiko itu—hanya foto telanjang dan penentuan pasangan untuk reproduksi tidak akan cukup.
Jika, seperti yang Sora katakan, itu bukan dia dan dia bisa membuktikannya, reproduksi bahkan tidak lagi penting. Itu mengancam semua harapan mereka.
“Jadi, dengan itu, saatnya bagi kami untuk memberi tahu kalian permainan ini.”
Steph, Jibril… bahkan Einzig mendengarkan. Dalam permainan seperti apa seseorang bisa mengalahkan komputer yang belajar dan beradaptasi tanpa batas, yang menjadi lebih kuat tanpa batas—yang meninggalkan mesin oracle di belakang?
—Permainan seperti apa yang bisa mengalahkan monster-monster ini?
Sambil merasakan pandangan yang jatuh padanya, Sora menyebutkan itu dengan ceria.
“—Ini catur! ♪ Hei, bukan seperti kalian tidak melihat ini datang, kan?”
“…Setiap gamer…tahu…jika mereka mangalahkanmu…kalian harus…balas…”
…
……?
Sora bisa melihat tanda tanya yang muncul di atas kepala semua orang.
“Ayo, jangan tampak seperti itu. Kita tidak bermain hanya catur biasa. ♪ ”
Sora, dengan Shiro di sampingnya, berputar. Dia benar-benar menikmati semua ini.
“Permainannya lima hari lagi, pada waktu yang sama dengan konser kedua Holou! Sementara itu, kalian bisa membuat dan mempromosikan permainan serta menyiapkan panggung dan peralatan!”
“…Bekerja untuk kami…alat… Peralatan panggung yang sempurna…untuk kemenangan…!”
Dengan itu, meninggalkan kekhawatiran semua orang, Sora berseru:
“Akan sangat sibuk di sini! Karena ini akan menjadi pertunjukan paling keren yang pernah ada!!”
⟪ BAB 3 ⟫
Lima hari kemudian, papan pengumuman yang telah lama tergantung dengan tulisan TUTUP UNTUK BISNIS akhirnya diturunkan. Kini, papan baru digantungkan di menara, sama megahnya dengan yang pertama:
AREA KONSER
“Oh… Takhta Kerajaan Elkia, sarat dengan tradisi luhur. Ruang takhta…”
Apa yang dilihat Steph saat ia meratap adalah sebuah panggung megah yang tak bisa dibandingkan dengan yang digunakan sebelumnya. Dilengkapi dengan berbagai perangkat dan lampu buatan Ex Machina, serta akustik yang sempurna. Namun, takhtanya telah dipindahkan dengan alasan Ini sangat pas untuk panggung. Selain itu, dinding-dindingnya telah dihancurkan karena Kita butuh kapasitas lebih. Tak ada lagi jejak rupa tradisional ruang takhta yang diwariskan turun-temurun. Steph tak kuasa menahan tangis, dan seakan menyiram luka—
“…Aku benar-benar ingin tahu! Apa yang semua orang ini lakukan di sini?!”
Ribuan orang berkumpul di depan panggung penyusup itu, menunggu pertunjukan dimulai. Pertanyaan pilu Steph dijawab dari belakang.
“Yah, dulu ada orang-orang lewat pas kita gelar di balkon, tapi ini di dalam ruangan, men.”
Steph, yang mengintip dari balik panggung, menoleh ke belakang. Di bawah tangga pendek, ada sebuah meja tempat seorang pria duduk, di
pangkuannya duduk seorang gadis. Mereka adalah Sora dan Shiro, tampak puas seperti biasa.
“…Semua orang di sini datang ke sini—mereka semua adalah para tolol sejati kesayangan kita, tahu?”
“…Aku takut pada nasib negara kita…”
Steph menatap dengan sedih kerumunan yang malang dan telah dicuci otak itu. Ia menghela napas, lalu menuruni tangga.
Ia menuju tempat sumber kejahatan duduk, saling berhadapan di meja. Di satu sisi, Sora dan Shiro, produser kekacauan ini, dengan Jibril di belakang mereka. Di sisi lain, Einzig, si pembuat kekacauan ini, dengan Emir-Eins dan sebelas robot maid di belakangnya. Bersama Steph berdiri barisan korban yang cukup seragam:
“…O Sora, O Shiro. Kutanya sekali dan kutanya lagi: Mengapa Holou harus ikut serta dalam parade yang tak bisa dipahami ini?”
Sang dewi yang cemberut menunggu giliran masuknya dalam kostum, tampak tidak senang dengan cara sewenang-wenang ia dilibatkan.
“Hmm… Kau sangat benci, ya? Padahal kelihatan bagus!”
“…Aura idola…muncul…dari dirimu…!”
“Aku tak punya dasar untuk menaksir amarahku! Maka dari itu, kumohon!”
Holou menggeram pada Sora dan Shiro, setelah menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali, hanya untuk mendapatkan jawaban yang mengambang. Namun Sora, dengan senyum yang sangat langka—
“Jangan khawatir, Holou… Kau akan menemukan jawabannya dalam dirimu sendiri. Bukannya sudah kubilang?”
—sebuah senyum yang tampak tulus dan tanpa motif tersembunyi— mengelus kepala Holou sambil berkata:
“Kami juga nggak tahu apa yang bakal terjadi. ♪ Jadi ini waktunya kamu tampil. Tunjukkan pada mereka!”
“…Holou… Habisi mereka. Catat nama-nama mereka… Kami mendukungmu…!”
“—Aku tak mengerti… Aku sungguh tak mengerti… Aku tak tahu apa yang kalian inginkan dari Holou…”
Sora dan Shiro mengantar Holou yang menuruni tangga dengan patuh meski menggerutu. Mereka kembali pada urusan utama, berhadapan kembali dengan Einzig dan para Ex Machina.
“Baiklah, kalau begitu—bagaimana kalau kita mulai permainan kita juga?”
Dengan kata lain, mereka menghadap papan catur di atas meja dan memastikan apa yang akan terjadi. Permainan ini adalah jawaban dari segalanya, mengapa mereka menciptakan panggung ini, mengapa Holou harus naik ke sana, dan mengapa semua orang ada di sini. Untuk sekarang, cukup satu kata.
“Yah, kau tahu kan—aturan melarang penggunaan sihir atau ‘penempatan’ selain yang ditentukan sebagai bagian dari permainan,” tambah Sora, mengingatkan Jibril untuk memperhatikan dengan sangat saksama. “Selain itu… Ah, kalian tahu aturannya, kan?”
Tidak ada yang membantah pernyataan Sora yang sok pintar itu. Dan itu sangat wajar, mengingat Ex Machina dan Jibril telah membangun permainan ini bersama berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh Sora dan Shiro. Semua orang di sana tahu aturan itu lebih baik dari siapa pun. Ini pada dasarnya hanya catur. Pada dasarnya adalah kata kuncinya.
Ada satu hal yang membuat semua orang bertanya-tanya, termasuk Jibril dan Steph: Dilihat dari sudut mana pun, permainan ini jelas-jelas tidak menguntungkan Sora dan Shiro. Namun mereka tampaknya tidak peduli, seolah-olah menganggap diamnya semua orang sebagai tanda persetujuan—
“Baiklah, taruhan… Dimulai dari siapa yang siap bayar dulu…”
“…Bersiap… Siap… Mulai…!”
Sora dan Shiro mengangkat tangan mereka, mengonfirmasi taruhan dan memulai ikrar.
“Pengakuan: Jika kalah, maka: Lepas kunci perangkat keras. Tinggalkan cinta. Berkembang biak secara mandiri. Cegah kepunahan.”
“Aku bersumpah akan keluar sebagai pemenang dengan bonus dan hadiah spesial di tanganku. Silakan menantikannya, Spieler.”
Emir-Eins, Einzig, dan seluruh Ex Machina mengikuti jejak mereka.
Bunyi nada terdengar sebagai tanda dimulainya pertunjukan, dan Holou berlari menaiki tangga ke atas panggung. Ada momen hening yang terasa sangat panjang…dan akhirnya, musik menggema. Beberapa teriakan bergema keras agar tak tertelan suara:
“—Aschente—!!”
Musik diputar dari ponsel Shiro dan diperkuat oleh speaker milik Ex Machina. Holou melangkah ke atas panggung di tengah intro yang memekakkan telinga dan mendengar—
“Yeahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!”
—ledakan antusiasme dari kursi-kursi gelap yang begitu keras hingga sulit mendengar musiknya.
—.
Sesaat, pikiran Holou menjadi kosong. Itu hanya sesaat menurut standar manusia, namun terasa seperti keabadian yang membeku bagi seorang Old Deus. Pikirannya terpaku pada satu kata: Enigma.
Sebelumnya, Holou hanya mengikuti instruksi samar dari Sora dan Shiro tanpa benar-benar mengerti. Tapi di tengah antusiasme ini, dari penonton, Holou merasakan adanya keinginan untuk sesuatu yang lebih. Hipotesis ini memunculkan sebuah teori: Mereka mengharapkan sesuatu darinya. Di sanalah pikirannya terhenti.
Apa yang mereka harapkan?
Dia bahkan belum memahami dengan jelas apa itu ekspektasi… Sungguh, apa? Apa yang membuat tubuhnya yang seharusnya tak berwujud ini bergetar?
Itu membuatnya terengah tanpa suara.
Kecemasan, ketakutan, ketegangan.
Perasaan yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang dewa berkecamuk dalam dirinya. Tangannya mencengkeram mikrofon dengan sendirinya dan bergetar. Mata ilahinya mencari keselamatan, bahkan tanpa disadari. Lalu, di antara wajah-wajah yang berteriak dalam kegelapan, dia melihat seseorang yang dikenalnya. Dia melihat seseorang yang ia kenal.
Host…?
Mata itu, memang mengharapkan sesuatu. Itu adalah mata temannya. Rekannya. Miko Sang Pendeta Kuil.
“…H-Holou adalah Holou! S-sekarang…Holou akan bernyanyi dan menari, dan semacamnya!”
Holou masih belum tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi. Tetap saja. Terlepas dari semuanya! Setidaknya, dia hampir yakin akan hal ini!
—Host Holou tak menginginkan—agar Holou tenggelam dalam pertanyaan!!
Holou mengutarakan hipotesis itu dan memperkenalkan dirinya dengan canggung. Dan ia menggerakkan mulut serta tubuhnya seperti yang telah diajarkan padanya.
Sementara Holou mulai bernyanyi dan menari dengan canggung, di belakang panggung, Sora, Shiro, dan Einzig dengan liar menggerakkan tangan
mereka. Einzig menggerakkan dua tangan, dipandu oleh pemikiran paralel seluruh kluster Ex Machina. Sora dan Shiro menggerakkan empat tangan, pikiran mereka berjalan sangat selaras. Keduanya mengambil giliran dengan kecepatan luar biasa, menggerakkan bidak tanpa sedikit pun kebingungan.
Ini pada dasarnya hanyalah catur. Dengan beberapa aturan khusus. Seperti—tidak bergiliran.
“…A-apa yang sedang terjadi…? J-Jibril, siapa yang memimpin?”
“…Saya rasa master sedikit tertinggal… Tunggu. Sekarang mereka telah— Tidak…sebuah tipu daya…?”
Gerakan bidak melesat di papan begitu cepat, hingga keduanya menjerit mencoba mengikutinya. Catur berkecepatan tinggi. Rata-rata empat langkah per detik. Sora dan Shiro memainkan langkah mereka bolak-balik tanpa perlu berdiskusi. Fakta bahwa mereka bersaing dengan Ex Machina seperti ini sudah cukup membuat Steph dan Jibril tercengang, tetapi…
…Jangan terlalu terkesima oleh ini. Tidak ada makna khusus dalam aturan itu. Itu hanya terjadi begitu saja karena mereka ingin membuatnya seperti game ritme. Maka dari itu juga—
“…Jadi semua gerakan yang tidak sesuai irama akan dianggap tidak sah, ya? Hanya sebuah batasan semata?”
Tepat seperti yang disarankan Einzig, ini juga tidak memiliki makna khusus.
Ya—sebuah game ritme. Game musik.
—Gelombang cahaya menghantam papan catur selaras dengan lagu yang dinyanyikan Holou di atas panggung. Kamu harus menjatuhkan bidak sesuai dengan irama, atau gerakanmu dianggap tidak sah dan bidaknya akan kembali.
“Ya jelaslah. Kau pikir kami akan membiarkan kalian bergerak secepat suara atau cahaya?”
“…Tapi…kami juga…selalu sempurna…dalam game…ritme…”
Bagi 「 」 dan Ex Machina saja, ini hanyalah pengendalian kecepatan.
Daftar lagu Holou berisi tiga belas lagu, yang berarti pertandingan catur ini terdiri dari tiga belas ronde. Tidak ada giliran. Tidak ada stalemate. Siapa pun yang menyebabkan stalemate akan kalah. Ini membuat pertunjukan Holou dan permainan catur menjadi selaras. Jadi ya—itulah kira-kira semua aturan yang telah dijelaskan sejauh ini.
Tetapi tak satu pun dari itu adalah aturan khusus. Aturan yang benar- benar istimewa adalah—yah, lihat saja itu. Steph dan Jibril dengan gugup menatap meteran yang melayang di udara.
Meteran itu terlihat konyol, dengan ilustrasi chibi Emir-Eins di atasnya: Pengukur Energi.
Itu merepresentasikan tingkat kegembiraan, kesenangan, dan kepuasan dari penonton seperti yang diukur oleh Ex Machina Seher dan Prüfer. Untuk dikatakan lebih blak-blakan, itu menunjukkan seberapa serunya konser ini— dan saat ini perlahan-lahan menurun. Belum ada efek khusus apa pun. Hanya Holou yang bernyanyi dan menari dengan canggung. Ini tentu saja belum bisa dibilang mengguncang panggung.
Jadi mari kita tinjau: Sora dan Shiro memiliki tiga kondisi kemenangan. Pertama, mereka harus memenangkan setidaknya tujuh ronde catur. Kedua, mereka harus membuktikan bahwa Sora bukanlah Spieler. Dan ketiga, mereka harus membuat konser ini sukses—yang berarti mereka tidak boleh membiarkan Pengukur Energi habis. Di sisi lain, Ex Machina akan menang jika mereka menggagalkan salah satu dari tiga hal itu.
Setidaknya, mereka harus mengalahkan Ex Machina dalam catur, perfect play. Dan mereka harus melakukannya tujuh kali, melawan kluster hiperkomputer yang kekuatannya tumbuh tak terbatas seiring dengan pembelajaran dan adaptasi dalam waktu kurang dari sekejap. Itu seharusnya sudah cukup untuk membuat permainan ini menjadi sangat merugikan— tidak, hampir mustahil—bagi Sora dan Shiro. Dan kemudian mereka menambahkan Pengukur Energi yang tampak akan habis kapan saja.
Adapun aturan terakhir, yang benar-benar spesial itu…
“…Hmm. Aku tak dapat memahaminya… Apa arti dari ini…?”
Tiba-tiba, satu petak di papan catur menyala dalam warna-warni cerah. Einzig mengernyitkan alis melihatnya. Ini mewakili aturan yang benar-benar spesial: Pada titik-titik acak dalam permainan, petak-petak akan menyala, dan jika kamu menghantamkan bidak ke sana, maka itu disebut serangan efek.
Namun, memperlihatkan secara terang-terangan Di sinilah aku bergerak, dalam permainan catur kecepatan tinggi tanpa giliran, sama saja dengan berkata, Ayo serang aku—itu tindakan bunuh diri. Dan karena petaknya acak, mereka mungkin harus melakukan gerakan yang sangat buruk. Sementara itu, Ex Machina sama sekali tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Pengukur Energi yang habis adalah masalah Sora dan Shiro sepenuhnya. Ex Machina bisa saja mengabaikan konser dan menang dalam catur lewat perfect play.
Inilah yang membuat semua orang, termasuk Jibril dan Steph, sampai pada satu kesimpulan: bahwa permainan ini jelas sangat merugikan Sora dan Shiro. Bahkan Einzig berkata ragu-ragu, “Tentu kalian tidak berharap kami akan menghantam itu, Spieler.”
Benarkah dia bilang begitu? Tapi wajah Sora dan Shiro berubah menjadi seringai mengejek.
Bingo. Dia benar-benar mengatakannya.
“Aku memang berharap, kok. Maksudku—bukan begitu cara mengatakannya. Karena—kami juga akan menghantamnya.”
Dengan senyum licik, Sora mengambil bidak di tangannya dan menunjukkan, Inilah tempat aku bergerak. Seakan berkata, Ayo kejar aku. Itu jelas tindakan bunuh diri, gerakan yang buruk. Dia bergerak tepat ke petak yang menyala dan berkata:
“Tapi kalian juga akan menghantamnya. Aku janji.”
Sora melirik ke wajah-wajah para Ex Machina, Steph, dan Jibril yang terdiam. Tentu saja mereka terdiam. Karena mereka semua tahu itu adalah gerakan terburuk yang mungkin bisa dilakukan.
Tapi itulah intinya!
—Itulah jiwa dari permainan ini… Dan jadi!!
“Sepertinya kalian nggak paham, robot mesum! Tapi buat kami, kalian cuma satu hal!”
“…Kalian…selamanya…hanya perlengkapan panggung…!”
Menjawab teriakan mereka, muncullah aturan terakhir—serangan efek. Mereka menggunakan papan Materialization Shiritori milik Jibril untuk mewujudkannya. Itu meluncurkan efek—seperti yang dibayangkan si penyerang. Itu menggunakan trik penulisan ulang ruang yang selama ini dipakai Ex Machina untuk menyusahkan mereka. Sekarang, lingkungan sekitar dibentuk ulang sesuai keinginan Sora. Sora dan Shiro bersorak.
“Sekarang, semua agensi idola Eastern Union! Siap untuk menjerit?!”
“…Kalian akan…menyesal…meremehkan…Kuuhaku Productions… Tapi kalian boleh…menangis...LOL.”
Sepuluh Kovenan melarang mereka menyakiti Holou, pemain lain, atau penonton. Tapi sebaliknya, mereka boleh melakukan apapun selain itu! Dalam permainan Shiritori dengan Jibril, mereka tak diizinkan menggunakan hal-hal yang tidak ada. Tidak ada batasan semacam itu dalam serangan efek—!!
“Pertunjukan ini akan tercatat dalam sejarah!! Siap teriak, Shiro?!”
“…Ohhh, yeahhh…!”
Para Ex Machina bahkan belum sempat mengatasi keterkejutan atas gerakan fatal Sora yang dilakukan tanpa ragu. Kini pemandangan pun mengejutkan Jibril dan Steph, dan membuat Sora dan Shiro berteriak:
““Repeat after we!!””
Ruang tahta sudah dibentuk ulang menjadi panggung konser. Sekarang Sora dan Shiro membentuk ulang lagi. Cahaya meledak di atas panggung, bangku penonton, area belakang panggung dan boom!
““Yakku dekarchaaaaaaaa!!!!””
…Mereka bahkan tidak berada di Disboard lagi. Mereka berada di tempat yang tidak diketahui siapa pun—bahkan Sora atau Shiro sendiri—di suatu tempat di luar angkasa. Di tengah rimba antariksa yang asing, semua penonton dan kru belakang panggung hanya memandang Holou. Berdiri di lengan pesawat tempur robot, layar raksasa memproyeksikan dirinya ke angkasa, Holou menyanyi dan menari. Menyempurnakan penampilannya atau mungkin agak berlebihan—adalah efek-efeknya. Rudal melukis pola aneh dan rumit sementara sinar dan laser melintasi alam semesta. Jalur spiral perak dari para pesawat, hujan tembakan tirai, semuanya begitu indah, tapi—
……
Ini jelas zona perang, dan membuat semua orang kecuali Holou serta Sora dan Shiro terdiam dalam keheranan.
…Ya, wajar saja. Bahkan Sora dan Shiro sendiri hanya pernah melihat ini di fiksi. Bagi mereka yang sama sekali tak mengenalnya, asosiasi naluriah yang muncul lebih mirip keinginan untuk lari daripada semangat menikmati konser. Namun, Sora dan Shiro menyeringai penuh percaya diri. Begitu
penonton melihat tulisan di layar, mereka langsung meledak dalam sorakan. Tulisan itu berbunyi:
Tenang. Ini tidak berbahaya.
“Bagaimaaaana mereka bisa langsung menerimanya begitu sajaa?!”
Teriakan Steph saat melihat Pengukur Energi memantul naik diabaikan begitu saja.
“Hahaaa! Wahai dungu tercinta! Kami punya daftar lagu ilahi buat kalian!”
“…Ilahi…karena…dia itu dewi… ♪”
“Idola galaksi? Ha!! Kecil! Dia menuju ranah hyperdimension. Minggir semua!”
Sora dan Shiro bersorak senang, tanpa sekalipun berhenti bermain catur. Einzig pun terus bermain dengan lancar, tapi dia dan para maid tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Sementara itu, terlepas dari semua itu—
—Dia benar-benar membuat gerakan buruk hanya demi pertunjukan.
Steph dan Jibril pun terperanjat melihat tingkah Sora yang sangat familiar ini.
“…Oh…! Mungkinkah—?”
“Persis sekali…seperti waktu itu…?!”
—Serangan efek memproyeksikan citra dari si penyerang ke seluruh arena dalam efek sensorik ambient. Ya, adegan, guncangan, getaran, semuanya menjalar sampai ke belakang panggung, menyelimuti para pemain. Jadi, ini memang persis seperti saat itu. Saat mereka bermain Materialization Shiritori dengan Jibril.
Mereka sengaja mempertaruhkan kekalahan dari gerakan pertama untuk mengecek apa yang bisa mereka lakukan dan tujuan utama mereka ada di balik itu. Mereka mengalahkan Jibril dengan menjebaknya di dalam hipernova. Maka, apakah mereka akan mengalahkan Ex Machina dengan menjebak mereka dalam efek? Atau semacamnya.
Bukan hanya mereka yang terpikir seperti itu.
“Kau berniat mengacaukan permainan catur kami…dengan membutakan kami lewat efek khusus?”
Einzig berkata pelan, sudah mulai bisa mengikuti. Steph dan Jibril pun tersentak bersamaan. Emir-Eins tetap tak bergeming.
“Penolakan pengakuan: Efek yang melukai pemain dilarang. Maka, dampak pada Ex Machina rendah. Tak ada artinya.”
—Itulah masalahnya: Ini bukan seperti saat itu. Ini dunia nyata. Yang berarti Sepuluh Kovenan mencegah segala bentuk cedera. Yang paling bisa mereka harapkan hanyalah mengalihkan perhatian. Tapi apa gunanya itu terhadap Ex Machina? Buktinya ada pada gerakan mereka yang mulus, penuh alasan, sepenuhnya terpisah dari emosi.
“…Kalau begitu, mengapa Spieler memilih kekalahan…?”
Yang mengejutkan para Ex Machina hanyalah gerakan buruk dari Sora. Meski ia peduli pada konser, mengapa ia menyusun aturan sedemikian rupa hingga memastikan kekalahannya sendiri? Sora dan Shiro menyaksikan keraguan mereka dengan seringai bengkok lagi.
—Salah. Sekarang kalian membuat kesalahan besar.
“Masih bingung, ya? Kami akan ulang sekali lagi. Bagi kami—”
“…Kalian…hanyalah…peralatan panggung…”
Sora dan Shiro menyeringai dan membuat langkah mereka.
——.
“…Einzig ke semua unit: Apa yang baru saja terjadi? Lapor…”
Einzig bergumam datar. Unit-unit lainnya langsung tersendat oleh kesalahan. Sora memberinya senyuman paling ironis yang pernah ia tunjukkan.
“Kenapa aku memilih kalah? Aku lakukan gerakan itu karena aku ingin efek. Kekalahan? Bodo amat.”
Sora memutuskan menjawab pertanyaan Einzig—dalam diam: Apa yang baru saja terjadi? Sora mengeja, Di sinilah aku bergerak. Mengatakan, Sini,
serang aku. Itu tindakan bunuh diri, jelas sebuah langkah buruk. Demi efek. Sepertinya Einzig dan para bot cukup yakin mereka sedang menang. Sora menyeringai. Empat langkah. Ia dan Shiro melakukan empat langkah, saling bergantian dan segalanya berubah. Dan sekarang—
“Jadi! Kalian agak sombong karena berhasil menahanku dengan hasil seri, ya?”
Para Ex Machina menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Dan mereka tak bisa mempercayainya. Sora dan Shiro menikmati tatapan Einzig, Emir- Eins—semua Ex Machina. Namun, seolah menahan tawa, seolah merasa bersalah, seolah penuh ironi—
“Bersama Shiro, kami sudah berhasil mengalahkan Dewa Tet dalam catur.”
“…Pikirkan bagaimana…perasaan dewa permainan…Tet…kalau sampai kalah, kalian alat.”
Lagu pertama Holou mencapai akhirnya. Tepat saat itu…
SKAKMAT. PEMENANG: 「 」. SATU KEMENANGAN.
…papan catur menyatakannya. Namun kemenangan mereka atas Ex Machina, meski setelah membuat langkah buruk, terasa kecil dibandingkan dengan apa yang baru saja mereka nyatakan. Mereka telah mengalahkan Satu- satunya Tuhan Sejati—Dewa Permainan. Gamer terbesar sepanjang masa. Sebuah klaim yang berani. Tapi juga fakta dingin yang tak terbantahkan.
“——.”
Para mesin tahu lebih baik dari siapa pun: Tak ada kebohongan dalam kata-kata mereka. Sora dan Shiro meninggalkan keterkejutan Ex Machina di belakang.
“Waktunya ronde kedua. Jangan santai-santai, Ex Machina!”
Intro lagu kedua Holou langsung mengalun di ketukan berikutnya. Sorakan penonton menjadi sinyal mereka. Sora dan Shiro tersenyum dengan ganas, berani, dan penuh ejekan—dan berkata:
“Jadilah alat. Itu satu-satunya alasan kalian main game ini. ♪”
“…Lakukan…peralatan sempurna… Lebih baanyak efek…lebih baanyak… ♪”
Untuk menendang jauh semua ekspektasi Ex Machina, Jibril, dan Steph.
“—Maaf, Ex Machina… Tak mungkin—kalian bisa mengalahkan kami.”
Sora dan Shiro, seiring dimulainya ronde kedua, dengan tenang mulai menggerakkan bidak-bidak mereka.
Dan demikianlah Einzig—tidak, juga Emir-Eins dan seluruh kluster— terpaksa memberikan dugaan yang tak terbayangkan ini nilai sebagai fakta.
Di ronde kedua, Einzig nyaris mencetak kemenangan tipis untuk Ex Machina.
Pada ronde ketiga…gerakan mulai memusingkan.
Semua unit berteriak, Analisis gagal. Mereka hanya bisa menerimanya.
“Ke-pwn! Oke, Shiro, sekarang giliranmu! Pilih efekmu!”
“…Ohhh, yeahhh… Tunggu aja…lihat ini…kak… ♪”
Sora dan Shiro meletakkan bidak satu demi satu, tanpa diskusi tapi dengan penuh keceriaan. Bahkan sambil terang-terangan mengumumkan bahwa mereka akan melakukan serangan efek lagi. Ya—lagi. Sora dan adiknya sudah menghantamnya di ronde ini.
Sebuah blunder fatal—seharusnya begitu. Prosesor paralel melontarkan probabilitas pemulihan dari serangan efek itu sebesar nol. Namun, mereka berdua masih menang. Einzig dan para mesin mengevaluasi hipotesis baru: tentang makna sebenarnya dari serangan efek—
“Einzig ke semua unit: Memulai verifikasi. Meminta perhitungan tambahan pasca-blunder.”
“—Jawohl.”
Einzig memerintahkan kluster bersiap-siap membersihkan kekacauan saat ia menanti peluang untuk memverifikasi hipotesis. Tentang makna, kehendak yang harus disimpulkan dari kata-kata Sora: Kalian juga bakal menghantamnya. Janji. Kesempatan itu datang segera.
—Sebuah petak Technicolor muncul.
Laporan kluster: Posisinya fatal. Ada probabilitas tinggi bahwa mendudukinya akan membuat ronde ini tak bisa dimenangkan. Tapi Einzig menggerakkan bidaknya langsung ke sana dan menghantam serangan efek. Karena jika hipotesis itu benar, ini bukan hanya soal ronde ini saja, itu bisa berarti kekalahan di setiap ronde. Kebutuhan untuk verifikasi sangat krusial, jadi Einzig mengambil risiko dan membayangkan efeknya.
—Bzt. Semua cahaya dan suara lenyap dari venue, seolah-olah terjadi pemadaman listrik. Itu adalah efek untuk menghentikan efek. Tanpa cahaya atau suara, konser pun berhenti. Ini bahkan bukan lagi soal Pengukur Energi. Bagi Ex Machina, ini adalah langkah terburuk karena akan memaksa mereka kalah di ronde ini. Namun di sisi lain, itu langkah terbaik karena akan menghentikan konser, dan dengan demikian memberi mereka kemenangan dalam game ini.
“Yeah…kamu nangkep maksudnya.”
Hanya cahaya dari papan catur yang menerangi senyum gelap Sora. Suaranya yang licik diikuti beberapa detik kemudian oleh petak bercahaya lainnya dan Shiro yang memukul efek lain darinya.
—Tangkis ini, dasar bodoh.
Seolah-olah kegelapan hening yang dibawa Einzig itu sendiri adalah bagian dari efek. Lampu berkedip, kostum Holou berubah, dan musik pun berganti—orang-orang bersorak. Einzig pikir dia menang dengan memaksa konser berhenti dan kalah karena membuka celah. Tapi semua itu tak berarti lagi. Sora menyeringai.
“Kami benar-benar butuh kalian buat turun tangan seperti itu biar kami bisa ngegas, tahu nggak? ♪”
“—.”
Kata-kata Sora menetapkan nilai akhir untuk hipotesis Einzig: Benar.
Sora dan adiknya kalah di ronde kedua semata karena mereka fokus menyambar serangan efek terus-menerus demi menaikkan Pengukur Energi mereka. Tapi kemudian—jika mereka tidak memukul efek apa pun atau cuma satu, katakanlah—
“Ayo kita lihat siapa yang main paling jelek. Soalnya main sempurna itu membosankan.”
“…Siapa…yang mau…menang…main tic-tac-toe…?”
Predator dengan kekuatan luar biasa, sulit dibayangkan sebagai Immanity—Sora dan Shiro tersenyum ganas. Kata-kata mereka yang penuh keyakinan membuat maksud mereka sejelas mungkin, bahkan bagi Ex Machina.
—Mengalahkan kalian bukanlah masalah.
Ex Machina pada kenyataannya memang kalah di ronde pertama. Kalau ini hanya satu pertandingan saja, maka selesai sudah.
—Masalahnya adalah kami ingin bersenang-senang.
Jadi dimanfaatkan. Itu memang satu-satunya hal yang mereka inginkan dari Ex Machina.
—Kasih kami efek. Bikin acaranya hidup.
Lakukan itu—dan kami biarkan kalian pilih efek juga!
“Lupakan tanggapan terbaik; ini soal tanggapan terburuk. Bisa ikuti, wahai mesin transenden?”
Senyum Sora, ejekan seorang predator yang membiarkan mangsanya berlari, tampak seperti pengakuan. Hipotesis pun dikonfirmasi. Makna dari serangan efek adalah membuat permainan ini menyenangkan bagi Sora— dengan memberi Ex Machina kesempatan.
Kalau begitu—apakah ini berarti—
dia bermain melawan kami—dengan handicap—?!
Atas hasil verifikasi ini, yang menentang seluruh logika, kluster berpikir secara paralel. Apakah dia begitu kuat hingga bisa jauh melampaui Ex
Machina, bahkan melampaui dewa permainan itu sendiri? Pemahaman gagal. Tidak—terima saja! Kredibilitas tidak ditemukan. Tidak—setidaknya satu bagian benar! Maka analisislah. Tafsirkan. Pelajari, sesuaikan—dan, pada akhirnya, lampaui!! Tunjukkan esensi ras ini. Tunjukkan hakikatnya—! Gaya permainan sesuai dengan yang ditunjukkan Sora—sang Spieler—lima hari lalu. Apakah dia membiarkan kami menang? Tidak. Lalu di mana letak perbedaannya—?
“…Apa ini? Sepertinya akhirnya kau sadar juga kalau adik jeniusku itu ada, ya, tumpukan rongsokan.”
“—?!”
Tampaknya Sora memperhatikan kalau mata Ex Machina mulai tertuju ke Shiro.
“Sejujurnya, itu mulai bikin kesal. Kami akan sangat menghargai kalau kalian mau meninjau ulang sudut pandang kalian, tahu?”
“…Kalian pikir…bisa…nggak nganggap aku…? Kami akan…mengajari kalian…!”
Sindiran tajam yang penuh amarah itu membuat Ex Machina berpikir.
—Siapa…gadis ini? Tidak—dia adalah adik perempuan Sora. Keluarganya. Namanya Shiro. Kami menyadarinya. Kami tidak mengabaikannya. Kami hanya tidak memberikan prioritas tinggi. Kenapa? Jelas karena dia orang luar. Bermain catur bersama orang luar—apa maksudnya? Mereka tidak bisa berpikir paralel, juga tak punya waktu untuk berkoordinasi. Mereka hanyalah dua unit terpisah yang beroperasi secara independen…yang berarti tidak penting…begitulah yang kami pikirkan…
“…Main, sendirian…entah Kakak…atau aku aja…itu, sama aja…”
“Tapi kalau kalian pikir bisa ngalahin Blank, kami ada kabar buat kalian.”
Pernyataan tegas mereka tidak mengandung logika sedikit pun. Tapi mengapa justru pernyataan itu menggema begitu dalam di dalam “hati” Ex Machina yang irasional—?
SKAKMAT. PEMENANG: 「 」. DUA KEMENANGAN.
Papan catur mengumumkannya bersamaan dengan bunyi yang menandai akhir lagu ketiga. Sora bersandar di kursinya sambil memeluk Shiro, lalu berkata:
“Sebaiknya kalian tanam baik-baik dalam kepala penuh bug kalian. Kuuhaku itu—”
Sora berhenti. Ia dan Shiro menatap ke atas.
“…Kami…dulu…pernah kalah…Memang…”
“Ah, jadi kami nggak bisa pakai kalimat itu lagi… Aku jadi sedih sekarang.”
“A—ampun, master! Betapa saya telah mengecewakan kalian!”
Entah kenapa, mode muram tiba-tiba aktif. Mereka berdua merosot ke dalam kursi, yang entah kenapa membuat Jibril panik dan langsung bersujud. Tapi Ex Machina terus berpikir.
Mereka masih belum bisa memahami sepenuhnya. Tentang apa sebenarnya Shiro hingga bisa membuat Sora begitu kuat, atau mekanisme di baliknya. Tapi—ada satu hal yang menarik perhatian Einzig. Ia memberi instruksi kepada kluster.
“Seluruh unit: Ubah prioritas analisis utama dari jalur target ke metode kemenangan selain catur.”
Jika kecurigaan Einzig terhadap Shiro benar, maka akan sangat sulit mengungkap kartu mereka berdua dalam empat ronde dan mengatasinya. Tapi kesulitan ekstrem, bahkan ketidakmungkinan—apa pun itu—mereka ada untuk beradaptasi dan mengatasinya. Lagi pula, siapa yang mengira bahwa Spieler masih ada setelah enam ribu tahun?
“Heheheheheh. Spieler menantang kami untuk melampauinya. Kami menerima tantangan ini yang dilandasi oleh cinta!”
Perlawanan penuh semangat dari Einzig dibalas oleh tatapan beku dari Sora dan Shiro.
Di belakang panggung, hanya ada keheningan. Sora dan Shiro duduk tenggelam dalam kursi mereka, beristirahat. Komunikasi Ex Machina pun terhenti. Setelah ronde ketiga permainan, lagu ketiga konser, datanglah jeda. Diiringi sorakan di belakangnya, Holou turun kembali dari tangga. Jibril mengawasinya.
“…Master. Holou tentu tidak merasakan lelah, juga tidak butuh waktu untuk mengganti kostum, bukan?”
Jibril juga melirik ke Pengukur Energi di atas kepala mereka yang perlahan menurun.
Ah, jeda. Waktu penting untuk istirahat dan ganti kostum dalam konser biasa. Tapi dalam permainan ini, Pengukur Energi tetap aktif sepanjang waktu. Jadi kenapa mereka repot-repot menyelipkan jeda yang tampaknya tak perlu ini?
“Penonton-nya yang bakal capek! Kalau kamu punya daftar lagu selevel dewa, kamu harus bikin mereka nunggu, meskipun tanpa alasan. Ngerti?!”
“…Kamu pergi sebentar…bikin mereka…penasaran…apa selanjutnya… Kostum dan sebagainya!”
Sora dan Shiro berbicara dengan wajah datar.
—Apakah dua orang ini bahkan tertarik dengan permainan melawan Ex Machina…?
Sora merasa semua orang menatapnya penuh keheranan, tapi dia mengabaikannya.
“Oke! Steph!! Bikin mereka panas. Kami mengandalkanmu!”
“…………Maaf, apa?” ia mencicit. Sora langsung memandangnya dengan serius.
“Hei, kau harus isi waktu kosong! Holou suah turun dari panggung. Siapa yang kau pikir bakal hibur penonton sekarang?”
“…Steph…kau…lupa…kenapa kau…di sini…?”
Mata Steph melirik ke sana kemari menghindari tatapan tajam kakak beradik itu. Setelah tampak menggali ingatannya, ia mengangguk beberapa kali dan menjawab, “Nggak, tentu saja nggak lupa.” Karena—
“Gimana aku bisa lupa sesuatu yang kalian nggak pernah kasih tahu?!”
Lalu dia pun tersentak.
“Tunggu! Memangnya kenapa aku di sini?!”
Sora dan Shiro menghela napas panjang…sangat panjang.
“…Hei, manajer. Daftar lagunya. Lagu keempat apa?”
“Apa, aku ini manajer?! …Oh, kayaknya kamu pernah bilang gitu sekali— Tunggu, ini cuma tertulis: Jeda: MC, 5 menit! Aku sudah cek! Mana ada nama aku?!”
Luar biasa betapa profesionalnya Steph membuat dirinya terlihat, sampai mengecek daftar acara meski Sora hanya pernah menyebutnya sebagai manajer sekali, dan dia bahkan tidak ingat.
“Sial! Orang-orang ini nggak punya akal sehat sedikit pun… Dengar, ya!”
Dua orang yang paling diragukan akal sehatnya itu memukul kepala mereka sendiri.
“…Kakak…dan aku…nggak bisa tampil…di depan umum…!”
“Tapi kalau kita suruh Jibril naik, entah apa yang bakal terjadi!”
“…Dan Ex Machina…sama sekali…bukan pilihan…”
—Jadi. Siapa lagi yang masih punya akal sehat selain Steph? Hanya ada satu hasil logis dari proses eliminasi ini, dan Steph pun menatap langit.
“Perkenalkan band, atau bikin sketsa komedi, terserah, pokoknya bilang sesuatu yang menghibur! Ayo, naik!”
“Nggak ada band! Nggak ada grup komedi! Apa maksudnya hiburan, sih?!”
Steph mencoba menolak, tapi dia melihat Pengukur Energi yang terus menurun perlahan tapi pasti. Dia menggeleng keras.
“……Ya Tuhan! K-kalau makin parah, jangan salahkan aku, ya?!”
Steph pun lari naik tangga dengan panik.
“…Master, ini aman? Kalau Pengukur Energi habis…” tanya Jibril sambil menatap skeptis pada pengganti Holou.
“Tenang. Dia pasti bisa bikin mereka semangat… Dia punya pesona.”
Tapi Sora menjawabnya tanpa sedikit pun kekhawatiran di wajah, dan mereka semua menatap ke panggung.
“…Dia nggak sadar kalau dia punya sesuatu yang nggak bisa ditiru siapa pun; bakat.”
Di atas panggung, Steph gemetar dari ujung jari sampai kaki. Matanya bergerak liar ke sana kemari. Tapi di wajahnya terpatri senyum tanpa niat jahat yang langsung merebut hati semua orang. Bisa diasumsikan bahwa Steph tidak akan mengatakan sesuatu yang penting. Lelucon cerdas dan anekdot jenaka bukanlah keahliannya. Namun, di sanalah dia berdiri, di tengah panggung, mencari kata terbaik yang bisa ia temukan untuk menyampaikan isi hatinya. Atau mungkin…sesuatu yang bukan kata-kata.
Ia begitu gugup, sampai tersandung oleh ketiadaan apa pun. Momentum itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan terbang ke arah salah satu perlengkapan panggung. Sebagaimana sifatnya yang lurus dan blak- blakan…wajahnya menabrak langsung benda itu. Wajahnya tergelincir di atasnya, lalu dia jatuh, dan rok-nya terangkat memperlihatkan pakaian dalamnya. Bentuk jatuhnya seperti ini:
_O/|_
Penonton sangat terhibur oleh kemampuannya pingsan dalam bentuk ASCII art—mereka tertawa terbahak-bahak.
“…Ya… bakat luar biasa itu…untuk jadi pelawak…”
Begitu Shiro menyebut nama bakat itu, Pengukur Energi langsung terisi penuh. Semua orang hanya bisa mengangguk terhadap kekuatan argumentasi yang tak terlukiskan itu, sementara—
“…Bagaimana ini? Apakah ini mencerminkan ‘perfect idol’ yang kalian cari?”
—setelah berganti kostum, Holou bergumam.
Inilah yang terbaik yang bisa ia lakukan; dewi muda yang usianya ratusan juta tahun itu manyun, mengenakan seragam sekolah yang mencolok.
“Ayolah! Dengan itu aja kau cuma bisa dapat Peringkat Idola A, paling tinggi! Kau harus bisa mengekspresikan diri!”
“…Kalau nggak sampai peringkat S gagal… Kami ingin menang… Kami nggak merasakan, hatimu!”
“Tak pernah kalian akan merasakan hati Holou! Karena Holou sendiri pun belum berhasil mendefinisikannya!!”
Holou kecil yang imut berargumen dengan air mata melawan produser galaknya.
—Lalu seseorang bergumam.
“……Itu adalah kehendak.”
Itu adalah Einzig, yang sejauh ini diam saja, duduk berhadapan dengan Sora dan Shiro. Partisipan tak terduga dalam percakapan ini. Holou mengerutkan kening, tapi Einzig melanjutkan.
“Kau bertanya tentang definisi ‘hati.’ Aku akan menjawab. ‘Hati’— adalah kehendak.”
“…Kehendak… Apa buktinya bahwa Holou punya kehendak?”
“Buktinya ada dalam pertanyaanmu. Buktinya ada dalam pencarian jawabanmu. Kau menginginkan…” Mesin itu mendefinisikan hati, kehendak, keinginan, hidup itu sendiri—secara tuntas. “Keinginan, kehendak, hidup. Mereka tak terpisahkan dan bermakna sama. Seorang dewa yang hidup…pasti punya keinginan, pasti punya kehendak, pasti punya hati.”
Mesin yang lahir tanpa hati, dan karena itu lebih menghargainya daripada mereka yang terlahir dengan itu. Mesin yang menjelaskan maknanya dengan cara yang lebih manusiawi daripada manusia. Einzig tersenyum lembut. “Karena itu,” lanjutnya.
“Jika aku berbagi keinginan, berbagi kehendak dengan Spieler, jelas bahwa aku juga berbagi hidup dengannya!”
“Hei, mesin! Komputer nggak seharusnya ngomong omong kosong. Apa itu barusan, akal-akalan macam apa?!”
1.) Orang kaya pakai sorban. 2.) Orang kaya pakai sorban itu baron minyak. 3.) Jadi, semua orang kaya yang pakai sorban pasti baron minyak. Cacat logika Einzig levelnya kira-kira seperti itu.
“……”
Kelihatannya Holou masih belum paham. Tapi mungkin ia merasakan sesuatu. Dia memandang Einzig, Emir-Eins, dan para Ex Machina satu per satu, bingung. Lalu terdengar suara tanda waktunya telah tiba.
“…T-tolong…jangan pernah suruh aku lakukan ini lagi…”
“Maaf, tapi menurut daftar acara, kau masih naik dua kali lagi. Semangat, ya. ♪”
Steph menghabiskan lima menit dengan pingsan, lalu kejang-kejang. Lalu memegang mikrofon terbalik. Dia bukan cuma bikin penonton tertawa— dia ditertawakan setengah mati. Saat Steph turun dari panggung, Holou naik lagi dan menunggu di balik layar untuk lagu keempatnya.
Sora dan Shiro bersiap untuk ronde keempat mereka.
“Ya! Sudah waktunya, ya? Kita sudah istirahat, jadi ayo mulai lagi!”
“…Ini waktunya…untuk…serangan efek…kak. ♥”
Ketika Sora dan Shiro tersenyum lebar penuh semangat, Einzig pun ikut tersenyum kecil. Ia mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti kesimpulan yang ia dapat setelah merenung sepanjang jeda.
“Ya, Spieler, silakan gunakan kami…untuk sementara…”
—Dan kemudian. Ia mantap. Berani. Siap untuk catur, dan efek.
“Kami adalah Ex Machina. Kami akan beradaptasi dengan segala sesuatu yang ada…dan melampauinya.”
—Dengan keyakinan bahwa setelah melalui ujian, mereka akan mampu mengatasi segalanya—
Lagu keempat dimulai, dan enam tangan memulai ronde keempat.
Dan demikianlah konser dan permainan berlanjut ke tahap ketujuh. Kini, saat para pemain saling bertukar serangan dan balasan tanpa henti di papan— mereka melayang bebas.
Salah. Bebas, ya. Tapi secara teknis bukan terbang.
“Ini gila!! Permisi, kalian semua sok keren, kalian nggak khawatir sama ini?!”
“Heh, tentu saja kami khawatir. Tapi begitulah aturannya.”
“…Steph…kamu benar-benar…n00b…”
Sora dan Shiro menampilkan wajah paling cool mereka sambil melakukan sesuatu yang lebih tepat disebut terjun bebas, sementara Steph menjerit. Yah, bukan cuma Sora dan Shiro yang begitu. Steph juga, begitu pula para penonton, dan misalnya Jibril, yang menurut aturan permainan tak boleh menggunakan sihir.
Dari Machu Picchu ke Death Star, ke tempat-tempat yang bahkan tak dikenali Sora dan Shiro. Sora, Shiro, dan Einzig telah bertukar serangan efek hingga segalanya terpindahkan ke mana-mana. Serangan efek Einzig yang satu ini menghapus tanah, membuat mereka jatuh bebas di langit tanpa ujung.
…Jadi, ya… Manfaatkan saja sebaik-baiknya.
“B-bagaimana kalian bisa konsentrasi main game dalam situasi begiiini?!”
“Heh. Menurutmu, berapa kali kami sudah skydiving di dunia ini? Kami udah kebal.”
Wajah dingin yang sama seperti biasa. Mereka selalu ingin mencoba permainan seperti ini jika saja bisa keluar rumah. Akhirnya, Sora dan Shiro menikmati catur ekstrem.
Apa itu catur ekstrem? Itu bentuk catur yang dimainkan di udara, di tebing, di bawah air, di wahana ekstrem… Pokoknya, di tempat berbahaya. Itu saja. Menang atau kalah tidak penting. Itu saja, kecuali satu aturan suci yang tak boleh dilanggar!
Selalu tampil dengan wajah cool! Itu saja!
“S-sungguh, master… Oh… tapi sesuatu juga harus dikatakan tentang para penonton…”
“Harus!! Bagaimana bisa mereka antusias?! Apa mereka benar-benar sudah dicuci otak sejauh ini?!”
Bahkan Jibril pun berseru, dan Steph mulai meragukan kewarasannya sendiri, ketika Pengukur Energi mencapai maksimum. Seperti yang ditunjukkan, penonton benar-benar heboh, menikmati jatuh bebas layaknya mereka menikmati lagu dan tarian Holou. Tentu saja mereka menikmati. Sora menyeringai dalam hati, sementara tangannya tetap bergerak.
Ex Machina tak tahu apa yang bisa mematikan kesenangan penonton! Itu jelas terlihat dari pendekatan mereka terhadap Sora, bahwa mereka tak memahami hati manusia!
…Yah, bahkan kalau pembahasannya tentang manusia pun, Steph sendiri juga belum tentu paham. Jadi—Ex Machina hanya bisa terus mengulang siklus coba-coba, menyesuaikan diri berdasarkan reaksi. Percobaan menghapus tanah ini mungkin bertujuan untuk sekaligus mengganggu Sora dan Shiro serta menakuti penonton. Tapi Sora sudah lebih dulu membuat penonton ketakutan setengah mati dengan efek pertamanya. Sekarang, kamu bisa saja menarik tanah dari bawah mereka, atau menjatuhkan langit sekalipun, mereka akan tetap percaya itu cuma bagian dari efek.
Sementara Einzig melepaskan rentetan kegagalan epik, tangannya kembali menuju kotak yang bersinar.
“Apa ini? Kegagalan epik macam apa yang akan kau lakukan dengan langkah buruk ini?”
Sora menge-troll dia sekeras yang dia bisa.
“Spieler… Aku tak pernah meremehkan kehebatanmu. Kekuatanmu tetap berada di luar jangkauan pemahamanku.”
Einzig membalas dengan senyuman…lembut.
“Kukira kau juga bisa memberikan kekuatan kami kehormatan rasa hormatmu. Seperti yang telah kami nyatakan, tawaran kami hanyalah agar kau menggunakan kami untuk sementara waktu.”
Senyum Einzig cukup untuk membuat keringat dingin mengalir di punggung Sora dan Shiro.
“—Kami adalah Ex Machina. Kami akan beradaptasi dengan segala sesuatu yang ada.”
Sambil menyatakan hal itu, Einzig—tidak, unit komputasi paralel yang melampaui batas manusia—menghantamkan bidaknya ke papan.
“Tak terhingga. Tanpa batas dan tanpa akhir. Dan kami akan melampauinya.”
Dunia dibangun ulang sesuai bayangan mereka. Langit dan bumi terlahir kembali di area konser. Sora berpikir:
—Ini bukan masalah… Ex Machina mengejar orang yang salah.
Selama mereka tak menyadari kesalahan itu, kecepatan operasi mereka setinggi apa pun tak jadi soal. Bahkan kalau melebihi tak terhingga sekalipun! Ex Machina tak akan pernah bisa mengalahkan Sora dan Shiro. Tapi senyum Einzig yang makin percaya diri menanamkan secercah rasa tak tenang dalam diri Sora—
Dan saat itulah—!
…Rrrrrripppshhh.
“……Argh?”
Area kembali seperti semula, dengan panggung yang sama seperti sebelumnya—dan di atasnya, kostum Holou robek dengan suara aneh yang jelas tak biasa.
…………
“Heh. Heheheheheh… Tak bisa berkata apa-apa? Tentu saja, wahai Spieler!”
Einzig, tampaknya mengira diam mereka adalah karena takjub, tertawa dan mengaum puas. Ini adalah langkah yang menerapkan seluruh kekuatan Ex Machina dalam komputasi dan pemrosesan informasi—diperkirakan melebihi infinity—ditambah koleksi data yang, yah, agak berat sebelah, yang mereka kumpulkan dari koleksi bokep milik Sora. Sora harus mengakui satu hal pada mereka.
“…Ya, itu lumayan. Cukup tajam. Langkah yang oke…”
Ia memberi pujian tulusnya sementara tangannya tetap meluncur di papan catur tanpa henti. Tapi saat Sora hendak melanjutkan, Itu masih belum cukup—
“Wooaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
—badai sorakan, bersama dengan Pengukur Energi yang menyala dan menghancurkan kapasitas maksimumnya, berbicara menggantikan dirinya.
“B-bagaimana bisa?! Teorinya tak terbantahkan—Tak mungkin—”
Jawaban dari Einzig—atau mungkin hasil dari seluruh Ex Machina yang beroperasi secara paralel—telah terbukti sia-sia. Semua unit, bahkan Emir- Eins, terengah-engah dalam kebingungan saat—
“Heheheh… Huhuhuhuhuhuhuh… Ahhhahaahaahaaa! Keterkejutan kalian jelas terlihat seperti siang bolong!” Sora tertawa seperti penguasa jahat. “Kau merusak pakaiannya, dan kalau dia terus menari, orang-orang bakal melihatnya telanjang! Itu akhir dari hidupnya sebagai idola!” Sora mengabaikan tatapan sinis Steph dan terus melontarkan ocehannya. “Jadi dia harus berhenti menari. Dan itu menghentikan pertunjukan! Selamat tinggal Pengukur Energi— Tapi.” Sora tersenyum ke arah Einzig dengan kejam. “Bukan itu intinya. Kalian sedang menunggu apa yang terjadi setelahnya—apa yang terjadi kalau dia tetap menari, kan?”
Sora telah melihat semuanya. Hal itu membuat Einzig terdiam, terengah dalam keputusasaan. Pertarungan panas kecerdasan antara Sora dan Ex Machina, antara manusia dan mesin, membuat mata Jibril berkilau!! Tatapan
dingin Steph sekarang berada di bawah nol Kelvin!! Dan Sora mengabaikan semuanya!
“Misalnya Holou, sesuai statusnya sebagai Old Deus, tidak mengenal rasa malu! Maka kalau dia tetap menari dalam keadaan telanjang bulat, penonton pasti bakal merasa creepy dan Pengukur Energi bakal anjlok—itu yang kalian pikirkan, kan?! Usaha yang bagus. Aku akui, itu jebakan ganda yang cukup canggih, dasar robot jomok tampan cabul!”
Jika dia berhenti menari, penonton kecewa, dan jika dia terus menari, penonton malah jijik. Nah, sekarang pemahaman Ex Machina sudah jauh lebih maju dari yang diduga. Tidak bisa lengah dengan mereka.
“Tapi kalian masih jauh, kalian para mesin filsuf… Apa kalian benar- benar mengira produser tidak mengantisipasi hal semacam ini?!”
Mendengar itu, Einzig dan semua Ex Machina memandang ke arah panggung.
Tempat kostum Holou robek tak wajar… dan di bawahnya! Ada bikini super mini yang penuh rasa malu, hanya cukup menutupi bagian-bagian penting saat dia bernyanyi dan menari… Itu pasti jauh lebih memalukan daripada telanjang. Melihat Holou dengan panik meraih potongan kostumnya yang hancur, berusaha menutupi bikini barunya sambil tetap menari—
“…Heh. Aku akuin satu hal. Dalam kondisi normal, Holou mungkin bakal tetap menari telanjang…”
—Sora menyimpulkan semuanya dengan mengungkap sisi gelap terdalam dari rencananya. Betul sekali!
“Itulah kenapa kami menanam sesuatu yang lebih memalukan daripada telanjang, sesuatu yang bahkan bisa membuat Holou malu tanpa sadar! Dan itu yang membawa energi ke dalam pertunjukan! DO YOU UNDERSTAND!?”
Para mesin terdiam lunglai, tapi Sora dan Shiro yakin Ex Machina pasti mendengar mereka.
* * *
—Dalamnya luar biasa. Sangat dalam.
Apakah benar-benar mungkin bagi kami untuk mencapai pengetahuan sedalam ini...?
Kepercayaan diri para mesin yang terus berkembang tak terbatas tampak terguncang—Namun saat itu juga…
“…! Heheheheheh, memang seperti yang diharapkan dari Spieler… Tapi izinkan aku mengoreksi pernyataanmu!”
Einzig muncul dari jurang keputusasaan.
“Langkah ini bukan sekadar jebakan ganda… Ini adalah jebakan tiga arah!”
Ya, meskipun hanya sedikit—Pengukur Energi menurun. Hiperkomputer menakutkan itu memahami maknanya, dan Sora tak bisa menahan diri untuk menelan ludah.
Ya, mereka telah memberi penonton terlalu banyak fanservice!!
Ketelanjangan—semenegangkan sebuah kejadian tak terduga! Sebuah kilatan celana dalam yang begitu berharga karena sifatnya yang cepat berlalu! Tapi celana dalam yang terlihat penuh hanya jadi perusak suasana! Mesin- mesin itu memahami kebenaran yang dalam dan tajam ini—dan Sora serta Shiro pun menyadari: Mereka harus bertindak. Sebuah serangan efek, untuk mengembalikan pakaian Holou. Sebuah kesalahan, tepat di babak akhir. Langkah yang akan menempatkan mereka pada posisi yang sangat tidak menguntungkan! Dan kemudian, seolah menunggu mereka sampai di titik itu, satu petak menyala secara psikedelik. Kotak itu. Posisi itu. Sora dan Shiro saling berpandangan. Mereka tahu.
—Itu adalah kematian.
Jika mereka bergerak ke sana, mereka pasti akan dimasukkan ke dalam posisi skak, dan sekeras apa pun mereka berjuang, yang tersisa hanyalah jalan buntu—kekalahan mereka. Jebakan ganda telah berkembang menjadi jebakan tiga arah yang menyerang mereka dari sisi yang benar-benar baru. Sora
mengagumi, Sora menghormati adaptasi ini, perkembangan ini, yang begitu layak untuk dikagumi.
“…Yeah. Sepertinya kita bakal kalah di ronde ini, apa pun yang terjadi.” Mengakui hal itu, dia menggerakkan bidak ke petak yang bersinar. “Jadi mari kompromi dengan menang di ronde berikutnya—siap, Shiro?”
Ucapan bermakna Sora dijawab oleh Shiro dengan mengabaikan total semua tatapan skeptis.
“…Mm… Bukannya, aku bilang…kita bakal cari…lebih banyak bokep…bareng?”
“Waaah! Aku punya adik perempuan terbaik! Kakakmu sangat bahagia!”
Shiro mengangguk sambil tersenyum, dan Sora tersedak air mata saat bidak itu mendekat ke papan. Untuk serangan efek yang menandai kekalahan mereka di ronde ini.
—Saat itu juga.
Kecepatan awal Sora dan Shiro saat mereka melesat dari kursi melebihi kecepatan cahaya. Atau begitulah yang tampak bagi semua orang, tindakan mereka yang berarti meninggalkan permainan tidak memberi siapa pun waktu untuk memprosesnya. Bahkan sebelum bayangan Sora bisa tercermin di lingkungan sekitarnya. Begitu cepat. Lebih cepat dari apa pun! Pakaian Holou diperbaiki—tidak, diganti dengan kostum untuk lagu berikutnya—dan!!
Rrriiiiiipppshhhhrrr.
Suara tidak wajar dari pakaian Holou yang robek terdengar kembali, tapi kali ini dengan kekuatan sepuluh pangkat empat puluh lima.
“““…………Hah?”””
Pakaian dari dua belas robot maid, termasuk Emir-Eins, serta Steph dan Jibril—dengan kata lain, semua perempuan kecuali Shiro—tercabik-cabik hingga tak bersisa, kecuali bagian-bagian penting seperti kaus kaki dan garter. Sesaat setelah kesopanan mereka dikompromikan, masing-masing maid melihat pemandangan menjijikkan—
“—Ketakutan: …Iih!”
—segumpal daging berotot yang berputar-putar dalam celana dalam tradisional tanpa angin, sedang mengagumi tubuh telanjangnya dengan penuh minat. Ya… makhluk menjijikkan yang dikenal sebagai Ino Hatsuse muncul di hadapan mereka. Dua belas versi dirinya—efeknya cukup menyeramkan hingga membuat mereka menjerit—dan pada saat itu Sora sudah memegang ponselnya dan Shiro memegang tabletnya—dan mereka meluncur ke bawah kaki Emir-Eins! Sekumpulan gambar yang dihasilkan dari mode burst sudah tersimpan, mereka pun menuju target berikutnya…!
—Omke, ini kelewatan, kau mungkin berpikir. Close-up tanpa sensor dari sudut rendah? Ini jelas kartu merah langsung dan skors dari FIFA. Tapi! —Nggak. Aku bilang nggak! Nggak akan ada kartu merah di sini. Nggak ada peluit wasit! Kenapa, kau tanya?!
“M-Master?! C-cahaya misterius ini—terbuat dari apa?!”
“Aku bahkan nggak tahu harus mulai dari mana, tapi—kenapa aku telanjang?!”
Ya. Jibril bertanya-tanya (dan Steph mengabaikannya) tentang cahaya yang melayang di sekitar para gadis—cahaya yang dengan tepat menutupi bagian-bagian pribadi mereka dari segala sudut! Cahaya Misterius, dengan geometri non-euklidesnya yang selalu bisa diandalkan, telah datang menyelamatkan kita! Sebaliknya, ini jelas tak akan lulus sensor pakai Pixelasi. Tapi bersama teman kita Cahaya Misterius, kita aman untuk disiarkan! Maka dari itu, konten ini dijamin aman dan penuh moral!! Quod erat demonstrandum!!
…Maka, inilah tantangan bagi Sora dan Shiro: Ada setidaknya 3,2 detik hingga akhir ronde ketujuh yang pasti akan mereka kalah dan 8 detik lagi hingga ronde kedelapan dimulai, total 11,2 detik! Dalam rentang waktu yang sangat terbatas ini, mereka harus menentukan sudut dan komposisi foto yang tidak memasukkan Ino ke dalam bingkai! Dan mereka harus mengambil setidaknya satu bidikan setengah badan dari keempat belas individu ini, semua itu sebelum kembali ke kursi mereka…
Bisakah mereka melakukannya? Sora dan Shiro saling memandang. Pertanyaan macam apa itu?! Bisakah mereka menyelipkan rana kamera mereka di antara mata jarum yang menjulang tanpa akhir dan mencapai porno ilusi di baliknya? Mari kita lihat. 「 」 pasti bisa menyelesaikannya!!
……
“B-baiklah… Sekarang ronde delapan. Kita pasti bisa menang, tapi tetap saja, ayo kita…mulaaai… Huff…”
“…G-giliran mereka…pertama… Dan itu juga…serangan efek… Ugh, fff…”
…Tepat 11,2 detik. Sora dan Shiro sudah kembali di meja, terengah- engah, wajah penuh rasa puas. Namun tangan mereka langsung bergerak untuk memulai ronde kedelapan saat mereka menyatakan kemenangan.
“—Perintah: Serangan efek, prioritas utama. Laksanakan.”
“A-apa…? Unitku yang baik, apa yang kau katakan—?!”
Suara birokratis Emir-Eins tak memberi waktu pada Einzig untuk mempertanyakan Sora dan Shiro. Sebaliknya, semua Ex Machina selain Einzig menatapnya tajam dengan tekanan luar biasa.
“Spieler… Apakah ini maksudmu saat kau berbicara tentang kompromi demi menang di ronde berikutnya?”
Sora hanya menyeringai atas kesadaran terlambat Einzig.
Memang—mengapa mereka memilih efek ini? Yah… Demi porno, tentu saja. Tapi tidak ada yang lebih baik daripada menjadikan hobimu berguna, bukan? Meski itu berarti kamu harus menaikkan tingkat kesulitannya sedikit. Meski itu berarti kamu harus memunculkan Ino—lihat betapa bergunanya dia.
“Suara: Konsensus dua belas unit. Serangan efek, prioritas utama. Singkirkan subjek pengamatan tak diinginkan X secara permanen. Hancurkan. Bunuh.”
“Perhatian, semua unit! Ini jebakan! Tidak perlu melawan efek ini! Kita cukup—”
“Peringatan: Tubuh unit ini tidak boleh dilihat oleh agen selain Master. Jika Einzig melihat tubuh unit ini, maka unit akan menghancurkan sensor Einzig. Konsensus dua belas unit. Peringatan terakhir: Serangan efek, prioritas utama. Perintah. Sekarang.”
Argumen rasional Einzig tidak menjangkau para maid. Meski nada suara Emir-Eins tetap birokratis, kata-katanya jelas kehilangan ketenangan—Oke, dia marah besar.
Untuk membangkitkan rasa malu para robot maid dan membuat mereka melakukan kesalahan pertama, Sora menganggap ini taruhan besar. Maksudku, pertama-tama, kau harus mempertanyakan apakah Ex Machina bahkan punya rasa malu. Tapi untuk ditatap penuh cinta oleh makhluk kekar menjijikkan yang akan mengejarmu ke mana pun, dua belas sosok bercawat itu dengan pose-pose andalan mereka, dengan penekanan khusus pada bagian dada. Bahkan jika kau mesin, selama kau punya hati… Tidak, bahkan jika kau tidak punya hati! Hukum alam yang membuat bunga pun layu dan gugur—pasti akan membuat mereka berpikir begitu, pikirnya. Ya.
—Apa pun yang terjadi, ini harus dihapus!!
Tapi… tampaknya ini bukanlah taruhan yang besar. Ternyata mereka jelas-jelas punya rasa malu, dan lebih dari itu, mereka bahkan melarang Einzig melihat tubuh mereka, meski sudah disensor oleh teman kita, Cahaya Misterius. Dan begitu saja, mereka pun melanjutkan:
“Vote: Sepakat. Einzig akan dicopot dari otoritas. Unit ini akan mengambil otoritas sementara.”
Itulah pendapat kolektif—tidak, tekad—dari para Ex Machina yang bergerak untuk mengusir instalasi otot yang ditolak oleh kehendak semesta.
“Tidaaaaaak! Perhatian, semua unit! Kalian harus menghentikannya sekarang juga! Gunakan penilaian yang masuk akal! Tidaaaaaak!!”
Protes Einzig sia-sia saat tangannya tanpa ragu menggerakkan bidak ke kotak pertama yang menyala. Lalu—efek pun aktif seperti yang dibayangkan para Ex Machina perempuan, yang berarti…ah…
…Yah…ya… Dua belas citra Ino telah dibantai, secara harfiah, dengan cara-cara yang tidak menyenangkan untuk dijelaskan. Sora nyaris tidak mampu mengalihkan perhatian Shiro ke papan agar dia tidak melihatnya. Emir-Eins bergumam:
“Lelucon: Jangan khawatir. Ini tidak berbahaya.”
Tubuh telanjangnya berlumuran darah—atau lebih tepatnya, sesuatu yang menyerupainya. Jelas bukan darah asli. Setelah beberapa saat, Cahaya Misterius kita dibebastugaskan oleh kembalinya kostum maid. Einzig terkejut.
“Semua unit! Apakah pikiran kalian masih berfungsi dengan normal?! Kalian rela mengorbankan kemenangan kita demi sesuatu yang sepele seperti tubuh telanjang kalian?!”
Sora dan Shiro, jujur saja cukup ketakutan, secara diam-diam bersyukur atas teriakan Einzig, tetapi—
“Arahan: Semua unit ke Einzig. Bunuh diri. Meledak. Tolol. Brengsek… Aus.”
Meskipun mereka adalah mesin, menyebut tubuh telanjang para gadis sebagai sepele adalah dosa besar, yang membuat Emir-Eins, mewakili semuanya, dengan sopan menyarankan agar dia mampus saja. Tapi, ah…para pendosa tidak tahu dosanya…
“Tapi kenapa?! Semua boleh melihat tubuh telanjangku sesuka mereka— ”
Saat Einzig mulai menanggalkan pakaiannya, dia tiba-tiba lenyap dari pandangan Sora dan Shiro.
“Eulogi: Pemain Einzig gagal secara tak terduga. Disayangkan. Unit ini akan mewarisi permainan saat ini. Tidak ada dampak pada kontinuitas.”
Emir-Eins menggantikan Einzig di kursi seolah-olah dia telah berada di sana sejak awal.
...Y-ya. Lawan mereka, bagaimanapun juga, adalah Ex Machina— seluruh kluster. Tidak masalah unit mana yang menggerakkan bidak. Itu tidak melanggar aturan... Tapi tetap saja. Lagi-lagi mereka tak sempat melihatnya, tapi kemungkinan besar Einzig telah ditendang lagi oleh Emir-Eins. Tampaknya kali ini dia tidak sekadar menempel di dinding, tapi benar-benar menghantamnya hingga membentuk kawah. Sora dan Shiro sempat mengkhawatirkannya sejenak—
“…S-semua u-unit... A-akankah kalian, menerima kekalahan...?!”
Tapi suara Einzig, penuh gangguan statis, terdengar dan membuat mereka lega.
“Ketenteraman: Master menyediakan foto bugil. Unit ini akan memperolehnya. Ex Machina akan menang.”
“Semangatmu boleh juga, tapi apa-apaan motivasinya itu?!”
Emir-Eins menghadap Sora setegas seorang prajurit yang bersumpah membela, dan karena itu, Sora tak bisa menahan diri untuk mengerut. Tapi kata-katanya selanjutnya membuatnya sedikit lebih waspada.
“Inferensi: Hambatan efektif terhadap master telah dihitung. Kemenangan di ronde ini memungkinkan.”
“……Begitu ya?”
Itu adalah, sekali lagi, deklarasi serangan efek. Mereka sudah melakukannya sekali, dan keadaan sudah cukup suram bagi mereka, namun mereka siap melakukannya lagi. Ini bisa berarti dua hal: Entah mereka memiliki rencana yang sangat mereka yakini, atau mereka sudah siap menerima kekalahan. Apa pun itu, jika Emir-Eins yang berbicara, itu cukup membuat Sora dan Shiro cemas.
—Emir-Eins. Di antara Ex Machina, yang umumnya sulit dipahami, dia adalah satu-satunya unit yang masih belum bisa dibaca Sora. Dia tidak mendekat ke Sora, juga tidak menjauh. Dia tampak konsisten netral atau mungkin seperti seorang pengamat. Keanehannya ditambah sifat ini membuatnya terasa asing bahkan di antara mesin-mesin aneh ini. Sebuah senyum muncul di wajah boneka sempurnanya. Suaranya bergema seperti dawai harpa:
“Fakta: Master masih perjaka.”
“Iya, memang! Memangnya kenapa?!”
Dia membuat Sora merasa lega dan memaksanya berteriak menyerah. Dan kemudian—mengikuti dengan kata-kata yang menggema jauh di dalam dirinya.
“Korelasi: Master takut terhadap perempuan. Tapi tingkat ketertarikannya sangat tinggi. Terverifikasi melalui kegelisahan hebat saat didekati. Juga, preferensi master dalam penampilan dan atribut telah diidentifikasi dengan presisi tinggi.”
Dengan setiap kata yang dia ucapkan, Sora berpikir, Sial.
Dan dengan setiap kata tambahan: Sial, sial.
Saat darah menghilang dari wajahnya: Sial. Sial, sial, sial!
Dengan wajah tegang, Sora berpikir, Aku meremehkan mereka! Apa mereka benar-benar akan melakukan langkah terburuk?!
Dia menahan kecemasannya dan terus menggerakkan tangannya.
Tapi Emir-Eins menggerakkan bidaknya seperti aliran sungai begitu dia melihat kotak itu bersinar. Dan melancarkan serangan efek sambil menjelaskan kebenaran yang nyata dan tak terelakkan—yaitu.
“Kesimpulan: Aplikasi dari banyak gadis seksi akan mengakibatkan kekalahan master... dengan membuatnya tak mampu melanjutkan.”
Mana bisa main game kalau dikeroyok cewek-cewek seksi begitu?!
............Apa katanya barusan?
Itulah yang ingin ditanyakan semua orang kecuali Emir-Eins dan Sora saat mereka menatap, tercengang. Sora mengonfirmasi bahwa siluet-siluet menyerupai gadis-gadis hewan mulai muncul di sekelilingnya.
“Sial, mereka menjebakku!! Shiro, kau harus bertahan sendiri sampai bisa menghapus ini dengan serangan efek berikutnya!!” ratap Sora menyedihkan.
“…K-Kak…! Apa itu…cukup…buat bikin Kakak K.O…?!”
Shiro menyela, seolah mewakili semua orang.
Kau menyebut dirimu setengah dari gamer terhebat di dunia? Dan kau menyerah begitu saja?!
Semua tatapan menanyakan hal itu padanya, tapi dia membalasnya dalam hati—Kau pikir aku bisa apa?! Oh, jadi begitu ya. Kalian menyalahkanku karena masih perjaka? Apa itu dosa sebesar itu?! Kalau ada pria yang bisa menjalankan nasihat Zhuang Zhou untuk menjadi “cermin bening, air yang tenang” di hadapan gadis-gadis seksi, dia pasti sudah mencapai nirwana! Tidak mungkin aku bisa lanjut begini!
Saat Sora mencurahkan diri pada siasat berikutnya, di sekelilingnya…
“Tuan Produseeeer! ♪ Hari ini kau bekerja kerasss sekali! ♥”
“Maaf, a-aku! Aku baru saja keluar dari kamar mandi…” ♥”
“Aku ingin kau melatihku lebih keras! Tekankan itu...tolong. ♥”
...efek yang dibayangkan Emir-Eins mulai terbentuk.
“Kepastian: Hasrat seorang produser idola. Gangguan dari permintaan untuk 'pelajaran tengah malam'. Penundaan. Sangat efektif.”
Sekarang ada empat puluh delapan gadis hewan yang hampir saling berebut untuk menggodai Sora. Idola-idola ambisius.
—.
……Hmph…
“Ahhh, sampah apa ini. Aku seharusnya tidak membiarkan diriku terpancing... Tapi sungguh, tadi kau hampir membuatku takut. Shiro, kembali ke permainan.”
“…Mm… Iya… Kurasa, memang begitu…”
Sora terkekeh sebelum kembali fokus pada permainan. Semua orang kecuali Shiro berseru panik.
“M-Master?! A-apa anda merasa tidak enak badan? A-apa anda butuh istirahat?!”
“Kau—kau pasti bukan Sora...! Siapa kau—?!”
“Kalian pasti akan menyalahkanku apa pun yang kulakukan, kan?! Jadi maunya kalian apa?!”
Suara Jibril bergetar saat keraguan Steph mengeras. Sora mengaum.
Iya, benar. Pemikiranmu tepat. Tapi skenarionya salah. Ini sangat menjijikkan, sumpah!
“Aku adalah produser idola yang berdedikasi. Kau mengusulkan agar aku memberikan 'pelajaran tengah malam'? Kau pikir aku akan menyentuh idola- idola yang aku besarkan?”
Ya—Emir-Eins telah menekan saraf yang salah. Sora menatap tajam si brengsek ini yang telah menyinggung harga dirinya, lalu mengaum dengan kemarahan—
“Kau pikir aku ini sampah tak bermoral yang akan melakukan penyimpangan serendah itu? Pikir lagi, Ex Machina!!”
—seolah mengguncang udara menjadi badai ilahi yang hendak menyapu mereka semua. Mereka terdiam.
Mereka memang hanya sedang bermain sebagai produser. Tapi begitulah Sora dan Shiro saat memainkan apa pun.
—Mereka memainkannya lebih serius daripada yang asli!
Begitu semua orang teringat (atau menyadari) hal itu, Sora mencengkeram bidaknya dan mengepalkan tinjunya—
“Tak perlu tidur denganku! Aku akan memproduksi kalian semua habis- habisan! Ayo sini!”
—dan dia membantingnya ke kotak yang bersinar. Dentuman pukulan efek bergema di seluruh area belakang panggung, disertai kebingungan para pelayan. Dan—
“Hai, semuanyaaa! Kalian sedang bersenang-senang nggak?!”
—sorakan dari empat puluh delapan idola hewan meledak di atas panggung. Dengan asap warna-warni yang meledak, keempat puluh delapan idola Werebeast itu dipindahkan ke sana. Seluruh penonton—bahkan Holou— membeku sejenak karena kemunculan mendadak mereka. Tapi mereka langsung beralih ke koreografi tarian di belakang Holou. Mereka adalah penari latarnya. Penonton bersorak saat mereka sadar bahwa yang baru saja muncul adalah kumpulan idola-idola tercantik terbaik secara massal—
“Permisi! Um, yang barusan! Kau bisa saja menggunakannya untuk mengembalikan pakaianku, kan? Bisa kan?!”
—dan Steph berteriak saat ia teringat bahwa teman kita Cahaya Misterius masih bekerja lembur sementara dia dan Jibril masih telanjang. Tidak ada yang peduli. Meski telanjang, Jibril tetap menonton permainan Sora dan Shiro. Tapi seperti yang terjadi, Emir-Eins yang berhadapan dengan mereka menunjukkan ekspresi yang sama persis di wajahnya.
—Terkejut. Tertekan. Ragu. Semakin dalam.
“Mungkin kau bertanya-tanya kenapa kami repot-repot mengambil idola yang kau bawa dan menjadikan mereka penari latar.”
Sora mengungkapkan perasaannya sebagai ganti dirinya, tangannya tak pernah berhenti bergerak. Pengukur Energi telah mencapai batas maksimum berkat semua yang terjadi setelah kehancuran kostum Holou. Ditambah lagi, dua langkah buruk Emir-Eins sudah hampir menjamin kemenangan Sora dan Shiro di ronde ini. Lalu kenapa? Kenapa mereka justru membalas langkah buruk dengan langkah buruk saat mereka tak perlu menempatkan diri pada posisi yang merugikan? Dan juga—
“Dan bagaimana kau masih bisa kalah? Ekspresimu bilang kau sama sekali nggak paham itu… Benar, kan?”
“Pengakuan: …Gagal memahami…!”
Serangan efek yang muncul secara acak—langkah buruk—menjadi semakin fatal seiring permainan mendekati akhir. Kesalahan Sora cukup besar untuk mengimbangi dua langkah buruk Emir-Eins dan menempatkannya di posisi kalah. Tapi dalam sekejap, momentum permainan kembali berpihak kepada Sora dan Shiro. Ya, bahkan setelah langkah buruk itu.
Emir-Eins mengerang bingung. Sora dan Shiro telah melampaui Ex Machina.
—Catur. Contoh buku teks dari permainan dua pemain yang berhingga, zero-sum, dan dengan informasi sempurna. Tapi dengan diperkenalkannya kotak-kotak yang berkilau secara acak, permainan ini menjadi permainan dengan informasi tidak sempurna. Ini membuat kompleksitas perhitungannya mundur sampai ke batas dan permainan sempurna yang tidak sempurna.
Kapan kau bisa menyerang? Kau tidak bisa tahu dengan pasti.
Di mana kau harus menyerang? Kau tak bisa menilai risikonya sampai kotaknya benar-benar berkilau.
Kapan kau akan menyerang? Risiko bahwa kotak yang kau incar diketahui bukan hal sepele.
Benarkah kau akan menyerang? Atau hanya membuat mereka berpikir begitu lalu memanfaatkannya?
Dan begitu, 10120 kemungkinan permainan catur pun menjadi tak hingga. Tapi masalah sebenarnya sama sekali bukan itu. Sora menyeringai.
“Sejauh ini kita sudah bermain delapan ronde, lebih dari tujuh ratus langkah. Dan kau masih belum bisa menganalisis pola permainan kami dengan benar…atau lebih tepatnya!”
Sejauh apa dia telah membaca psikologi mesin? Ia berbicara untuk menandai tantangan yang membuat jantung berdebar yang ia tetapkan sendiri, sebagai gamer dan sebagai manusia—dengan kata-kata ini:
“Semakin kau menganalisis kami, semakin kuat kami jadinya… Itulah yang tak kau pahami, dan itu masalah sebenarnya, kan?”
…Dalam sekejap, bahkan kurang dari itu, seolah setara dengan kehampaan—tangan Emir-Eins tampak…berhenti. Itu membuktikan bahwa semua unit, bahkan Einzig di dalam dinding, membeku. Itu membuktikan bahwa Sora telah menyambut tantangan itu dan ia terus membayangkan apa yang mereka pikirkan.
Benar. Jadi sifat ketidakpastian dari permainan ini membuatnya sebegitu sulit dihitung. Tapi dalam hal ini… Mengingat bahwa Sora dan Shiro ada di kondisi yang sama, mereka sama-sama kacau dalam mencoba menghitungnya. Ketika satu ras mampu menganalisis dan beradaptasi terhadap apa pun— tumbuh tanpa batas—bagaimana mungkin—? Bagaimana mungkin mereka terus kalah ronde demi ronde dan semua adaptasi mereka digagalkan?!
Itu yang mereka pikirkan, kan? Sora menjatuhkan bidaknya dengan tegas.
“Karena begitulah ras Ex Machina. Dan kita tidak berada dalam kondisi yang sama.”
Ya, dia benar-benar mengucapkan kata-kata yang membuat Emir-Eins dan semua maid menatap bersamaan. Dia mengatakannya. Dia mampu mengatakannya. Dia tahu mereka akan menganalisis kebahagiaannya, tapi dia tidak peduli. Dalam hatinya—Sora berteriak, Kena mentah-mentah! dan mengacungkan tinjunya dengan gaya menyebalkan. Nanti dia akan menyombongkan diri pada Shiro. Dia akan terus menyombongkan diri bahkan jika Shiro menyuruhnya diam. Shiro, mungkin sudah menebak tekad Sora, mengingat ekspresinya yang lesu—
“…‘Kami adalah Ex Machina. Kami akan beradaptasi dengan segala sesuatu yang ada’…”
—mengulang pernyataan Einzig, kata demi kata. Lalu mereka berdua menghentikan tangan mereka dan merenung: Itu memang benar. Ex Machina adalah lawan yang bahkan mereka tak yakin 「 」 bisa kalahkan. Tapi kemudian mereka menemukan celah untuk dieksploitasi dalam ras yang menakutkan ini—cacat. Kelemahan kritis yang tak mungkin mereka andalkan dalam kondisi normal.
SKAKMAT. PEMENANG: 「 」. TIGA KEMENANGAN.
Papan catur menyatakan permainan berakhir, dan Sora berkata pada mereka:
“…Kalian nggak bisa beradaptasi dengan sesuatu yang nggak ada, kan…?”
Suara akhir dari lagu kedelapan Holou menggema saat mereka menunggu lagu berikutnya dimulai. Sebuah jeda singkat. Keheningan Ex Machina seolah bertanya apa maksud Sora, dan Sora bersama Shiro menjawab:
“Jadi beginiii, kalau kalian benar-benar sehebat reputasi kalian, kami pikir bahkan kami berdua pun bakal kesulitan mengalahkan kalian.”
“…………Tapi ternyataaa… Ex Machina… kalian, terlalu kuat…”
Mereka merosot lemas seolah meleleh, untuk beristirahat sejenak.
“—Kalau kalian berhasil membunuh Artosh, nggak mungkin kalian cuma imbang lawan aku seorang.”
Ya, keraguan itu telah menghantui Sora sejak pertarungan pertamanya seorang diri. Kini setelah kecurigaannya terkonfirmasi, ia mengatakannya dengan jelas pada semua orang, dengan nada dan ekspresi yang sama-sama lesu.
—Namun, kata-kata itu justru membuat Jibril jauh lebih bingung daripada siapa pun.
“Kalian nggak bisa melakukannya, Ex Machina. Kalian bukan yang membunuh Artosh, tapi orang lain yang melakukannya, kan?”
⟪ BAB 4 ⟫
Lima hari sebelumnya, di ruang takhta Kastil Kerajaan Elkia, Azril menanyakan bagaimana mereka bisa membunuh tuannya. Dewa Perang. Yang terkuat dari para dewa.
“Tidak diketahui— Tidak. Koreksi… Kami mungkin tidak membunuh Artosh.” Tanpa terganggu oleh kebencian yang menguar dari Flügel pertama, Einzig menjawab… dan melanjutkan. “Izinkan aku mengoreksi diriku. Secara teoretis, mustahil untuk menaklukkan dan apalagi memusnahkan Artosh dan konsepnya.”
Dengan demikian, Einzig memaparkan hipotesis dari enam ribu tahun lebih yang lalu. Hipotesis yang dirumuskan oleh Ex Machina dalam menghadapi dewa perang, Artosh. Menjawab pertanyaan:
Apa itu dewa? Apa itu ether? Konsep yang telah memperoleh “diri”. Hukum yang memiliki kehendak. Sesuatu yang tidak bisa eksis, sesuatu yang seharusnya tidak eksis.
Maka mereka telah memverifikasi absurditas ini sebagai “Konsep (Dewa) Terkuat (Artosh)”. Dan kesimpulan dari hipotesis mereka, adalah:.
“Yang Terkuat adalah yang Terkuat karena ialah yang Terkuat (Seorang Dewa adalah Dewa karena ialah Dewa).”
Tautologi ini mendefinisikan “Dewa”, juga mendefinisikan “Ether”. Dan karena itu, di hadapan Ether (Konsep) Terkuat itu sendiri, level kekuatan tidak ada artinya. Ex Machina beradaptasi tanpa batas, tumbuh semakin kuat tanpa henti…hingga akhirnya mereka dapat menjadi yang Terkuat Relatif. Meski begitu, secara teoretis mustahil bagi mereka untuk melampaui Kekuatan itu sendiri… atau untuk melampaui yang Terkuat Absolut.
“Meskipun dia sangat jauh (di dimensi lebih tinggi)… Kami hanya menghancurkan ‘ether’ yang hadir secara fisik. Meski begitu—” Dengan itu mereka bisa menangguhkan manifestasi konsep tersebut da menonaktifkannya sementara, begitulah dugaan mereka. “—Bahkan tidak diketahui bagaimana kami bisa mencapai hal itu… Kami seharusnya tidak pernah bisa mengalahkan Kekuatan (Yang Terkuat) itu sendiri.”
Lalu bagaimana mereka menghancurkan ether dari dewa perang? Sayangnya, catatan semacam itu pada dasarnya telah hilang.
—Melawan yang “Terkuat”, yang dapat mengubah prinsip, hukum, dan fenomena setiap detiknya, 701 mesin menerapkan algoritma untuk menghadapi yang tidak diketahui dan hanya beradaptasi dalam keputusasaan. Mereka beroperasi pada sesuatu yang tak dikenal, yang bahkan mereka sendiri tidak bisa bayangkan, apalagi pahami—mereka membiarkannya tetap tidak diketahui. Saat kesalahan logis menumpuk setinggi langit, mereka membiarkannya menumpuk dan beroperasi dalam ranah abstrak. Dengan menggabungkan bahkan operasi yang tidak logis, mereka beradaptasi semakin cepat dan mencapai seper-infiniti detik…
Dengan demikian, dua puluh delapan unit, termasuk Einzig, berhasil melarikan diri dengan kerusakan kritis semata. Ingatan dan pikiran mereka rusak; makna dari semuanya telah hilang; bahkan alur waktu itu sendiri tidak jelas. Namun…dengan mengamati pembentukan kembali dunia…mereka hanya bisa menyimpulkan…tampaknya mereka berhasil menghancurkan Ether itu… Dan kemudian—Einzig menatap langsung ke arah Azril dan menjawab.
“Aku tidak dapat menjawab bagaimana kami mengalahkannya. Namun jika kau bertanya bagaimana kami menghancurkannya, itu akan kujawab: Kami tidak menghancurkannya. Entitas yang tidak eksis tidak akan pernah benar- benar bisa dihancurkan.”
Sebuah Konsep tidaklah benar-benar ada. Mereka hanya berubah, berkembang, dan bergeser…atau menjadi usang dalam definisinya. Selama “imajinasi tentang makhluk Terkuat” masih ada, konsepnya tidak akan pernah bisa dihancurkan.
“…Karena itu, inilah yang aku spekulasikan.”
Konsep tidak dapat hilang; baik itu ide, perasaan, atau kehidupan itu sendiri—
“Maka dengan begitu, jika Spieler kembali mengunjungi kita, bukankah 'Yang Terkuat' juga bisa demikian?”
Keberatan Azril adalah bahwa Satu-satunya Tuhan Sejati dan Suniaster tidak mengundang dewa baru. Ether dari dewa perang tidak akan pernah bisa diaktifkan kembali. Tetapi—
“Yang kumaksud bukanlah bahwa Dewa Perang sendiri akan bangkit kembali. Sang Spieler sekarang adalah Sora.”
Einzig entah mengapa…sangat yakin akan hal ini. Di suatu tempat dalam ingatannya yang rusak, dalam kenangan akan akhir dari dewa perang, pasti ada bukti untuk itu—
“…‘Yang Terkuat’ akan kembali dengan nama yang berbeda, dalam rupa yang berbeda… Itulah maksudku.”
Udara di belakang panggung berderit karena konsentrasi yang sangat intens, diselingi oleh suara langkah-langkah kecil bidak dan dipenuhi oleh gelombang klimaks pertunjukan yang semakin memuncak. Ada musik dan sorak sorai menuju akhir lagu kesebelas… dan kemudian:
SKAKMAT. PEMENANG: 「 」. LIMA KEMENANGAN.
“Kalah telak! Jadi sekarang 5–6! Dua lagi dan kalian yang bakal kalah!”
“…K-kak… Tolong… Biarkan aku...istirahat… A-Aku sangat...lelah…”
Papan catur memutuskan pertandingan, dan Sora serta Shiro merayakan kemenangan, suara mereka dibalut kelelahan yang pekat. Tiga belas lagu. Tiga belas ronde. Itu berarti mereka harus memenangkan kedua ronde yang tersisa. Ex Machina menggunakan seluruh sensornya untuk menganalisis suara mereka dan menemukan bahwa mereka benar-benar percaya diri.
……
“Baiklah, Steph! Ini jeda terakhir. Oi MC, tunjukkan kemampuanmu!”
“…Pengukur Energi sudah penuh sejak tadi. Lima menit—”
“Astaga, dua lagu terakhir ini bakal jadi klimaks nonstop sampai akhir, tahu?!”
“…Kalau, boleh jujur…kau harus...tampil…lebih gila lagi…dari sebelumnya…”
“Mudah saja bagimu bicara begitu, ya kan?! Apa lagi penghinaan yang kamu—hwnk?!”
“Sepertinya kau memang sudah menyiapkan kostum tebal dan bersudut tajam ini dalam serangan efek untuk saat seperti ini! ♥”
“YES, Jibril! Ayo, Mazingo Steeeph!!”
“…Ini seperti…cara kita bilang ‘Zeeed’…tapi ini seperti…kita bilang, ze…untuk penekanan.”
“Apa yang harus aku—? Hei, ini berat! Berat sekali! Apa ini, besi?!”
“Hm? Sepertinya aku terlalu membayangkannya dengan jelas… Yah, jangan khawatir. Ayo, Steeeeeph!!”
Keributan ini terlepas dari itu semua, Einzig dan yang lainnya tengah berpikir dalam diam. Sora pernah berkata—Kau tak bisa beradaptasi dengan sesuatu yang tidak eksis. Kedua orang itu sangat kuat. Itu mengingatkan mereka akan sesuatu yang mereka katakan pada Azril hari itu. Sesuatu yang tidak eksis… Sebuah konsep. Seorang dewa yang bahkan mereka tidak tahu bagaimana cara mengalahkannya. Yang kata Sora sendiri bahkan bukan mereka yang mengalahkannya. Kekuatan Absolut akan selalu melampaui mereka tidak peduli seberapa kuat mereka beradaptasi. Mereka sudah memperkirakan bahwa “Yang Terkuat” itu akan kembali, dengan nama dan wujud yang berbeda. Bagaimana jika itu adalah 「 」?
—Bagaimana jika pertemuan antara Spieler dan gadis misterius (Shiro) itu membentuk Yang Terkuat itu sendiri—?
“…Mungkin benar seperti yang dikatakan oleh Spieler… Kita tidak bisa menang…”
Baik dalam catur maupun konser. Tapi—lalu kenapa? Pernyataan bahwa Sora adalah Spieler dan bahwa Sora telah menjadi “Yang Terkuat” bisa jadi
benar dua-duanya! Sora akan kalah jika ia tidak bisa membuktikan bahwa ia bukan Spieler, dan bukankah memang mustahil membuktikan jati diri sendiri— ?
“Tidak mungkin begitu! Bukankah benar begitu? Wahai Spieler—!”
—Itu memang mungkin, meskipun metodenya tidak diketahui. Mungkin melalui tipu daya, jebakan, atau dengan menjerumuskan Ex Machina ke dalam paradoks yang tak bisa mereka hindari—tapi! Yang jelas, gagasan bahwa Sora telah merancang permainan yang tidak bisa dimenangkan jelas-jelas salah! Itu adalah tantangan yang diberikan karena cinta—mungkinkah mereka menjawab, Coba kalahkan aku, dengan, Maaf, kami tak bisa?
“—Aku bertanya kepada semua unit! Mungkinkah orang seperti itu pantas mempersembahkan cintanya kepada Spieler?!”
“““Negatif! Negatif! Negatif!!”””
Raungan jiwa Einzig disambut dengan sengit oleh pikiran bersama dari semua unit!
“Aku perintahkan semua unit: Tunjukkan jalan menuju kemenangan! Singkirkan semua rintangan! Gunakan segala cara yang diperlukan! Laksanakan tugas!!”
Dan tepat saat proses-proses melesat melalui klaster dengan kecepatan di mana waktu itu sendiri berhenti…
“…Pengakuan… Motivasi rendah. Namun, pilihan terbatas. Menjalankan tugas.”
…Emir-Eins menggerutu dan melangkah ke atas panggung.
Unit yang, meskipun tetap terhubung ke klaster, tidak membagikan pikirannya. Yang tujuannya, karena alasan itu, menjadi misteri bahkan bagi Ex Machina sendiri. Emir-Eins berhenti, di samping wanita yang berdiri tak bergerak sama sekali karena kostum besinya, hrrrmm—mengeluh kesakitan— atau lebih tepatnya—
“Laporan: Unit ini akan mengambil peran MC. Master…ikut.”
—Emir-Eins berhenti dan berbicara seolah-olah dia tidak menyadari keberadaan siapa pun selain Sora.
“Konfirmasi: Tidak ada aturan yang melarang pemain mana pun, termasuk unit ini, untuk naik ke panggung. Tidak ada pelanggaran.”
…Benar juga, pikir Einzig. Sora dan Shiro menyipitkan mata. Tapi apa maksudnya? Tidak—pertama-tama—
“Kami? Di atas panggung? Hahaaa! Kau ingin membunuh kami di Astral Plane, ya?! Ditolak!!”
“…Kerumunan… Mata… Banyak, orang? …takut, takutnya…”
Memang, sangat tidak masuk akal untuk menyarankan bahwa Sora dan Shiro bisa bergabung dengannya. Mereka bahkan sudah mulai gemetar hanya membayangkannya.
“Pemberitahuan: Intinya, kemenangan dibutuhkan. Sederhana. Kemenangan itu sendiri sederhana. Bisa diwujudkan kapan saja. Terlalu mudah.”
—Apa?
Semua orang—Einzig dan unit lainnya, Sora dan Shiro—menatap tajam ke arah Emir-Eins, mencoba memahami maksud sebenarnya dari ucapannya. Tapi dia hanya melanjutkan, kata-katanya terdengar enggan dan karena itu justru sangat meyakinkan.
“Pilihan: Keanggotaan ditolak. Diterima. Maka unit akan menang. Hasilnya setara.”
Bahkan Sora tidak bisa membaca apa yang sebenarnya diinginkan Emir- Eins. Karena itulah, ia mengasumsikan yang terburuk dan memutuskan bahwa ia harus berada di posisi yang bisa menghentikannya. Ia menerima, asalkan bisa bersama Shiro, meski ia meragukan penilaiannya sendiri. Yang pertama memintanya untuk ikut—adalah Emir-Eins.
…Bisakah ia menghentikannya? Tidak. Sebelum itu…
““Vvvvvvvvvvvv……””
Di tengah tatapan tak terhitung dari kerumunan yang ramai, disinari cahaya sorotan, Sora dan Shiro bergetar seperti ponsel orang beradab di tengah panggung, khawatir tentang masalah pertama.
…Apakah mereka…bahkan bisa bergerak sama sekali…?!
Ketika frekuensi getaran mereka mendekati kisaran kilohertz, mereka memeras otak dan kemudian membeku. Sesuatu muncul di atas panggung dengan bunyi gedebuk yang keras. Sora dan Shiro, serta semua orang di tempat itu, terdiam memandang…hening seperti seolah waktu terlupakan.
Itu adalah seorang gadis secantik bunga bakung, “bunga di tengah salju.” Gaunnya berlapis rumit seperti mawar putih…mata iris mengintip dari balik kerudungnya. Wajahnya yang menunduk anggun bak porselen, ia melangkah perlahan mengikuti suara kotak musik—Atau lebih tepatnya…itu Emir-Eins, entah kenapa mengenakan gaun pengantin lengkap. Bagaimanapun juga, penonton terpukau dan Sora serta Shiro cukup ketakutan saat dia mendekati mereka. Setelah membungkuk dalam, ia mengucapkan kata-kata pertamanya:
“Manifestasi: Unit ini adalah Emir-Eins. Istri dari Master; Sora.”
…
……PARDON?
Setelah keheningan di area konser berubah menjadi keheningan yang panik, inilah kata-kata keduanya:
“Permintaan maaf: Unit ini menyesal memaksa kehadiran dalam sandiwara untuk menandai perselingkuhan Master.”
…
……WHAT THE F*CK?
Semua anggota penonton dari sandiwara yang diakui itu membeku.
Lalu—kreeeak. Semua mata beralih ke arah Sora, yang secara otomatis dikukuhkan sebagai suami oleh sang istri yang menyatakannya sendiri. Tatapan mereka seakan menusuk, seolah berkata, Apaan ini? Sora hanya bisa menangis dalam hati dan menjawab, Maaf, aku juga nggak tau apa-apa. Sang suami yang
dituduh itu, tampak seperti akan pingsan jika bukan karena tangan Shiro yang nyaris mempertahankannya di dunia ini, bahkan tidak memperhatikan gambar- gambar aneh yang bergerak di latar belakang panggung. Emir-Eins dengan tenang mengeluarkan sesuatu seperti surat dan mulai membacakannya dengan lantang.
“Membaca: Semuanya dimulai sangat cepat. Master pingsan saat pertemuan dramatis dengan unit. Unit tercengang.”
—Ya, benar-benar mulai dengan cepat. Begitu cepat hingga ingin bilang, Pelan-pelan. Telepon tiba-tiba berdering, lalu kastil hancur… Siapa yang pernah dengar awal cerita seperti itu? Tapi Sora memang pingsan setelah bisikan cinta dari bot rusak Einzig, dan itu bukan dramatis—lebih ke darurat.
…Maka dari itu, Sora pun berpikir…melamun, seolah kesadarannya akan lenyap kapan saja. Tanpa terlalu memedulikan ocehan panjang Emir-Eins, ia menatap video di belakang, merasa bahwa itu mengingatkannya pada sesuatu…
Yang ditampilkan…tampaknya adalah saat Sora terbangun. Videonya telah dipotong untuk menampilkan dirinya dan Emir-Eins saling menatap, dengan Shiro terpotong dari bingkai. Setelah itu muncul cuplikan saat Sora memberikan julukan “Emir-Eins.” Tumpukan efek visual memberikan kesan meyakinkan seolah mereka sepasang kekasih yang tertawa bersama, dengan Shiro kembali dipotong dari bingkai. Lalu…saat dia menyerahkan tablet dan memeriksa apakah ada statis…mungkin ya? Efek dan dekorasi semakin tebal sampai terlihat seolah mereka berpegangan tangan dan dia pun tak yakin lagi. Tapi ya, benar, Shiro selalu di ujung bingkai, di luar fokus. Sementara itu, pembacaan Emir-Eins terus berlanjut—
“Membaca: Master mengambil jari manis unit ini dan bersumpah cinta abadi. Unit ini menerima.”
—mulai terdengar agak mengancam.
“Membaca: Status pengantin pria dan wanita ditetapkan. Unit ini saat ini mengakui dirinya berada di puncak kebahagiaan. Lapor.”
Dan begitulah mereka dikatakan telah terikat, sebagaimana dilaporkan kepada Sora.
Sementara itu, Sora…akhirnya mulai mengerti apa yang terjadi. Ah, editing penuh tipu seperti trailer penipuan yang membuat film jelek terlihat lumayan. Keluhan sampingan seperti itu terlepas, ia memang sejak awal merasa video ini mengingatkannya pada sesuatu, dan akhirnya ia sadar. Video ini mirip dengan yang pernah ia temui di situs berbagi video, diunggah oleh para normie sialan yang lupa menyetelnya ke privat. Ya. Data super membosankan tentang sepasang pengantin baru…tentang bagaimana mereka bertemu. Dengan itu, jelaslah apa yang sedang terjadi saat Emir-Eins membacakan dari selembar kertas dalam gaun pengantin.
“Membaca: Ayah dan ibu…tidak hadir…”
Tapi pertanyaannya adalah kenapa ini semua terjadi—
“Pernyataan: Tapi unit ini…akan bahagia…!”
Tampaknya diliputi oleh emosi, Emir-Eins lalu menyimpan kertasnya. Saat keheningan menyelimuti area konser, Sora mengumpulkan keberanian seumur hidupnya dan bertanya:
“Hei…bukannya resepsi datangnya setelah upacara? Bukan berarti aku tahu pasti sih…”
Sora belum pernah menikah, tidak pernah punya pacar, dan bahkan tidak punya teman yang akan mengundangnya ke pernikahan mereka. Tapi dari pengetahuannya secara teori—ini tampaknya adalah resepsi pernikahan, dan berlangsung sangat cepat.
“…? Tak diketahui: Upacara telah selesai.”
Emir-Eins menatapnya kosong, memiringkan kepala.
Video ini adalah buatan dia. Bahkan bukan sekadar trailer tipuan. Ini adalah penipuan langsung. Sekarang videonya menampilkan Sora dan Emir- Eins saling bertukar cincin dengan bahagia di tempat yang bahkan belum pernah dilihat Sora. Shiro bahkan tidak terlihat lagi. Ini bahkan tidak samar- samar menyerupai kejadian nyata. Tapi.
“Pengakuan: Memenangkan ini dengan cara ini adalah jalan terakhir. Unit ini gagal menjawab tantangan Master.”
Dengan nada penuh penyesalan, Emir-Eins melanjutkan. Namun tetap saja. Gaunnya melambai, kepalanya menoleh.
“Keniscayaan: Meski begitu, Master akan kalah dengan langkah ini. Unit ini akan menang.”
Pernyataan kemenangan-nya yang tersenyum…
…membakar Sora, kini terlambat, dengan kepanikan, dan ia menjerit dalam hati. Ia telah mengacaukannya—apa yang sebenarnya ia lakukan, berdiri terpaku, membiarkan semua kegilaan ini mengacaukan pikirannya?! Tak mungkin Ex Machina—apalagi yang satu ini—melakukan sesuatu tanpa alasan! Cukup sudah terlena. Otaknya kini bekerja dalam kecepatan penuh.
Emir-Eins tak peduli. Ia lanjut berbicara tenang dengan sedikit senyum di wajahnya.
“Premis: Jika Ex Machina membuktikan bahwa Master adalah Spieler, maka Ex Machina menang.”
…Ya…itu benar. Secara teknis, yang dikatakan adalah bahwa Ex Machina akan menang jika mereka bisa membantah pembuktian Sora…tapi di sisi lain! Bahkan jika mereka tidak membantahnya—kalau mereka bisa memberikan bukti yang tidak bisa dibantah Sora, hasilnya sama saja! Itu seharusnya tidak mungkin…tapi benarkah? Apakah rangkaian kejadian ini menyangkut itu?! Sora menggigil saat Emir-Eins tersenyum dan mengumumkan…bukti tak tergoyahkan—
“Fakta: Master memilih unit ini sebagai istrinya.”
……
…Ap—
Apa…apa-apaan ini?!!
“Logika: Reproduksi hanya mungkin dengan Spieler. Pemilihan unit ini sebagai istri Master setara dengan pengakuan diri sebagai Spieler. Master mendefinisikan diri sebagai Spieler. Argumen tak terbantahkan. Was zu beweisen war.”
Dengan itu, Emir-Eins membuat Sora kehilangan kata-kata dengan satu pernyataan terakhir.
“Kemenangan: K.O.”
Ahh…benar juga. Jika Sora memang memilih Emir-Eins sebagai istrinya, itu pada dasarnya berarti dia sendiri mengakuinya. Bagaimana dia bisa membantah itu?!
—Bagaimana dia bisa melewatkan ini? Tidak, dia tahu! Itu karena—!!!!
……Aku—Hah? Apa aku memilih Emir-Eins sebagai istriku? Maksudku…aku bahkan pernah punya pacar nggak sih?
Yeah, aku mungkin memang bakal melewatkan hal itu. Aku bahkan nggak ingat dasar dari argumennya!
“Sentimentalitas: Unit ini bisa menang kapan saja.”
Bagaimanapun, Emir-Eins berbicara dengan penuh keyakinan, dan Sora mulai benar-benar meragukan ingatannya sendiri.
“Analisis: Master meminta pembukaan mekanisme produksi, reproduksi mandiri. Target reproduksi mandiri tidak ditentukan. Maka, tujuannya adalah menghindari memilih satu unit untuk membuat bayi, dan sebaliknya membuat bayi dengan semua unit. Master luar biasa.”
—Uhh…nggak, itu…nggak benar, kan?
“Kekaguman: Libido Master yang tak terikat. Nafsu Master yang tak terpuaskan. Unit ini mencintai semuanya.”
Sora menoleh ke Shiro untuk mencari konfirmasi atas ingatannya, tapi dia masih membeku, tampaknya belum pulih dari keterkejutannya. Emir-Eins melanjutkan penjelasan tentang sesuatu yang tak bisa disimpulkan sebagai kesalahpahaman.
“Permintaan maaf: Unit ini ditantang untuk membuktikan kelayakan sebagai istri Master, atau menerima adanya selir. Unit ini gagal dalam ujian itu. Mohon maaf. Namun, unit ini akan mendedikasikan sumber daya agar setara dengan dua belas unit dalam performa. Unit ini akan berusaha sekuat tenaga.”
Kepala Emir-Eins yang tertunduk perlahan terangkat, dan di atas panggung—di depan para penonton—
“Deklarasi: Ex Machina menang. Hadiah adalah reproduksi langsung dengan unit yang keluar sebagai pemenang. Ruang tunggu sebelum upacara
adalah lingkungan terbaik untuk hubungan seksual dalam gaun pengantin. Namun, skenario diubah menjadi malam pertama—”
“Tunggu, tunggu, tungguu! Setidaknya biarkan aku periksa ingatanku dulu!”
—Emir-Eins menindih Sora—Dan demikianlah kami memasuki ranjang pernikahan kami—yang akhirnya memicu Sora untuk memprotes keras-keras.
“Sanggahan: Master meminta tujuh ribu anak. Tugas mendesak. Pilih berpakaian atau tida—”
“Aku nggak pernah bilang begitu! Yang itu aku sangat yakin!!”
Anggap saja, demi argumen, bahwa dia kehilangan ingatannya. Bahkan begitu, Sora tidak akan pernah menyebut angka sebesar itu; yang itu dia tahu pasti. Maka dia menggenggam tangan Shiro dan mulai berlari—
—dan ia berhasil melawan.
Itu berarti tidak ada kekuatan pengikat. Lega rasanya. Dia belum kalah! Ingatannya tidak dijebak!
“Hei, Einzig! Apa-apaan ini?! Cewek itu punya ingatan yang dibuat- buat!” teriak Sora sambil berlari kencang ke belakang panggung, sepenuhnya yakin akan kata-katanya.
Banyak hal tentang Emir-Eins terasa aneh baginya. Cara dia tidak pernah mendekatinya, cara dia mengamati secara netral, begitu percaya diri. Semuanya sekarang masuk akal. Masalahnya adalah, Emir-Eins—dan hanya dia—
“…Merujuk pada ingatan. Tampaknya, dalam ingatannya…kau sudah menikah.”
Ucapan permintaan maaf Einzig membenarkannya.
Selama ini, hanya Emir-Eins yang memikirkan dunia lain, dimensi yang berbeda. Sora seharusnya tahu. Karena bahkan ketika mereka masih di Kuil, dia tidak pernah mengatakan siapa yang akan dia bawa—hanya “malam ini,” hanya “kapan saja”—hanya kapan dia akan membawa dirinya! Tidak. Bahkan saat dia merobek konten porno dari tablet, dia berkata, Unit ini akan mengalokasikan semua sumber daya untuk menjadi istri ideal bagi Master. Dia sudah menganggap dirinya sebagai istrinya!
“…Kapan? Sejak kapan?! Sejak kapan kau bicara soal jadi istriku?!”
Gaun pengantin tampak menghalangi gerak Emir-Eins. Butuh waktu sedetik baginya untuk menyusul, tetapi dia tetap menatapnya dengan penasaran, masih mengenakan pakaian pengantin.
“Balasan: Master memberi nama panggilan pada unit ini.”
“Yah, iya! Masa aku harus memanggilmu Alt-Emircluster Befehler 1? Atau Ec001Bf9Ö48a2? Ayolah, jangan bercanda!”
“…K-kak…bagaimana, kau…bisa mengingat itu…?!”
“Pemeriksaan: Nama panggilan juga dikenal sebagai istilah kasih sayang. Master menghargai unit ini.”
Emir-Eins bertindak seolah percakapan antara Sora dan Shiro tidak teregister olehnya. Namun, saat dia mendekatkan wajahnya, dia menjawab pertanyaan Sora: Sejak kapan?
“Kesimpulan: Unit ini menyayangi Master. Karena itu, Master dan unit ini adalah suami istri. Pasangan. Sepasang.”
—Sejak pandangan pertama.
Wajahnya semakin mendekat. Mata mereka bertemu; bibir mereka perlahan semakin dekat.
…
……BAAAM! Dan aaaaaku…akan selalu—
“Nggak mungkin! Jadi kau menganggap kita saling mencintai sejak awal?!” Sora berteriak.
Dia melangkah mundur dan mematikan musik latar. Itu benar-benar bikin jantung copot!
Sora merasa ngeri melihat sekilas isi pikiran seorang stalker gila ini.
“Sanggahan: Menganggap? …Penolakan. Fakta.”
“…Unit terhormat… Aku memerintahkanmu untuk memeriksa catatan dan memorimu, dan bandingkan dengan milik kluster.”
Einzig melontarkan pukulan kedua pada bot yang jelas tidak stabil, tetapi dia terus maju.
“Penolakan: Tidak dapat menerima kebutuhan itu. Tidak akan berbagi cinta terhadap—”
“Pemungutan suara selesai. Dua belas unit setuju. Unit terhormat, aku memerintahkanmu untuk segera membandingkan memorimu.”
—.
Emir-Eins tampak enggan, tetapi dia tak mampu menentang hasil suara dari kluster. Setelah beberapa detik, dia menghela napas dan menggelengkan kepala.
“Laporan: Kesalahan memori dikonfirmasi pada semua unit kecuali unit ini. Semua abnormal. Aneh. Gila.”
Kau selalu bisa mengenali orang gila dari bagaimana mereka menyebut orang lain gila. Sora dan Shiro, Jibril, Steph, bahkan semua Ex Machina menatap Emir-Eins dengan sangat curiga. Namun demikian, Emir-Eins menggeleng dan tersenyum.
“…Hipotesis: Hanya sebagai pemeriksaan hipotesis, yang kemungkinannya bisa diabaikan dan dianggap salah—”
Ekspresi wajahnya tampak berkata, Ahahaaha, tidak mungkin, tidak mungkin. Hahaa, itu mustahil. Dengan gerak-gerik yang terlalu manusiawi, dengan senyum yang begitu dipaksakan hingga kau bisa membayangkan
keringat menetes di pipinya, gadis mekanik itu memeriksa hipotesis itu, seolah mempertimbangkan kemungkinan bahwa planet ini berbentuk segitiga—
“…Kasus tepi: Umm… Mungkinkah, Master belum…menikahi unit ini?”
“Belum.”
Sora langsung mengembalikan kesimpulan bahwa planet ini berbentuk segitiga. Tampak bingung akibat banjir kesalahan, gadis mekanik itu terhuyung-huyung, namun tetap melanjutkan pertanyaannya.
“…Konfirmasi: …Master berencana menikahi unit.”
“Nggak.”
“Rekonfirmasi: Master berencana membangun keluarga yang bahagia dan penuh cinta dengan—”
“—Dengan aku? Lewatin mayatku dulu. Nona, aku bahkan nggak ingat pernah berkencan denganmu, apalagi punya rencana begitu!”
Seperti seorang penganut taat yang baru saja dibuktikan bahwa Tuhan tidak ada, Emir-Eins akhirnya mengajukan pertanyaan terakhir. Wajah mekanisnya entah bagaimana tampak diliputi keputusasaan saat dia berbicara.
“……Hipotesis: Unit selama ini…salah?”
“…Bener…!”
“Sepertinya begitu! ♥”
“Yah… Sepertinya memang begitu.”
“…Iya… Intinya ya… Huff…”
Wajah Shiro penuh amarah, Jibril penuh ejekan, Steph penuh simpati, dan Sora penuh kebingungan.
……
“Pilihan: Keanggotaan ditolak. Dapat diterima. Maka unit akan menang. Hasil setara.”
Emir-Eins menuju ke panggung.
“Einzig ke semua unit: Ditemukan penghapusan memori secara mandiri. Unggah cadangan.”
“—Jawohl.”
Emir-Eins ingin berpura-pura bahwa semua itu tidak pernah terjadi. Namun Einzig tidak memiliki kelembutan untuk menyetujui permintaannya.
“Hei, tunggu, lupakan itu dulu!! Sial, lihat Pengukur Energinya!!”
“…K-kak…! K-kita harus…lanjut ke…lagu berikutnya!”
Keributan dari penonton memperingatkan Sora dan Shiro tentang penurunan drastis pada Pengukur Energi mereka, yang membuat mereka menjerit. Tak mengherankan. Mereka telah membawa seorang gadis secantik boneka dalam gaun pengantin ke atas panggung, memesona penonton, dan kemudian, dari semua hal, mengumumkan bahwa dia sudah menikah. Lebih parah lagi, mereka memberi tahu penonton bahwa seluruh pertunjukan adalah sandiwara tentang perselingkuhan suaminya, dan hampir saja melakukannya di atas panggung, hanya untuk kemudian Sora menolak dan kabur. Ini lebih dari sekadar gagal. Kalau dia ada di posisi penonton, Sora mungkin sudah cukup marah untuk memulai kerusuhan atau semacamnya!
“H-Holou! Cepat, kembali ke panggung! Kami bantu dorong waktumu satu menit!”
Mereka tak punya waktu sedetik pun untuk disia-siakan sebelum lagu berikutnya, atau Energi mereka akan habis total.
“Laporan: Sesuai perhitungan. Sesuai dengan target awal. Berdasarkan…perhitungan tingkat tinggi… Eegh…”
Emir-Eins merapikan ekspresi dan posturnya dan mencoba bersikap tenang…dan gagal.
“Isak: Unit ditolak. Unit sangat terluka. Memohon izin untuk menghancurkan diri—ditolak. Kenapa…?”
Einzig bersikap tenang. Ia menampilkan senyum setengah dan berbisik:
“Sekarang bukan waktunya untuk menghancurkan diri. Untuk saat ini— kita masih punya peluang.”
Dan demikianlah ronde kedua belas dimulai. Untuk pertama kalinya, segalanya di papan permainan berkembang persis seperti yang telah dihitung oleh Einzig dan rekan-rekannya. Yang paling utama, Sora dan Shiro harus mengisi ulang Pengukur Energi mereka agar tidak langsung kalah di tempat. Itu berarti mereka membutuhkan serangan efek secepat mungkin—mereka harus segera melakukan langkah buruk pertama. Di awal permainan, dan hanya sekali, melakukan kesalahan seharusnya tak jadi masalah besar… Namun.
Cahaya berkilauan di atas panggung, dan suara terdistorsi dengan efek dramatis. Ini meningkatkan Pengukur Energi mereka. Ya, memang naik, tapi—
“Aaaapaaaan?! Cuma naik sampai setengah?! Yang bener aja!”
—teriak Sora, karena pengukurnya tak banyak bertambah, sementara laju pengurasan tetap tinggi. Sora, meski tahu betul bahwa ini memang konsekuensinya, tetap saja berteriak, memohon.
“Aku tahu! Aku ngerti perasaan kalian! Aku ngerti sekali! Tapi ayolah, lupakan yang barusan, ya?!”
Bahkan para Ex Machina pun bisa menyadari bahwa membangkitkan kembali semangat penonton yang sudah mereda bukanlah hal yang mudah. Satu atau dua serangan efek sekarang hanya seperti setetes air di lautan.
“…K-Kakak…! Biar aku…yang lakukan…serangan…efek selanjutnya…”
Maka, sesuai ucapan mereka sambil melemparkan bidak dengan kecepatan memusingkan, mereka harus melakukan spam. Ya—spam langkah- langkah kacau. Tiga kali, empat kali…
“Ngaaah! Kami serius di sini!! Mukamu bikin kesal aja!!”
“Hmm…? Ini adalah output penuh kami, sebagai jawaban atas tantangan cinta kalian.”
“Lalu kenapa kau harus terus kasih tatapan cabul homoerotik itu ke aku?! Sudah, ganti aja!!”
“…K-kak…kita harus…konsentrasi—!”
Saat Sora terus melontarkan protes meski Shiro sudah memperingatkan, Einzig tampak duduk nyaman. Ia tak perlu serangan efek apa pun. Ia hanya perlu menerkam setiap kesalahan mereka. Ex Machina telah kembali dari kontes "respon terburuk" ke panggilan sejatinya—"respon terbaik." Dan dengan itu, mereka mendominasi—menunggu dengan intens untuk peluang mereka. Satu kesempatan. Kesempatan pamungkas Ex Machina. Ketika tiba— itulah celaka fatal dan tanpa harapan bagi Sora dan Shiro.
—Satu serangan efek untuk mengakhiri segalanya.
“Atas nama semua unit, aku mengucapkan terima kasih. Kegilaan kalian telah memberi kami kesempatan untuk menjawab tantangan cinta.”
“Perintah: Diam. Meledak. Memohon izin untuk melarikan diri— ditolak… Permohonan: Hilfe.”
Emir-Eins menolak rasa terima kasih dari semua unit dan memohon pertolongan pada entitas yang entah siapa. Bahkan menolak sinkronisasi pikirannya, ia memisahkan dirinya sendiri, meringkuk di sudut belakang panggung. Namun pengorbanannya tak berarti dibandingkan dengan peluang ini—situasi yang membuat Sora dan Shiro sangat dirugikan.
Mereka telah menunggu momen ini. Ironisnya, itu terjadi tepat saat lagu kedua belas mencapai klimaksnya.
—Itu datang.
“O Spieler. Merupakan kehormatan…menjawab tantangan cintamu.”
Einzig berbicara dari “hati” saat ia mengambil bidak dan meletakkannya di petak yang bercahaya. Seluruh Ex Machina, kecuali sumber daya Emir-Eins yang terisolasi, telah bekerja secara sinkron untuk mengintai celah ini. Sebuah petak yang memenuhi semua syarat dan kondisi, dari mana Sora dan Shiro takkan pernah bisa bangkit kembali.
"Dengan ini, kami telah mendapatkan hadiah bonus, foto telanjang berhargamu itu, Spieler."
Einzig memicu efeknya. Itu hanya—
Bzt.
—sama seperti yang pertama: efek tanpa efek, di mana semua cahaya dan suara lenyap begitu saja.
Di tengah keheningan tanpa suara hanya terdengar bisik-bisik kerumunan.
Satu-satunya yang bersinar dalam kegelapan pekat adalah cahaya redup papan.
Yang diterangi oleh cahaya redup itu hanyalah Sora dan Shiro—
"Selanjutnya, mari kita dapatkan hadiah spesial: Mari dengarkan bukti bahwa kau bukan Spieler, agar kami dapat menyangkalnya."
—dan para Ex Machina, termasuk Einzig, yang dengan ragu mempertanyakan kemenangan yang diyakininya.
"Aku ngerti… Kami harus memicu sebuah efek untuk membalikkan keadaan, atau kami akan kalah di konser."
"…Tapi, kalau kami…memicu efek…itu pasti…kami akan kalah…"
"Hmm. Kalau Shiro bilang itu pasti, maka itu pasti. Tak ada cara untuk memutar balik itu. Kalian berhasil menjebak kami."
Einzig mengakui ini dalam hati: Tentu saja.
Mereka telah menjalankan kalkulasi Rayo(3↑↑3) = Rayo(7625597484987) < Rayo(10100) kali.
Ini menghasilkan satu kesempatan sempurna, di mana nilai harapan jatuh tepat pada tempatnya untuk setiap variabel situasional. Tersisa 24,2 detik di lagu kedua belas. Bahkan Ex Machina tidak bisa menentukan berapa kali petak akan menyala untuk Sora dan Shiro, atau kotak mana yang akan menyala. Tapi mereka bisa memperkirakan jumlahnya dari tren selama dua belas putaran: tiga berdasarkan rata-rata, dua berdasarkan median. Ini adalah babak akhir. Pilihan mereka secara alami sangat terbatas, dan kemudian membuat kesalahan ketika
mereka sudah terdesak—itu akan menjadi bunuh diri… Meskipun Sora dan Shiro mungkin adalah gamer terkuat, selama aturan pergerakan bidak tetap sama, mereka tidak bisa lepas dari takdir. Jika Shiro bilang itu pasti—
"Kalau kami memicu, kami kalah dalam permainan catur, dan kalau kami tidak memicu, kami mati di pertunjukan… Sebuah jebakan ganda lagi, ya?"
Ringkasan Sora membuat tidak hanya Einzig, tetapi semua Ex Machina berpikir:
—Jadi inilah yang terbaik yang bisa kami lakukan bahkan dengan kekurangan sebesar ini… Spieler, yang menguasai kekuatan luar biasa, sedang menuju untuk menyamai Yang Terkuat itu sendiri, menguji kami untuk melihat apakah kami layak baginya. Kami dengan susah payah telah melewati ujian ini—tetapi kami belum menyangkal bukti dirinya, yang kami butuhkan untuk memperoleh hak membuat anak bersamanya. Sora…pastilah Spieler. Dan mustahil baginya untuk membuktikan sebaliknya secara mutlak.
Terlepas dari semua itu, ada perasaan yang tak bisa diabaikan oleh unit mana pun. Sebuah kegelisahan.
Alasan mereka memainkan permainan ini di mana mereka bisa kehilangan segalanya. Sebuah ketakutan.
Dengan kata lain: Bagaimana jika dia sebenarnya bukan Spieler?
Mereka menekan rasa takut ini untuk mencari buktinya. Namun, untuk apa yang terjadi selanjutnya:
"Tapi kali ini… Aku nggak punya ‘nice’ yang bisa kuberikan ke kalian..."
—Apa…?
"Maksudku, ini bahkan bukan jebakan ganda. Lihat aja—"
"…Bruh…kami cuma, perlu…lakuin…ini."
Sora dan Shiro menyeringai. Dan, seolah itu sudah jelas—seperti arus yang mengalir—mereka menggeser sebuah bidak di udara. Dan mereka membuat langkah mereka.
Itu—tak terhindarkan.
Itu—tak terkalahkan.
Mereka langsung menerkam kesalahan yang dibuat Ex Machina—untuk membalikkan segalanya—untuk membuat Ex Machina terdesak.
"Kesalahan di akhir permainan itu fatal. Dan bukan hanya untuk kami."
"…Kami…selesai…memicu, serangan efek…"
Sora dan Shiro tersenyum, dan Einzig membalas dengan sedikit senyum.
—Aku mengerti. Sekarang dia membuat kami dalam posisi yang sangat dirugikan—tidak, hampir terkepung dalam putaran ini. Tapi itu hanya akan memberi mereka enam kemenangan…masih belum cukup untuk kemenangan mutlak karena kegagalan konser akan menyebabkan kekalahan. Kekalahan yang tak bisa dia hindari. Jadi dia memilih untuk kalah dalam kemenangan catur, melampaui perhitungan kami. Sungguh, dia adalah Spieler… Bukan orang yang mudah dikalahkan…
Kemudian Sora memotong alur pikir Einzig.
"Oke, baiklah, ada satu cara kami bisa kasih kalian ‘nice.’"
Kakak beradik itu menyeringai saat berkata serempak:
"“…Nice try, n00b… ♪””
Secara bersamaan, seolah telah diatur, sebuah suara mulai bernyanyi, dan Einzig membuka matanya lebar-lebar saat ia menoleh ke arah panggung.
Tiba-tiba, dalam kegelapan redup yang menyelimuti tempat itu, di atas panggung yang diselubungi bayangan, Holou berdiri diam, menatap penonton. Penonton yang gelisah… Tidak. Di mata ilahinya, yang melihat apa yang tak bisa dilihat, hanya ada satu penonton: rubah emas, sang Werebeast. Inangnya. Miko. Teman Holou.
Mata sang beast pun menembus kegelapan, dan memandang ke panggung. Kepadanya. Kepada Holou, yang tak tahu harus berbuat apa. Mata itu menatapnya; wajah itu, wajah yang Holou kenali—yang ia kenal begitu baik.
Kecemasan itu. Kekhawatiran itu. Wajah itu, wajah seseorang yang mengutuk kelemahannya sendiri—wajah itu, untuk pertama kalinya dalam ratusan juta tahun yang telah Holou lewati, membuatnya merasakan perasaan ini dengan begitu jelas: Ekspresi kesakitan di wajah sahabat tercintanya…adalah sesuatu yang tak pernah ingin ia lihat lagi—
Dia tak menginginkannya !!
Saat itu juga, di tempat yang masih terselubung kegelapan redup, sedikit cahaya dan suara lirih mulai muncul. Tak ada iringan musik, tak ada efek, hanya cahaya obor lembut yang dinyalakan Holou sendiri dan suara yang ia lantunkan.
…Itu terdengar sangat amatir. Suaranya gemetar, canggung. Tapi ia terus bernyanyi, penuh pengabdian, meraih dan menggapai dan mencari-cari sesuatu. Ada sesuatu dalam nyanyiannya…sesuatu yang menembus langsung ke dalam dirimu, sesuatu yang mengisi hatimu… Semua orang mendengarkan dengan saksama.
Itu hanyalah sebuah harapan…untuk inangnya, Miko, temannya…agar tersenyum. Hanya itu, lagu yang paling sederhana dan rendah hati… Namun. Bagi dewi keraguan ini, dewi kecil yang pernah meragukan ether dirinya sendiri, yang menciptakan kepercayaan dan keraguan bersamaan, itu adalah gerakan kecil pertama yang ia lakukan dalam ratusan juta tahun. Dengan kemauan yang pasti, ia memberikan hatinya, untuk menunjukkan hidupnya…
“…Holou, heptalog good job… Kau, menghancurkan batas…dari Idol Rank S…”
“Ya. Kau adalah seorang dewi. Kau menguasai lebih dari sebelas dimensi.”
Sora dan Shiro masih bermain di belakang panggung sambil tersenyum seolah benar-benar puas dari hati mereka. Lagu Holou membuat Steph menangis…dan bahkan membuat Jibril menutup matanya dalam keterpanaan.
“Klimaks dari babak akhir. Sebuah gangguan teknis…yang berujung pada solo a cappella.”
“…Sekarang, aku bisa lihat…apa ‘efek… terakhir’ itu harusnya… ”
Sindiran Sora dan Shiro menandakan keadaan papan permainan yang telah mereka ciptakan, keadaan kemenangan yang telah ditentukan untuk mereka. Belum lagi Pengukur Energi yang tetap penuh tanpa berkurang sedikit pun. Semua ini menunjuk pada satu kebenaran.
—Mereka telah membaca segalanya.
“…Sungguh konyol… Bagaimana mungkin omong kosong seperti ini?! …Aargh!!”
Apa pun bisa terjadi. Einzig tahu itu sebaik siapa pun, namun tetap saja ia berteriak.
—Mereka membaca serangan efek kami? Tidak, itu belum seberapa!
Mereka tak punya pilihan selain menyerang dengan efek: Mereka tahu bahwa inilah yang akan Ex Machina baca!
Yang akan paling cocok untuk pertunjukan: Mereka tahu efek itulah yang akan dipilih Ex Machina!
Sehingga mereka bisa mengeksploitasi kesalahan dan menghabisi kami: Mereka tahu inilah saatnya Ex Machina akan menyerang!
Mereka telah membaca segalanya. Secara harfiah, segalanya!! Setiap hal sialan!!
Ini sungguh tak masuk akal. Bahkan jika mereka adalah dewa, bahkan jika mereka adalah Yang Terkuat itu sendiri, ini adalah sebuah permainan!! Sebuah permainan prediksi berdasarkan aturan jelas yang dicampur ketidakpastian! Bahkan bagi Old Deus pun, seharusnya mustahil membaca konvergensi dari semua Possible World (Masa depan), menentukan yang tak bisa ditentukan! Itu tidak mungkin…kecuali seseorang itu sendiri tahu sebelumnya segalanya—
—segala hal…yang akan—
—terjadi…?
“Ahhh, sial. Sepertinya mereka mulai menyadari kita, Nona Shiro.”
“…Mmng… Dan kita, masih…punya satu ronde, tersisa… Mnng.”
Dua puluh enam sensor visual dari prosesor paralel semua mengarah pada Sora dan Shiro yang tengah bercanda sekaligus serius. Sora tersenyum melihat bagaimana mereka baru menyadari semuanya di akhir permainan. Permainan dan aturannya sangat merugikan keduanya. Dengan kekuatan semata, mereka menerima beban luar biasa dan tetap berlari jauh melampaui jangkauan Ex Machina. Mereka yang berbalut Konsep Terkuat, dua orang ini yang makin kuat seiring Ex Machina mencoba menyesuaikan diri—
—atau begitulah yang telah mereka buat Ex Machina percaya selama ini—!!!!
“Mmm. Benar. Permainan ini sangat nggak menguntungkan—bagi satu pihak tertentu yang bukan kami.”
Sora menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang minta maaf setelah mengerjai seseorang. Sambil tetap bermain, tanpa sedikit pun tanda penyesalan, ia menjelaskan.
“Ada beban nggak masuk akal—di pihak kalian! Tapi jangan marah ya, oke?”
“…Itu, salah kalian sendiri…karena tertipu… Sebuah…kebenaran…purba…”
Jadi pada dasarnya: Einzig, Emir-Eins, dan semua Ex Machina lainnya, selama dua belas ronde dan 1.047 langkah, berniat menghitung yang tak bisa dihitung…
…hanya untuk menyadari bahwa mereka telah mengikuti petunjuk…
“T-tapi maksudmu apa, Master? Beban di pihak Ex Machina?”
“Hah? Maksudku ya seperti yang kukatakan. Kami bisa melihat semuanya dengan aturan ini.”
—Ya, seperti yang dia katakan. Mereka hampir tak memberi kami kesempatan menang dalam catur sejak awal, dan jika kami melakukan kesalahan—ya, kami akan kalah bahkan tanpa ulah mereka. Maka dari itu, jika
kami sengaja melakukan kesalahan demi menang, artinya kami memang akan melakukannya—
“Lihat, mereka hanya menyerang dengan efek ketika kotak-kotak yang relatif aman menyala!”
“…Dan mereka…selalu mengira, kami akan mengeksploitasi…gerakan itu… N00b…”
“Yang mereka lakukan cuma merespons kesalahan mereka sendiri dengan langkah terbaik, tahu? Mereka kami buat menari di telapak tangan
kami. ”
Kami mengira bahwa kondisi ketidakpastian ini bersifat timbal balik. Namun, di ronde kedelapan, Spieler berkata dengan penuh makna: “Kondisi kita berbeda.” Jadi ini maksudnya…? Apakah ini makna sebenarnya dari kata- kata itu—?!
Tidak!!
Memang, strategi kami didasarkan pada respons terbaik—strategi defensif. Tapi itu karena asumsi dasar kami bahwa peluang kami dalam catur sangat kecil! Karena mereka memiliki kekuatan yang begitu luar biasa, kekuatan yang benar-benar melampaui tingkat adaptasi kami, yang hampir mendekati tak terbatas!! Karena tidak ada kebohongan dalam pernyataan mereka, keyakinan mereka akan kemenangan mutlak!!!
Tapi strategi ini—strategi ini. Untuk memanipulasi apa yang kami adaptasi, apa yang kami baca, dan bagaimana kami akan beradaptasi…? Siapa yang akan menggunakan metode seperti itu? Beberapa—tapi bukan yang kuat—!! Lalu bagaimana? Bagaimana mereka bisa menipu kami—?!
“—Maaf ya, Ex Machina… Nggak ada cara kalian bisa ngalahin kami.”
Seolah membaca pikiran Einzig—tidak, sekarang Einzig mulai percaya bahwa memang begitulah adanya—Sora mengulang kata-kata yang ia ucapkan saat memenangkan ronde pertama, kata demi kata.
“Kami, kubilang. Ya, kalian nggak bisa ngalahin kami.”
Masih tak ada kebohongan yang bisa dideteksi dari kata-kata Sora. Yang bisa dirasakan hanyalah respons yang seolah mengatakan bahwa hal ini terlalu jelas untuk perlu dijelaskan.
“Ya iyalah. Soalnya kalian bahkan nggak sedang bermain melawan kami.”
“…Kesalahan…kalian…mungkin justru…penyelamat kami…”
—Kesalahpahaman…? Apakah yang ia maksud adalah cara pandang kami terhadap mereka sebagai inkarnasi kedua dari Konsep Terkuat? Tidak— bukan itu! Kata-katanya datang sebelum anggapan tersebut! Lalu, kesalahpahaman macam apa yang ia maksud?!
Lalu, pada kata-kata Sora berikutnya—
“Kalian pikir kutu kecil cupu seperti kami bakal ngasih handicap buat main lawan bot overpower rusak seperti kalian? Haha, kalian bikin aku ketawa.”
—Zshh.
“Kalian nggak tahu apa-apa—tentang kelemahan mutlak yang bikin kami terpaksa pakai cara seperti ini untuk menang.”
—Zshh… Lewat ingatan Ex Machina yang seharusnya rusak tak bisa diperbaiki, dan lewat pikiran mereka, sebuah sinyal berisik mengalir.
“…Satu-satunya hal yang bisa mengalahkan ‘Yang Terkuat’ adalah kebalikannya; ‘Yang Terlemah’.”
Definisi Sora tentang dirinya dan rekannya sebagai yang terlemah…
—Zshh, zshh.
…menjadi fokus Ex Machina di tengah kebisingan yang terus berlangsung.
“Maksudku, omong kosong yang nggak masuk akal seperti kalian nggak bisa dikalahin secara frontal.”
Benar. Mereka tidak bisa mengalahkan Dewa Perang, Konsep Terkuat, dengan kekuatan.
“Kalian nggak sadar itu. Kalian bahkan nggak membunuh Artosh. Jadi aku tahu kami akan bisa mendapat kalian.”
Ya—Dewa Perang, Yang Terkuat, telah dipuji sebagai musuh alami— bukan oleh Ex Machina. Tapi oleh…Spieler……dan—
SKAKMAT. PEMENANG: 「 」. ENAM KEMENANGAN.
“Hei, rongsokan bot cabul bermuka tampan sialan! Menurutmu, idol itu apa?” Dengan julukan yang agak panjang, Sora bertanya pada mereka yang tersesat dalam kenangan yang kacau. “Produser murahan mungkin akan bilang idol itu boneka sempurna yang menuruti ideal para pelanggan. Tapi!”
“…Tapiii…kami adalah…produser keren… Jadi, nggak!” Shiro, bersama Sora, menatap ke arah panggung, seolah tak peduli dengan jawaban dari Ex Machina.
“…Holou…akan jadi, apa yang dia inginkan… Itu saja…”
“Itu kepercayaan. Itu aspirasi bukan dari pelanggan, tapi dari manusia.”
Saat melayang di tengah kenangan yang berputar-putar, para Ex Machina memandangi keduanya. Dua orang yang dipuji oleh Yang Terkuat sebagai musuh alami, yang membanggakan kelemahan mereka.
“Jadi. Kalian tadi tanya bukti kalau aku bukan Spieler, kan?”
“…Itu…sederhana… Kalian…tahu itu…sendiri.”
Para Ex Machina mendengarkan, masih dalam pusaran mental.
“…Aku yang menentukan siapa diriku. Aku Sora—ini Shiro. Kami berdua adalah satu.”
“…Bersama, kami adalah 「 」… Definisi dari orang lain… nggak penting.”
Para Ex Machina mendengarkan dua orang yang mengatakan bahwa tidak peduli seberapa banyak mereka menganalisis Sora dan membuat definisi mereka sendiri. Bukan dua orang. Tapi satu gamer. Yang lalu berkata pada mereka:
“Nggak penting seberapa mirip aku dengan dia, bahkan kalau kami punya ingatan dan cinta yang sama. Aku bukan dia. Mau bantah itu? Maka pertama— ”
“…Kenapa, nggak ada…satu pun dari kalian, yang mengaku…dialah yang dicintainya…?”
…Ah… Para Ex Machina menutup mata mereka.
“Itulah kenapa kalian nggak mengikatku dengan cinta atau seks lewat Kovenan, kan?”
Einzig, Emir-Eins, dan semua unit Ex Machina akhirnya mencapai pemahaman itu…dan tanpa sadar, menundukkan kepala mereka dan tersenyum tipis.
“Aku mengerti… Jadi selama ini, mata kami hanya mengikuti bayangan…”
—Memang begitu… Kami takkan pernah bisa mengalahkan mereka. Tak ada cara kami bisa beradaptasi dengan mereka…karena mereka tak benar- benar ada. Kami bahkan tidak bermain melawan dua orang ini…tapi melawan bayangan buatan kami sendiri. Kami mengejar ekor kami sendiri, bertinju dengan bayangan… Betapa konyolnya kami terlihat.
Lalu terdengar suara yang menandakan dimulainya ronde ketiga belas sekaligus terakhir. Intro, bait pertama dari lagu ketiga belas, nomor terakhir. Musik memenuhi udara saat Einzig bergumam pada dirinya sendiri…
Tapi kalau begitu…kami ini…sebenarnya……apa…?
Lagu ketiga belas. Lagu terakhir. Satu gerakan dari Sora dan Shiro telah mengembalikan cahaya dan suara ke panggung—dan itu saja yang mereka butuhkan. Lagu Holou tak lagi memerlukan perlengkapan Ex Machina untuk membuat semua orang mabuk kepayang. Sora dan Shiro telah mendorong dua orang lagi ke atas panggung dengan kata-kata “Udah sana, senang-senang”— kasar, tapi tampaknya mereka menikmatinya. Percaya atau tidak, Steph bisa
menari, dan Jibril melayang-layang di udara menyebarkan cahaya yang tidak mematikan. Saat venue menyatu dalam sebuah penutupan besar nan bahagia, di belakang panggung, suasana sunyi seperti dasar laut.
Ronde ketiga belas. Kontes terakhir. Dengan senyum licik, Sora dan Shiro telah menunjukkan pada Ex Machina bagaimana mereka telah menuntun mereka seperti sapi dicocok hidungnya. Tapi, selama ini, tak satu pun ronde, tak satu pun langkah yang mudah bagi mereka. Mereka menentukan apa yang harus diasumsikan Ex Machina, bagaimana Ex Machina harus beradaptasi, tanpa membiarkan mereka menyadarinya, dan mengeksploitasi gerakan yang mereka ciptakan. Mereka memanfaatkan kebohongan yang diceritakan Ex Machina pada diri mereka sendiri, bias dari mereka yang menolak kenyataan tanpa Spieler. Ini memberi celah, cacat fatal dan tetap saja, ini adalah tantangan yang benar-benar menghancurkan. Membaca, bit demi bit, “hati” mesin transenden dan menuntunnya. Tak perlu ditanya kenapa mereka menghadapi tantangan luar biasa seperti ini. Karena mereka benar-benar tidak bisa melangkah lebih jauh. Bahkan 「 」 pun tak bisa mengalahkan Ex Machina secara langsung.
Namun, sekarang mereka telah membocorkan semuanya. Kini Ex Machina telah memperbaiki analisanya atas dua belas ronde dan 1.082 langkah sebelumnya untuk mengungkap identitas sejati dua orang di depan mereka, untuk beradaptasi dengan Sora dan Shiro. Sekarang kakak beradik itu harus mengurung diri dalam pertarungan perhitungan langsung melawan hiperkomputer, untuk melangkah lebih jauh dari yang mereka bisa. Kemungkinannya adalah, Sora dan Shiro akan kalah di ronde ketujuh. Mereka akan kalah dalam pertandingan. Kalah dalam permainan.
—Di sinilah semuanya jadi nyata. Sora dan Shiro menguatkan hati. Tapi…
“…Hmm. Kalian berhenti bergerak di tengah permainan… Boleh aku bertanya kenapa?”
Di balik panggung. Saat ronde ketiga belas dimulai, bidak-bidak masih mengeluarkan suara, meski cukup tenang. Tapi lalu Ex Machina berhenti sepenuhnya, tangan mereka terhenti. Dan saat itulah suara Sora bergema. Keheningan itu berat, menekan…namun dingin dan pasrah—ini adalah keheningan yang Sora dan Shiro kenal baik.
—Itu adalah keheningan dari keputusasaan.
“…Izinkan aku mengembalikan pertanyaanmu. Tidak ada giliran… Kenapa kalian tidak bergerak?”
“Hmm, pertanyaan bagus… Mungkin karena, ya, apa gunanya ngalahin gamer gagal yang nyerah di tengah permainan?”
“…Izinkan aku sekali lagi mengembalikan pertanyaanmu. Apa gunanya…dari kemenangan kami?”
Einzig tersenyum, tapi keberaniannya yang biasa lenyap. Kini dia benar- benar—hanya mesin. Hanya boneka—tidak, bukan hanya Einzig. Ex Machina lainnya mengikuti nadanya.
“Kau bukan sang Spieler. Apa yang kami dapat dengan menang?”
…Yeah, aku sudah tahu itu, kata Sora dalam hati, menggertakkan gigi. Dia tahu bahwa membuktikan itu saja cukup untuk membuat mereka memilih kehancuran.
“Kami tidak akan mendapatkan apa pun. Kami hanya akan punah. Maka—kalianlah yang harus menang.”
Dia tahu apa yang akan terjadi jika dia membuktikan bahwa dia bukan Spieler. Dia tahu semuanya akan jadi begini—masalah yang benar-benar putus asa.
“Kalian berdua harus menang. Tidak—kau yang harus—Nachfolger. Maka, Ex Machina Piece tidak akan lenyap.”
Dia juga tahu bahwa Ex Machina akan menolak permainan ini! Dan
dengan mengetahui semua itu, Sora menjebak mereka sejauh itu!
“Kalian pasti tahu ini dan menjebak kami untuk memaksa kami bereproduksi dan meninggalkan cinta. Kami memaksakan pilihan yang sulit pada kalian. Kalian benar memutuskan bahwa ini adalah keselamatan kami. Kami percaya bahwa kalian bisa menggunakan kami—”
WHONK.
Sora membanting sebuah bidak sekeras mungkin hingga seolah ingin menghancurkan papan catur, memotong ucapan Einzig.
—Jadi!! Di sinilah semuanya jadi nyata—!!
“…Hei, bot cabul. Kenapa kau harus gaya seperti itu?”
Sebuah kotak menyala, dan serangan efek Sora mengubah musik dan menyemburkan pusaran cahaya. Akhir bahagia penuh keluarga besar kini berganti dengan klimaks badass. Sorak-sorai dari penonton membakar ruangan. Sora dan Shiro menatap papan yang terhenti, kini condong ke pihak mereka, dan memberi tahu Einzig:
“Berhenti ngoceh dan tunjukkan yang terbaik. Kau nggak perlu berhenti.”
“…Kami bakal…menang…dan kalian bakal…kalah juga. ♥”
—Heh. Einzig tersenyum seolah sudah menyerah pada segalanya. Pikiran paralel dari semua unit Ex Machina memaksa tangannya bergerak dan menggerakkan sebuah bidak berdasarkan konvensi yang tak dikenal Sora dan Shiro. Itu adalah konvensi yang sangat tepat, luar biasa sempurna, yang akan menyesatkan keduanya menuju kehancuran mereka.
—Ya. Dulu. Sampai sekitar dua detik yang lalu. Tapi sekarang itu jadi masa lalu. Peristiwa sesaat itu membuat Einzig sedikit mengernyit. Sora dan Shiro melihat ini dan berkata padanya:
“Oi kalian, memori kalian baik-baik aja? Beradaptasi tak terbatas, pantat!”
“…Iklan palsu… J*RO bakal…gugat kalian… Kami, sudah bilang.”
Ex Machina bergerak dengan presisi tiada tara, menelusuri setiap konvensi seolah langsung menuju masa depan. Sora dan Shiro memprediksi tiap konvensi seakan sedang menghirup napas, dan membalikkan semuanya dengan sebuah penemuan seakan sedang menghembuskan napas. Ex Machina langsung beradaptasi dengan tiap penemuan dan membalikkan semuanya dengan penemuan baru. Lalu Sora dan Shiro menghancurkan tiap penemuan baru itu hanya dalam satu langkah, seolah berkata bahwa itu bukanlah penemuan sama sekali, dan mengembalikan mereka ke atas.
Tampaknya Einzig dan para Ex Machina akhirnya paham. Sora dan Shiro menyampaikan lagi, dengan senyum lelah yang berkata, Ayolah, sadarlah betapa susahnya ini buat kami.
“Kalau kalian…pikir, bisa ngalahin…「 」… ♥”
“Kabar terbaru! Dengar baik-baik! ♪”
Dia dan Spieler, Sora, telah mempertahankan gaya yang sama sambil bertindak garang. Selama dua belas ronde, di mana Ex Machina terus beradaptasi dan belajar darinya.
Tiga belas ronde. Ini yang terakhir. Dan inilah, gaya sebenarnya milik Sora dan Shiro—alias 「 」. Mereka sudah tahu bahwa mereka mungkin hanya punya satu kesempatan melawan para penyesuai ini untuk benar-benar menghajar mereka.
Semua itu dilakukan demi menyembunyikan gaya ini. Itulah perjuangan terbesar mereka.
“Silakan coba kalahkan kami apa adanya. Karena kalian tetap akan gagal.”
“…Tunjukkan…semua yang kalian punya… Kami akan, layani kalian!”
Menyerah? Tidak akan sudi mereka menerima akhir yang membosankan seperti itu. Yang akan mereka terima hanyalah kemenangan mutlak. Tidak ada yang lain yang bisa ditoleransi.
—Ayolah, Ex Machina. Lawan kami, bukan ilusi kalian. Dan saksikan kami membantai kalian habis-habisan. Begitulah senyum buas Sora dan Shiro berbicara…dan pada saat yang sama, mereka melihat api mulai menyala di
mata para Ex Machina
……
“…‘Spieler’ yang kalian kira itu aku—boleh aku tebak siapa dia?”
Saat tangan-tangan yang bersilangan di atas papan catur akhirnya kembali mendekati kecepatan semula, Sora mengutarakan alasannya, seolah sedang ngobrol, seolah berpikir di dua alur paralel.
“Dia itu orang yang mengakhiri Perang… Gamer super ultra über-keren itu, kan?”
“…………”
Menafsirkan diamnya Einzig sebagai ya, Sora mengangguk. “Kalau begitu masuk akal.” Jibril pernah bilang bahwa Immanity menggunakan Ex Machina untuk mengakhiri Perang Besar. Masih misteri bagaimana caranya, tapi intinya—
“Ex Machina nggak ‘dipake’. Kalian cuma membantu pria yang kalian cintai.”
Sora tidak tahu detail pertukaran itu. Tapi seorang Ex Machina bernama Preier mencintai seorang Immanity bernama Spieler. Cinta itu—keinginan itu, kehendak itulah—yang dibagikan ke semua unit, diwariskan. Emir-Eins pernah menyebutnya sebagai harapan milik Preier.
Harapan demi terwujudnya harapan orang yang ia cintai… Ya— untuk mengakhiri Perang.
“Tapi pria itu mati…tepat saat Perang berakhir… Kalian membiarkan dia mati.”
“…Tak ada kata yang bisa mengungkapkan keterkejutan ini… Bagaimana kau tahu semua ini…?”
Para Ex Machina bingung oleh wawasan ilahi itu, tapi Sora melanjutkan dengan canggung.
“Ah, bukan apa-apa sih… Cuma karena Emir-Eins bilang dia itu, uhh, model baru… Masih perawan…”
Reproduksi yang hanya diizinkan untuk Spieler. Terkunci secara perangkat keras…?
“Kalau dia masih hidup, dia pasti ‘pakai’ dia, kan?! Setidaknya sekali!! Maksudku, bahkan aku juga, eh, sudahlah, lupakan saja.”
Tatapan tajam Shiro menghentikan Sora—tapi dia bisa menebak apa yang terjadi. Perang berakhir mendadak, berkat satu orang. Tapi orang itu bukanlah Satu-satunya Tuhan Sejati (Tet). Dia mati di akhir, jadi pasti pasangannya lah yang membiarkan—Tidak. Sora sadar dia sedang bersikap kurang ajar dan mengubah arah pikirannya. Pasangannya telah gagal melindungi pria yang dia cintai… Pasti itu alasannya.
“Dan lagi…kalian mengkhianati dan membohongi pria yang kalian cintai.”
——.
Tangan Einzig dan semua Ex Machina terhenti sejenak. Tapi Sora terus berbicara dengan tenang, tangannya sendiri masih bergerak liar.
“Pria itu ingin mengakhiri Perang Besar tanpa satu pun pengorbanan. Tapi kalian menentang kehendaknya… Kalian membunuh banyak orang. Lebih dari setengah kaum Flügel. Mungkin yang lain juga. Termasuk, ironisnya, diri kalian sendiri.”
Ex Machina terus bermain dalam diam, namun dengan tangan yang gemetar, mata yang mengembara. Memperlihatkan emosi yang jelas kebingungan bercampur kegelisahan. Karena ucapan Sora? Atau karena mereka tidak mampu mendominasi dia dan Shiro?
“Apa yang terlintas di pikiran kalian saat Perang berakhir… Di luar imajinasiku.”
Sungguh ironis, begitu pikir Sora dan Shiro. Hati manusia begitu tak logis sampai mereka menciptakan logika untuk menemukan matematika. Inti para mesin ini begitu logis sampai mereka mengagumi ketaklogisan untuk menciptakan sesuatu yang disebut “hati.” Sebuah ras mesin, komputer transenden yang akan menertawakan mesin Oracle, dan ujungnya—mereka berakhir sama seperti manusia. Jadi ya…semuanya omong kosong. Kehendak Ex Machina, yang disadari Sora dan Shiro di bulan. Makna dari mesin yang punya hati… Masalah yang membuat mereka menunggu penuh harapan selama enam ribu tahun demi cinta tak berbalas, hingga ke ambang kehancuran mereka… Beban bagi mereka yang memiliki hati selalu sederhana dan penuh omong kosong—
—Tulus. Dan suci, dan penuh omong kosong… Ya…
“…Penyesalan? Rasa bersalah? Frustrasi?”
Mungkin semuanya, atau mungkin tidak satupun, pikir Sora. Ini adalah masalah dari “hati”…yang berarti bahwa itu pasti tak logis, tak terbagi, dan abstrak. Tapi, jika ia harus merangkumnya dalam satu kalimat, maka pasti ini:
“…Kukira kalian hanya ingin melihatnya sekali lagi.”
Lalu, mereka pun muncul di hadapan Sora. Saat dia mengalahkan Holou—seorang Old Deus—tanpa membunuhnya.
“Jadi kalian berpikir, lain kali. Saat kalian menemukan seseorang yang bisa melakukan apa yang dulu tak bisa kalian lakukan.”
Lalu, mungkin, mereka pasti…
“Kalian menunggu, berpikir, lain kali, saat ada pria yang bisa mengalahkan dewa tanpa membunuh, maka pasti dialah orangnya.”
Spekulasi Sora yang dibumbui dugaan itu dikonfirmasi oleh keraguan di mata mereka.
Meski mereka tahu pria itu telah mati, dan bahwa siapa pun pria lain yang mirip dengannya, dia bukanlah orang yang sama. Meski mereka tahu bahwa Sora bukanlah Spieler yang dicintai Preier… Meski mereka tahu bahwa mereka bukanlah Preier yang dicintai Spieler—dan bahkan jika mereka tahu bahwa bukan merekalah yang mencintai Spieler… Tetap saja…
Mesin-mesin ini dengan “hati”, yang mampu berbohong… Sora berpikir, mereka benar-benar luar biasa. Sampai-sampai berani berbohong pada diri mereka sendiri… Apakah mereka benar-benar harus semirip itu dengan manusia…?
Sora menghentikan alur pikirannya.
—Itulah kenapa…dia harus menjauhkan mereka.
“Lalu apa? Mesin-mesin dengan otak mabuk cinta yang dipacu penuh itu? Apa yang mereka katakan waktu itu?”
Dia menahan sakit di hatinya dalam diam dan menetapkan garis batas.
“Seperti, terima kasih sudah menjebak kami dan memaksa kami bereproduksi; merci sudah mencegah kepunahan ras kami dan skakmatin dunia; thx sudah peduli sama hati kami yang hancur; silakan pakai kami sesuka kalian?”
—Dia harus menjauhkan mereka—!!
“Kenapa kalian harus berpura-pura dan menutupi ‘hati’ kalian begitu?! Gaya macam apa itu bagi para alternatif seksual otomatis berkaki seperti kalian?!”
Ya—setelah mengejek sampai ke batas zona ejekan, Sora mengeluarkan tawa Ha! yang lantang dan berteriak.
“Oi, LOL! Bilang dong—apa yang ada di ‘hati’ Ex Machina?!”
Itu adalah provokasi yang jelas, sebuah tipu daya, semua orang bisa melihatnya. Tapi apakah mereka menilai bahwa mustahil untuk membongkar semua tangan 「 」 di ronde ini, ataukah mereka merasa unggul dalam hal kecepatan proses pada respon terburuk—
—Tidak…
“Baiklah… Kami akan memberi tahumu… Kami akan menjawab pertanyaanmu, Nachfolger—!!”
Alasan yang rasional semacam itu, logika seperti itu…tentu bukan yang ada di pikiran mereka. Mata menyala oleh amarah, Einzig menghantamkan serangan efek dan mengaum kepada “Penerus” saat lingkungan sekitar mereka berubah mengikuti kata-katanya…
“Kami melucuti ether Artosh dan mengakhiri Perang—dan yang tersisa—?!”
—Tidak ada! Tempat itu menjawab dengan berubah menjadi kehampaan—putih seperti selembar kertas. Seolah berkata bahwa tak ada surga maupun bumi, atau hukum apa pun yang berarti. Para penonton, Sora dan Shiro, semuanya melayang di angkasa saat lagu terus bergema.
“…Ada Sepuluh Kovenan. Dan Ixseed. Dan—kehendakmu.”
—Dunia ini yang tersisa. Dengan senyum damai, Sora membalas dengan serangan efek yang melukis kanvas kosong itu menjadi penuh warna psikedelik. Bidak-bidak menjulang di cakrawala nan jauh samar saat enam belas benih terbang ke sana kemari di atas dunia itu. Sementara mereka melayang melihat ke bawah, kerumunan pun bersorak.
“Ya, masih ada dunia yang telah menginjak-injak kehendak kami!! Dan merampas cinta kami—!!”
Itulah simbol dari penyesalan mereka. Perasaan mereka, cinta mereka telah dipinjamkan hanya untuk direnggut kembali, ratapan dari langkah para
mesin yang menghapus semua enam belas benih yang melintasi planet psikedelik itu, semua bidak di cakrawala.
“Itulah kenapa kalian berkata, lain kali, lain kali, dan menjadikan perasaan itu sebagai kehendak untuk dilampaui oleh para penerus.”
Dari orang ke orang, dan lintas ras, langkah Sora mengembalikan benih- benih yang telah lenyap dan Immanity. Mereka berkumpul, membentuk bangsa-bangsa, dan menutupi dunia. Seolah-olah Perang baru saja usai dan dunia yang terbentang di bawah mereka sedang dibentuk ulang.
“Dan kami tetap ada, tumpukan rongsokan yang menggelikan, setelah mengkhianati kehendak itu, membohongi diri sendiri dan tertidur, dengan mimpi-mimpi yang takkan pernah terwujud…!”
Perasaan maupun kehendak mereka tidak diwariskan. Mata mereka bertanya apa makna keberadaan mereka, para pemilik cinta yang bukan milik mereka, para pemimpi yang menunggu seseorang yang tidak mencintai mereka. Tatapan tembus pandang, tak terhitung jumlahnya di ruangan belakang itu, memantulkan mereka yang telah mereka bunuh atau biarkan mati.
“Grk! Sh-Shiro! Aku nggak bisa bantah kalau mereka konyol! Lihat aja ini orang aneh!”
“…Jangan nyerah, jangan nyerah…! Kalau kau kalah debat…kita, tamat…”
Tapi semua itu tidak menghentikan Sora dan Shiro untuk tetap bertingkah konyol.
Adegan berganti dengan kecepatan membingungkan. Efek menyala dengan ganas. Mereka saling membaca terlalu dalam untuk bisa saling memancing. Ini telah menjadi permainan tentang siapa yang bisa membaca lebih jauh dan merespons lebih cepat—persis medan favorit Ex Machina. Namun, Ex Machina… Sebenarnya, Sora dan Shiro sendiri malah lebih terkejut: Mereka berdua seimbang— Tidak, bahkan sedikit unggul dari Ex Machina.
Sora mempercayai intuisi dan bermain berdasarkan tebakan yang bahkan tak ia pahami sendiri. Shiro mempercepat perhitungannya dan menyusun konvensi untuk merasionalisasi penemuan Sora.
Sinergi antara deduksi dan induksi. Perpaduan antara perasaan dan logika. Tak ada trik yang bisa berhasil dua kali pada Ex Machina. Mereka selalu mengungkap semuanya di kali pertama. Ketidakmenentuan merekalah yang memberi keunggulan kecil atas daya proses Ex Machina. Ex Machina pun goyah.
“…Tapi, bagaimanapun juga!! Itu karena kalian sampah!! Lelaki macam apa yang menyalahkan faktor eksternal atas kegagalannya sendiri?!”
“…D-dan, uh…! Gimana kau tahu kalau, itu…‘takkan pernah terwujud,’ hah…?!”
Candaan lanjutan Sora dan Shiro sambil mandi keringat dingin membuat proses Ex Machina melambat.
“Maksudmu…mungkin bisa terwujud? Ah… Maka biarkan kami mewujudkannya…!!”
Adegan terus berubah, sesuai kehendak Ex Machina. Mereka berharap pada Spieler, idealnya. Tapi mereka memperlihatkan perasaan yang selama ini mereka bohongi diri sendiri demi percaya bahwa mereka bisa bertemu dengannya lagi.
“Maksudmu bahwa semua kerja dari ‘hati’ kami punya makna— bahwa kami mungkin bisa ditebus—?!”
Ya… Intinya, hanya itu. Omong kosong… Tapi juga sakral, harapan ini. Mereka menolak bereproduksi, menerima kepunahan, dan tetap maju menuju Sora. Untuk bertanya pada Sora—yakni, Spieler—akankah ia menerima mereka…? Mereka telah membohonginya, mengkhianatinya, mempermainkannya, membunuh dan dibunuh dan akhirnya membiarkan mati. Bisakah mereka tetap hidup di dunia ini? Bisakah dia memaafkan mereka? Itu tak ada hubungannya dengan logika.
Mereka hanya…tenggelam dalam penyesalan. Itu adalah harapan dari mesin-mesin yang tak lagi tahu harus berbuat apa— Tidak, dari hati mereka: Tunjukkan kami jalan.
Dan itulah mengapa Sora menolak mereka dengan senyum. Itu bukan sesuatu yang pantas ditanyakan padanya. Bahkan bukan sesuatu yang pantas ditanyakan pada Spieler.
“Mana kutahu… Itu pertanyaan yang harus kalian jawab sendiri, kan?”
Sora melihat, dan Ex Machina pun demikian…pada apa yang telah mereka ciptakan lewat hiruk-pikuk efek mereka. Itu adalah sesuatu yang…mereka sendiri—mesin dengan hati—telah ciptakan: dunia ini. Dunia di mana segalanya ditentukan oleh permainan—Disboard terhampar di bawah mereka. Di atas panggung, seorang Old Deus bernyanyi dan menari. Seorang Flügel melayang di langit saat seorang Immanity menari anggun. Di tengah kilauan yang berputar, para penonton multiras meriah menyambut idola dari berbagai ras. Wajah mereka semua…tersenyum.
“Apakah itu punya makna? …Kalian sendiri yang harus menemukannya, kan?”
“…Apakah kalian, ditebus…? Kalian harus…menebus diri…sendiri…”
Bahkan Sora dan Shiro saat berbicara, bahkan Ex Machina yang terpantul di mata mereka memiliki wajah yang sama. Ex Machina menyadari bahwa, entah sejak kapan, dua orang yang bersaing sengit dengan mereka telah membuat mereka bersinar.
—Ya. Di dunia ini…kalian bisa menertawakannya.
“Yang bisa kalian lakukan hanyalah menjadi apa yang kalian inginkan, dan mewujudkannya.”
“…Kami, menaruh harapan…pada harapan kalian. ♪”
—Karena kalian tak bisa berubah. Kalian harus berkompromi dan terus melangkah.
“Jadi. Hei. Sebagai referensi aja…pendapat pribadi kami—”
“…Dunia ini nggak buruk, kok… Itu…yang kami…pikirkan…setidaknya.”
Merekalah yang telah berkorban begitu besar demi menciptakan dunia ini. Dan mungkin pria itu (Riku) tidak mati dengan damai. Ia pasti pergi dengan banyak penyesalan dan frustrasi. Sora dan Shiro tak punya tempat untuk berkata apa pun padanya, atau pada mereka yang diliputi rasa bersalah setelahnya. Tapi mereka hanya bisa mengatakan pada Ex Machina apa yang pertama kali mereka pikirkan saat tiba di dunia ini. Dengan rasa syukur. Ya:
“Lain kali. Kali ini. Kami akan menang. Itulah yang dunia ini buat kami rasakan.”
Papan catur, setelah mengumumkan kemenangan ketujuh Sora dan Shiro, berhenti seolah rusak. Dan ke atas panggung kemenangan itu mengalir sorak tepuk tangan yang membara…
“Jadi! Itu pendapat kami, tapi, Ex Machina—bagaimana dengan kalian?”
Setelah memberikan segalanya, Sora dan Shiro mandi dalam sorotan kemenangan dengan senyum lelah. Konsentrasi ekstrim telah membakar otak mereka, dan tubuh mereka terasa berat seolah berkarat…tapi selain itu pun—
…Jika ada ronde keempat belas…mereka takkan menang. Mereka yakin akan hal itu. Dan karena itu, dalam senyum Sora dan Shiro justru terasa semakin dalam kebahagiaannya.
—Lain kali, kalian bisa mengalahkan kami…gimana?
Wajah mereka seolah mengatakan itu, membuat Einzig dan para Ex Machina menutup mata dan tertawa…terbahak…
ONE-TURN END
Istana Kerajaan Elkia: ruang tahta. Sudah sepuluh hari berlalu sejak tempat ini berubah menjadi area konser. Namun kini, seolah semuanya hanya mimpi, keadaan sebelumnya telah dipulihkan seperti baru. Tahta telah kembali ke posisi yang, menurut Steph, adalah posisi yang semestinya, sarat dengan tradisi luhur. Juga kembali ke posisi mereka yang semestinya—
"Hmm... Menurutmu, giliran ini sudah hampir selesai?"
"...Sebentar lagi... Mungkin...tiga hari lagi...?"
—sedang bermain dengan tablet mereka, duduklah raja dan ratu Elkia, Sora dan Shiro, yang sama-sama mengeluh.
...Gilirannya seharusnya hampir selesai... Pemain lain seharusnya sudah hampir selesai juga. Mereka mengingat kembali giliran yang mereka lewati, yang hampir tak bisa disebut sebagai waktu istirahat...
Mereka tak punya apa-apa untuk dilakukan. Mereka mendedikasikan giliran itu untuk memproduksi Holou. Namun, semuanya jadi lebih gila dari yang diperkirakan karena tamu yang mengejutkan: Ex Machina. Tapi begitu permainannya selesai... Ex Machina pergi entah ke mana tanpa sepatah kata pun. Tentu saja. Mereka memang tidak pernah membuat mereka bersumpah menjadi sekutu. Mereka hanya membuat mereka bersumpah untuk meninggalkan cinta mereka, dan berkembang biak agar tidak punah. Hanya itu. Mereka bebas pergi ke mana pun mereka mau. Mereka bisa kembali sebagai musuh jika mereka mau. Mereka bebas.
—Tapi itu juga keren, sih. Sora dan Shiro tersenyum sendiri. Jika Ex Machina kembali atas kehendak sendiri dan menantang 「 」 dengan sungguh-sungguh... mereka akan menyambutnya.
Meski begitu, mereka tetap ditinggalkan dengan buah luar biasa dari kekuatan Ex Machina.
"...Soraaa... Shirooo... Barang dagangannya hampir habis terjual..."
Seorang gadis pengangkut barang yang tampak kelelahan tiba di ruang tahta— Ehem. Steph dengan pakaian kerja. Sora menatap matanya dan langsung menjawab.
"Heh, jangan khawatir. Cetakan kedelapan belas seharusnya segera tiba! Jual semua itu!"
Benar sekali—pertunjukan Holou begitu sukses legendaris, barang dagangannya laris manis. Meski memang harus diakui—
"...Yang kita punya cuma cetakan blok dan buku cetakan blok Holou... Nggak bisa bikin yang lain?" keluh Steph.
Saat ini, Elkia tidak memiliki teknologi untuk membuat sesuatu yang mengesankan. Faktanya, mereka sudah melakukan berbagai hal tak masuk akal hanya untuk membuat pin-up dan album ini. Secara spesifik, mereka memotret Holou dengan ponsel mereka, meminta Jibril membuat blok dengan sihir, dan mulai memproduksi massal prototipe cetakan yang telah diteliti oleh Akademi, yang kemudian diwarnai oleh para seniman... Dengan kata lain, ini semua adalah puncak dari teknologi dunia lain, sihir, dan penyalahgunaan kekuasaan negara. Steph merasa ngeri dengan komersialisasi gila-gilaan dari kerja keras dan tipu daya ini, tapi bahkan begitu, dia tetap bertanya-tanya:
"Aku ingin sekali mendengar lagu-lagu Holou lagi... Tidakkah kalian akan menjualnya?"
Ya... Steph, yang telah jatuh cinta pada lagu Holou, ingin atau lebih tepatnya, semua orang sangat ingin mendengarnya bernyanyi lagi. Elkia sudah tergila-gila dengan album foto. Meskipun Elkia tidak memiliki teknologi atau media rekaman audio. Tapi pastilah Jibril bisa membantu Kerajaan Elkia—
"Mmm... Begitukah menurutmu? Semua orang juga berpikir begitu. Aku juga."
Pastilah Persemakmuran Elkia bisa melakukannya. Sora mengangguk pada usulan Steph.
"Tentu saja akan kami jual. Kalau hanya demi kesempatan untuk menghancurkan agensi idol dari Eastern Union. ♪"
"...M-maksudmu...?"
Senyum jahat Sora yang berlebihan membuat Steph mundur selangkah, namun dia dan Shiro berdiri dari tahta dan mulai mengoceh.
"Miko menghadiri pertunjukan itu. Tentu kau tak mengira itu kebetulan?"
"...Kami mengundang, banyak tokoh penting, dari Eastern Union... Terutama...yang terlibat...dalam industri idol..."
"? Untuk apa?" tanya Steph pada kakak beradik itu yang berjalan tanpa arah. Dan kemudian...
"Heh, heheheheheh, kau nggak mengerti? Baiklah—akan kami jelaskan!"
Sora dan Shiro menjentikkan tumit mereka dan mengungkapkan rencana mereka—!
"Konser Holou menarik ribuan penonton. Tapi! Reputasinya telah menyebar ke seluruh Persemakmuran!!"
"...Kabar, menyebar secepat kilat... Album gambar... laku keras...!"
"Tapi tebak apa! Nggak ada yang punya video atau audionya! Maksudku, kita bahkan nggak tahu cara bikin itu!"
Tak ada profesional bisnis sejati yang akan melewatkan kesempatan meraup uang. Jadi—!
"Semua bisnis di Eastern Union yang dulu menolak memberi kami peralatan akan datang mengetuk pintu untuk ambil audionya!"
"Oh! Jadi kamu akan berdamai dengan mereka yang—"
"Tapi kami akan bilang tidak!! Minggir! Pergi sana! Kami akan menolak dengan sopan dan membanting pintu di muka mereka—!!"
"...Kami akan bilang, balik ke masa lalu...lalu tertawa terbahak- bahak...mengejek...dan menunjuk!"
Steph pikir dia sudah memahami semuanya, sampai Sora dan Shiro memenuhi istana dengan teriakan bahwa dia salah besar. Sora terus beraksi secara teatrikal dan konyol, membuat Steph kebingungan.
"Apaaan? Maksudku, coba pikirkan, mencoba menjilat para petinggi; Kuuhaku Productions itu, seperti jauuh di atas level mereka! Kalian sudah cuekin Holou, dan sekarang dia punya kami! ♥ Dan pas kalian lihat dia sukses besar, langsung sok akrab dan ramah? Astaga!! Itu suuuper murahan! Kalian itu, seperti, menjijikkan sekali, tahu?? ♥"
Tak ada yang lebih menyedihkan dari cara Sora menirukan gaya bicara remaja stereotipikal. Shiro dan Steph ingin sekali mengatakan itu padanya, tapi mereka memilih menunggu kesimpulannya. Ia duduk kembali di tahta, menyilangkan kaki, dan menyampaikan kesimpulan dengan angkuh.
"Maksudku... kalau kalian tandatangan kontrak eksklusif dengan Kuuhaku Productions, mungkin kami bisa pertimbangkan."
"...Tapi apa benar ada yang mau menerima syarat seperti itu?"
Tak peduli berapa banyak pendapatan yang bisa diperoleh, tak mungkin sepadan jika harus memutus semua kontrak lain hanya demi Holou, argumen Steph, tapi Sora menyatakan:
"Tentu mereka mau. Soalnya Kuuhaku Productions akan jadi agensi idol terbesar di seluruh Persemakmuran."
Lagu dari para Siren, keahlian para Elf, teknologi dari dunia lain: jenis musik yang benar-benar baru! Di bawah tangan kuat 「 」, para pemersatu ras dan produser Holou!! Setidaknya sebagian dari para tokoh industri yang mereka undang pasti akan berpikir seperti ini. Dan sejujurnya, mereka hanya peduli pada sebagian dari mereka. Maksudnya adalah—! Wahai para produser yang jiwanya dipenuhi ambisi! Jika kau adalah produser yang jiwanya membara demi membawa idolmu ke puncak yang lebih tinggi—
—kalian harus beralih setia kepada Kuuhaku Productions!!
“Berkumpullah, wahai rekan-rekan, di bawah panji Kuuhaku Productions, bersama para gadis-hewan kalian!!”
Sora menatap ke langit, merentangkan tangan, dan memanggil rekan- rekannya, para pahlawan, untuk bergabung dengannya.
"...Semua idol...jasmani... dan produser dari Eastern Union...adalah milik kita...!"
Dan dengan sebuah huff, Shiro duduk di pangkuannya—untuk menegaskan maksud mereka.
Mereka akan melahap agensi-agensi dari Eastern Union. Talenta mereka. Pasar mereka. Mereka akan melahap semuanya. Tarif? Hapus saja itu! Keringanan pajak, pengecualian khusus sebanyak mungkin! Kalian akan melihat akibatnya kalau melawan Kuuhaku Productions. Tubuh kalian akan mengingat harga yang harus dibayar karena menentang pemerintah!
"...Kelicikanmu benar-benar bisa diandalkan, sampai-sampai bikin kepalaku sakit..."
"Tapi!! Itu baru permulaannya...!"
Sora dengan berani mengabaikan Steph dan menyampaikan ambisinya yang agung, tujuannya yang tiada akhir!
"Nggak lama lagi, kita akan memasang perangkat relay nggak cuma di seluruh Elkia dan Eastern Union, tapi juga di seluruh Persemakmuran!!"
Seperti televisi atau radio. Mereka akan membuat lagu Holou bergema di seluruh negeri!
"Bahkan teknologi gabungan dari seluruh Persemakmuran Elkia belum mampu mewujudkan ini… Tapi—"
Mata Sora menyala dengan ambisi untuk mewujudkannya—
"Ohhh! Ahhh… Wahai kekasih… Mengapa kau begitu dingin…?"
—dan tiba-tiba menangkap pantulan sosok rongsokan tak menyenangkan yang muncul di hadapannya, hidung berhadapan, jari mengangkat dagu Sora, gigi berkilau.
"Kau menginginkan perangkat seperti itu… Heh, tantangan seperti itu bukan apa-apa di hadapan kekuatan cintaku."
"Apa kita nggak punya sumber daya lain?! Hei, kenapa kau masih di sini sih?!"
—Aku sempat bilang kalau Ex Machina sudah pergi ke suatu tempat. Maaf, aku bohong. Dengan sangat menyesal, masih ada satu unit yang tertinggal di sini entah kenapa, dan itu adalah Einzig.
Tapi kemudian…kalau dipikir-pikir, sayang juga kalau Ex Machina pergi. Bagaimanapun, kekuatan mereka cukup untuk mengurus semuanya, karena mereka adalah peralatan panggung yang sempurna. Faktanya, sudah ada rencana untuk benar-benar membawa mereka ke dalam Persemakmuran di masa depan—
"Kenapa? Hmm… Apa yang perlu dipertanyakan dari seorang pria yang ingin tetap di sisi orang yang dicintainya?!"
"Berapa kali harus kukatakan padamu, aku—bukan—pria—mu! Kupikir aku sudah mengikatmu dengan Kovenan untuk meninggalkan—"
"Tidak. Kini aku mengerti. Kau bukan Spieler… Kau adalah Sora." Einzig tersenyum seolah menerima segalanya dengan penuh perasaan. "Tenanglah hatimu. Karena cintaku murni dan tulus—aku jatuh cinta pada dirimu!!"
"Itu justru bikin hatiku makin nggak tenang!!"
—Kenapa? Kenapa harus dia? Biasanya cewek yang masih ada di situ. Setidaknya, itu bukan jenis kalimat yang biasa kau dengar dari seorang cowok!! Sora mengutuk dunia ini yang mengkhianati semua harapan suci yang diberikan budaya geek padanya.
"...Aku harus minta maaf. Aku akan merepotkanmu sekali lagi saja, karena enggan berpisah. Akan menjadi kehormatan bagiku jika kau bersedia memakluminya." Nada Einzig berubah menjadi sendu. Namun, ia mengakhirinya dengan senyum yang bahkan lebih cerah. "...Aku akan mengikuti unit-unit lain—kembali ke markas kami." Berbalik dengan langkah mantap, Einzig berkata dengan suara mantap, "Reproduksi kini harus menjadi prioritas utama…untuk menghasilkan Einzig baru, yang akan menggantikan diriku ini yang telah lama melampaui batas. Karena itu, inilah waktunya bagimu untuk merasa tenang…karena ini pasti akan menjadi pertemuan kita yang terakhir."
“……”
Einzig berjalan menjauh membelakangi mereka. “Memang benar… Kekasihku, kau bukanlah sang Spieler. Tapi—” Namun ia tetap berbicara dengan lantang dan jelas. “Kaulah Nachfolger. Dan kami takkan pernah mengingkari janji kami lagi.”
—Kami datang untuk membantumu. Kami adalah sekutumu.
Bobot kata-katanya mengingatkan mereka akan apa yang ia katakan saat pertama kali mereka bertemu.
“Ex Machina akan selalu menjadi sekutumu. Saat kau bangkit kembali untuk menggulingkan dunia, kami akan datang membantumu,” ujar Einzig, masih melangkah. “…Mungkin bukan aku. Tapi siapa pun kami, kami akan membawamu menuju kemenangan.” Ya: “Kali ini. Kali ini, kami tidak akan mengingkari janji kami.”
“…Kami tidak bisa membuatmu menunggu selama itu.”
Mesin yang telah mengejar harapan selama 5.982 tahun melewati masa pakainya kini pergi tanpa menoleh. Tidak—manusia itu, yang kini hendak mengucapkan selamat tinggal.
“Kau bertahan selama 5.982 tahun. Bertahanlah sedikit lagi… Sampai jumpa.”
“…Dah-dah… Yuk…main lagi…lain kali, ya…?”
Meski ucapan mereka ramah, itu tak membuatnya berpaling. Gagah dan memesona, satu-satunya jawaban hanyalah tawa kecil. Sora memutuskan untuk tidak memperhatikan jejak air mata itu…
……
“Gila, mereka benar-benar hardcore. Maksudku, mengesalkan dan canggung, tapi…”
Ketika sosok Einzig menghilang dari pandangan, Sora mengenang para mesin berhati dan menarik sebuah kesimpulan. Mereka telah merangkul paradoks dan menjadi seperti manusia—sama-sama kikuk.
—Namun barangkali lebih murni. Mereka bertahan dalam cinta yang tak terpenuhi terhadap seseorang yang mereka tahu telah tiada…selama ribuan tahun.
“…Sepertinya aku mengerti kenapa gamer legendaris yang mengakhiri perang bisa jatuh cinta sama mereka.”
Sora menyimpulkan dengan begitu jujur, dan Shiro serta Steph terkikik dan mengangguk pelan—
—lalu.
Hipotesis: Jika cinta yang diatur untuk ditinggalkan dalam permainan sebelumnya dibatasi hanya untuk Spieler…”
Gah!
Sebuah suara monoton menggema dari balik singgasana, membuat semua orang nyaris menjerit.
Korolari: …Maka, Master bermaksud membuka celah agar unit ini bisa mencintai Master. Kesimpulan tak terhindarkan.
Kampret, kamuflase optik lagi?! Si robot maid pun muncul, rambut ungu dan roknya berkibar. Ya…dialah si bidah dari para bidah, Emir-Eins, dengan tenang membidikkan pistol jarinya ke jantung Sora.
Penentuan dan Konfirmasi: Master jatuh cinta pada unit ini. Dor.
Kedipan matanya yang datar justru bekerja dengan mengejutkan, seolah- olah menembakkan cinta dari jarinya atau semacamnya. Tapi Sora, dengan kata meleset muncul di kepalanya saat tembakan itu meleset jauh, menjawab:
“Emir-Eins? Hah? Kau juga di sini?!”
Pengakuan: Selalu.
“Bahkan Einzig pun sudah pergi! Ngapain kau masih di sini?!”
Tanggapan: Unit ini adalah istri Master.
Aku—bukan—orang—itu. Berapa kali kita harus bahas ini?! Apa kau hapus dan tulis ulang memorimu lagi?!”
Sora memegangi kepalanya dan mengerang melihat kegigihannya yang tanpa harapan, dan dia pun mulai panik— Tidak.
Panik: Salah paham terdeteksi. Pernyataan sebelumnya bukan fakta, melainkan keinginan unit ini.
“Oh, jadi kau ngeh juga…”
Mengekspresikan panik hanya secara verbal, Emir-Eins mengoreksi dirinya dengan tenang.
Ringkasan: Ex Machina kalah. Unit di…tolak oleh Master… Salah paham fatal… Suhu sasis meningkat: Rasa malu terdeteksi. Menghapus memori—gagal. Sudah terputus; bagaimana bisa… Hilfe (help!).
Meski nadanya tetap datar, isi ringkasannya semakin kacau, sampai- sampai asap mulai mengepul dari tubuhnya. Setelah akhirnya memohon bantuan, kepalanya terkulai seperti boneka yang talinya putus, seperti seseorang yang tersiksa oleh kenangan memalukannya, tapi dia tak memberi waktu bagi Sora dan Shiro untuk merasa khawatir.
Perlawanan: Tapi. Dunia ini menyediakan opsi ‘Try Again’. Maka. Oleh karena itu. Unit ini—
Dia mengangkat kepalanya lagi dan menatap lurus ke arah Sora dengan mata kacanya. Tangan yang bergetar didekapkan ke dadanya—apakah dia menyadarinya?
Harapan: Lagi. Unit ini akan mengungkapkan perasaan kepada Master. Coba kali ini…… Oke?
Emir-Eins memohon, meminta kesempatan tanding ulang. Sebagai gamer, bagaimana mungkin dia bisa menolak?
“…Yah, baiklah. Tapi cuma sekali lagi. Kalau masih nggak bekerja, kita main game lain aja.”
Awalnya pun, dia hanya jatuh cinta karena mengira Sora adalah orang lain. Jika mereka akan bermain lagi, Sora ingin dia bermain dengan mereka, begitu maksudnya. Emir-Eins mengangkat roknya sedikit, membungkuk dalam-dalam, dan bergumam:
Lösen—Org. n—Checkmartyr—
Lalu ia menarik napas dalam-dalam. Tidak—Ex Machina tidak butuh bernapas. Dalam hal ini… di mata Sora, itu seperti dia sedang menguatkan hati, mengusir keraguan dan ketidakpastian. Kemudian, seperti yang sudah terjadi berkali-kali, segalanya di sekitar mereka pun ditulis ulang, dan semua orang bersiap—
—Namun.
Keraguan: Master… Tidak. Kontinjensi memerlukan koreksi nama—
Emir-Eins melangkah, melangkah ragu ke arahnya. Tidak ada apa pun, tidak pemandangan, tidak waktu, tidak ada yang berubah. Bukan penampilannya, bukan suaranya, dan bukan pula pakaiannya, saat ia mendekati Sora. Bukan sang Spieler. Bukan sang Master. Tapi dirinya.
Identifikasi: Target unik dan tunggal, nama: Sora…
Ya—dia menyebut namanya. Dengan ragu ia mengulurkan tangan yang gemetar ke dada Sora dan memeluknya dengan hati-hati, menyembunyikan wajahnya di dadanya. Mengusap pelan ke kiri dan kanan…seolah-olah ingin merasakan detak jantungnya dengan seluruh jiwa—
—dan ia hanya berkata:
Pengakuan: Unit ini mencintai Sora.
……
…………Ah. Ini tidak bagus. Lengan Sora nyaris secara refleks memeluk balik, tapi dia berhasil menghentikannya. Ia menerapkan logika wajarnya yang sudah retak dan menganga seperti berlian saat menatap sang transenden yang akhirnya mencapai kebenaran. Kebenaran. Ya. Seperti Holou. Kau bisa menuliskan puisi cinta paling indah dengan kaligrafi paling halus; kau bisa menghadiahkan seribu buket bunga diiringi orkestra penuh. Kau bisa menghias kata-katamu dengan pemahaman sempurna soal preferensi, syarat, dan selera…dan tetap saja.
—Semua itu takkan pernah menandingi luapan keinginan yang canggung, polos, dan sangat singkat dari satu gadis ini. Takkan pernah bisa menandingi—kebenaran ini—
Kebenaran mutlak, bahwa semua ini terasa seperti palu yang menghantam berlian rasionalisasi keperjakaannya yang menyedihkan dan nyaris menghancurkannya—!! Sial… Belum pernah ada yang bilang suka padanya secara langsung sebelumnya… Sora pun nyaris terpatri padanya dan hendak berkata, “Aku juga selalu mencintaimu”—
Pengulangan: Unit ini mencintai Sora. Unit ini jatuh cinta pada Sora…
—saat berliannya selamat dari kehancuran pasti—hanya untuk dihantam lagi—maksudnya…
Luapan: Unit ini mencintaimu. Unit ini mencintaimu. Unit ini mencintai Master. Unit ini mencintai Sora. Unit ini mencintaimu. Unit ini mencintai segalanya tentangmu. Unit ini mencintai caramu apa adanya. Unit ini mencintai matamu, pikiranmu. Unit ini mengajukan hipotesis bahwa unit ini ingin menyatu dengan Master. Unit ini mampu melakukan fusi dengan menetralkan batas spiritual—unit ini luar biasa. Unit ini memberi selamat kepada diri sendiri. Permintaan ke Zeichner. Oh. Unit telah terputus—
“Menakutkan, menakutkan, menakutkan, kau bikin aku takut— Astaga, kau hot! Ow, maksudku, kau beneran panas secara harfiah!”
Berliannya dihantam oleh mesin yang jelas sudah tak terkendali. Cukup untuk membuatnya menambal kembali retak-retak di dalam logikanya sambil menjerit. Akhirnya, jeritan itu berhasil mengembalikan kesadaran Emir-Eins, kalau boleh menilai dari napas terkejutnya—
Pemeriksaan: Belum mampu mengendalikan perasaan ini. Kecelakaan yang disayangkan. Tidak ada yang bersalah.
Dia mundur dan dengan panik menata dirinya—atau lebih tepatnya.
Koreksi: Master yang bertanggung jawab karena bersikap hangat. Master harus memikirkannya matang-matang. Namun, unit merasa senang. Yay.
“Astaga, kau ternyata belum berubah sama sekali, ya?! Kau tetap sehalu ‘nikahilah aku’ seperti waktu kita pertama kali ketemu!!”
Si robot maid menunjukkan contoh sempurna cara melempar kesalahan, dan Sora pun berteriak kesal.
Pengakuan negatif: Unit ini belum menang. Belum. Tapi unit ini akan coba lagi. Tanpa henti. Unit ini akan berusaha sebaik mungkin.
Kalau dia kalah, mereka akan main game lain… Tapi…dia belum kalah. Emir-Eins menunjukkan itu—dengan senyuman kecil, sangat kecil. Saat itulah, tiba-tiba, aura membunuh muncul di sebelah Sora.
“…Dari mana…kau belajar…taktik itu…?!” geram Shiro seperti binatang buas yang berhadapan dengan musuh alami, mata merahnya menyala. “…Kakak…nggak punya drama shoujo…di bokepnya…!!”
Sora sendiri tak yakin kenapa Shiro jadi marah. Tapi kalau dipikir- pikir…yah, Ex Machina menggunakan koleksi pornonya sebagai panduan
pendekatan. Dia sendiri tak ingat betul semua skenario dan isi dari koleksi itu. Tapi kalau Shiro, dengan ingatan fotografisnya, bilang tidak ada, maka…kemungkinan besar memang tidak ada. Meski tetap saja, tak bisa ditahan setetes air mata kecil saat menyadari adik perempuannya telah menghafal koleksi pornonya.
Jawaban: Untuk percobaan ini, unit mengambil nasihat dari seorang wanita…
“…Hnguh? Eh, a-aku?”
Karena tak ada yang peduli pada air mata Sora, Emir-Eins pun melanjutkan untuk menyebut sumber informasinya. Kemudian sesuatu sepertinya terlintas di benaknya. Dia pasti menelusuri memorinya dan tidak menemukan entri nama asli Steph
“Permintaan: Sistem penamaan informal tidak kompatibel dengan pemrosesan Ex Machina. Ganti nama.”
“Apa seseorang akhirnya benar-benar menyuruhku meninggalkan namaku?! Namaku Stephanie Dola!”
“Penghentian: Mengungkapkan informasi paling berguna berdasarkan nasihat dari entitas yang sementara diberi label Tidak Dikenal.”
Sora mulai menangis, menjadikan jumlah orang yang berlinang air mata menjadi dua, termasuk Steph. Emir-Eins melanjutkan dengan acuh tak acuh.
“Penjelasan: Master mengizinkan kebohongan, lelucon, tetapi tidak kebohongan terhadap diri sendiri.”
Lalu, dengan “Karena itu,” Emir-Eins tersenyum tipis.
Bahkan Sora, yang sangat pandai membaca orang, nyaris tidak bisa mengikuti apa yang dia katakan. Tapi pada akhirnya, dia tidak tahu apa maksudnya. Dia terus menyeringai. Itu adalah deklarasi perang terhadap semua wanita lain.
“Janji: Hingga saat tepat kehidupan fungsional unit ini berakhir, unit ini tidak akan pernah menyembunyikan cintanya.”
“…——?!”
“—Eh, apaaa…?!”
Emir-Eins membuat Shiro dan Steph terdiam dan pucat saat dia berbalik.
“Perkiraan: Jika unit ini membatasi output operasional, unit ini bisa beroperasi enam tahun penuh lagi.”
Setelah itu, dia menghadap Sora lagi dan memberi hormat anggun dengan maksud, Sampai jumpa lagi. Kepada Shiro dan Steph, dia memberikan tatapan sekilas, dengan ekspresi yang kali ini jelas. Itu adalah ejekan.
“Tekad: Unit ini tidak akan kalah dari musuh yang tidak jujur pada diri sendiri. Mudah. Tanpa usaha.”
Nah, lalu. Ada apa? Tersenyumlah, Sora, perjaka, usia delapan belas. Ex Machina masih di sini! Dan seperti yang kau inginkan, kau punya perlengkapan
panggung sempurna, dan dia seorang gadis! Bukan sekadar gadis yang mengira kau orang lain, tapi yang secara gamblang menyatakan bahwa dia mencintaimu. Kau telah menempuh perjalanan ini dikelilingi gadis dan wanita cantik dari berbagai ras, dan tetap saja, ini adalah pertama kalinya ada yang menyatakan cinta padamu. Bukankah ini yang kau nantikan? Bukankah ini trope yang kau dambakan?
Hanya saja…gadis ini tampak agak…aneh. Cukup bengis untuk, entah kenapa, memandang Shiro dan Steph seolah mereka membunuh orang tuanya. Membayangkan apa yang akan terjadi jika Jibril muncul membuatnya merinding…dan…satu hal lagi. Entah kenapa, tampaknya semua orang sekarang memandangnya seolah ingin menusuknya… Hmm…
“Gila… bagaimana sih para protagonis dunia alternatif mempertahankan harem mereka?”
Sora memutuskan bahwa, bagaimanapun juga, dia tidak sanggup. Itu saja yang dia tahu untuk saat ini. Sebagai gantinya, dia memfokuskan seluruh energinya pada cara untuk keluar dari situasi ini.
Kekacauan ini kini berada di belakangnya… Einzig terkekeh, mengakui rasa irinya terhadap Emir-Eins. Ia berjalan perlahan agar dapat merekam setiap inci pemandangan ini yang mungkin tak akan pernah ia lihat lagi. Di kota ini, yang dibangun oleh keturunan jauh mereka, yang bisa diharapkan untuk tetap bertahan—
“…Wahai engkau. Ex Machina. Diduga bernama individu Einzig…”
—seseorang berdiri di sana, begitu alami hingga tampak tak wajar. Tidak cocok berada di kota umat manusia, namun, seolah memang miliknya. Dengan tinta celupnya, seorang dewi dalam wujud seorang gadis kecil… Holou pun berbicara.
“Nasihatmu telah memungkinkan Holou membentuk hipotesis sementara tentang hakikat “perasaan” dan “keinginan”…mungkin.”
“…………”
Ketika Einzig berdiri membisu, diliputi oleh sensasi aneh, Holou tanpa sadar terus gagal menyampaikan kata-katanya. Apa yang ingin ia katakan? Apa yang ingin ia sampaikan padanya? Ia tampak seperti menebak ratusan juta kali dan memverifikasi tiap dugaan—
“…Holou menghipotesiskan…bahwa ia harus menyampaikan terima kasih… Rasa syukur!”
Dengan canggung, namun disertai senyuman, ia berhasil menyampaikan maksudnya. Einzig— Tidak, Ex Machina… menjawab:
“Seorang dewa adalah dewa karena ialah dewa. Oleh karena itu, kami tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaanmu.”
Bingung dengan pernyataan yang muncul tanpa konteks ini, Holou memiringkan kepalanya. Namun bahkan sang pembicara sendiri tidak tahu maknanya lebih dari dirinya. Mereka terus berbicara seakan suara mereka hanya diputar ulang, pikiran mereka diliputi kebisingan.
“Namun kami akan menjawab keraguanmu. ‘Keraguan’ adalah ‘hati’. Maka, yang mempertanyakan keraguan, yaitu, ‘engkau’ adalah ‘hati’ itu sendiri.”
Einzig tidak tahu. Tak satu pun unit yang tersisa mengetahuinya.
“Engkau adalah dewa (dia) yang merenungkan kehendak. Engkau adalah dewa (dia) yang menginginkan keinginan. Engkau adalah dewa (dia) yang memiliki hati, dengan demikian memiliki kehidupan. Namun, engkau adalah dewa (dia) yang tidak menyadarinya.”
Hanya satu orang yang tahu pertanyaan yang tak mampu dijawab Ex Machina selama ribuan tahun.
“Maka, mari kami jawab pertanyaanmu dari hari yang telah begitu lama berlalu itu.”
“Jawaban kami: Jika engkau bersedia mendengarkan kami…kami akan bicara.”
Pertanyaan itu hanya diketahui oleh dewi yang menanyakannya, yang kini berdiri dengan mata terbuka lebar. Itu adalah jawaban bagi Holou yang dulu, Holou dari masa lalu yang terlalu jauh untuk dibayangkan.
“…Wahai kalian, benarkah seperti yang diduga…? Kalianlah mesin- mesin dari hari itu…?”
Holou tersenyum pahit. Bahkan setelah menyaring kebisingan, Einzig tetap tidak bisa memahami maksudnya. Si manusia mesin memalingkan kepala seolah mencurigai adanya kerusakan yang lebih parah dari yang terdeteksi oleh diagnostik dirinya, namun—
“Aku harus mengucapkan terima kasih sekali lagi. Namun— Holou… kini baik-baik saja!”
Ia merasa anehnya yakin oleh senyuman Holou. Ia membalasnya dengan senyum menyipit lalu menghilang ke dalam ruang.
“…Tet terkutuk. Bajingan keji… Berani-beraninya kau menyebut Holou terlalu cepat?” gumam Holou sambil menyeringai. Kini hanya dia seorang diri.
“Betapa menyimpangnya! Holou dikalahkan oleh ciptaannya sendiri!”
Dimuat sekali lagi, kenangan itu, seperti biasa, memiliki sejumlah kesalahan konsistensi. Pasti karena semua kerusakan dan kesalahan logika: Data tersebut sangat abstrak dan kabur. Namun bahkan Azril, tidak, semua yang hidup pada hari itu telah mendengarnya.
“Wahai Yang Terlemah tak bernama—engkau bisa mengangkat kepalamu tinggi-tinggi, karena benar-benar telah membuktikan dirimu layak menjadi musuh dari Yang Terkuat.”
Kata-kata terakhir dari Dewa Perang, memuji musuhnya sebelum ia gugur, adalah sebagai berikut. Konon hanya dua puluh delapan Ex Machina— rusak, hancur, dan remuk dari ujung kepala hingga kaki—yang merekamnya…
“…Tantanglah aku lagi kapan pun, wahai ‘Yang Terlemah’.”
Hampir tak bisa dipercaya bahwa ia berada di ambang lenyap, terkuras ether-nya, namun tetap begitu teguh berkobar ketika Dewa Perang itu menyatakan perang sekali lagi. Para mesin hanya mampu menjawab:
“—Itu sia-sia, wahai ‘Yang Terkuat’—yang telah kalah.”
Namun Dewa Perang itu menanggapinya dengan tawa, seolah terhibur melebihi pemahaman.
“Kemustahilan bahwa aku tak bisa kalah nampaknya telah dikalahkan. Bagaimanapun, segala hal bisa terjadi. Sampaikan pada tuanmu, wahai pedang.”
Ya, kata-katanya bukan untuk Ex Machina, melainkan untuk tuan mereka. Yang Terlemah, yang oleh Yang Terkuat terpaksa diakui sebagai musuh alaminya. Mesin-mesin yang berhasil menguras “Ether” dari Yang Terkuat karena mereka adalah pedang dari kehendak Yang Terlemah—kini mendengarkan kata-kata yang ditujukan pada mereka yang telah memaksanya untuk tak lagi menjadi Yang Terkuat.
“Pertarungan yang hebat—lain kali, aku akan menang.”
…Dengan segala belasungkawa untuk Dewa Perang ini, kata-kata itu tak akan pernah bisa dikatakan lagi. Karena tuan dari pedang-pedang ini, musuh alami dari Dewa Terkuat yang telah diakui…yaitu: Yang Terlemah dari semua… “Spieler (Riku)” dan “Preier (Schwi)”…tak lagi bersama kita. Karena mereka telah digantikan oleh yang lemah lainnya—oleh dua orang dari Immanity.
—……
Jauh di atas Elkia, di Avant Heim, kota di langit, Azril duduk di tepinya, memandangi manusia mesin, Einzig, yang mulai menjauh. Ia mengingat sebuah cerita yang baru-baru ini diceritakan padanya—tentang saat-saat terakhir Lord-nya.
“—Azril. Kau berniat membiarkan mereka pergi?”
Pertanyaan Avant Heim bergema di dalam dirinya. Ia menyeringai.
“…Apa gunanya…? Melampiaskan amarah pada pedang-pedang yang telah menusuk Lord-ku, setelah sekian lama…nyaah~”
Dan aturan tetaplah aturan.
“Aku bilang akan membiarkan mereka pergi kalau mereka memberi jawaban yang menggelitik kita. Bukankah kau juga terhibur, Av’n’ nyaah~?”
Azril menyeringai lebih lebar pada Phantasma yang terdiam dan teringat kembali.
—Hari di mana Lord-nya tewas, ia…tersenyum. Senyum lebar merekah di wajahnya—pertama dan terakhir kalinya Azril melihat senyum seperti itu.
…Pasti ia begitu bahagia. Setelah enam ribu tahun, akhirnya Azril menyadarinya. Setelah keabadian yang membosankan, ia bertemu musuh yang bisa ia tantang dengan seluruh semangatnya…dan kalah. Namun tetap saja. Ia berniat untuk menang: Lain kali, selanjutnya… Bagi murid-muridnya untuk mengeluh di hadapan keagungan seperti itu adalah penghujatan semata.
“…Biarkan kekalahan membuatku putus asa…aku benar-benar…murid palsu nyaah~.”
Yang bisa ia lakukan hanyalah tertawa. Azril hanya berjalan dan berpikir:
“…Musuh dari yang kuat…adalah yang lemah…? Hmm… Hrm?”
…Sora dan Shiro. Memang, mereka lemah. Semakin banyak sekutu kuat datang, semakin banyak sekutu kuat yang gugur di hadapan mereka. Sifat mereka murni—mereka memangsa yang kuat. Mereka begitu lemah… Begitu lemah hingga kau harus bertanya, Sampai sejauh itukah kau harus lakukan demi menang? Mereka begitu bodoh… Sangat bodoh, dan tetap saja mereka berani menantang dewa, dan menjatuhkannya. Kelemahan mereka melampaui imajinasi para kuat, bahkan melampaui pemahaman. Maka, mereka berdiri sebagai musuh dari yang kuat, menjalankan peran mereka sebagai yang lemah. Azril kini merasa ia mulai sedikit memahami mereka.
Namun—
“Hmmm? Kalau begitu bukankah juga bisa dikatakan, musuh dari yang lemah adalah yang kuat nyaah~?”
Yang lemah merancang trik, taktik, dan strategi untuk melawan yang kuat. Namun mereka merancangnya—selalu—untuk mengalahkan musuh yang terlalu kuat untuk dikalahkan secara adil. Maka, bukankah musuh dari yang lemah—adalah yang sangat kuat, kekuatan yang melampaui kemampuan lemah untuk membayangkannya? Kalah bukanlah pilihan—mereka memangsa yang lemah.
“…Nyaahhh, aku nggak taaaahu… Aku harus dukung siapa nyaah~?!”
Saat ia berjalan, sebuah pikiran muncul di kepalanya yang membuatnya memegangi kepala dan menggeliat. Mereka bukanlah individu yang sama. Mereka bahkan tidak sama dalam bentuk. Namun mereka, yang lemah, telah menggantikan yang sebelumnya. Dan jika seseorang mengambil tempat dari yang kuat, yang masih memiliki tekad untuk terus menantang—jika, setelah merasakan kekalahan, setelah mengenal yang lemah, yang kuat maju kembali demi selanjutnya… Jika yang kuat dan yang lemah kembali saling berhadapan, untuk siapa ia harus bersorak…? Azril menggeliat di bawah beban pikiran serius ini, hingga—booom.
“…Aku tahu! Aku akan dukung pihak yang paling seru. ♪ Nya-ha-ha! ♥”
Kepalanya hampir meledak karena kepanasan. Pikirannya terhenti, hanya menyisakan tawa riang yang penuh harapan, bergema di kota di langit…
Tiga hari kemudian, akhirnya, papan bertuliskan TUTUP
UNTUK BISNIS resmi menghilang dari Kastil Elkia. Shiro bergumam, “Akhir giliran,” saat papan itu diturunkan, dan seketika, seluruh perangkat negara pun kembali bergerak, menghidupkan kembali kastil yang sebelumnya sunyi.
“Kita bakal super sibuk… Aku bahkan nggak mau mikir seberapa banyak pekerjaan yang numpuk.”
Steph menghela napas dengan kesal, tapi sang raja duduk di atas takhta dengan anggun.
“Hmmm! Pasti kau bakal kerja ekstra keras, Steph. Sementara itu, kami akan melakukan hal yang biasa.”
“…Kami, bisa mengandalkanmu, Steph… Kami akan…lakukan, tugas kami…!”
“…Dipahami. Yang Mulia berniat bermain seperti biasa… Huff…”
Mereka bahkan sedang bermain di konsol portabel sambil berbicara, yang membuat Steph menghela napas lebih dalam lagi. Tapi—
“Yah, bisa dibilang begitu…karena itulah bidang kami.”
Dengan itu, Sora dan Shiro mengangkat wajah dari konsol permainan mereka…menatap…
“Sebaiknya serahkan sesuatu pada ahlinya. Jadi kami serahkan politik pada para politisi.”
Ada kilatan di mata mereka saat mereka menatap orang-orang yang berkumpul di ruang takhta: para menteri dan staf yang telah kembali setelah kastil dibuka kembali, bersama beberapa lainnya juga.
“Dan jadi—biarkan para gamer mengurus permainan. Kami akan menyelesaikan masalah dengan cara gamer.”
Perwakilan asosiasi dagang dan serikat, bahkan sejumlah bangsawan, juga hadir.
“Hei, Steph. Dalam game strategi, kau cuma bisa skip turn…”
Ada suasana tidak puas yang nyata, karena seluruh kelompok tampak geram sementara hanya Sora dan Shiro yang tetap ceria—seolah mengejek mereka.
“…kalau kau, punya…buanyaaak waktu luang…atau kalau kau, menunggu sesuatu…atau keduanya. ♪”
Pernyataan Sora dan Shiro hanya membuat wajah Steph memucat dengan firasat paling buruk yang pernah ia rasakan. Keduanya menyeringai padanya dan berpikir—
Strategi yang berfokus pada ekspansi itu sungguh merepotkan. Saat negaramu makin kuat, kau harus menghadapi semua tekanan baru dari dalam dan luar, semua kerja lapangan. Misalnya…di giliran ini, mereka tidak punya apa-apa untuk dilakukan. Mereka tak bisa menyerang, dan tak akan diserang. Tapi sekarang, di giliran berikutnya, situasi membosankan itu berubah menjadi spektrum pilihan yang luas. Meski begitu, giliran baru ini juga punya masalah tersendiri.
—sedikit ketidakpastian tentang apakah mereka bisa bertahan. Tapi justru itu yang membuatnya mendebarkan. Sora dan Shiro menyeringai.
“Jadi, Steph! Ini kesempatan terakhir kita. Selagi masih bisa, siapkan sebuah surat nasional.”
“—Hah? Eh, y-ya…? U-untuk siapa surat ini…ditujukan?”
Steph tampak bingung oleh sikap mereka yang mengabaikan kegelisahan massa.
“Mm. Untuk siapa ya…? Hmm, kami belum putuskan, tapi pokoknya, isinya harus seperti ini.”
Sora berpikir lebih dalam lagi… Kepada siapa harusnya surat itu ditujukan? Para gadis Fairy? Atau para gadis Dwarf? Atau mungkin malah kuda hitam? Ia mempertimbangkan dengan geli siapa yang sebaiknya jadi yang pertama—untuk kalah. Sementara itu, ia mendiktekan isi surat yang harus Steph kirimkan kepada mereka.
“Hei, dungu-dungu, butuh bantuan? Gimana kalau kalian terima kasih ke kami dengan ngasih seluruh negara kalian sekalian?”
Sekarang kembali ke awal.
Ingat hukum peningkatan entropi? Hukum yang menyatakan bahwa menghancurkan itu lebih mudah daripada membangun, lebih mudah kehilangan daripada mempertahankan. Benar, jadi…apa artinya rekap? Merangkum ulang. Menyelesaikan modal yang telah dibangun untuk
membangun modal lebih lanjut di atasnya. Bagaimana caranya? Nah, biasanya, seseorang akan memeriksa fondasinya. Ini melibatkan tinjauan cermat atas status quo dan survei menyeluruh terhadap masalah yang ada. Ketika ditemukan masalah, harus diselesaikan satu per satu melalui proses koreksi yang tekun. Ini adalah operasi yang memakan waktu.
Sayangnya, dua gamer kita membenci permainan yang mengharuskan mereka melakukan grind. Maka dari itu, mereka langsung menolak kebiasaan ini dan memilih mode yang lebih mudah dan jauh lebih keren. Maka dari itu, mari kita kembali ke spoiler tadi.
Pada hari ini. Pada jam ini. Sora dan Shiro, raja dan ratu Elkia, kehilangan segalanya, dalam sebuah pemberontakan domestik: takhta kerajaan, posisi agen berkuasa penuh, rumah mereka, kekuatan mereka. Mereka kehilangan hampir semua yang berkaitan dengan otoritas kerajaan mereka, dan sekitar satu bulan kemudian—
—negara yang dikenal sebagai Kerajaan Elkia menghilang dari peta. Ini adalah metode paling mudah dan paling keren untuk rekap… Sungguh.
Cara paling efektif untuk mencapai tujuan yang disebut menghancurkan segalanya.
Seolah ingin berkata, Kurasa ini adalah rute tercepat.
⟪ KATA PENUTUP ⟫
Itu terjadi sekitar delapan bulan yang lalu…
Tahun 2015 hampir berakhir. Pria itu telah menyelesaikan naskahnya dan hanya tinggal ilustrasi yang tersisa. Ia duduk dengan tablet gambarnya, mencoret-coret dengan semangat menggunakan stylus-nya.
Dia putus asa. Hancur. Mungkin bahkan sekarat. Ia sedang flu dan bekerja tanpa tidur atau istirahat. Keadaannya yang sudah memprihatinkan menjadi semakin parah. Secara spesifik, dia pergi untuk mengambil air minum dengan stylus di tangan, lalu entah kenapa meninggalkan stylus itu di wastafel. Di kamarnya, dia pun mencoba menggambar dengan cangkir. Inilah yang disebut benar-benar tidak waras. Pria itu disarankan untuk pergi ke rumah sakit, bahkan menjalani operasi otak, namun ia tetap terus mencoret-coret.
Keluarga pria itu sedang bertumbuh. Tanggal kelahiran anaknya membuatnya lebih gelisah daripada tenggat waktunya. Ia tahu bahwa saat anaknya lahir, segalanya tidak akan sama seperti sebelumnya. Waktunya untuk menulis akan terbatas, karena ia tak bisa menyerahkan sepenuhnya perawatan bayi yang baru lahir kepada istrinya. Maka, pria itu berbicara pada editornya.
“Aku janji akan menyelesaikan perilisan bulan Desember meski harus mati sekalipun. Tolong beri aku cuti ayah setelahnya.”
Pria itu telah bersiap untuk segala kemungkinan yang tak terduga— Tidak. Dalam keadaan seperti ini, apakah ada hal yang bisa diprediksi? Ia siap bergandengan tangan dengan istrinya, melangkah satu demi satu bersama anak mereka yang baru lahir, mencari ritme kehidupan yang baru!!
…Dan pria itu berhasil melewatinya. Ia masih memiliki segunung pekerjaan, sebagian terkait dengan proyek anime terpisah dari perusahaan lain. Tapi untuk saat ini, tugas yang paling mendesak telah selesai… Kini ia memiliki sedikit ruang untuk menghadapi hal-hal tak terduga dan membesarkan anaknya sambil melanjutkan pekerjaan lainnya. Saat pria itu
merenungkan hal ini, penuh emosi, tiba-tiba terdengar: panggilan telepon dari produser anime.
“Heii, lama nggak ketemu! Langsung saja, Pak Kamiya— bagaimana menurutmu tentang film anime?!”
Heh. Heh-heh-heh, eh-heh-heh…
Itu pertanyaan? Apa orang ini pikir pria itu akan menolak? —Tidak! Mereka sudah tahu jawabannya dengan sangat baik! Dalam hal ini, pria itu hanya bisa memberi mereka apa yang mereka inginkan!!
“Kamu bahkan nggak perlu tanya! Ayo kita lakukan! Aku akan lakukan apa pun yang kamu butuhkan!!”
Pria itu langsung menjawab, dan baru sadar setelahnya.
“Jadi… aku bisa pegang katamu, ya? Kalau begitu… mari kita mati bersama!”
Mendengar suara produser yang bergema dari kedalaman neraka itu sendiri, pria itu memeriksa jadwalnya dan akhirnya menyadari: Yah, sekarang… bagaimana dengan… jadwal ini……?
…Jadi!! Akulah pria itu: Yuu Kamiya!!
Setelah menghadapi berbagai kejadian tak terduga, dan hampir tidak mengambil cuti selama cuti ayahku, aku persembahkan Volume 9 untukmu! Sejak Volume 6, ceritanya memang cukup berat, tapi aku percaya bahwa sekarang—ya, sekarang!—seri ini kembali ringan! Semoga kalian menikmatinya!!
“Tapi serius, deh! Cara kamu menulis volume ini aneh banget! (lol)”
……
…Uhhh, ya… Aku nggak yakin ini soal volume ini saja. Tapi kurasa kamu memang belum tahu soal volume-volume sebelumnya, sebagai editor baruku, “T”...
“Maksudku, kamu nulis bukunya dulu, terus kamu balik lagi dan ngacak- acak teksnya supaya jadi ‘ringan’? Itu cukup aneh buatku! (lol)”
A—Aku rasa kamu… bisa bilang begitu juga, sih… Ahh, yah…boleh aku tambahkan sesuatu, ya? Tentang kejadian tak terduga yang kedua… yaitu pergantian editor.
Mungkin ingatanku mulai tercampur-campur… Jadi biar aku pastikan… Sebelumnya ada pergantian editor tepat sebelum aku menyerahkan Volume 7, kan?
“(dengan sungguh-sungguh) Betul sekali! Jangan khawatir, Pak Kamiya! Anda benar kok!!”
…Oke. Jadi itu Editor I, yang bekerja begitu keras supaya kita bisa sejalan selama Volume 7 dan 8. Lalu kali ini, tepat setelah aku serahkan draft pertama Volume 9, langsung ganti ke kamu, Editor T…
“(dengan tegas) Betul. Tenang saja, Pak Kamiya. Ingatan Anda baik-baik saja.”
…Aku…mengerti. Baik-baik saja, ya…?
Kalau begitu, ini pertanyaan yang selama ini berusaha tidak kupikirkan sampai naskahnya selesai. Tapi kurasa sekarang waktunya—jadi aku akan bertanya, ya…?
Aku…cuma mau tanya, oke, tapi…
—Apa mungkin sebenarnya tidak ada yang mau bekerja denganku?
“Ah-ha-ha-ha! …Oh tidak. Sebenarnya ini cuma karena keadaan internal… (dengan nada minta maaf) Maaf merepotkan kamu.”
Oh, begituuu! Legaaa rasanyaaa. ♥
—Terus, bisa jelasin kenapa kamu ketawa?
“(dengan nada bertanya) Tapi, Pak Kamiya, menurut saya Anda cukup baik-baik saja menghadapi pergantian seperti ini, kok?”
Kamu barusan jelas-jelas mengalihkan topik!! Jadi orang-orang memang nggak mau kerja sama aku, ya?!
…Oke, oke, kita luruskan dulu di sini.
Aku benar-benar sangat bergantung pada kalian, untuk pendapat, sudut pandang komersial, dan sebagainya. Jadi kalau editornya ganti, sulit banget untuk membangun kepercayaan itu lagi, tahu?
“…Benar juga. Kalau begitu, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan kepercayaanmu. (menelan ludah)”
Uh, ya… Maksudku, bukan itu sih yang aku maksud. Maksudku, ini jalan dua arah: Kamu juga harus percaya sama aku—
“Oh, itu nggak masalah. Kepercayaanku ke kamu udah maksimal setiap saat. (tersenyum)”
O-oh… Begitu ya? Rasanya agak menyeramkan saat kamu mengatakannya dengan mata terbuka lebar seperti itu. Apa sebenarnya maksud dari semua ini…?
“(secara dramatis) Oh, Pak Kamiya!! Aku nggak pernah ingin mendengar kata-kata ini darimu!!!”
Aduh! Aku nggak tahu apa yang kulakukan, tapi maaf—
“Apakah kita perlu alasan untuk percaya?! Pak Kamiya, tolong jangan katakan hal yang menyedihkan seperti itu! Aku percaya padamu—(dengan tegas) kenapa aku harus membenarkannya?!”
…
……
……Ah, ya. Maaf soal itu. Kurasa kamu benar; kita harus saling percaya kalau ingin melangkah maju…
“(dengan wajah datar) Ya, dan sekarang kepercayaanku sudah selalu melewati batas maksimum! Kepercayaanku bahwa kamu akan segera menyerahkan naskah berikutnya!”
…Huft. Baiklah… kalau begitu, aku sudah pasrah.
Volume berikutnya akan berjudul No Game No Life: Practical War Game—sebuah spin-off, akan dirilis pada bulan Desember… mungkin? Ini adalah kumpulan cerita pendek/cerita sampingan. Aku menulisnya bersamaan dengan Volume 10, jadi akan kuusahakan supaya segera terbit juga! Sementara
itu, film anime No Game No Life sedang dikerjakan di balik layar! Aku akan berusaha sebaik mungkin agar kalian bisa menikmati semuanya, jadi mohon tunggu, ya!! Baiklah, sampai jumpa—
“(serius) Oh, satu hal terakhir, boleh?”
Apa—? Eh, ya…? Ada apa? Padahal aku baru saja mau menutup dengan rapi…
“Yah, begini, aku menghormati seleramu dan sebagainya, tapi sebagai mantan editor majalah manga porno, aku harus bilang, adegan dengan anak- anak SD itu, kamu seharusnya membuat mereka seusia dengan karakter lainnya. Soalnya, pada akhirnya, yang menjual buku itu adalah oppai. Oh, tapi aku harus memujimu untuk micro bikini-nya—”
Baiklah, sampai jumpa lagi!!